Selasa, 12 November 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (20)



UJIAN DAN PENGUJIAN

 Subagio S.Waluyo

Dalam pemakaian imbuhan bahasa Indonesia kerap kali ditemukan dua bentuk imbuhan yang fungsinya sama namun maknanya berbeda. Karena pemakai bahasa umumnya tidak memahami baik makna maupun fungsinya. Pemakai bahasa sering kali dengan tidak disadari menggunakan sebuah imbuhan dan tidak memanfaatkan imbuhan lainnya meskipun maknanya jelas berbeda. Contoh konkrit yang bisa diambil di sini adalah kata ujian yang lebih sering digunakan daripada kata pengujian. Kedua kata tersebut apabila dianalisis proses pembentukannya dan maknanya jelas berbeda.

Kebahasaan dan Kesastraan (19)



UNSUR PENGABDIAN DALAM KARYA SASTRA


            Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia.  Tetapi, manusia juga bisa menjadi makhluk Tuhan yang paling buruk kedudukannya (bisa lebih buruk daripada binatang ternak).  Agar manusia bisa mempertahankan kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia di antara makhluk-makhluk lainnya, ia harus menyembah (bisa juga diartikan sebagai mengabdi) yang menciptakannya, yaitu Tuhan.  Oleh karena itu, manusia disebut juga sebagai makhluk pengabdi (maksudnya yang mengabdi kepada Tuhan).  Sampai sejauhmana kuatnya pengabdian manusia kepada Sang Khalik, coba kita amati puisi di bawah ini.   

Artikel Agama (10)

“G SYIRIK”

Gambar DukunSubagio S. Waluyo
Ada orang tergolong “G O`ON” tapi tidak bebas dari syirik. Kenapa ya? Seharusnya `kan orang “G O`ON” “G SYIRIK” dong? Eit, nanti dulu. Belum tentu orang “G O`ON” terbebas dari “G SYIRIK”.  Buktinya, anggota DPR yang punya syahwat politik, yang begitu bersemangat menggolkan 65 RUU Pemekaran Daerah apakah tergolong o`on? Mereka termasuk golongan “G O`ON” tetapi tidak terbebas dari “G SYIRIK” `kan? Lha, kok bisa begitu? Ya, karena mereka telah menjadikan syahwat politiknya sebagai Tuhan-nya. Orang yang seperti itu jelas-jelas telah berbuat syirik karena mereka telah menjadikan Allah SWT sebagai tandingannya (Surat Al-Baqarah :165). Mereka telah menjadikan jabatan, kedudukan, pangkat sebagai Tuhannya.   Boleh juga, demi 3 t (tahta, harta, dan wanita) mereka melakukan cara-cara ilegal sehingga merusak aqidahnya. Bukankah Allah SWT telah mewanti-wanti agar tidak menjadi menjadikan Allah sebagai tandingan-Nya (Surat Al-Baqoroh, Surat Al-Baqarah : 165)? Masih anggota DPR tapi yang ini lain lagi. Ada beberapa anggota DPR menjelang Pemilu 2014 kerapkali ke klenik-klenik. Mereka mendatangi `Mbah Dukun` yang dianggap kramat dan sakti mandraguna. Mereka siapkan sajen-sajen pesanan `Mbah Dukun`. Mereka minta do`a, jampi-jampi, dan jimat-jimat agar bisa terpilih lagi menjadi anggota DPR. Itu perbuatan syirik `kan? Padahal Allah SWT telah mengingatkan agar kita tidak berbuat syirik (mempersekutukan-Nya) sebagaimana firman-Nya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. ….” (An-Nisa, 4:36). Selain itu, masih di surat yang sama ayat 48 Allah SWT tidak akan mengampuni dosa orang-orang yang mempersekutukan-Nya (syirik). Mempersekutukan Allah tergolong perbuatan dosa besar. Perbuatan syirik membuat orang yang melakukannya terhina dan tercela (Surat Al-Isra, 17: 22).

Jumat, 08 November 2013

All You Need Is Love (04)

Mengapresiasi Kemanusiaan dan Kebudayaan

Tulisan ini lebih cenderung untuk menjawab hal-hal di seputar apa, mengapa, dan bagaimana dalam mengapresiasi kemanusiaan dan kebudayaan. Pola pengembangan tulisan dengan mengajukan pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana bukan hal yang baru. Di dunia jurnalistik sudah merupakan keharusan apabila seorang wartawan ingin meliput sebuah berita, dia akan berangkat dari 5 W+1 H. Dalam tulisan ini hanya 2 W+1 H, What, Why. dan How. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu kita akan memahami sepenuhnya yang ingin dicapai dari tulisan ini.

Rabu, 06 November 2013

Artikel Agama (9)

MEMBACA DAN MENULIS SEBAGAI SARANA

MENINGKATKAN KUALITAS UMAT

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah, dan Tuhanmu amat mulia.  Yang telah mengajar dengan pena.  Dia telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq (96): 1—5)

“Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (Al-Qolam (68): 1)

Artikel Agama (8)

“G  O`ON”


Melihat judul di atas, orang yang terbiasa sms-an jelas tidak ada yang aneh. “G O`ON” jika ditulis lengkap bisa menjadi “Ngga Blo`on” atau “Tidak Bodoh”. Cuma biar terasa lebih akrab kita gunakan saja “G O`ON”. “G O`ON” jelas ditujukan buat kita semua. Kenapa? Ya, supaya kita bisa menjadi anak bangsa atau umat manusia yang tidak mudah dibodohi. Supaya kita menjadi orang-orang yang cerdas. Supaya kita tidak menjadi orang-orang yang selalu ikut-ikutan tanpa ilmu karena sebagaimana telah diingatkan Allah SWT (Surat Al-Isra`:36)

Jumat, 01 November 2013

Artikel Administrasi Publik (03)


PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP ADMINISTRASI
BERDASARKAN KONSEP COMMUNITY DEVELOPMENT
(STUDI KASUS IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN
BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA BEKASI)

1.0   Latar Belakang Masalah

Ada orang yang mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia umumnya masih mengkhawatirkan.  Hal ini bisa dilihat berita Kompas hari ini yang menyebutkan bahwa angka buta huruf sebesar 8.7% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia yang tergolong orang-orang dewasa (dalam hal ini anak-anak balita tidak masuk hitungan).  Berapa pula jumlah anak-anak kita yang Droup Out (DO)? Kemungkinan besar sejak krisis ekonomi dan moneter (pertengahan Juli 1997) jumlahnya semakin membesar.  Untuk Kota Bekasi saja jumlah siswa yang DO sebanyak 341.857 siswa (?).  Sedangkan yang buta huruf tergolong sedikit, yaitu sebesar 1,3% karena menurut data dari BPS yang melek huruf (MH) sebanyak 98,7%.  Sebuah angka yang fantastis karena jauh dari angka nasional.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...