CERPEN BERMUATAN PERUBAHAN SOSIAL (2)
Subagio S.Waluyo
(https://images.app.goo.gl/D9zQCPr67mqbMw6t6)
Kisah jang soenggoe2 soeda kedjadian dimasa laloe ini berasal
dari zaman pemerintahan Presiden Soeharto dan Pangkopkamtib-nya dipegang
Sudomo. Ceritanya ialah tentang micro-level politics, bukan national-level
politics atau local-level politics yang menyangkut ideologi dan partai-partai.
Tapi, sekadar peristiwa di tingkat desa di pinggiran Kota Yogyakarta. Namun,
akan ternyata bahwa politik kecil-kecilan itu tidak kalah memusingkannya
daripada politik yang gede-gede. Pelakunya harus putar otak, pandai
mengotak-atik kenyataan bagaimanapun kecilnya.
(Cerpen "Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi"/Kuntowijoyo)
Seorang
budayawan, sastrawan, dan sekaligus dosen, seperti Kuntowijoyo juga di
cerpen-cerpennya banyak memuat masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan
perubahan sosial. Salah satu cerpennya yang kita angkat di sini “Pelajaran
Pertama Bagi Calon Politisi” tidak luput dari perubahan sosial. Ceritanya
sederhana, di sebuah desa di pinggiran Kota Yogyakarta ada pemilihan kepala
desa. Walaupun hanya pemilihan kepala desa, ternyata di desa juga tidak luput
dari intrik-intrik politik. Sutarjo (37 tahun) seorang pengusaha konveksi
memberanikan diri untuk maju dalam pemilihan kepala desa. Saingannya mantan
seorang Kapten TNI yang baru saja pensiun. Sama seperti halnya pemilu atau pilkada dalam
pemilihan kepala desa itu juga para aktornya, Sutarjo dan pensiunan Kapten TNI
harus putar otak cara memperoleh kemenangan. Sang pensiunan Kapten TNI karena
tahu latar belakang Sutarjo saingannya sebagai putra yang bapaknya (almarhum)
dulu pernah terlibat G30S PKI memanfaatkannya untuk menjatuhkan lawannya. Tapi,
pihak kecamatan tidak menyetujuinya karena biar bagaimanapun Sutarjo terbilang
pernah punya jasa. Camat merasa diuntungkan ketika menyewa tanah milik Sutarjo untuk gudang Dolog sekalian minta tolong Sutarjo me-mark up harga sewanya. Tentu saja hal itu dilakukan untuk
kepentingan pribadinya. Dengan demikian, Sutarjo tetap melenggang untuk ikut pemilihan
kepala desa (pilkades). Selanjutnya, bisa dilihat isi teks lengkap cerpen karya
Kuntowijoyo berikut ini.
PELAJARAN PERTAMA BAGI CALON
POLITISI
Kuntowijoyo
Kisah jang soenggoe2 soeda kedjadian dimasa laloe ini berasal
dari zaman pemerintahan Presiden Soeharto dan Pangkopkamtib-nya dipegang
Sudomo. Ceritanya ialah tentang micro-level politics, bukan national-level
politics atau local-level politics yang menyangkut ideologi dan partai-partai.
Tapi, sekadar peristiwa di tingkat desa di pinggiran Kota Yogyakarta. Namun,
akan ternyata bahwa politik kecil-kecilan itu tidak kalah memusingkannya
daripada politik yang gede-gede. Pelakunya harus putar otak, pandai
mengotak-atik kenyataan bagaimanapun kecilnya.
Kisah
jang soenggoe2 soeda kedjadian dimasa laloe ini berasal dari zaman
pemerintahan Presiden Soeharto dan Pangkopkamtib-nya dipegang Sudomo.
Ceritanya ialah tentang micro-level politics, bukan national-level politics
atau local-level politics yang menyangkut ideologi dan partai-partai. Tapi,
sekadar peristiwa di tingkat desa di pinggiran Kota Yogyakarta. Namun, akan
ternyata bahwa politik kecil-kecilan itu tidak kalah memusingkannya daripada
politik yang gede-gede. Pelakunya harus putar otak, pandai mengotak-atik
kenyataan bagaimanapun kecilnya.
Dimulai
ketika Sutarjo (37), pengusaha konveksi, mencalonkan diri jadi kepala desa
alias lurah di desanya. Pesaing terkuatnya adalah mantan seorang kapten TNI
yang baru-baru ini pensiun, yang kabarnya akan menggunakan senjata pamungkas,
yaitu asal-usul Sutarjo yang tidak “bersih lingkungan” karena almarhum bapak
Sutarjo dulu terlibat G30S. Ujian tertulis dan lisan sudah bisa dipastikan
bahwa dia akan lulus. Sebab, ia mengantongi ijazah SMA, pernah duduk sebagai
mahasiswa, dan camat yang sangat menentukan kelulusannya amat berutang budi
padanya. Camat itu telah dibantunya dalam mencatut uang sewa Dolog yang
kebetulan tanahnya adalah milik Sutarjo.
“Negara
memerlukan tanahmu,” kata Camat. “Jangan jual mahal.”
“Tapi,
Pak, tanah ini rencananya untuk ruko. Tempatnya strategis, pinggir jalan
besar.”
“Ini
demi pembangunan, lho.”
Pada
waktu itu kata “pembangunan” jadi hantu politik yang membuat Sutarjo berpikir
dua kali untuk menolak permintaan camat. Maka, ia pun menyewakan tanahnya
dengan harga sangat murah. Camat masih minta supaya ia menggelembungkan uang
sewa (cara sekarangnya disebut mark up).
