21. BELAJAR MENULIS WACANA EKSPOSISI (4)
Subagio S.Waluyo
Selain Samodra Wibawa, akademikus dari UGM, ada juga seorang akademikus dari UI yang juga pernah menuliskan wacana eksposisi. Adalah Koentjaraningrat seorang guru besar Antropologi yang kumpulan tulisan eksposisinya dikumpulkan oleh Redaksi Harian Kompas menjadi sebuah buku yang berjudul Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Sesuai dengan judulnya, buku tersebut memang membahas hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia, mentalitas bangsa kita, dan pembangunan di masa orde baru (1969) yang baru saja ketika buku itu diterbitkan dilaksanakan. Namanya juga kumpulan tulisan, buku tersebut membahas secara singkat ketiga hal di atas. Walaupun hanya sebuah kumpulan tulisan, bahkan buku ini tergolong jadul (terbit pertama kali tahun 1974) buku ini sampai saat ini masih menjadi rujukan utama ketika orang membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan, mentalitas, dan pembangunan. Keunikan dari buku tersebut, selain isinya mudah dicerna dan dipahami adalah judul-judul tulisan yang terdapat di buku tersebut dari awal sampai akhir dimulai dengan kata tanya.
Salah satu tulisan yang
dijadikan contoh dalam pembelajaran kali ini adalah yang berkaitan dengan
pembangunan. Di buku tersebut penulisnya, Koentjaraningrat, menuliskan judulnya
`Apakah Artinya Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan?`. Koentjaraningrat tidak
lansung menjawab pertanyaan tersebut. Justru, di awal tulisannya,
Koentjaraningrat menulis Akhir-akhir ini
sering terdengar anjuran dari pihak pemerintah pusat kepada pemerintah daerah,
agar diusahakan supaya rakyat berpartisipasi dalam pembangunan. Berkaitan
dengan itu, di paragraf pertama Koentjaraningrat menekankan agar ada konsep
yang jelas tentang partisipasi rakyat dalam pembangunan. Coba kita lihat
paragraf pertama yang merupakan pembuka dalam tulisannya.
|
Akhir-akhir
ini sering terdengar anjuran dari pihak pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah, agar diusahakan supaya rakyat berpartisipasi dalam pembangunan.
Namun, di berbagai provinsi (tidak semuanya) dan terutama di daerah administratif di bawah provinsi, sering masih belum ada
pengertian yang jelas mengenai konsep “partisipasi rakyat dalam pembangunan”
itu. Sering kali “partisipasi rakyat yang intensif” disamakan dengan
frekuensi tinggi turut sertanya rakyat pedesaan dalam aktivitas-aktivits
bersama. Dalam hal itu maka fokus diletakkan pada frekuensi mengadakan
pengerahan aktivitas bersama itu, dengan kurang menilai mutu kerjanya serta
relevansinya dalam rangka kebijaksanaan yang menjadi pedoman pembangunan. |
Sementara itu, berkaitan bagian isi atau argumen, Koentjaraningrat
menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan:
1. dua tipe partisipasi rakyat;
2. dalam memberikan instruksi harus melalui garis
hierarki; dan
3. partisipasi rakyat berdasarkan keputusan rakyat.
Jadi, di bagian isi atau argumen kita bisa mengatakan sebenarnya yang mau disampaikan Koentjaraningrat demikian singkat karena hanya mencakup tiga hal di atas. Ketiga hal di atas oleh penulisnya diuraikan secara mendetail. Selain itu, agar tulisannya menarik juga disertai dengan contoh-contoh yang mudah kita temui. Dengan cara demikian, kita selaku pembacanya mendapat sebuah jawaban yang jelas tentang pertanyaan yang dijadikan judul tulisan Koentjaraningrat di atas.
|
Partisipasi rakyat,
terutama rakyat pedesaan, dalam pembangunan itu sebenarnya menyangkut dua
tipe yang pada prinsipnya berbeda, ialah: (1) Partisipasi dalam
aktivitas-aktivitas bersama dalam proyek-proyek pembangunan yang khusus; (2)
Partisipasi sebagai individu di luar aktivitas-aktivitas bersama dalam
pembangunan. Dalam tipe partisipasi yang pertama, rakyat pedesaan diajak,
dipersuasi, diperintahkan, atau dipaksa oleh wakil-wakil dari beraneka warna
Departemen atau oleh Pamong Desa, untuk berpartisipasi dan menyumbangkan
tenaga atau hartanya kepada proyek-proyek pembangunan yang khusus, yang
biasanya bersifat fisik. Kalau rakyat ikut serta berdasarkan atas
keyakinannya bahwa proyeknya itu akan bermanfaat baginya maka mereka akan
berpartisipasi dengan semangat dan spontanitas yang besar, tanpa mengharapkan
upah tinggi. Sebaliknya, kalau mereka diperintah dan dipaksa oleh atasan
mereka untuk ikut menyumbangkan tenaga atau harta mereka kepada proyeknya
tadi, maka mereka akan berpartisipasi dengan semangat kerja rodi.
Contoh-contoh dari tipe partisipasi seperti terurai di atas adalah misalnya:
partisipasi orang desa dalam proyek mengeraskan atau melebarkan jalan desa,
dalam membuat saluran irigasi, dalam membuat jembatan desa, dalam proyck
penghijauan, dalam kursus buta huruf, dan sebagainya. Dalam tipe
partisipasi yang kedua tidak ada proyek aktivitas bersama yang khusus, tetapi
pada proyek-proyek pembangunan, biasanya yang tidak bersifat fisik dan tidak
memerlukan suatu partisipasi rakyat atas perintah atau paksaan dari
atasannya, tetapi selalu atas dasar kemauan mereka sendiri. Contoh dari tipe
partisipasi seperti terurai dalam alinea ini adalah misalnya partisipasi
dalam Bimas, menjadi aseptor keluarga berencana, menabung uang di Tabanas,
dan sebagainya. Karyawan dan petugas
yang harus menginstruksikan
rakyat di pedesaan untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek aktivitas bersama
(partisipasi tipe pertama) biasanya tidak dapat melampaui pamong desa dan
pimpinan desa yang resmi. Dalam zaman kolonial dulu, struktur pemerintahan
adalah sedemikian rupa sehingga segala instruksi dari atas itu harus
disalurkan melalui garis hierarki pamong praja (dulu namanya pangreh praja).
Memang dalam zaman kolonial belum banyak jawatan yang turun ke bawah sampai
ke desa, sehigga usaha koordinasi dari instrukis-instruksi kepada rakyat
untuk turut berpartisipasi dalam proyek-proyek pemerintah masih bisa dikuasai
oleh pamong praja. Sekarang jumlah departemen-departemen,
direktorat.-direktorat jenderal, direktorat-direktorat, dinas-dinas ABRI
bahkan kadang-kadang biro-biro, yang mempunyai ujung-ujung jarinya dalam masyarakat
pedesaan dan ingin ikut serta menggerakkan rakyat untuk berpartisipasi dalam
pembangunan, sudah terlampau banyak. Demikian koordinasi dari semua instruksi
dari atas itu menjadi amat sulit untuk dikuasai oleh pamong praja. Walau
demikian, sampai sekarang jalan yang terbaik untuk menginstruksikan (bukan
memaksa) rakyat pedesaan untuk ikut berpartisipasi dalam proyek-proyek yang
bersifat aktivitas-aktivitas bersama, masih tetap melalui saluran pamong
praja. Karyawan dan petugas
yang harus mengajak, mempersuasi, dan menginstruksikan rakyat pedesaan untuk
ikut berpartisipasi dalam proyek pembangunan sebagai individu (partisipasi
tipe kedua), menghadapi masalah yang jauh lebih rumit. Karena partisipasi
rakyat itu berdasarkan suatu keputusan mereka sendiri sebagai individu, maka
hanya perintah dari lurah atau camat saja tidak cukup. Keputusan seorang
warga desa untuk menjadi aseptor dalam keluarga berencana misalnya, tidak
bisa hanya berdasarkan atas perintah lurah atau camat, melainkan atas suatu
keyakinan yang mendalam bahwa partisipasinya itu sungguh bermanfaat, pertama
untuk dirinya sendiri dan keluarganya dan kemudian untuk masyarakat dan
aegara. Hal itu banya bisa dicapai dengan suatu proses persuasi dan
penerangan yang intensif dan lama. |
Sebagai sebuah tulisan
singkat, tampaknya pembaca ketika membaca paragraf terakhir tidak mendapatkan
suatu kesimpulan. Koentjaraningrat tampaknya lebih cenderung menambahkan
penjelasan yang berkaitan dengan munculnya budaya yang berorientasi ke atasan
(paternalisme). Meskipun tidak adanya kesimpulan, kita bisa menangkap secara
keseluruhan isi tulisannya. Bahkan, kita bisa mengakui kepiawaian
Koentjaraningrat menjawab sebuah pertanyaan yang dijadikan judul tulisannya.
Bukankah dengan menjawab pertanyaan yang diajukannya merupakan bukti bahwa
tulisannya benar-benar bisa menyingkap tabir tentang partisipasi rakyat dalam
pembangunan?
|
Ada beberapa
ahli ilmu sosial yang berpendirian bahwa berhasilnya persuasi dan penerangan
kepada rakyat pedesaan itu tak akan menjamin rakyat pedesaan akan ikut serta
berpartisipasi (tipe kedua), tanpa adanya restu dari lurah atau pihak atasan.
Sekali lagi di sini muncul nilai budaya yang terlampau berorientasi vertikal
ke arah atasan, yang telah berapa kali saya sebut dalam karangan-karangan
terdahulu dalam seri ini, dan yang akan menghambat suatu keputusan progresif
dari rakyat pedesaan Menurut hemat saya peranan menghambát dari pihak lurah
di sini terlampau dibesar-besarkan. Memang saya bisa mengerti adanya
lurah-lurah atau pamong desa yang merasa tersinggung kalau mereka tidak
diikutsertakan, dan karena itu dengan mentalitas pegawainya ingin menyabot
perkembangan ide-ide baru yang dikembangkan pihak lain, dengan alasan
kesalahan prosedur dan protokol. Saat itu dengan begitu hanya merupakan soal
sopan santun saja dan kesukaran-kesukaran yang timbul karena sabotase dari
pihak pegawai-pegawai desa bisa dihindari dengan mengikutsertakan mereka
dalam permasalahannya. |
Supaya tampak di hadapan kita sebuah
tulisan eksposisi yang utuh, apa salahnya kita coba tuliskan kembali
paragraf-paragraf di atas? Dengan melihat keutuhan sebuah wacana eksposisi,
kita bisa memahami kira-kira inilah salah satu cara penulisan wacana eksposisi
dari seorang guru besar Antropologi UI. Bukan itu saja, kita pun bisa mempelajari cara penyampaian buah pikiran
sang penulis. Kita pun bisa meniru gaya penulisannya. Berikut ini kita lihat
tulisan utuhnya.
|
Apakah
Artinya Partisipasi Rakyat Dalam
Pembangunan? Akhir-akhir ini
sering terdengar anjuran dari pihak pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah, agar diusahakan supaya rakyat berpartisipasi dalam pembangunan.
Namun, di berbagai provinsi (tidak semuanya) dan terutama di daerah
administrtif di bawah provinsi, sering
masih belum ada pengertian yang jelas mengenai konsep “partisipasi rakyat
dalam pembangunan” itu. Sering kali “partisipasi rakyat yang intensif”
disamakan dengan frekuensi tinggi turut sertanya rakyat pedesaan dalam
aktivitas-aktivits bersama. Dalam hal itu maka fokus diletakkan pada
frekuensi mengadakan pengerahan aktivitas bersama itu, dengan kurang menilai
mutu kerjanya serta relevansinya dalam rangka kebijaksanaan yang menjadi
pedoman pembangunan. Partisipasi rakyat,
terutama rakyat pedesaan, dalam pembangunan itu sebenarnya menyangkut dua
tipe yang pada prinsipnya berbeda, ialah: (1) Partisipasi dalam
aktivitas-aktivitas bersama dalam proyek-proyek pembangunan yang khusus; (2)
Partisipasi sebagai individu di luar aktivitas-aktivitas bersama dalam
pembangunan. Dalam tipe partisipasi yang pertama, rakyat pedesaan diajak,
dipersuasi, diperintahkan, atau dipaksa oleh wakil-wakil dari beraneka warna
Departemen atau oleh Pamong Desa, untuk berpartisipasi dan menyumbangkan
tenaga atau hartanya kepada proyek-proyek pembangunan yang khusus, yang
biasanya bersifat fisik. Kalau rakyat ikut serta berdasarkan atas
keyakinannya bahwa proyeknya itu akan bermanfaat baginya maka mereka akan
berpartisipasi dengan semangat dan spontanitas yang besar, tanpa mengharapkan
upah tinggi. Sebaliknya, kalau mereka diperintah dan dipaksa oleh atasan
mereka untuk ikut menyumbangkan tenaga atau harta mereka kepada proyeknya
tadi, maka mereka akan berpartisipasi dengan semangat kerja rodi.
Contoh-contoh dari tipe partisipasi seperti terurai di atas adalah misalnya:
partisipasi orang desa dalam proyek mengeraskan atau melebarkan jalan desa,
dalam membuat saluran irigasi, dalam membuat jembatan desa, dalam proyck
penghijauan, dalam kursus buta huruf, dan sebagainya. Dalam tipe
partisipasi yang kedua tidak ada proyek aktivitas bersama yang khusus, tetapi
pada proyek-proyek pembangunan, biasany yang tidak bersifat fisik dan tidak
memerlukan suatu partisipasi rakyat atas perintah atau paksaan dari
atasannya, tetapi selalu atas dasar kemauan mereka sendiri. Contoh dari tipe
partisipasi seperti terurai dalam alinea ini adalah misalnya partisipasi
dalam Bimas, menjadi aseptor keluarga berencana, menabung uang di Tabanas,
dan sebagainya. Karyawan dan petugas
yang harus menginstruksikan
rakyat di pedesaan untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek aktivitas bersama
(partisipasi tipe pertama) biasanya tidak dapat melampaui pamong desa dan
pimpinan desa yang resmi. Dalam zaman kolonial dulu, struktur pemerintahan
adalah sedemikian rupa sehingga segala instrukksi dari atas itu harus
disalurkan melalui garis hierarki pamong praja (dulu namanya pangreh praja).
Memang dalam zaman kolonial belum banyak jawatan yang turun ke bawah sampai
ke desa, sehigga usaha koordinasi dari instrukis-instruksi kepada rakyat
untuk turut berpartisipasi dalam proyek-proyek pemerintah masih bisa dikuasai
oleh pamong praja. Sekarang jumlah departemen-departemen,
direktorat.-direktorat jenderal, direktorat-direktorat, dinas-dinas ABRI
bahkan kadang-kadang biro-biro, yang mempunyai ujung-ujung jarinya dalam
masyarakat pedesaan dan ingin ikut serta menggerakkan rakyat untuk
berpartisipasi dalam pembangunan, sudah terlampau banyak. Demikian koordinasi
dari semua instruksi dari atas itu menjadi amat sulit untuk dikuasai oleh
pamong praja. Walau demikian, sampai sekarang jalan yang terbaik untuk
menginstruksikan (bukan memaksa) rakyat pedesaan untuk ikut berpartisipasi
dalam proyek-proyek yang bersifat aktivitas-aktivitas bersama, masih tetap
melalui saluran pamong praja. Karyawan dan petugas
yang harus mengajak, mempersuasi, dan menginstruksikan rakyat pedesaan untuk
ikut berpartisipasi dalam proyek pembangunan sebagai individu (partisipasi
tipe kedua), menghadapi masalah yang jauh lebih rumit. Karena partisipasi
rakyat itu berdasarkan suatu keputusan mereka sendiri sebagai individu, maka
hanya perintah dari lurah atau camat saja tidak cukup. Keputusan seorang
warga desa untuk menjadi aseptor dalam keluarga berencana misalnya, tidak
bisa hanya berdasarkan atas perintah lurah atau camat, melainkan atas suatu
keyakinan yang mendalam bahwa partisipasinya itu sungguh bermanfaat, pertama
untuk dirinya sendiri dan keluarganya dan kemudian untuk masyarakat dan
aegara. Hal itu banya bisa dicapai dengan suatu proses persuasi dan penerangan
yang intensif dan lama. Ada beberapa ahli
ilmu sosial yang berpendirian bahwa berhasilnya persuasi dan penerangan
kepada rakyat pedesaan itu tak akan menjamin rakyat pedesaan akan ikut serta
berpartisipasi (tipe kedua), tanpa adanya restu dari lurah atau pihak atasan.
Sekali lagi di sini muncul nilai budaya yang terlampau berorientasi vertikal
ke arah atasan, yang telah berapa kali saya sebut dalam karangan-karangan
terdahulu dalam seri ini, dan yang akan menghambat suatu keputusan progresif
dari rakyat pedesaan Menurut hemat saya peranan menghambát dari pihak lurah
di sini terlampau dibesar-besarkan. Memang saya bisa mengerti adanya
lurah-lurah atau pamong desa yang merasa tersinggung kalau mereka tidak
diikutsertakan, dan karena itu dengan mentilitas pegawainya ingin menyabot
perkembangan ide-ide baru yang dikembangkan pihak lain, dengan alasan
kesalahan prosedur dan protokol. Saat itu dengan begitu hanya merupakan soal
sopan santun saja dan kesukaran-kesukaran yang timbul karena sabotase dari
pihak pegawai-pegawai desa bisa dihindari dengan mengikutsertakan mereka
dalam permasalahannya. |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar