22. BELAJAR MENULIS WACANA EKSPOSISI (5)
Subagio S.Waluyo
Sebagaimana telah dijelaskan di “18. Belajar Menulis Wacana Eksposisi (1)” bahwa yang disingkap dalam tulisan eksposisi adalah sesuatu yang selama ini tertutup, terlindungi, atau tersembunyi. Dalam hal ini buah pikiran, ide, perasaan, atau pendapat penulisnya. Salah satu yang juga perlu disingkap adalah buah pikiran yang dihasilkan Yok Koeswoyo, salah satu personal grup band: Koes Ploes, yang di tahun 1973 menulis sebuah lirik lagu `Kolam Susu`. Ada apa dengan lirik lagu tersebut? Lirik lagu tersebut menarik untuk disingkap karena di lirik lagu tersebut kalau diamati secara mendalam ternyata isinya membahas kekayaan negeri kita tercinta: Indonesia.
Karena ada yang menarik untuk dibahas, tidak ada salahnya buat kita untuk mencoba menyingkapnya melalui tulisan eksposisi. Lirik lagu ciptaan Yok Koeswoyo kali ini ternyata juga bisa mengerutkan dahi kita. Di bait pertama saja kita disuguhkan dengan bunyi lirik Bukan lautan hanya kolam susu. Apa itu `kolam susu`? Di dunia ini apa ada `kolam susu`? Bisa jadi `kolam susu` itu adalah lautan yang banyak memberi kita kemudahan untuk menikmati kehidupan karena cukup dengan kail dan jala kita bisa hidup. Bukan hanya itu, negeri ini layak disebut tanah surga karena tongkat dan kayu bisa jadi tanaman. Saking indahnya negeri ini diibaratkan seperti mutiara manikam. Gambaran tentang Indonesia sebagai negeri `kolam susu` bisa dilihat pada bagian pembuka tulisan eksposisi berikut ini.
|
Kolam Susu Koes Plus Kail
dan jalan cukup menghidupimu Tiada
badai tiada topan kau temui Ikan
dan udang menghampiri dirimu Bukan
lautan hanya kolam susu Kail
dan jala cukup menghidupmu Tiada
badai tiada topan kau temui Ikan
dan udang menghampiri dirimu Orang
bilang tanah kita tanah surga Tongkat
kayu dan batu jadi tanaman Orang
bilang tanah kita tanah surga Tongkat
kayu dan batu jadi tanaman ……………………………………………………………………………………………. Ada
negeri diberi embel-embel “kolam susu”. Jadilah “negeri kolam susu” nama
negeri itu. Itulah Indonesia. Negeri elok yang jika dilihat dari petanya saja
seperti untaian permata manikam yang tersusun demikian indahnya. Itu baru
dilihat dari tampilan petanya. Ternyata, negeri ini memang elok bukan dari
petanya, tapi juga dari keindahan pantai-pantainya yang dijejeri sekian ribu
bahkan ratusan ribu (mungkin juga jutaan) pohon kelapa. Sepanjang mata memandang
selain pohon-pohon kelapa juga ada di sebagian tempat bukit-bukit hijau yang
jika digali masih ada kekayaan alam yang tidak terhingga. Jika tidak
berkeinginan menggalinya, tanam saja pohon-pohon keras yang bisa dituai
hasilnya di kemudian hari. Bukankah negeri kolam susu itu hanya dengan
‘tongkat kayu dan batu jadi tanaman’?
|
Uraian
di atas perlu dibuktikan dengan data yang valid. Untuk itu, pada uraian berikut
ini digambarkan kekayaan negeri ini .
1.
Luas lautannya 70% dari keseluruhan luas negeri ini.
2.
Di lautan yang demikian luas itu terdapat beragam makhluk
laut yang jumlahnya bisa miliaran.
3.
Bukan hanya makhluk laut yang bisa dimanfaatkan rakyat negeri
ini, tapi juga terdapat kekayaan mineral (berupaBBM).
4.
Negeri ini tingkat biodiversitasnya menempati posisi kedua
setelah Brazil.
5.