“Coba
tanda tangani kuitansi ini,” pinta Camat.
“Lha
kok besar betul,” katanya.
“Sst,
tidak demikian. Indonesia itu kaya: punya bukit, punya hutan, punya laut,
punya tambang. Apa salahnya saya ikut andarbeki? Negara membeli pegawainya
dengan harga sangat murah. Saya kira cara ini sah-sah saja. Daripada
diberikan Cina. Kapan lagi mengambil hak kalau tidak mumpung ada kesempatan.
Dan kesempatan hanya datang sekali seumur hidup. Boleh ambil asal jangan
terlalu banyak. Banyak juga boleh asal bisa merahasiakan.”
Maka,
semua permintaan Camat diturutinya. Camat juga menjadi pemborong pembangunan
gudang Dolog, yang ia tahu bukannya Camat sendiri yang mengerjakan. Tentu
saja harga bangunan itu juga digelembungkan. Ia tahu semuanya soal
kongkalikong itu, jadi mustahil ia tidak lulus.
Sutarjo
menggunakan tanda gambar padi, sedangkan pensiunan kapten menggunakan tanda
gambar senapan. Keduanya yakin pasti lulus. Sutarjo sudah diketahui
alasannya, sedangkan kapten, ya, karena ia bekas tentara, dan “siapa berani
tidak meluluskan tentara”? Orang mesti berpikir tiga kali menghadapi tentara.
Maka, jauh-jauh sebelum hari-hari kampanye dan hari-H, keduanya sudah
mengadakan rapat-rapat dengan para kader. (“Kader” artinya juru kampanye).
Sutarjo
yang juga sudah mendengar soal “tidak bersih lingkungan” menjadi panik. Maka,
ia pergi pada seorang tokoh yang dulu Ketua Masjumi di desanya yang kemudian
jadi Ketua MDI, dan sekarang anggota DPRD II mewakili Golkar. Pendek kata,
tidak diragukan lagi kelihaian politiknya. (“Bekas Masjumi kok tidak ke PPP,
tapi ke Golkar?” “Orang itu jangan jadi pecundang terus, sekali-sekali
jadilah pemenang.”)
“Gampang
saja,” katanya. “Yakinkan para pemilih bahwa kau adalah cucu Lurah. Kunjungi
kuburan kakekmu, buat fotonya, syukur ada video tape, sebar luaskan. Kalau
ada video tape, putarlah pada semua kesempatan jagongan: bayen, midodareni,
bahkan takziyah.” Kakeknya dulu adalah lurah yang terkenal pemurah, rendah
hati, suka menolong, dan sakti mandraguna. Sutarjo merasa lega.
Ia
mengundang tukang foto, dengan biaya besar [“jer basuki mawa beya”] ia juga
mengundang kameraman dari TVRI, dan membeli peralatan untuk memutar. Namun,
ketika ia mengunjungi kuburan kakeknya, lhadalah!
“Haram,
syirik,” teriaknya.
Kuburan
itu penuh kemenyan dan bunga mawar. Ia menyuruh orang membersihkan kemenyan
dan bunga itu. Kalau tidak, bagaimana meyakinkan para pemilih bahwa ia
Muhammadiyah tulen? Setelah bersih, baru jepret-jepret dan terrr.
Beres.
Ia pun lapor pada tokoh penasihatnya.
“Itu
kesalahan,” komentarnya.
Lho!
Ia seperti disambar petir.
Kata
penasihat, “Politik itu the art of the possible. Tidak harus lurus, tapi
boleh bengkok-bengkok. Jangan lugu begitu. Politik itu seperti silat,
balikkan kelemahan jadi kekuatan.” Kata penasihat lagi, “Adanya kemenyan itu
justru menguntungkan, untuk menunjukkan bahwa sekalipun kau Muhammadiyah,
tapi Muhammadiyah yang penuh toleransi. Karena itu, pergilah tiap malam ke
kuburan kakekmu, bawa orang, baca surat Yasin. Kuburan kakekmu perlu direnovasi.
Buatlah emper-emperan sehingga orang duduk lebih nyaman. Perkara syirik itu
bisa diatur kemudian.”
Perlu
diketahui bahwa waktu itu orang sedang demam SDSB (Sumbangan Dana Sosial
Berhadiah, yang oleh masyarakat [mahasiswa, sopir taksi, pedagang, dan para
jurnalis] dipelesetkan jadi Sudomo Datang Semua Beres), efemisme dari lotere.
Orang menyepi di kuburan kakeknya yang dianggap keramat untuk mendapat nomor.
Hal yang membuat dia pusing, orang-orang yang mencari nomor ke kuburan
kakeknya, kabarnya, dibekingi oleh pesaingnya, kapten itu.
Menuruti
anjuran penasihatnya, ia pergi dengan rombongan ke kuburan kakeknya tiap
malam, dan merenovasi kuburan itu. Ia juga menyuruh orang untuk membakar
kemenyan dan menabur bunga. Dan setelah kemenyan dan bunga menggunung lagi,
ia mengundang tukang foto dan kameraman. Ia sudah bertekad: berapa pun
habisnya, akan ia bayar. Tujuannya satu: menjadi lurah desa.
Minggu
kampanye ditandai dengan kelilingnya dokar, penumpang dengan megafon, dan
pengumuman supaya penduduk yang berhak memilih mendatangi TPS. TPS itu ada di
lima dusun.
“Halo,
halo. Pengumuman, pengumuman. Datanglah ke TPS untuk pilihan lurah, hari
[anu], pukul [anu sampai anu]….”
