Rabu, 06 November 2013

Artikel Agama (9)

MEMBACA DAN MENULIS SEBAGAI SARANA

MENINGKATKAN KUALITAS UMAT

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah, dan Tuhanmu amat mulia.  Yang telah mengajar dengan pena.  Dia telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq (96): 1—5)

“Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (Al-Qolam (68): 1)


“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”  (Ali Imron (3):190)

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.  Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (Al Israa` (17): 36)

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah (hukuman-hukuman Allah yang berupa malapetaka, bencana yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan rasul) ; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”  (Ali Imron (3): 137)

***
            Ayat-ayat di atas merupakan perintah.  Bisa juga di dalamnya terkandung isyarat-isyarat dari Allah swt.  Sebagai bukti adanya perintah dan isyarat bisa dilihat dari ayat yang pertama kali Allah turunkan dalam Al-Qur`an: Iqro` (baca).  Mengapa harus baca?  Ternyata bermula dari perintah itulah manusia bisa menangkap isyarat betapa perintah tersebut terkandung isyarat yang dalam istilah kalangan peneliti disebut heuristik yang artinya mengungkap.  Dari perintah iqro` manusia memang diharuskan mengungkap semua isi alam semesta untuk diteliti.  Jadi, manusia yang mengamalkan iqro` adalah manusia yang waktunya dipenuhi dengan penelitian karena ia ingin mengungkap seluruh isi alam semesta ini.
            Mengungkap isi alam semesta dengan melakukan berbagai penelitian tidak cukup dengan hanya membaca, tetapi juga diperlukan menulis.  Sekali lagi, Allah pun memerintahkan kita untuk menulis.  Perintah menulis bukan saja dalam rangka menyambung satu rangkaian pernyataan: membaca dan menulis, tetapi juga hal-hal yang berhubungan dengan mu`amalah.  Allah telah menyediakan sebuah ayat terpanjang dalam Al-Qur`an, yaitu dalam Al-Baqoroh (2):282. Ayat tersebut mewanti-wanti orang-orang yang beriman agar menuliskan segala hal yang berhubungan dengan mu`amalah. Mengapa Allah mengingatkan kepada kita untuk menulis dalam hal ber-mu`amalah dengan menyediakan kapling ayat yang demikian panjang? Sekali lagi,di sini kita diminta untuk mengungkapkannya.  
            Kelima ayat di atas, yang merupakan wakil dari sekian banyak ayat Allah yang berupa perintah dan isyarat untuk membaca dan menulis, mengajak kita untuk menggali ilmu pengetahuan. Dengan sendirinya juga mengajak kita menjadi umat yang berilmu.  Bukankah bangsa yang berhasil adalah bangsa yang menguasai ilmu?  Namun, menguasai ilmu pengetahuan saja belum cukup jika tidak disertai dengan iman.  Karena itu, kalau kita menilik ayat-ayat di atas, kita dapati unsur yang mengacu pada Allah swt. tidak bisa dipisahkan.  Dengan demikian yang diharapkan dari ayat-ayat di atas adalah terciptanya manusia yang bukan saja berilmu, tetapi juga beriman karena kata Allah swt. orang yang beriman dan berilmu akan diangkat derajatnya lebih tinggi lagi (Al-Mujadalah (58):11).