Negeri ini juga kaya dengan SDA-nya entah itu BBM, emas,
perak, timah, nikel, batu bara, geotermal, dan masih banyak lagi hasil tambang
lainnya.
6.
Hasil hutannya juga melimpah.
7.
Di luar itu semua, negeri ini juga kaya dengan kekayaan alam dan
peninggalan-peninggalan sejarah yang tentu saja bisa dimanfaatkan untuk
pengembangan sektor pariwisata.
8.
Rakyat negeri ini juga dikenal orang-orang yang kreatif dan
inovatif sehingga di berbagai tempat ditemukan produk-produk wisata yang mengundang
kehadiran wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara.
9. Semua itu merupakan karunia Tuhan sehingga sangat layak kalau negeri ini disebut juga sebagai `surganya dunia`.
|
Negeri kolam susu yang lautnya 70% dari
keseluruhan luas negeri itu dihuni oleh beragam makhluk laut dan jutaan
(bahkan boleh jadi milyaran) yang ada di laut itu siap untuk dimanfaatkan
oleh penduduk negeri kolam susu. Dijamin tidak akan habis-habisnya untuk
dipancing atau ditangkap makhluk laut yang ada di lautan negeri kolam susu
itu. Bukan hanya makhluk-makhluk laut yang ada di lautan, jika dilakukan
eksplorasi, ternyata masih banyak terpendam sumber-sumber minyak bumi yang
dijamin bisa memenuhi kebutuhan rakyat negeri kolam susu akan BBM. Bukan
hanya itu, dari minyak-minyak yang digali masih bisa digunakan
industri-industri yang menggunakan baik untuk bahan bakunya maupun untuk
menggerakkan mesin-mesin industrinya. Pendek kata, negeri kolam susu dijamin
dalam beberapa tahun ke depan (entah 20, 30, atau 50 tahun) tidak akan
mengalami krisis BBM asal benar saja pengelolaannya.
Kekayaan alam Indonesia seperti yang ditulis Anne Ahira sebagai negara
dengan tingkat biodiversitas (keanekaragaman hayati) kedua di dunia setelah
Brazil (http://www.anneahira.com/ kekayaan-alam-indonesia.htm#). Berikut ini slide yang
menggambarkan tentang keaneka-ragaman hayati Indonesia. (https:// www.google. com/search?q= gambar+biodiversitas+indonesia&client). Dari slide tersebut bisa dijelaskan bahwa
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati sangat tinggi; tumbuhan tipe
Indo-Malaya yang arealnya paling luas; hewan tipe oriental Asia, Australia,
serta peralihan; hewan dan tumbuhan langka yang sangat banyak; dan kaya akan
hewan dan tumbuhan endemik. Oleh karena itu, wajar-wajar saja jika
keanekaragaman hayati di Indonesia memiliki keunikan sebagaimana dijelaskan
pada slide di atas. Keaneka-ragaman hayati yang
ada di negara ini jika dikelola dengan baik diharapkan bisa mensejahterakan
rakyatnya. Itu baru dari keanekaragaman hayatinya, bagaimana dengan kekayaan alam
Indonesia lainnya, seperti gas alam atau hasil pertambangan? Kalau mau
dieksplorasi masih sangat banyak kekayaan alam Indonesia dari hasil tambang.
Gas alam, misalnya, karena Indonesia memiliki banyak gunung, pegunungan, dan
perbukitan, tidak mustahil jika dieksplorasi Indonesia bisa jadi negara
terkaya dalam memiliki sumber-sumber gas alam. Selain gas alam, hasil-hasil
tambang lainnya yang sampai saat ini masih digali seperti emas, timah,
tembaga, batu bara, atau berbagai jenis mineral lainnya memberikan devisa
buat negara yang tidak sedikit. Semua hasil tambang dan mineral itu kalau
dikelola dengan baik diharapkan bisa mensejahterakan rakyatnya.
Dari sektor pariwisata Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar
biasa. Tidak salah jika negeri ini disebut sebagai “surganya dunia”. Lihat
saja pegunungan-pegunungan di Indonesia yang membujur dari barat di Sumatera
sampai di timur, itu semua menampilkan sekian banyak tempat wisata yang siap
dimanfaatkan bagi masyarakat yang ingin mengisi liburan atau sekedar
melepaskan kejenuhan. Jajaran pegunungan masih bersambung di Jawa yang jika
ditarik garis lurus dari barat di Provinsi Banten sampai ke ujung timur di
Provinsi Jawa Timur menawarkan pesona alam yang luar biasa. Masyarakat yang
punya hobi arum jeram, sungai-sungai di Indonesia siap menyalurkan hobinya.
Masyarakat yang punya hobi berpetualang ke alam bebas (hutan, misalnya),
hutan-hutan Indonesia siap menyalurkan hobinya. Masyarakat yang punya hobi
pada peninggalan-peninggalan kuno, Indonesia punya warisan candi-candi,
museum-musem, atau bangunan-bangunan kerajaan yang siap menerima
kehadirannya. Masyarakat yang punya hobi bersilancar di laut, pantai-pantai
di Indonesia siap menyalurkan hobinya karena dijamin akan aman-aman saja
(bukankah ini negeri yang disebut "tiada topan tiada badai kau
temui?"). Masyarakat yang punya hobi kuliner, di beberapa kota yang
dikenal sebagai kota-kota wisata kuliner siap mengenyangkan perut-perut
wisatawan yang punya hobi kuliner. Masyarakat yang punya hobi pada
hasil-hasil industri kreatif, kota-kota di Indonesia yang memiliki
sentra-sentra industri kreatif siap
menerima kehadirannya untuk memenuhi seleranya. Pendek kata, wisata di
Indonesia memberikan banyak tawaran yang bisa memuaskan para wisatawan yang
berhasrat memenuhi kepuasan batiniahnya. Dari sektor pariwisata saja jika
dikelola dengan baik dijamin bisa memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. |
Di
bagian penutup ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan di antaranya berikut
ini.
1.
Rakyat Indonesia hidup layaknya di surga.
2.
Rakyat Indonesia seharusnya hidup berkecukupan.
3.
Indonesia negeri yang subur dan makmur.
4.
Banyak rakyat Indonesia yang tidak bisa menikmati kekayaan
negaranya.
5.
Pengelola negeri ini serakah, bodoh, dan haus kekuasaan.
6. Nasib Indonesia diibaratkan Kapal Titanic yang akan tenggelam pelan-pelan.
|
Indonesiaku “negeri kolam susu” yang membuat rakyatnya selayaknya
hidup seperti di surga karena “tiada badai tiada topan kau temui” sehingga
nelayan bisa mengail ikan dengan nyaman dan aman. Indonesiaku “negeri kolam
susu” yang rakyatnya seharusnya hidup berkecukupan karena “kail dan jala
cukup menghidupimu” sehingga lautan yang membentang luas itu siap memenuhi
kebutuhan para nelayan. Indonesiaku “negeri kolam susu” yang “orang bilang
tanah kita tanah surga” karena “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Dari
“tongkat kayu” yang ditancapkan itu akan tumbuh tunas-tunas pohon yang kelak
bisa dinikmati oleh para penanamnya. Indonesiaku “negeri kolam susu” ternyata
jauh panggang dari api.Pengelola "negeri kolam susu" ini
karena keserakahannya, kebodohannya, kehausan kekuasaannya, dan tentu saja
kealpaannya sampai-sampai tidak ingat pada rakyat kecil yang mereka
selayaknya juga mendapat bagian dari kekayaan negeri ini. Indonesiaku “negeri
kolam susu” berubah jadi “negeri kolam air mata” karena banyak rakyat negeri
ini yang setiap hari menangisi kemiskinannya. Ah, "negeri kolam susu"
yang telah berganti jadi "negeri kolam air mata" sudah seperti
nasibnya kapal titanic. |
|
Negeri Kolam Susu Subagio S.Waluyo Kolam Susu Kail
dan jalan cukup menghidupimu Tiada
badai tiada topan kau temui Ikan
dan udang menghampiri dirimu Bukan
lautan hanya kolam susu Kail
dan jala cukup menghidupmu Tiada
badai tiada topan kau temui Ikan
dan udang menghampiri dirimu Orang
bilang tanah kita tanah surga Tongkat
kayu dan batu jadi tanaman Orang
bilang tanah kita tanah surga Tongkat
kayu dan batu jadi tanaman ………………………………………………………………………………………
Ada negeri diberi embel-embel “kolam susu”.