Kusir
dokar dan pemegang megafon sudah hafal betul jalan-jalan desa yang harus dilalui
sebab mereka juga yang mengumumkan sepak bola, bola voli, bioskop misbar
(gerimis bubar, layar tancep), komidi putar, dan ketoprak di lapangan desa.
Mulailah
kampanye. Para kader kedua pihak mengunjungi rumah-rumah penduduk. Mereka
akan memulai dengan, “Apa panjenengan sudah punya calon? Kalau belum,
sebaiknya pilih ’Padi’.” Atau, “Kalau belum, inilah calon terbaik, tanda
gambar ’Senapan’.”
Sutarjo
mengadakan tahlil, yasinan, pengajian akbar, dan sarasehan tentang toleransi.
(Dengan makanan kecil keluar dari kantongnya). Semuanya dimaksud untuk
menunjukkan bahwa dia orang Muhammadiyah yang toleran. Dengan perbuatan
nyata, tidak dengan pidato-pidatoan. Lihatlah, misalnya, untuk pengajian
akbar, ia juga mengundang seorang kiai NU dan bukan ustadz Muhammadiyah.
Demikian juga untuk konsumsi pemilih muda, ia mengadakan sarasehan tentang
toleransi. Tidak usah diceritakan bahwa ia selalu berpidato dan berfoto
dengan orang yang dipandangnya tokoh.
Perintahnya
pada seorang kader, “Cetak banyak-banyak yang 45 menit jadi. Buat papan
pengumuman di tempat-tempat strategis, lalu tempelkan gambar-gambar itu.
Jaga, jangan sampai ’Senapan’ mencopot gambar-gambar itu. Buatlah ’Padi’
banyak-banyak, tempel di tembok-tembok, tiang listrik, dan pohon.” Pendek
kata, dia sudah merasa puas dan yakin memenangkan pilihan.
Pesaingnya,
“Senapan”, menggunakan strategi dan taktik lain yang mungkin dipelajarinya
dari masa dinasnya. Satu, ia mengundang tayub dari Rembang untuk berjoget
bersama penduduk. Dua, wayangan dengan waranggana yang cantik-cantik untuk
jadi tontonan penduduk. Tiga, apa yang kemudian disebut money politics. Ia
menjanjikan sejumlah uang kepada para pemilih. Uang ini didapat dari dua buah
perusahaan real estate dengan janji izin mendirikan perumahan di bantaran sebuah
sungai dan izin membangun perumahan di atas tanah desa dengan hak bangunan.
Empat, tidak hanya itu. Tesisnya, “Aman dulu, baru membangun desa”, didukung
oleh fakta. Karena, kebetulan ada dua peristiwa yang menguntungkan, yaitu
tawur antarpemuda dan petrus (penembak misterius).
Tawur
antardesa itu berasal dari omong-omong sekenanya di warung bakmi. “Orang
indekos itu tidak punya moral. Kalau tidak ndemeni teman seindekos, ya ibu
kosnya,” kata penduduk asli kepada seseorang yang mondok. Kontan para mahasiswa
dan pelajar yang indekos di rumah-rumah penduduk dan yang tinggal di asrama
daerah di desa “Senapan” marah. Malam hari mereka mendatangi pertigaan tempat
para pemuda asli berkongko-kongko dan terjadilah tawur antarpemuda asli
dengan pemuda mondok. Adapun mengenai petrus itu ceritanya begini. Pemerintah
Kodya Yogyakarta selama ini tidak berdaya menangani para Gali (Gabungan Anak
Liar) di kota yang mengadakan pungli (pungutan liar) terhadap Colt, toko,
warung, pedagang di pasar, dan pedagang kaki lima. Pemerintah Kodya lalu
pasrah pada Korem untuk bertindak apa saja. Dasar tentara yang punyanya cuma
bedil, senapan menyalak. Mereka menembak mati Gali-Gali. Dan, banyak Gali
yang melarikan diri ke desa di pinggiran kota itu yang didor. Malam hari
orang akan mendengar bedil berbunyi, kemudian mobil ambulans milik tentara.
Tibalah
hari-H. Di setiap TPS disediakan tiga kotak, dua kotak untuk cakades dan satu
kotak kosong untuk menjamin pilihan yang demokratis. “Padi” yakin menang
karena dia selalu ada di tempat, mendapat konsultan yang benar-benar
politikus, dan sudah bekerja secara benar dan pener. “Senapan” juga yakin
menang karena telah bekerja sesuai dengan strategi dan taktik yang
dipelajarinya. Lagi pula semboyannya tentang prioritas pada keamanan cocok dengan
semboyan Orde Baru.
Tibalah
waktu yang paling membuat sport jantung dari dua cakades: penghitungan suara.
(Tentu, tak ada orang tahu bahwa kartu pilihannya diberi nomor oleh panitia.
Dan, ada daftar nama dan nomor pada panitia. Karena setelah dihitung,
kotak-kotak akan dibawa ke kecamatan, “Senapan” tinggal pergi ke kecamatan,
dan tahulah dia siapa memilih siapa. Para pemilih dan panitia pencatat akan
mendapat imbalan sepatutnya. Rapi jali, halus, dan tak bisa bocor). Setelah
dihitung, ternyata “Padi” kalah telak.
Ketika
sudah nyata-nyata kalah, ia pergi pada penasihat politiknya.