***
            Allah swt. melalui Al-Qur`an menghendaki agar umat Islam adalah umat yang memiliki budaya membaca dan menulis.  Tetapi, apa yang kita hadapi saat ini?  Umat Islam saat ini belum lagi menjadi masyarakat baca,apalagi masyarakat tulis.  Kita baru menjadi masyarakat yang lebih cenderung untuk mendengar dan berbicara. Dengan kata lain,budaya lisan lebih dominan daripada budaya baca dan tulis.  Sebagai bukti bahwa umat kita adalah umat yang terbelakang, yang dibuktikan dengan keengganannya untuk membaca dan menulis, dapat kita lihat dari fakta di hadapan kita.
            Kita bisa mulai dari hal yang sepele saja.  Berapa banyak dari mahasiswa kita yang dalam satu pekan lebih dari satu kali mengunjungi perpustakaan?  Kita bisa mengatakan bahwa mahasiswa kita ke perpustakaan pada saat-saat tertentu saja, yaitu ketika menjelang ujian, ketika ada penugasan dari dosennya (karena membuat paper), atau ketika menyusun skripsi.  Berapa banyak mahasiswa kita yang secara rutin setiap bulan, meskipun sekali saja, yang berkunjung ke toko buku?  Berapa banyak buku yang dimiliki oleh seorang mahasiswa, di samping buku-buku wajib, ketika menyelesaikan studinya? Fakta menunjukkan banyaknya buku yang bertumpuk di toko-toko buku merupakan cermin bahwa mahasiswa kita (yang sering dibanggakan sebagai agen perubahan, tokoh reformasi, atau calon intelektual) ternyata dalam kesehariannya masih jauh dari buku.  Seandainya, ada buku-buku yang laku, itu pun terbatas pada buku-buku tertentu.  Artinya, buku-buku yang laku itu adalah buku-buku saku, yang ringan dibaca, dan  harganya relatif terjangkau kantong mahasiswa. Jika mahasiswa saja sebagai intelektual muda belum terbentuk budaya baca,bagaimana dengan masyarakat di luar kampus? Tentu saja akan lebih parah lagi.  Jadi, beginilah kondisi umat kita saat ini, masyarakat yang tidak terasah intelektualnya karena malas baca.   
            Bahaya apa yang akan muncul jika umat kita malas membaca?  Kita akan berhadapan dengan gerakan pembodohan umat!  Salah satu bukti bahwa umat kita mudah dibodohi di antaranya adalah begitu mudahnya umat kita diprovokasi oleh umat-umat lain.  Umat kita bukan saja sebagai sasaran pembodohan, tetapi juga mudah untuk didzolimi.  Tidak adanya harga diri (prestise atau izzah) di tubuh umat ini menunjukkan bahwa umat kita adalah umat terbelakang.  Salah satu penyebab keterbelakangan umat ini di antaranya karena umat kita belum terbentuk sebagai umat yang memiliki budaya baca dan tulis.
            Keengganan untuk membaca akan berakibat pada keengganan untuk menulis.Bahkan,lebih jauh lagi, keengganan untuk menyingkap dan mengungkap ayat-ayat kauniyah sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang seharusnya kita kuasai, kini direbut oleh umat lain. Kalau iptek sudah dikuasai oleh umat lain, tidak mustahil umat lain yang cenderung sekuler akan menjadikan umat ini sebagai objek pembodohan.  Hal itu memang sudah dan akan terus terjadi. Jika ini terus terjadi, tidak mustahil umat kita akan mengalami yang dinamakan sebagai keterbelakangan budaya. Keterbelakangan budaya akan berakibat fatal, yaitu umat kita akan menjadi umat pengekor.  
***
            Mengapa umat Islam saat ini menjadi pengekor?  Jawabannya sederhana saja: karena umat Islam telah jauh dari Al-Qur`an.  Bukankah umat Islam banyak yang membaca dan menghafal Al-Qur`an?Betul,umat kita banyak yang membaca dan menghafalnya.  Tetapi, banyak di antara umat kita yang baru sebatas membaca dan menghafal Al-Qur`an.  Bahkan, banyak di antara umat kita yang membaca dan menghafal Al-Qur`an untuk surat-surat dan waktu-waktu tertentu saja.  Al-Qur`an belum sampai pada taraf untuk di-tadabur-kan (direnungkan atau dikontemplasikan) apalagi untuk diamalkan. 
            Gambaran umat Islam saat ini jauh sekali dengan umat Islam terdahulu.  Umat Islam terdahulu, karena mereka demikian akrabnya dengan Al-Qur`an, di antara mereka banyak yang menguasai iptek. Di saat-saat umat lain, apalagi Eropa yang masih meraba-raba untuk menjangkau dunia iptek, umat Islam sudah melakukan berbagai macam eksprimen di bidang iptek.  Tidak heran jika umat Islam disegani oleh umat-umat lain karena melalui umat Islam-lah mereka bisa mengembangkan iptek. 
            Bangsa Eropa adalah salah satu bangsa yang dapat memanfaatkan dan sekaligus mengembangkan iptek hasil temuan umat Islam saat itu. Eropa yang saat itu benar-benar dalam suasana gelap setelah datangnya Islam seolah-olah memperoleh cahaya ilmu karena di beberapa kota di Eropa didirikan oleh umat Islam pusat-pusat kajian keilmuan.  Salah satu peninggalan umat Islam yang monumental, Istana Cordova, merupakan bukti betapa tingginya arsitektur Islam saat itu. Di samping meninggalkan bangunan-bangunan yang monumental, umat Islam saat itu juga mewarisi jutaan buku di benua tersebut. Digambarkan dalam sejarah, ketika terjadinya Perang Salib banyak buku yang dibuang oleh bangsa Eropa ke Sungai Rhein. Begitu banyaknya buku di sungai tersebut sampai-sampai seorang perajurit berkuda bisa menyeberangi Sungai Rhein melalui buku-buku yang terendam di sungai tersebut. 
Banyaknya peninggalan hasil karya umat Islam menunjukkan Islam benar-benar pernah eksis di Eropa.  Setelah umat Islam habis sama sekali dari bumi Eropa, entah pembantaian besar-besaran atau permutadan, semua peninggalan Islam itu dirampas oleh umat Nasrani.  Buku-buku hasil karya ilmuwan Muslim yang ditulis dengan demikian ikhlasnya pada akhirnya (bahkan sampai saat ini) banyak yang tersimpan di perpustakan Eropa.  Satu per satu buku-buku yang jutaan jumlahnya itu diterjemahkan yang kemudian diklaim sebagai hasil karya mereka.  Umat Islam menyaksikan hasil karyanya yang tampaknya tidak akan mungkin kembali lagi hanya gigit jari. 
Apakah setelah peristiwa itu umat Islam tidak lagi berkarya?  Sejarah membuktikan peperangan demi peperangan yang sangat melelahkan itu, yang tidak disertai dengan penanaman kembali nilai-nilai Islam, ternyata juga berakibat pada kemunduran umat Islam.  Kemunduran itu dimulai dengan terpecahnya kekhalifahan. Jatuhnya khalifah terakhir, Sultan Hamid II oleh Kemal Attaturk, yang kemudian disusul dengan munculnya beberapa kerajaan yang masing-masing terpisah karena tidak adanya koridor menjadikan umat ini tidak memiliki satu komando.  Mulai saat itu umat Islam secara perlahan-lahan mengalami banyak kemunduran sehingga terbentuklah sebuah umat yang tidak lagi memiliki izzah karena budaya baca tulis telah jauh ditinggalkan.
***
            Apakah kita masih bisa mengulang sejarah kegemilangan kita di masa lalu?  Tentu saja bisa.  Kalau umat ini mau bersungguh-sungguh, Insya Allah akan diberikan jalan keluarnya.  Kita harus memulainya lagi dengan membaca sebagaimana umat terdahulu juga memulainya dengan membaca.  Kita harus menjadikan membaca sebagai salah satu kebutuhan primer sama halnya dengan kebutuhan primer lainnya.  Sebagai bukti bahwa membaca merupakan salah satu kebutuhan primer, kita harus membuat target bacaan.  Untuk itu, kita harus mulai dengan bacaan-bacaan yang ringan dan menentukan jumlah halaman yang harus kita baca.
Kita catat kata-kata atau istilah-istilah yang belum kita ketahui.  Kalau perlu pernyataan-pernyataan yang mengundang kita untuk didiskusikan, kita diskusikan dengan sesama kita dengan mengundang salah seorang sebagai narasumbernya.  Kita tidak boleh fanatik dengan melarang orang membaca buku yang ditulis oleh penulis-penulis yang diidentikkan sebagai penulis-penulis yang cenderung menyudutkan Islam.  Kita pun tidak boleh fanatik hanya membaca buku-buku yang sesuai dengan latar belakang pendidikan kita.  Pada saatnya nanti kita tidak boleh alergi membaca buku-buku tebal yang sarat dengan ilmu karena sikap seperti itu jelas tidak akan memupuk budaya baca.
Orang yang banyak membaca tanpa dipaksa dengan sendirinya akan ada kecenderungan untuk menulis.  Kalau sudah ada keinginan menulis, tulis apa saja yang menurut keinginan kita untuk ditulis.  Jangan merasa takut atau berat untuk menulis karena menulis itu gampang kalau ada kemauan.  Jadi, yang paling penting kemauan karena hanya dengan bermodalkan itulah seseorang bisa menjadi penulis besar.  Kalau di masa depan lahir dari umat ini penulis-penulis Islam yang kadar intelektualnya tidak diragukan lagi, yang memiliki aqidah yang mantap, akhlak yang mulia, dan semangat jihad yang tinggi tidak mustahil kejayaan Islam di masa lalu akan terwujud kembali.
***
            Umat Islam saat ini hanya bisa diselamatkan oleh generasi muda Islam yang memiliki budaya baca dan tulis.  Kalau generasi muda Islam, khususnya intelektual muda kalangan mahasiswa, tidak berkeinginan menciptakan sebuah masyarakat yang cinta baca dan tulis, kita bisa menyaksikan sejarah panjang umat ini yang tidak akan pernah lepas dari pembodohan umat.Tidak mustahil kita juga akan menyaksikan umat kita akan selalu menjadi umat pengekor.  Apakah kita masih berkeinginan menjadi umat pengekor?  Naudzubillahi min dzaalik!  Jangan sampai itu terjadi!  Wallahu a`lam bisawab.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...