Jadilah “negeri kolam susu” nama negeri itu. Itulah Indonesia. Negeri elok
yang jika dilihat dari petanya saja seperti untaian permata manikam yang
tersusun demikian indahnya. Itu baru dilihat dari tampilan petanya. Ternyata,
negeri ini memang elok bukan dari petanya, tapi juga dari keindahan
pantai-pantainya yang dijejeri sekian ribu bahkan ratusan ribu (mungkin juga
jutaan) pohon kelapa. Sepanjang mata memandang selain pohon-pohon kelapa juga
ada di sebagian tempat bukit-bukit hijau yang jika digali masih ada kekayaan
alam yang tidak terhingga. Jika tidak berkeinginan menggalinya, tanam saja
pohon-pohon keras yang bisa dituai hasilnya di kemudian hari. Bukankah negeri
kolam susu itu hanya dengan ‘tongkat kayu dan batu jadi tanaman’? *** Negeri
kolam susu yang lautnya 70% dari keseluruhan luas negeri itu dihuni oleh
beragam makhluk laut dan jutaan (bahkan boleh jadi milyaran) yang ada di laut
itu siap untuk dimanfaatkan oleh penduduk negeri kolam susu. Dijamin tidak
akan habis-habisnya untuk dipancing atau ditangkap makhluk laut yang ada di
lautan negeri kolam susu itu. Bukan hanya makhluk-makhluk laut yang ada di
lautan, jika dilakukan eksplorasi, ternyata masih banyak terpendam
sumber-sumber minyak bumi yang dijamin bisa memenuhi kebutuhan rakyat negeri
kolam susu akan BBM. Bukan hanya itu, dari minyak-minyak yang digali masih
bisa digunakan industri-industri yang menggunakan baik untuk bahan bakunya
maupun untuk menggerakkan mesin-mesin industrinya. Pendek kata, negeri kolam
susu dijamin dalam beberapa tahun ke depan (entah 20, 30, atau 50 tahun)
tidak akan mengalami krisis BBM asal benar saja pengelolaannya. Kekayaan alam Indonesia seperti yang ditulis Anne Ahira sebagai negara dengan tingkat biodiversitas (keanekaragaman hayati) kedua di dunia setelah Brazil (http://www.anneahira.com/kekayaan-alam-indone sia.htm#). Berikut ini slide yang menggambarkan tentang keanekaragaman hayati Indonesia. (https:// www.google. com/search?q= gambar+biodiversitas+indonesia&client). Dari slide tersebut bisa dijelaskan bahwa
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati sangat tinggi; tumbuhan tipe
Indo-Malaya yang arealnya paling luas; hewan tipe oriental Asia, Australia,
serta peralihan; hewan dan tumbuhan langka yang sangat banyak; dan kaya akan
hewan dan tumbuhan endemik. Oleh karena itu, wajar-wajar saja jika
keanekaragaman hayati di Indonesia memiliki keunikan sebagaimana dijelaskan
pada slide di atas. Keanekaragaman hayati yang
ada di negara ini jika dikelola dengan baik diharapkan bisa mensejahterakan
rakyatnya. Itu
baru dari keanekaragaman hayatinya, bagaimana dengan kekayaan alam Indonesia
lainnya, seperti gas alam atau hasil pertambangan? Kalau mau dieksplorasi
masih sangat banyak kekayaan alam Indonesia dari hasil tambang. Gas alam,
misalnya, karena Indonesia memiliki banyak gunung, pegunungan, dan
perbukitan, tidak mustahil jika dieksplorasi Indonesia bisa jadi negara
terkaya dalam memiliki sumber-sumber gas alam. Selain gas alam, hasil-hasil
tambang lainnya yang sampai saat ini masih digali seperti emas, timah,
tembaga, batu bara, atau berbagai jenis mineral lainnya memberikan devisa
buat negara yang tidak sedikit. Semua hasil tambang dan mineral itu kalau
dikelola dengan baik diharapkan bisa mensejahterakan rakyatnya. Dari
sektor pariwisata Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Tidak
salah jika negeri ini disebut sebagai “surganya dunia”. Lihat saja
pegunungan-pegunungan di Indonesia yang membujur dari barat di Sumatera
sampai di timur, itu semua menampilkan sekian banyak tempat wisata yang siap
dimanfaatkan bagi masyarakat yang ingin mengisi liburan atau sekedar
melepaskan kejenuhan. Jajaran pegunungan masih bersambung di Jawa yang jika
ditarik garis lurus dari barat di Provinsi Banten sampai ke ujung timur di
Provinsi Jawa Timur menawarkan pesona alam yang luar biasa. Masyarakat yang
punya hobi arum jeram, sungai-sungai di Indonesia siap menyalurkan hobinya.
Masyarakat yang punya hobi berpetualang ke alam bebas (hutan, misalnya),
hutan-hutan Indonesia siap menyalurkan hobinya. Masyarakat yang punya hobi
pada peninggalan-peninggalan kuno, Indonesia punya warisan candi-candi,
museum-musem, atau bangunan-bangunan kerajaan yang siap menerima
kehadirannya. Masyarakat yang punya hobi bersilancar di laut, pantai-pantai
di Indonesia siap menyalurkan hobinya karena dijamin akan aman-aman saja
(bukankah ini negeri yang disebut "tiada topan tiada badai kau
temui?"). Masyarakat yang punya hobi kuliner, di beberapa kota yang
dikenal sebagai kota-kota wisata kuliner siap mengenyangkan perut-perut
wisatawan yang punya hobi kuliner. Masyarakat yang punya hobi pada
hasil-hasil industri kreatif, kota-kota di Indonesia yang memiliki
sentra-sentra industri kreatif siap menerima kehadirannya untuk
memenuhi seleranya. Pendek kata, wisata di Indonesia memberikan banyak
tawaran yang bisa memuaskan para wisatawan yang berhasrat memenuhi kepuasan
batiniahnya. Dari sektor pariwisata saja jika dikelola dengan baik dijamin
bisa memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. *** Indonesiaku
“negeri kolam susu” yang membuat rakyatnya selayaknya hidup seperti di surga
karena “tiada badai tiada topan kau temui” sehingga nelayan bisa mengail ikan
dengan nyaman dan aman. Indonesiaku “negeri kolam susu” yang rakyatnya
seharusnya hidup berkecukupan karena “kail dan jala cukup menghidupimu”
sehingga lautan yang membentang luas itu siap memenuhi kebutuhan para
nelayan. Indonesiaku “negeri kolam susu” yang “orang bilang tanah kita tanah
surga” karena “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Dari “tongkat kayu” yang
ditancapkan itu akan tumbuh tunas-tunas pohon yang kelak bisa dinikmati oleh
para penanamnya. Indonesiaku “negeri kolam susu” ternyata jauh panggang dari
api.Pengelola "negeri kolam susu" ini karena keserakahannya,
kebodohannya, kehausan kekuasaannya, dan tentu saja kealpaannya sampai-sampai
tidak ingat pada rakyat kecil yang mereka selayaknya juga mendapat bagian
dari kekayaan negeri ini. Indonesiaku “negeri kolam susu” berubah jadi
“negeri kolam air mata” karena banyak rakyat negeri ini yang setiap hari
menangisi kemiskinannya. Ah, "negeri kolam susu" yang telah
berganti jadi "negeri kolam air mata" sudah seperti nasibnya kapal titanic. (Dikutip dari Guru Ada Guru Tiada/Subagio S.Waluyo, 2020: 124-127)
|
Sumber Gambar:


Tidak ada komentar:
Posting Komentar