MEMBACA DAN MENULIS SEBAGAI SARANA
MENINGKATKAN KUALITAS UMAT
“Bacalah
dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmu amat mulia. Yang telah mengajar
dengan pena. Dia telah mengajarkan
manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq (96): 1—5)
“Nun,
demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (Al-Qolam (68): 1)
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali Imron (3):190)
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (Al
Israa` (17): 36)
“Sesungguhnya
telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah (hukuman-hukuman Allah yang
berupa malapetaka, bencana yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan
rasul) ; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana
akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Ali Imron (3): 137)
***
Ayat-ayat
di atas merupakan perintah. Bisa juga di
dalamnya terkandung isyarat-isyarat dari Allah swt. Sebagai bukti adanya perintah dan isyarat
bisa dilihat dari ayat yang pertama kali Allah turunkan dalam Al-Qur`an: Iqro` (baca). Mengapa harus baca? Ternyata bermula dari perintah itulah manusia
bisa menangkap isyarat betapa perintah tersebut terkandung isyarat yang dalam
istilah kalangan peneliti disebut heuristik
yang artinya mengungkap. Dari
perintah iqro` manusia memang
diharuskan mengungkap semua isi alam semesta untuk diteliti. Jadi, manusia yang mengamalkan iqro` adalah manusia yang waktunya
dipenuhi dengan penelitian karena ia ingin mengungkap seluruh isi alam semesta
ini.
Mengungkap isi alam semesta dengan
melakukan berbagai penelitian tidak cukup dengan hanya membaca, tetapi juga
diperlukan menulis. Sekali lagi, Allah
pun memerintahkan kita untuk menulis.
Perintah menulis bukan saja dalam rangka menyambung satu rangkaian
pernyataan: membaca dan menulis, tetapi juga hal-hal yang berhubungan dengan mu`amalah. Allah telah menyediakan sebuah ayat
terpanjang dalam Al-Qur`an, yaitu dalam Al-Baqoroh (2):282. Ayat tersebut
mewanti-wanti orang-orang yang beriman agar menuliskan segala hal yang
berhubungan dengan mu`amalah. Mengapa Allah mengingatkan
kepada kita untuk menulis dalam hal ber-mu`amalah dengan menyediakan kapling ayat
yang demikian panjang? Sekali lagi,di sini kita diminta untuk
mengungkapkannya.
Kelima ayat di atas, yang merupakan
wakil dari sekian banyak ayat Allah yang berupa perintah dan isyarat untuk
membaca dan menulis, mengajak kita untuk menggali ilmu pengetahuan. Dengan
sendirinya juga mengajak kita menjadi umat yang berilmu. Bukankah bangsa yang berhasil adalah bangsa
yang menguasai ilmu? Namun, menguasai
ilmu pengetahuan saja belum cukup jika tidak disertai dengan iman. Karena itu, kalau kita menilik ayat-ayat di
atas, kita dapati unsur yang mengacu pada Allah swt. tidak bisa
dipisahkan. Dengan demikian yang
diharapkan dari ayat-ayat di atas adalah terciptanya manusia yang bukan saja
berilmu, tetapi juga beriman karena kata Allah swt. orang yang beriman dan
berilmu akan diangkat derajatnya lebih tinggi lagi (Al-Mujadalah (58):11).
***
Allah swt. melalui Al-Qur`an
menghendaki agar umat Islam adalah umat yang memiliki budaya membaca dan
menulis. Tetapi, apa yang kita hadapi
saat ini? Umat Islam saat ini belum lagi
menjadi masyarakat baca,apalagi masyarakat tulis. Kita baru menjadi masyarakat yang lebih
cenderung untuk mendengar dan berbicara. Dengan kata lain,budaya lisan lebih
dominan daripada budaya baca dan tulis.
Sebagai bukti bahwa umat kita adalah umat yang terbelakang, yang
dibuktikan dengan keengganannya untuk membaca dan menulis, dapat kita lihat
dari fakta di hadapan kita.
Kita bisa mulai dari hal yang sepele
saja. Berapa banyak dari mahasiswa kita
yang dalam satu pekan lebih dari satu kali mengunjungi perpustakaan? Kita bisa mengatakan bahwa mahasiswa kita ke
perpustakaan pada saat-saat tertentu saja, yaitu ketika menjelang ujian, ketika
ada penugasan dari dosennya (karena membuat paper), atau ketika menyusun
skripsi. Berapa banyak mahasiswa kita
yang secara rutin setiap bulan, meskipun sekali saja, yang berkunjung ke toko
buku? Berapa banyak buku yang dimiliki
oleh seorang mahasiswa, di samping buku-buku wajib, ketika menyelesaikan
studinya? Fakta menunjukkan banyaknya buku yang bertumpuk di toko-toko buku
merupakan cermin bahwa mahasiswa kita (yang sering dibanggakan sebagai agen
perubahan, tokoh reformasi, atau calon intelektual) ternyata dalam
kesehariannya masih jauh dari buku.
Seandainya, ada buku-buku yang laku, itu pun terbatas pada buku-buku
tertentu. Artinya, buku-buku yang laku
itu adalah buku-buku saku, yang ringan dibaca, dan harganya relatif terjangkau kantong
mahasiswa. Jika mahasiswa saja sebagai intelektual muda belum terbentuk budaya
baca,bagaimana dengan masyarakat di luar kampus? Tentu saja akan lebih parah
lagi. Jadi, beginilah kondisi umat kita
saat ini, masyarakat yang tidak terasah intelektualnya karena malas baca.
Bahaya apa yang akan muncul jika
umat kita malas membaca? Kita akan
berhadapan dengan gerakan pembodohan umat!
Salah satu bukti bahwa umat kita mudah dibodohi di antaranya adalah
begitu mudahnya umat kita diprovokasi oleh umat-umat lain. Umat kita bukan saja sebagai sasaran
pembodohan, tetapi juga mudah untuk didzolimi.
Tidak adanya harga diri (prestise atau izzah) di tubuh umat ini menunjukkan bahwa umat kita adalah umat
terbelakang. Salah satu penyebab
keterbelakangan umat ini di antaranya karena umat kita belum terbentuk sebagai
umat yang memiliki budaya baca dan tulis.
Keengganan untuk membaca akan
berakibat pada keengganan untuk menulis.Bahkan,lebih jauh lagi, keengganan
untuk menyingkap dan mengungkap ayat-ayat kauniyah
sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang seharusnya kita kuasai,
kini direbut oleh umat lain. Kalau iptek sudah dikuasai oleh umat lain, tidak
mustahil umat lain yang cenderung sekuler akan menjadikan umat ini sebagai
objek pembodohan. Hal itu memang sudah
dan akan terus terjadi. Jika ini terus terjadi, tidak mustahil umat kita akan
mengalami yang dinamakan sebagai keterbelakangan budaya. Keterbelakangan budaya
akan berakibat fatal, yaitu umat kita akan menjadi umat pengekor.
***
Mengapa umat Islam saat ini menjadi
pengekor? Jawabannya sederhana saja:
karena umat Islam telah jauh dari Al-Qur`an.
Bukankah umat Islam banyak yang membaca dan menghafal Al-Qur`an?Betul,umat
kita banyak yang membaca dan menghafalnya.
Tetapi, banyak di antara umat kita yang baru sebatas membaca dan
menghafal Al-Qur`an. Bahkan, banyak di
antara umat kita yang membaca dan menghafal Al-Qur`an untuk surat-surat dan
waktu-waktu tertentu saja. Al-Qur`an
belum sampai pada taraf untuk di-tadabur-kan
(direnungkan atau dikontemplasikan) apalagi untuk diamalkan.
Gambaran umat Islam saat ini jauh
sekali dengan umat Islam terdahulu. Umat
Islam terdahulu, karena mereka demikian akrabnya dengan Al-Qur`an, di antara
mereka banyak yang menguasai iptek. Di saat-saat umat lain, apalagi Eropa yang
masih meraba-raba untuk menjangkau dunia iptek, umat Islam sudah melakukan
berbagai macam eksprimen di bidang iptek.
Tidak heran jika umat Islam disegani oleh umat-umat lain karena melalui
umat Islam-lah mereka bisa mengembangkan iptek.
Bangsa Eropa adalah salah satu
bangsa yang dapat memanfaatkan dan sekaligus mengembangkan iptek hasil temuan
umat Islam saat itu. Eropa yang saat itu benar-benar dalam suasana gelap
setelah datangnya Islam seolah-olah memperoleh cahaya ilmu karena di beberapa
kota di Eropa didirikan oleh umat Islam pusat-pusat kajian keilmuan. Salah satu peninggalan umat Islam yang
monumental, Istana Cordova, merupakan bukti betapa tingginya arsitektur Islam
saat itu. Di samping meninggalkan bangunan-bangunan yang monumental, umat Islam
saat itu juga mewarisi jutaan buku di benua tersebut. Digambarkan dalam
sejarah, ketika terjadinya Perang Salib banyak buku yang dibuang oleh bangsa
Eropa ke Sungai Rhein. Begitu banyaknya buku di sungai tersebut sampai-sampai
seorang perajurit berkuda bisa menyeberangi Sungai Rhein melalui buku-buku yang
terendam di sungai tersebut.
Banyaknya
peninggalan hasil karya umat Islam menunjukkan Islam benar-benar pernah eksis
di Eropa. Setelah umat Islam habis sama
sekali dari bumi Eropa, entah pembantaian besar-besaran atau permutadan, semua
peninggalan Islam itu dirampas oleh umat Nasrani. Buku-buku hasil karya ilmuwan Muslim yang
ditulis dengan demikian ikhlasnya pada akhirnya (bahkan sampai saat ini) banyak
yang tersimpan di perpustakan Eropa.
Satu per satu buku-buku yang jutaan jumlahnya itu diterjemahkan yang
kemudian diklaim sebagai hasil karya mereka.
Umat Islam menyaksikan hasil karyanya yang tampaknya tidak akan mungkin
kembali lagi hanya gigit jari.
Apakah
setelah peristiwa itu umat Islam tidak lagi berkarya? Sejarah membuktikan peperangan demi
peperangan yang sangat melelahkan itu, yang tidak disertai dengan penanaman
kembali nilai-nilai Islam, ternyata juga berakibat pada kemunduran umat
Islam. Kemunduran itu dimulai dengan
terpecahnya kekhalifahan. Jatuhnya khalifah terakhir, Sultan Hamid II oleh
Kemal Attaturk, yang kemudian disusul dengan munculnya beberapa kerajaan yang
masing-masing terpisah karena tidak adanya koridor menjadikan umat ini tidak
memiliki satu komando. Mulai saat itu
umat Islam secara perlahan-lahan mengalami banyak kemunduran sehingga
terbentuklah sebuah umat yang tidak lagi memiliki izzah karena budaya baca
tulis telah jauh ditinggalkan.
***
Apakah kita masih bisa mengulang
sejarah kegemilangan kita di masa lalu?
Tentu saja bisa. Kalau umat ini
mau bersungguh-sungguh, Insya Allah akan diberikan jalan keluarnya. Kita harus memulainya lagi dengan membaca
sebagaimana umat terdahulu juga memulainya dengan membaca. Kita harus menjadikan membaca sebagai salah
satu kebutuhan primer sama halnya dengan kebutuhan primer lainnya. Sebagai bukti bahwa membaca merupakan salah
satu kebutuhan primer, kita harus membuat target bacaan. Untuk itu, kita harus mulai dengan
bacaan-bacaan yang ringan dan menentukan jumlah halaman yang harus kita baca.
Kita
catat kata-kata atau istilah-istilah yang belum kita ketahui. Kalau perlu pernyataan-pernyataan yang
mengundang kita untuk didiskusikan, kita diskusikan dengan sesama kita dengan
mengundang salah seorang sebagai narasumbernya.
Kita tidak boleh fanatik dengan melarang orang membaca buku yang ditulis
oleh penulis-penulis yang diidentikkan sebagai penulis-penulis yang cenderung
menyudutkan Islam. Kita pun tidak boleh
fanatik hanya membaca buku-buku yang sesuai dengan latar belakang pendidikan
kita. Pada saatnya nanti kita tidak
boleh alergi membaca buku-buku tebal yang sarat dengan ilmu karena sikap
seperti itu jelas tidak akan memupuk budaya baca.
Orang
yang banyak membaca tanpa dipaksa dengan sendirinya akan ada kecenderungan
untuk menulis. Kalau sudah ada keinginan
menulis, tulis apa saja yang menurut keinginan kita untuk ditulis. Jangan merasa takut atau berat untuk menulis
karena menulis itu gampang kalau ada kemauan.
Jadi, yang paling penting kemauan karena hanya dengan bermodalkan itulah
seseorang bisa menjadi penulis besar.
Kalau di masa depan lahir dari umat ini penulis-penulis Islam yang kadar
intelektualnya tidak diragukan lagi, yang memiliki aqidah yang mantap, akhlak
yang mulia, dan semangat jihad yang tinggi tidak mustahil kejayaan Islam di
masa lalu akan terwujud kembali.
***
Umat Islam saat ini hanya bisa
diselamatkan oleh generasi muda Islam yang memiliki budaya baca dan tulis. Kalau generasi muda Islam, khususnya
intelektual muda kalangan mahasiswa, tidak berkeinginan menciptakan sebuah
masyarakat yang cinta baca dan tulis, kita bisa menyaksikan sejarah panjang
umat ini yang tidak akan pernah lepas dari pembodohan umat.Tidak mustahil kita
juga akan menyaksikan umat kita akan selalu menjadi umat pengekor. Apakah kita masih berkeinginan menjadi umat
pengekor? Naudzubillahi min dzaalik!
Jangan sampai itu terjadi! Wallahu a`lam bisawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar