Manusia merupakan makhluk ciptaan
Tuhan yang paling mulia. Tetapi, manusia
juga bisa menjadi makhluk Tuhan yang paling buruk kedudukannya (bisa lebih
buruk daripada binatang ternak). Agar
manusia bisa mempertahankan kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang
paling mulia di antara makhluk-makhluk lainnya, ia harus menyembah (bisa juga
diartikan sebagai mengabdi) yang menciptakannya, yaitu Tuhan. Oleh karena itu, manusia disebut juga sebagai
makhluk pengabdi (maksudnya yang mengabdi kepada Tuhan). Sampai sejauhmana kuatnya pengabdian manusia
kepada Sang Khalik, coba kita amati puisi di bawah ini.
KAUM
MUSLIM DI BOSNIA
Piek Ardijanto
Soeprijadi
Sampai
kini kami
tetap
membentangkan sajadah
berkiblat
ke ka`bah
selalu
bertakbir
selalu
berdzikir
rajin
merangkai tasbih
berusaha
jadi orang salih
meski
bangunan roboh
suami kami dibunuh
istri
kami disiksa
gadis
kami diperkosa
meruap
haus lapar
penyakit
menjalar
selama
nadi berdenyut
satu
tak bisa hanyut
iman
kami tetap pijar
meski
hidup begini getir
kaulihatkah
keadaan kami
kaudengarkah
berita duka kami
kaubayangkankah
derita kami
terketukkah
pintu hati kalian
semoga
kami tabah dalam cobaan
semoga
kami lulus dalam ujian
sampai
kini kami tetap
membentangkan
sajadah
berkiblat
ke Ka`bah
selalu
bertakbir
selalu
berdzikir
rajin
merangkai tasbih
berusaha
jadi orang salih.
(1992)
Manusia yang benar-benar beriman
kepada Tuhan-nya meskipun ditimpa musibah bertubi-tubi (seperti kejadian yang
menimpa Muslim Bosnia) ia akan tetap menyembah-Nya. Kaum Muslimin Bosnia
di awal tahun `90-an merupakan masyarakat minoritas di Yugoslavia (sebelum pada akhirnya Bosnia melepaskan diri dari Yugoslavia) dan juga di Eropa yang
sebagian besar non-Muslim. Entah mengapa
masyarakat minoritas itu yang selama ini hidup berdampingan dengan masyarakat
non-Muslim dimusuhi dan diperangi sehingga terjadi kejadian yang memilukan bagi
bangsa tersebut. Kita mengatakan sebagai kejadian yang memilukan karena pada
saat akan memasuki abad XXI terjadi genocide
atau pembersihan etnis di negara bagian Yugoslavia tersebut.
Dalam
kejadian di Bosnia,
mereka yang memerangi masyarakat Muslim Bosnia telah berlaku sangat kejam. Mereka bukan saja membunuh kaum laki-laki,
tetapi juga memerkosa gadis-gadis dan wanita-wanitanya, membunuh anak dan kaum
wanita yang lemah. Bahkan, wanita-wanita
yang sedang hamil pun diambil bayinya dan dipanggang di kompor yang sedang
menyala-nyala. Ini merupakan peristiwa
besar yang tidak manusiawi. Peristiwa
tersebut oleh para penyair Muslim di Indonesia (sebanyak 34 penyair) direkam
dan diabadikan ke dalam sebuah kumpulan puisi dengan judul Baca Puisi Solidaritas Bosnia Kita yang pada tanggal 16 November
1992 dibacakan di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki. Acara tersebut dihadiri oleh ribuan penonton
yang ingin menyaksikan pembacaan puisi tersebut (selama ini dalam acara
pembacaan puisi atau acara sastra lainnya tidak ada yang dihadiri oleh sekian
banyak penonton).
Salah
seorang penyumbang yang turut serta dalam acara tersebut adalah Piek Ardijanto
Soeprijadi (almarhum). Piek menunjukkan
bahwa seorang Muslim meskipun dalam kondisi yang sangat gawat tidak akan
mungkin melepaskan dirinya dari Sang Khalik.
Disebutkan dalam puisi itu “meski
bangunan roboh/ suami kami dibunuh/ istri kami disiksa/ gadis kami diperkosa/
meruap haus lapar/ penyakit menjalar”.
Jadi, itu semua tidak menyurutkan dirinya untuk beribadah kepada
Tuhannya. Justru dengan adanya peristiwa yang memilukan dan mengancam dirinya,
ia harus semakin mendekatkan diri pada Allah bukan hanya mengerjakan yang wajib
tetapi juga yang sunah seperti ber-tashbih,
ber-tahmid, ber-takbir , dan berbagai
macam bentuk dzikir lainnya. Dengan cara demikian, “iman kami tetap pijar/ meski hidup begini getir”.
Pada
bait ketiga Piek mengajak kita untuk melihat akibat yang diderita mereka (kaum
Muslimin Bosnia)
tentang keadaannya, kedukaannya, dan penderitaannya. Untuk itu, ia mempertanyakan hati nurani kita
melihat kejadian yang menimpa saudara-saudara kita di Bosnia: “terketukah pintu hati kalian”.
Meskipun demikian, ia hanya berharap (tentu saja kepada Allah) agar kaum
Muslim Bosnia memiliki ketabahan dalam menghadapi cobaan dan dari segala macam
bentuk ujian (“semoga kami tabah dalam
cobaan/ semoga kami lulus dalam ujian”).
Tampaknya, tentang tanggung jawab
belum lengkap jika belum adanya sebuah cerita meskipun hanya berupa sepotong
kisah yang tidak lengkap. Di bawah ini
ditampilkan teks sebuah cerpen yang ditulis oleh Putu Wijaya. Silakan dibaca dan disimak!
GURU (1)
Setelah menjadi kepala sekolah selama
10 tahun, Arif tiba-tiba kaget karena merasa dirinya telah dipisahkan oleh
jabatan dengan anak-anak didiknya.
Kesibukan-nya sebagai seorang kepala, menyebabkan ia tak ada waktu lagi
mengajar bahasa Indonesia,
menyanyi, dan menggambar yang begitu dicintainya. Tak ada lagi kesempat- an ia
berdiri di depan kelas dan bersentuhan pandangan serta cakap dengan anak-anak
SD 500 itu.
“Ini sudah bertentangan dengan
harkat dan pengabdianku sebagai guru.
Aku tidak lagi menjadi seorang pendidik akan tetapi birokrat. Dus aku sudah berkhianat pada cita-citaku
untuk mengabdi pada tanah air karena aku jadi jauh dengan murid,” keluahnya.
Ia termenng di belakang mejanya,
memandang ke luar. Lewat jendela
dilihatnya di bawah naungan pohon-pohon nangka, anak-anak sedang main
kasti. Sayup-sayup di dengarnya pula di
sebuah kelas anak-anak sedang
menyanyikan lagu “Nyiur Hijau” dipimpin oleh Ibu Upik.
“Wah, aku sudah menjadi korban
kedudukanku. Kini waktunya untuk
memutus- kan
apakah kebahagiaan hidup itu berarti uang dan jabatan yang empuk, atau perasaan
bangga karena sudah berarti dan dekat dengan murid-murid yang menjadi
tanggungan sekolah?” tanyanya.
Lebih duka lagi hatinya ketika pintu
diketuk dan seorang murid masuk menanya-kan apakah kelasnya boleh pulang karena
seorang guru tidak masuk. Ia tercengang
sebab tidak mengenali siapa anak itu.
Kelas berapa dia? Namanya,
apalagi kedaan keluarganya, tak dikenalnya.
Arif merinding. Ia merasa sangat asing. Pikirannya kalut. Ia dihimpit sengatan berdosa.
“Kalau begini terus, aku bisa
modar. Baiknya aku cepat-cepat
mengajukan permohonan supaya diberhentikan sebagai kepala sekolah dan dijadikan
guru biasa lagi,” bisiknya kepada
istrinya malam hari di rumah.
Istri Arif seorang wanita biasa yang
kurang pendidikan. Wanita itu heran
men-dengar keluah suaminya. Tetapi ia
tak berani memberikan pertimbangan. Ia
terlalu percaya pada buah pikiran suaminya.
Sebagai guru, ia pasti waras.
Masak guru ber-pikir yang tidak-tidak.
“Ya, bagaimana saja, asal kita semua
dapat ketenangan,” katanya sembari menyulam.
Arif, masih tetap menjabat kepala
sekolah, selama 2 tahun kemudian. Tapi
di tahun ketiga, ledakan jiwanya itu sudah mencabik-cabiknya. Suara hati itu tidak ter-tahankan lagi. Ia merasa sudah menjadi budak pekerjaan dan musuh
cita-citanya sendiri.
“Ini bisa membuat aku sakit dan
kosong. Aku bisa gila. Aku tak bisa
mem-bohongi hati nuraniku sendiri bahwa seorang guru adalah seorang guru, ia
harus bersentuhan dengan murid, bukan hanya mengurus administrasi, pidato, dan
memerin-tah dari belakang meja serta hanya berhubungan dengan penilik
sekolah. Dosa ini harus dihentikan
sekarang!” teriak Arif di dalam
sanubarinya.
Akhirnya, kejutan yang tidak
merupakan kejutan lagi karena sudah terlalu banyak dikoar-koarkan itu, terjadi
juga. Arif mundur atas kehendak sendiri
sebagai kepala sekolah. Ia rela melepas
kursi, kehormatan, dan tanggung jawabnya serta juga gajinya,untuk menukarnya
dengan jabatan guru biasa dengan fasilitas yang lebih sedikit.
“Prosesnya memang berbelit-belit,
tetapi tak apalah. Karena kebahagiaan me-mang harus dicapai dengan pengorbanan
dan keteguhan,” ujarnya berseri-seri.
Ia tampak sehat, gembira, meskipun
pucat.
Sejak itu, ia sibuk lagi
mengajar. Masuk kelas demi kelas. Mendidik dan mene-barkan ilmu yang
dikuasainya pada calon-calon penerus di masa depan itu. Arif tampak berdarah lagi. Ia bersentuhan pandang dan cakap dengan
murid. Ia mulai tahu lagi nama semua
anak didiknya. Bahkan latar belakang
keluarga seluruh murid pun dipahaminya.
(Protes,
1995:37— 39)
Guru memang makhluk pengabdi. Sebagai guru yang sudah demikian mendarah
daging untuk mengabdi sebagai pendidik, seorang guru akan merasa kering jiwanya
jika tidak pernah lagi bertatap muka dengan murid-muridnya. Demikian pula yang terjadi pada Arif. Seorang guru yang telah beralih profesi
menjadi kepala sekolah (meskipun jabatan kepala sekolah juga masih lekat dengan
dunia pendidikan) ternyata juga mengalami kejenuhan dengan jabatan-nya itu. Ia merasa bahwa jabatannya telah mengakibatkan
harus berpisah dengan murid-muridnya karena tidak ada kesempatan untuk mengajar
(“Ini sudah bertentangan dengan harkat
dan pengabdianku sebagai guru. Aku tidak
lagi menjadi seorang pendidik akan tetapi birokrat. Dus aku sudah berkhianat pada cita-citaku
untuk mengabdi pada tanah air karena aku jadi jauh dengan murid,” keluhnya ). Ia juga merasa bahwa dirinya telah menjadi
korban kedudukan. Ia harus memutuskan antara berhenti menjadi kepala sekolah
dengan risiko melepaskan jabatan, kehormatan, tanggung jawab, dan gajinya. Atau ia tetap mempertahankannya dengan risiko
terus menerus dihantui rasa berdosa dan menjadi gila karena harus membohongi
hati nuraninya.
Arif memang masih bisa bertahan
selama dua tahun lagi menjadi kepala sekolah.
Namun, karena keinginannya yang demikian kuat pada saatnya, manakala
sudah tidak bisa lagi dibendung kerinduannya untuk mengajar, dengan berbagai
pengorbanan, ia kembali menjadi guru dan melepaskan jabatannya sebagai kepala
sekolah. Meskipun terasa sulit dan butuh
waktu yang cukup panjang, ia merasa bahagia karena keinginannya tercapai sudah
(“Prosesnya memang berbelit-belit, tetapi
tak apalah. Karena kebahagiaan memang
harus dicapai dengan pengorbanan dan keteguhan,” ujarnya berseri-seri).
Pengabdian
yang membuahkan kebahagiaan memang membutuhkan pengorbanan dan keteguhan
sebagaimana yang dilakukan oleh Arif.
Namun, kita juga harus realistis karena menjadi kepala sekolah pun
meskipun tergolong birokrat, ia masih lekat dengan dunia pendidikan (apalagi
kepala sekolah SD yang gajinya relatif rendah).
Jadi, Arif selaku kepala sekolah selayaknya tidak perlu mundur dari
jabatannya karena di sela-sela waktu kosong ia masih ada kesempatan untuk
mengajar atau mengisi kelas-kelas yang kosong.
Dalam potongan cerita di atas ketika seorang murid menghadap untuk minta
pulang karena gurunya tidak hadir, selaku kepala sekolah, Arif harus mengambil
inisiatif untuk mengisi kekosongan tersebut.
Selaku birokrat Arif harus mengalahkan jabatannya sehingga tidak ada
alasan bahwa ia tidak boleh mengajar kembali.
Dengan cara demikian, hal-hal yang mengganjal hati nuraninya bisa
terobati. Artinya, meskipun menjadi
kepala sekolah banyak kesempatan bagi Arif untuk bertatap muka dengan
murid-muridnya. Sebaliknya, sikap Arif
yang merasa terpukul dengan jabatannya sementara tidak bisa berbuat apa-apa
justru menunjukkan bahwa dirinya lemah (kalau bisa dikatakan sebagai pengabdi
yang kurang bertanggung jawab pada dunia pendidikan).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar