Selasa, 09 Agustus 2016

All You Need Is Love (18)

Kota Anak-Anak Alfa

Subagio S. Waluyo

Masa kecil saya banyak diisi dengan aktivitas bermain. Di benak saya ketika itu tidak ada pikiran lain kecuali bermain. Buat saya dengan bermain pada waktu itu ada rasa kepuasan diri yang tidak ternilai. Kalau ditanya tentang waktu-waktu saya belajar di  luar sekolah, sedikit sekali waktu saya untuk belajar. Belajar hanya dilakukan di malam hari. Itu pun selesai belajar (yang hanya paling lama satu jam), ya bermain lagi sampai datang rasa kantuk atau capai baru selesai bermain. Itulah dunia masa kecil saya, masa kecil yang merasa puas bila diisi dengan bermain.  

Senin, 07 September 2015

All You Need Is Love (17)

ALBUM “SGT. PEPPER`S LONELY HEART CLUB BAND”
SEBAGAI PRODUK BUDAYA UNGGUL NEGARA MAJU

Subagio S Waluyo

/I/

Penerjemah buku Tarikh Khulafa, Samson Rahman, dalam Kata Pengantarnya  menulis:
”Hanya mereka yang  pernah melakukan pekerjaan yang agung dan besarlah yang berhak untuk dicantumkan dalam sejarah. Hanya mereka yang mampu mengubah arah mata angin pikiran dan pola pikir manusialah yang patut mendapatkan lisensi untuk ditorehkan dalam sejarah. Manusia-manusia yang memiliki karakter, integritas dan `bobot` (mereka yang mampu mengopotimalkan potensi diri yang ada pada dirinya untuk mengubah dunia) sebagaimana manusialah yang pantas untuk ditorehkan dalam sejarah.”
(Imam suyuthi, 2010:ix)

Dalam dunia tarik suara di negara-negara maju, siapakah yang layak dicantumkan atau ditorehkan dalam sejarah yang pernah melakukan pekerjaan yang agung dan besar?  Siapakah yang mampu mengubah arah mata angin pikiran dan pola pikir manusia? Siapa pula yang memiliki karakter, integritas, dan mampu mengoptimalkan potensi diri yang ada pada dirinya sehingga mampu mengubah dunia? Jawabannya hanya satu: The Beatles. Mengapa hanya empat anak muda Liverpool dari Britania Raya yang di awal-awal penampilannya berambut poni yang bermain musik dengan alat seadanya? Apakah tidak ada grup band yang lain selain mereka?

Jumat, 30 Mei 2014

Kebahasaan dan Kesastraan (23)

BAGAIMANA NANTI VERSUS NANTI BAGAIMANA

Subagio S. Waluyo


/a/
Melihat judul di atas, saya yakin ada orang yang beranggapan bahwa `bagaimana nanti` lebih layak digunakan daripada `nanti bagaimana`. Ada juga yang beranggapan bahwa `nanti bagaimana` lebih layak digunakan daripada `bagaimana nanti`. Meskipun demikian, ada juga yang tidak mau ambil pusing, kedua-duanya baik `bagaimana nanti` maupun `nanti bagaimana` sama saja artinya. Khusus untuk pendapat yang ketiga ini ada anggapan bahwa hal itu lebih disebabkan penempatan kedua kata itu saja yang dipertukarkan tempatnya. Tentang artinya tidak ada perbedaan yang substansial. Tulisan ini lebih cenderung untuk memasalahkan pendapat yang ketiga ini agar semua orang tahu bahwa kedua frase tersebut jelas-jelas berbeda dari sisi muatan yang terkandung di dalamnya.

Sabtu, 03 Mei 2014

All You Need Is Love (16)

KECERDASAN SPIRITUAL DAN POLITIK BAGI-BAGI UANG

Subagio S.Waluyo

(1)
Pemilu Pileg 2014 ditandai dengan adanya fenomena money politic (politik bagi-bagi uang) yang dilakukan aktor-aktor politik, calon anggota dewan (CAD) baik yang baru mau masuk parlemen (tingkat DPRD II, DPRD I, dan DPR) maupun yang tergolong incumbent (patahana). Politik bagi-bagi uang untuk Pemilu Pileg 2014 ini tergolong terbesar jika dibandingkan dengan pemilu-pemilu pileg terdahulu di masa reformasi. Politik bagi-bagi uang ini dilakukan oleh semua partai politik (parpol) tidak terkecuali parpol yang semula tidak melakukan praktek politik bagi-bagi uang untuk saat ini demi memperoleh kursi di parlemen terpaksa melakukannya. Untuk itu, tidaklah aneh ketika Sebastian Salang beberapa waktu lalu di acara Indonesian Lawyer Club (ILC) yang biasa ditayangkan oleh TV One menantang para peserta yang umumnya dari para pengurus parpol untuk mengangkat tangannya kalau partainya tidak melakukan politik bagi-bagi uang, tidak ada satu pun di antara para peserta yang berani mengangkat tangannya. Dengan demikian, sudah bisa disimpulkan bahwa fenomena praktek politik bagi-bagi uang telah dilakukan oleh semua parpol.

Rabu, 16 April 2014

Artikel Administrasi Publik (10)

IMPLIKASI SYAHWAT POLITIK

Subagio S.Waluyo



/1/
Pada tulisan terdahulu (lihat tentang “Implementasi Syahwat Politik”) telah diuraikan bahwa praktek-praktek kotor dengan cara mengimplementasikan syahwat politik jelas-jelas tidak akan bisa meningkatkan kapasitas negara atau daerah. Dengan kata lain, untuk bisa memberdayakan daerah tidak bisa dilakukan dengan mengimplementasikan syahwat politik karena cara-cara seperti itu jelas-jelas telah mencederai demokrasi (lihat tulisan tentang “Instrumen Syahwat Politik”). Agar pemberdayaan daerah bersih dari penyakit syahwat politik, siapapun orangnya yang mau menjadi penguasa harus menegakkan sekaligus menerapkan nilai-nilai demokrasi. Dari nilai-nilai demokrasi yang benar-benar ditegakkan dan diterapkan akan menghasilkan good governance (GG). Kalau memang di setiap daerah di negara ini benar-benar ada orang yang `serius` menerapkan prinsip-prinsip GG, tidak ada lagi budaya patron-klien (PK) yang boleh jadi merupakan `warisan` dari implementasi syahwat politik yang tidak terkendalikan. Budaya PK merupakan batu sandungan dalam penegakan dan penerapan prinsip-prinsip GG (lihat tulisan tentang “Good Governance dan Budaya Patron-Klien”).     

Jumat, 11 April 2014

Artikel Agama (23)


KARAKTERISTIK KEHIDUPAN SAHABAT RASUL SEBAGAI SARANA DAKWAH, JIHAD, TARBIYAH,DAN TAZQIYATUN NAFS




Gambar Kartun Sahabat Rasulullah saw
Merekalah yang telah mendapat petunjuk Allah, dan merekalah yang memiliki akal (Az-Zumar : 18).
Di antara orang-orang mu`min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.  Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya (Al-Ahzab : 23).
 Hai jiwa yang tenang.  Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku 
(Al-Fajr : 27-30)

Artikel Administrasi Publik (09)

INSTRUMEN SYAHWAT POLITIK

Subagio S. Waluyo


/1/
Pada tulisan terdahulu (lihat “Implementasi Syahwat Politik”) telah diuraikan bahwa untuk melenggangkan syahwat politik di antaranya  melalui praktek-praktek kotor, di antaranya melalui lembaga-lembaga survai (LS) melalui quick count (QC) yang memang telah dibayar untuk itu. Di Indonesia LS atau lembaga-lembaga sejenis  yang berkaitan dengan penelitian (boleh jadi LS tersebut juga dari kalangan perguruan tinggi yang para akademisinya telah melacurkan diri sehingga sangat-sangat mungkin melanggar etika akademis) sampai saat ini belum terakreditasi. Kalau lembaga-lembaga pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) sampai dengan perguruan tinggi (PT) telah taat asas setiap lima tahun sekali untuk melakukan akreditasi, tidak demikian halnya dengan lembaga-lembaga swasta yang berhubungan dengan penelitian, seperti LS dan sejenisnya yang justru tampaknya menghindari adanya akreditasi. Sampai saat ini pun belum ada asosiasi atau semacam organisasi yang bertujuan mengikat mereka dalam satu wadah sejenis. Patut diduga dengan adanya asosiasi  mau tidak mau mereka juga harus siap diakreditasi sehingga mereka sepakat tidak perlu adanya asosiasi.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...