“Jangan
menyesal. Benar engkau kalah, tapi itu karena engkau jujur, agamis, bersih,
dan kesatria. ’Senapan’ telah memanfaatkan nafsu rendah manusia dengan
waranggana yang cantik dan tayuban. Sini saya beri tahu.”
Kemudian
dengan bisik-bisik dikatakan bahwa “Senapan” itu curang dengan cara obral
uang, tawur, dan petrus.
“Ketahuilah,
tawur dan petrus itu hasil rekayasanya juga. Jadi dikalahkan oleh kecurangan
itu pahlawan. Saya bangga dengan engkau. Engkau memburu akhirat, dia memburu
dunia.”
Sesampai
di rumah, Sutarjo menceritakan pembicaraannya dengan sang penasihat kepada
istrinya.
“Saya
kira engkau dhedhel-dhuwel luar dalam, Mas. Akhirat tidak, dunia gagal. NU
bukan, Muhammadiyah mboten. Politikus bengkok-bengkok meleset, orang agama
jalan lurus urung,” komentar istrinya.
“Pokoknya
bukan itu semua.”
Sutarjo
suka menghibur diri. “Saya kalah karena memburu akhirat, meninggalkan dunia.
Sak beja-bejaning wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspada.”
Sebesar-besarnya keuntungan orang yang lupa diri, masih beruntung orang yang
ingat dan menjaga diri.
Ia
tetap bangga kalau teringat kisahnya jadi cakades.
Ia
yakin benar, “Saya dikalahkan oleh kecurangan.” Dan, “Alhamdulillah, tidak
jadi lurah, tidak usah korupsi.”
Dia
sudah berusaha keras menghibur diri: dari kecurangan orang lain, politik
secara nasional berpihak pada lawan, terhindar dari kejahatan korupsi, sampai
tidak jadi lurah itu memang sudah takdir. Tapi tetap saja ia tidak dapat
menyembunyikan kemurungan. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, minum tak
segar, mimpi dikejar-kejar maling. Istri yang sehari-harinya mengamatinya
ikut prihatin. Istri menemui penasihatnya, politikus tulen itu. “Begitu saja
kok repot. Kalah dan menang dalam politik itu lumrah,” komentar sang
penasihat. “Saya pikirnya dulu.”
Bola
ada di tangan penasihat. Penasihat memutar otak. Pertanyaannya ialah ia ingin
menjadikan kekalahan sebagai sebuah kemenangan. Sepertinya mustahil. Semua
sudah terjadi. Penduduk desa terbagi dua. Mereka menggerombol pada
kelompoknya sendiri: “Padi” dan “Senapan”. Pesta kawin, jagong bayen,
siskamling, rapat-rapat LMD dan LKMD, bahkan takziyah.
Pikir
punya pikir, sang penasihat dapat ilham cemerlang, “Eureka!”
Penasihat
menemui cakades gagal kita.
“Jangan
sedih. Ada caranya membalikkan sebuah kekalahan menjadi sebuah kemenangan.”
“O,
ya?” Mukanya jadi cerah, byar!
“Iya.
Begini, lho. Kau harus ambil inisiatif untuk rujuk desa, berupa pidato dan
makan-makan seadanya. Di tempatmu, jangan di Balai Desa. Kumpulkan
kader-kader kedua belah pihak, wakil-wakil pemuda, mahasiswa, dan pelajar
yang tawur. Undang pimpinan kecamatan Muspika untuk hadir dan memberi
sambutan.”
Ia
pun bekerja, mengunjungi sana-sini, menjual gagasannya. Ia juga mendapat
dukungan dalam rapat-rapat LMD dan LKMD. Jadilah. Istri dimintanya memasak,
seekor kambing besar disembelih. Rumahnya akan jadi rumah bersejarah di
desanya.
Undangan
diedarkan. Pada hari yang ditentukan, semuanya sudah lengkap: meja-kursi, mikrofon,
dan hidangan. Orang-orang berdatangan. Muspika datang. Lurah baru datang
meski agak terlambat. Tapi, lho! Yang datang hanya orang-orang “Padi”.
(Sutarjo tidak tahu bahwa kubu “Senapan” mengadakan pesta kemenangan di Balai
Desa). Tunggu punya tunggu tidak ada lagi yang datang. Minum teh gelas
keluar. Tak juga bertambah. Akhirnya, acara dimulai. Pidato-pidato. Sutarjo
mau menangis, tapi ditahannya. Selesai. Hidangan keluar. Muspika pamit. Lurah
baru pamit. Semua pulang. (Orang “Senapan” sudah menanti untuk mendaulat
supaya Muspika kemudian hadir di Balai Desa).
“Sukses!”
kata Camat ketika bersalaman dengan Sutarjo.
“Sukses!”
kata Danramil waktu pamitan.
“Sukses!”
kata Kapolsek.
Hati
Sutarjo seperti diiris-iris.
Tidak
dapat menyembunyikan kekecewaan, ia menemui penasihat.
“Bagaimana,
Pak. Jadinya kok malah runyam begitu?”
“Ya,
itulah politik. Sekali menang, sekali kalah. Sekali timbul, sekali tenggelam.
Sekali datang, sekali pergi. Begitu ritmenya, tanpa henti. Hadapi ritme itu
dengan humor tinggi. Jangan kalau menang senang, kalau kalah susah. Jangan.
Berbuatlah sesuatu hanya pada waktu yang tepat. Ketika momentumnya datang,
pada sangatnya. Kalau bisa ciptakan momentum itu. Tetapi, jangan nggege
mangsa [terlalu cepat], tapi juga jangan terlambat,” komentar sang penasihat
enteng.
Sutarjo
tak kunjung mengerti. Kepalanya menggeleng-geleng. “Ck, ck,” kata mulutnya,
kemudian melongo.
Yogyakarta,
1 Maret 2003
|
***
Pilkades dalam cerpen di atas diadakan
di masa Presiden Soeharto masih berkuasa: masa orde baru. Di masa orde baru
segala hal dikaitkan dengan satu kata `pembangunan`. Pilkades yang mau
dilaksanakan di desa dekat pinggiran Kota Yogya itu juga tidak luput dari
istilah `pembangunan`. Jadi, pelaksanaan pilkades di desa itu menggunakan
pembangunan sebagai bajunya. Kata `pembangunan` juga dijadikan jargon politik
manakala sang camat menekan Sutarjo untuk mau menggelembungkan harga sewa tanah
untuk kepentingan Dolog. Berkedokan `pembangunan` pejabat setingkat camat juga
harus korupsi bukan saja menggelembungkan dana sewa tanah tapi juga pembelian
barang-barang bangunan dan biaya pembangunannya. Selain istilah `pembangunan`
yang kala itu sedang marak digunakan juga ada istilah `bersih lingkungan`.
Ketika dihadapkan dengan istilah terakhir ini Sutarjo terpaksa harus putar
otak,bagaimana caranya agar bisa selamat dari istilah yang telah menghantui
dirinya? Dia diduga tidak benar-benar bersih lingkungan mengingat ayahnya dulu
seperti disampaikan di atas terlibat G30S PKI. Meskipun demikian, camat yang
merasa berhutang budi pada Sutarjo meluluskannya sehingga Sutarjo maju dalam
pemilihan pilkades itu. Sutarjo menggunakan tanda gambar padi. Lawannya, karena
berlatar belakang TNI, menggunakan gambar senapan.
Untuk membuktikan dirinya benar-benar
bersih dari lingkungan, Sutarjo berusaha mendekati seorang anggota DPRD II dari Golkar yang berlatar belakang Masjumi. Bahkan,
pernah menjadi Ketua Masjumi di desa itu. Hanya sebuah keberuntungan saja dia
bisa menjadi anggota dewan tingkat DPRD II dari Golkar. Singkat kata Sutarjo
disarankan agar mengunjungi kubur kakeknya yang mantan kepala desa di desa itu.
Dia disarankan menanggalkan baju Muhammadiyah-nya (karena Sutarjo memang
seorang Muslim berlatar belakang Muhammadiyah). Kuburan kakeknya disarankan
agar tetap ada kemenyan dan kembang seperti halnya kuburan lainnya di desa itu.
Kuburan kakeknya agar direnovasi dan dibuat emperannya agar orang banyak bisa
ikut ziarah. Dia juga disarankan agar ziarah kubur tiap malam. Setiap kali
ziarah juga disarankan baca surat Yasin. Disarankan juga agar suatu saat ketika
ziarah kubur mengundang media massa (dalam hal ini kalau perlu televisi seperti
TVRI). Sutarjo menuruti saran penasihat politik itu meskipun saran-saran sang
penasihat politik (mantan Ketua Masjumi di desa itu) banyak bertentangan dengan
keyakinan atau kebiasaannya di Muhammadiyah.
Orang yang datang ke kubur kakeknya
terbilang banyak. Mereka bukan sekedar takziah, tapi juga ada yang `ngalap
berkah` dengan cara mencari nomor undian agar menang lotere SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) yang di masa
orde baru marak digemari masyarakat. Orang yang datang bukan saja dari
kalangannya tapi juga dari kalangan lawan politiknya yang memang mereka
dibekingi oleh pensiunan Kapten TNI yang menjadi pesaingnya. Karena menuruti anjuran
penasihat politiknya, dia abaikan semua itu. Demi memperoleh kemenangan dalam
pilkades justru di saat kemenyan dan kembang telah menggunung dia undang tukang
foto dan kameraman. Dia tidak pikirkan seberapa banyaknya biaya yang dikeluarkan karena hanya satu yang mau
dituju agar bisa memenangkan pilkades di
desanya sehingga dirinya layak bisa menjadi lurah. Nafsu
ingin berkuasa sudah menguasai dirinya.
Pada waktu itu kata “pembangunan” jadi hantu politik
yang membuat Sutarjo berpikir dua kali untuk menolak permintaan camat. Maka,
ia pun menyewakan tanahnya dengan harga sangat murah. Camat masih minta
supaya ia menggelembungkan uang sewa (cara sekarangnya disebut mark up).
………………………………………………………………………………………………………..
Maka, semua permintaan Camat diturutinya. Camat juga
menjadi pemborong pembangunan gudang Dolog, yang ia tahu bukannya Camat
sendiri yang mengerjakan. Tentu saja harga bangunan itu juga digelembungkan.
Ia tahu semuanya soal kongkalikong itu, jadi mustahil ia tidak lulus.
Sutarjo menggunakan tanda gambar padi, sedangkan
pensiunan kapten menggunakan tanda gambar senapan. Keduanya yakin pasti
lulus. Sutarjo sudah diketahui alasannya, sedangkan kapten, ya, karena ia
bekas tentara, dan “siapa berani tidak meluluskan tentara”? Orang mesti
berpikir tiga kali menghadapi tentara. Maka, jauh-jauh sebelum hari-hari
kampanye dan hari-H, keduanya sudah mengadakan rapat-rapat dengan para kader.
(“Kader” artinya juru kampanye).
Sutarjo yang juga sudah mendengar soal “tidak bersih
lingkungan” menjadi panik. Maka, ia pergi pada seorang tokoh yang dulu Ketua
Masjumi di desanya yang kemudian jadi Ketua MDI, dan sekarang anggota DPRD II
mewakili Golkar. Pendek kata, tidak diragukan lagi kelihaian politiknya.
(“Bekas Masjumi kok tidak ke PPP, tapi ke Golkar?” “Orang itu jangan jadi
pecundang terus, sekali-sekali jadilah pemenang.”)
“Gampang saja,” katanya. “Yakinkan para pemilih
bahwa kau adalah cucu Lurah. Kunjungi kuburan kakekmu, buat fotonya, syukur
ada video tape, sebar luaskan. Kalau ada video tape, putarlah pada semua
kesempatan jagongan: bayen, midodareni, bahkan takziyah.” Kakeknya dulu
adalah lurah yang terkenal pemurah, rendah hati, suka menolong, dan sakti
mandraguna. Sutarjo merasa lega.
Ia mengundang tukang foto, dengan biaya besar [“jer
basuki mawa beya”] ia juga mengundang kameraman dari TVRI, dan membeli
peralatan untuk memutar. Namun, ketika ia mengunjungi kuburan kakeknya,
lhadalah!
“Haram, syirik,” teriaknya.
Kuburan itu penuh kemenyan dan bunga mawar. Ia
menyuruh orang membersihkan kemenyan dan bunga itu. Kalau tidak, bagaimana
meyakinkan para pemilih bahwa ia Muhammadiyah tulen? Setelah bersih, baru
jepret-jepret dan terrr.
Beres. Ia pun lapor pada tokoh penasihatnya.
“Itu kesalahan,” komentarnya.
Lho! Ia seperti disambar petir.
Kata penasihat, “Politik itu the art of the
possible. Tidak harus lurus, tapi boleh bengkok-bengkok. Jangan lugu begitu.
Politik itu seperti silat, balikkan kelemahan jadi kekuatan.” Kata penasihat
lagi, “Adanya kemenyan itu justru menguntungkan, untuk menunjukkan bahwa sekalipun
kau Muhammadiyah, tapi Muhammadiyah yang penuh toleransi. Karena itu,
pergilah tiap malam ke kuburan kakekmu, bawa orang, baca surat Yasin. Kuburan
kakekmu perlu direnovasi. Buatlah emper-emperan sehingga orang duduk lebih
nyaman. Perkara syirik itu bisa diatur kemudian.”
Perlu diketahui bahwa waktu itu orang sedang demam
SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah, yang oleh masyarakat [mahasiswa, sopir
taksi, pedagang, dan para jurnalis] dipelesetkan jadi Sudomo Datang Semua
Beres), eufemisme dari lotere. Orang menyepi di kuburan kakeknya yang
dianggap keramat untuk mendapat nomor. Hal yang membuat dia pusing,
orang-orang yang mencari nomor ke kuburan kakeknya, kabarnya, dibekingi oleh
pesaingnya, kapten itu.
Menuruti anjuran penasihatnya, ia pergi dengan
rombongan ke kuburan kakeknya tiap malam, dan merenovasi kuburan itu. Ia juga
menyuruh orang untuk membakar kemenyan dan menabur bunga. Dan setelah
kemenyan dan bunga menggunung lagi, ia mengundang tukang foto dan kameraman.
Ia sudah bertekad: berapa pun habisnya, akan ia bayar. Tujuannya satu:
menjadi lurah desa.
|
***
Masa
kampanye dimulai. Dengan menggunakan dokar diumumkan pada penduduk desa agar
datang ke TPS-TPS yang ada di lima dusun di desa itu. Para kader dari kedua
belah pihak mengunjungi rumah-rumah penduduk. Mereka memperkenalkan calon
kepala desanya masing-masing yang maju
dalam pilkades disertai dengan gambar `Padi` untuk Sutarjo dan `Senapan` untuk
pensiunan Kapten TNI. Sutarjo mengadakan kegiatan yang justru sebenarnya
bertentangan dengan Muhammadiyah: tahlil dan
yasinan. Selain itu, juga ada pengajian akbar dan sarasehan tentang
toleransi. Semua aktivitas itu juga disertai dengan makanan kecil buat yang
hadir. Semuanya keluar dari kantong Sutarjo sendiri. Uniknya untuk pengajian
akbar dia gunakan Kiai NU bukan Ustadz Muhammadiyah. Hal ini dilakukan agar dia
termasuk orang Muhammadiyah yang toleran. Untuk memperkuat bahwa dirinya orang
Muhammadiyah yang toleran, dia berfoto bersama dengan tokoh-tokoh NU.
Minggu kampanye ditandai dengan kelilingnya dokar,
penumpang dengan megafon, dan pengumuman supaya penduduk yang berhak memilih
mendatangi TPS. TPS itu ada di lima dusun.
“Halo, halo. Pengumuman, pengumuman. Datanglah ke
TPS untuk pilihan lurah, hari [anu], pukul [anu sampai anu]….”
Kusir dokar dan pemegang megafon sudah hafal betul
jalan-jalan desa yang harus dilalui sebab mereka juga yang mengumumkan sepak
bola, bola voli, bioskop misbar (gerimis bubar, layar tancep), komidi putar,
dan ketoprak di lapangan desa.
Mulailah kampanye. Para kader kedua pihak
mengunjungi rumah-rumah penduduk. Mereka akan memulai dengan, “Apa
panjenengan sudah punya calon? Kalau belum, sebaiknya pilih ’Padi’.” Atau,
“Kalau belum, inilah calon terbaik, tanda gambar ’Senapan’.”
Sutarjo mengadakan tahlil, yasinan, pengajian akbar,
dan sarasehan tentang toleransi. (Dengan makanan kecil keluar dari
kantongnya). Semuanya dimaksud untuk menunjukkan bahwa dia orang Muhammadiyah
yang toleran. Dengan perbuatan nyata, tidak dengan pidato-pidatoan. Lihatlah,
misalnya, untuk pengajian akbar, ia juga mengundang seorang kiai NU dan bukan
ustadz Muhammadiyah. Demikian juga untuk konsumsi pemilih muda, ia mengadakan
sarasehan tentang toleransi. Tidak usah diceritakan bahwa ia selalu berpidato
dan berfoto dengan orang yang dipandangnya tokoh.
|
Bagaimana dengan lawan politiknya
ketika berkampanye? Ternyata taktik yang digunakan sangat bertentangan.
Lawannya, mengundang tayub dari Rembang agar penduduk bisa berjoget bersama
para penari yang terbilang cantik. Juga ada wayangan dengan penyanyi/pesinden
yang juga cantik-cantik. Tidak cukup sampai di situ, praktek-praktek kotor
berupa money politics `politik uang`
juga dilakukan. Dana untuk kampanye itu diperoleh dari para pengusaha real estate yang dijanjikan jika dia
menang dalam pilkades akan diberikan izin mendirikan perumahan di bantaran
sebuah sungai. Selain itu, direkayasa terjadi perkelahian antara pemuda desa
dan para pemondok (pelajar, mahasiswa, pekerja) yang umumnya para pemuda bukan
penduduk asli. Bahkan, karena pada waktu itu sedang ramai-ramainya penembakan
misterius (petrus) para gali yang bersembunyi di desa itu juga dibersihkan.
Pesaingnya,
“Senapan”, menggunakan strategi dan taktik lain yang mungkin dipelajarinya
dari masa dinasnya. Satu, ia mengundang tayub dari Rembang untuk berjoget
bersama penduduk. Dua, wayangan dengan waranggana yang cantik-cantik untuk
jadi tontonan penduduk. Tiga, apa yang kemudian disebut money politics. Ia
menjanjikan sejumlah uang kepada para pemilih. Uang ini didapat dari dua buah
perusahaan real estate dengan janji izin mendirikan perumahan di bantaran
sebuah sungai dan izin membangun perumahan di atas tanah desa dengan hak
bangunan. Empat, tidak hanya itu. Tesisnya, “Aman dulu, baru membangun desa”,
didukung oleh fakta. Karena, kebetulan ada dua peristiwa yang menguntungkan,
yaitu tawur antarpemuda dan petrus (penembak misterius).
Tawur
antardesa itu berasal dari omong-omong sekenanya di warung bakmi. “Orang
indekos itu tidak punya moral. Kalau tidak ndemeni teman seindekos, ya ibu
kosnya,” kata penduduk asli kepada seseorang yang mondok. Kontan para
mahasiswa dan pelajar yang indekos di rumah-rumah penduduk dan yang tinggal
di asrama daerah di desa “Senapan” marah. Malam hari mereka mendatangi
pertigaan tempat para pemuda asli berkongko-kongko dan terjadilah tawur
antarpemuda asli dengan pemuda mondok. Adapun mengenai petrus itu ceritanya
begini. Pemerintah Kodya Yogyakarta selama ini tidak berdaya menangani para
Gali (Gabungan Anak Liar) di kota yang mengadakan pungli (pungutan liar)
terhadap Colt, toko, warung, pedagang di pasar, dan pedagang kaki lima.
Pemerintah Kodya lalu pasrah pada Korem untuk bertindak apa saja. Dasar
tentara yang punyanya cuma bedil, senapan menyalak. Mereka menembak mati
Gali-Gali. Dan, banyak Gali yang melarikan diri ke desa di pinggiran kota itu
yang didor. Malam hari orang akan mendengar bedil berbunyi, kemudian mobil
ambulans milik tentara.
|
***
Pilkades
diadakan serentak di lima dusun. Setiap dusun ada satu TPS. Setiap TPS ada tiga
kotak: dua kotak untuk cakades dan satu kotak kosong untuk menjamin
pilihan yang demokratis. Kedua pasangan
merasa yakin akan memperoleh kemenangan.
Begitu diadakan penghitungan suara, cakades dari `Padi` kalah telak.
Rupanya sudah diatur sedemikian rupa oleh pihak panitia bahwa kartu pemilih
tanpa sepengetahuan orang sudah diberi nomor sehingga diketahui siapa yang
pilih Padi dan siapa juga yang pilih Senapan. Pihak panitia juga sudah membuat
daftar nama dan nomor para pemilih. Kotak-kotak itu setelah dihitung dibawa ke kecamatan.
Di kecamatan sudah dipastikan ada kongkalikong antara pihak kecamatan dan
Senapan karena begitu kotak-kotak dibawa ke kantor kecamatan tidak lama
kemudian pihak Senapan datang ke tempat tersebut. Di kantor kecamatan sudah bisa
dipastikan terjadi pengaturan suara agar Senapan menang.
Tibalah
hari-H. Di setiap TPS disediakan tiga kotak, dua kotak untuk cakades dan satu
kotak kosong untuk menjamin pilihan yang demokratis. “Padi” yakin menang
karena dia selalu ada di tempat, mendapat konsultan yang benar-benar
politikus, dan sudah bekerja secara benar dan pener. “Senapan” juga yakin
menang karena telah bekerja sesuai dengan strategi dan taktik yang
dipelajarinya. Lagi pula semboyannya tentang prioritas pada keamanan cocok
dengan semboyan Orde Baru.
Tibalah
waktu yang paling membuat sport jantung dari dua cakades: penghitungan suara.
(Tentu, tak ada orang tahu bahwa kartu pilihannya diberi nomor oleh panitia.
Dan, ada daftar nama dan nomor pada panitia. Karena setelah dihitung,
kotak-kotak akan dibawa ke kecamatan, “Senapan” tinggal pergi ke kecamatan,
dan tahulah dia siapa memilih siapa. Para pemilih dan panitia pencatat akan
mendapat imbalan sepatutnya. Rapi jali, halus, dan tak bisa bocor). Setelah
dihitung, ternyata “Padi” kalah telak.
|
***
Dari
cerpen di atas banyak perubahan sosial yang bisa kita catat. Pertama, terjadi konflik di antara kedua
pasangan cakades tersebut. Konflik dimulai dari pendaftaran calon peserta
pilkades sampai dengan penentuan pemenangnya. Kedua, adanya pengaruh budaya dari luar yang dalam hal ini terjadi
pada kedua belah pihak. Sutarjo karena ingin menang menerima nilai-nilai yang
bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini dianutnya (Muhammadiyah)
menerima nilai-nilai/kebiasaan yang hidup di kalangan NU, seperti tahlilan, yasinan,
dan ziarah kubur setiap malam. Pensiunan Kapten TNI juga menerima nilai-nilai
yang juga cenderung sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai kejujuran ketika melakukan money politics dalam
kampanyenya. Ketiga, toleransi terhadap perbuatan-perbuatan
menyimpang. Kedua belah pihak juga jelas-jelas bukan hanya toleran, tapi juga melakukan
penyimpangan. Sutarjo demi memperoleh kemenangan dalam pilkades harus melanggar
keyakinannya yang berkaitan dengan tahlilan, yasinan, dan melakukan pembiaran
ketika orang-orang yang berziarah ke kubur kakeknya membakar kemenyan dan meniburi
kembang sehingga di kubur kakeknya menggunung kemenyan dan kembang. Lawan
politiknya melakukan berbagai kemaksiatan ketika mengundang tayub dari Rembang
dan wayangan yang diramaikan dengan tiga pesinden cantik. Tidak cukup sampai di
situ, dia juga melakukan money politics.
Bahkan, dia juga bersengkokol dengan para pengusaha real estate yang siap mendanai kegiatan pilkadesnya.
Keempat, keduanya karena memiliki vested interest mau tidak mau melakukan berbagai cara walaupun banyak cara yang ditempuh bukan saja akan merusak diri sendiri tapi juga masyarakat yang ada di sekitarnya. Tidak mustahil perilaku itu lama kelamaan juga bisa-bisa saja dianggap wajar dan bisa mendarah daging. Kelima, penasihat Sutarjo yang menjadi
anggota DPRD II yang berasal dari Golkar, semula adalah Ketua Masjumi di desa
itu. Karena adanya kontak dengan budaya lain, berorientasi ke masa depan, dan
memiliki prinsip bahwa manusia bisa berubah nasibnya, tidak menjadi anggota
dewan dari PPP, tapi justru lebih tertarik ke Golkar. Dia tahu bahwa rezim yang
berkuasa berasal dari Golkar sehingga dalam pandangannya lebih baik dia aktif
di Golkar daripada di partai lain (PPP). Setidaknya ada lima butir yang mewarnai terjadinya
perubahan sosial pada cerpen Kuntowijoyo kali ini. Dengan demikian, walaupun
hanya sebatas cerpen, tidak menutup kemungkinan sebuah cerpen memuat sekian
banyak perubahan sosial.
Keempat, keduanya karena memiliki vested interest mau tidak mau melakukan berbagai cara walaupun banyak cara yang ditempuh bukan saja akan merusak diri sendiri tapi juga masyarakat yang ada di sekitarnya. Tidak mustahil perilaku itu lama kelamaan juga bisa-bisa saja dianggap wajar dan bisa mendarah daging.
***
Cerpen-cerpen Indonesia kaya dengan
muatan-muatan perubahan sosial. Hal itu lebih disebabkan oleh kepekaan penulis
cerpen (cerpenis) terhadap masalah-masalah sosial di sekitarnya. Masalah-masalah
sosial yang berkaitan dengan perubahan sosial menjadikan objek yang menarik
bagi cerpenis untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Justru, dengan munculnya
berbagai perubahan sosial menjadi stimulus bagi cerpenis untuk menuliskannya ke
dalam sebuah cerpen. Bagi cerpenis berbagai perubahan sosial yang ada di
tengah-tengah masyarakat menjadi fenomena tersendiri untuk dituangkan ke dalam
tulisan. Cerpenis seperti Ahmad Tohari, Seno Gumira Ajidarma, Harris Effendi
Thahar, Jujur Prananto, Umar Kayam, dan Kuntowijoyo (masih banyak cerpenis
lainnya di luar yang disebutkan) seringkali dalam menulis cerpen memasukkan
unsur-unsur perubahan sosial. Apakah semua hal yang berkaitan dengan perubahan
sosial, baik perubahan sosial dari dalam maupun luar atau yang memang mempercepat atau
memperlambat/menghambat perubahan sosial dimuat dalam cerpen-cerpen Indonesia?
Tampaknya, perlu ada penelitian yang fokus ke arah sana. 


Tidak ada komentar:
Posting Komentar