Kota
Anak-Anak Alfa
Subagio S. Waluyo
Selain,
belajar di malam hari sore harinya (itupun cuma paling lama satu jam) saya
mengaji. Mengaji waktu itu baru sekedar belajar membaca Al-Qur`an (alif ba ta).
Orang tua saya sengaja mendatangkan guru mengaji (ustadz) ke rumah. Saya dan
adik-adik saya ikut belajar mengaji. Selesai mengaji saya ke mushollah yang
letaknya di sebelah rumah untuk sholat magrib. Sementara menunggu waktu sholat,
sebagai anak-anak ya saya gunakan untuk bermain. Singkatnya, kapan saja ada
kesempatan tidak ada aktivitas yang lain kecuali bermain.
Orang
tua saya bukan melakukan pembiaran kalau aktivitas anaknya cuma bermain. Sekali-sekali
juga turut memarahi. Bahkan, kalau dalam pandangan mereka sang anak sudah
dianggap keterlaluan karena seringnya bermain, sekali-sekali juga orang tua
saya menjewer atau menyentil telinga. Tetapi, namanya juga anak-anak, perilaku
yang dalam pandangan mereka dinilai negatif (karena seringnya bermain) tidak
akan mempan, tetap saja saya dan adik-adik mengulanginya lagi. Meskipun saya
lebih banyak waktunya untuk bermain daripada belajar atau mengaji, prestasi
belajar saya di sekolah tidak pernah buruk. Jika ada pekerjaan rumah (PR),
tanpa disuruh segera saya kerjakan. Kalau PR itu sulit (terutama untuk belajar
berhitung atau matematika) saya bertanya pada teman-teman yang pendidikannya
jauh lebih tinggi daripada saya. Di samping itu, dalam masalah ibadah sejak
kecil saya sudah terbiasa sholat lima waktu dan puasa di bulan Ramadhan. Mungkin
karena kebiasaan positif ini yang membuat orang tua saya pada akhirnya jenuh
menegur atau memarahi saya.
***
Ketika
kecil orang tua saya jarang membelikan mainan. Pada waktu itu walaupun sudah
ada jenis mainan produksi pabrik (kebanyakan produk-produk luar dari China),
orang tua saya sekali-sekali saja membelikan mainan. Mungkin karena ada
kebiasaan buruk yang saya lakukan, yaitu mainan yang mereka belikan umumnya umurnya
tidak panjang. Kalau tidak rusak, karena sering dibongkar atau dikutak-katik,
ya hilang tidak jelas rimbanya. Di rumah saya tidak ada tempat khusus untuk
tempat mainan (tidak seperti sekarang ketika saya mempunyai anak dan cucu). Buat
saya dan adik-adik dengan jarangnya orang tua membelikan mainan tidak jadi
masalah karena masih banyak permainan yang bisa mengisi aktivitas bermain saya
yang tentu saja tidak akan mengurangi kesenangan saya.
Dengan
jarangnya orang tua membelikan mainan produk pabrik, saya dan adik-adik menjadi
kreatif. Apapun barang-barang bekas di hadapan saya pada waktu itu jadi mainan.
Kalau ada kulit jeruk bali, saya jadikan mobil-mobilan. Kalau ada kertas bekas,
saya jadikan pesawat terbang atau kapal laut. Bahkan, sekali-sekali saya buat
layangan dari kertas koran atau kertas bekas pembungkus (semacam kertas minyak
yang berwarna merah, kuning, hijau, atau putih). Uang jajan saya belikan benang
gelasan. Sekali-sekali dengan teman-teman saya buat benang gelasan dengan hanya
melihat orang yang membuat benang gelasan. Walaupun hasil buatan saya tergolong
tidak bagus, buat saya yang penting saya bisa ikut bermain layang-layang.
Kali
lain, ada balon gas yang sudah meletus saya bakar untuk dijadikan alat
menangkap capung. Karena kurang hati-hati, hasil bakaran itu mengenai tangan kiri
saya. Lumayan panas dan melepuh. Beberapa hari tangan saya melembung seperti
ada cairan. Ketika saya tusuk cairan itu, sakitnya luar biasa. Tapi, memang
dasar anak-anak, tetap saja saya melakukan hal yang sama walaupun saya telah
belajar dari pengalaman terdahulu agar tidak lagi melukai tangan saya. Lelehan
balon itu saya tempelkan di lidi. Jadilah dengan alat itu saya menangkap
capung. Benar-benar permainan yang murah yang menimbulkan kepuasan jiwa
anak-anak.
Untuk membeli mainan tradisional seperti meriam bambu, saya harus merogoh dari kantung sendiri. Dulu di pinggiran kali Ciliwung ada orang yang menjual bambu-bambu yang bisa digunakan meriam bambu. Biasanya, saya membeli bambu bersama adik-adik saya dan beberapa teman. Bermain meriam bambu dengan modal yang relatif kecil sangat menyenangkan. Tetapi, aktivitas meniup asap yang ada di bambu yang diteruskan dengan menyundutnya sehingga terdengar gelegarnya sebuah kenikmatan tersendiri meskipun suara letupannya jika dibandingkan dengan petasan tentu saja jauh lebih keras suara petasan.
Terkadang sebagai anak-anak, mungkin ini efek dari seringnya baca-baca komik yang penuh dengan cerita heroik atau nonton film-film perang di TV (pada waktu itu cuma ada TVRI) yang hitam putih saya dan teman-teman membuat ketapel. Lagi-lagi bahan dasar untuk membuat ketapel juga dari barang-barang bekas yang ada di sekitar kita yang sangat mudah didapat. Masih tentang kisah-kisah heroik, karena saya dan teman-teman sering nonton tv yang bercerita tentang kehebatan samurai yang tokohnya utamanya (kalau tidak salah) Shintaro, saya membuat pedang-pedangan dari bambu bekas pagar rumah. Sebagai pelindung agar tangan yang memegang alat itu tidak terluka ketika bermain saya gunakan karet bekas sendal jepit yang dipotong pas ukuran genggaman tangan. Singkat kata, semua benda yang dijadikan mainan relatif dari bahan-bahan yang mudah didapat. Kalau terpaksa harus beli, juga tidak harus merogoh kantung terlalu dalam alias murah. Jadi, permainan anak-anak di masa itu yang mahal bukan harganya tetapi kreativitasnya.
***
Meskipun
saya lahir tinggal dan besar (sampai dewasa dan berkeluarga) di ibukota,
Jakarta, kondisi Jakarta pada tahun-tahun `60-an dan `70-an tidak seperti
sekarang. Pada waktu itu halaman-halaman rumah masih cukup luas. Masih banyak
didapati tanah lapang yang bisa saya gunakan untuk bermain dengan teman-teman.
Segala macam bentuk permainan anak-anak yang sekarang ini dikenal sebagai
permainan tradisional banyak dimainkan. Umumnya, permainan
tradisional itu
sebagian besar tidak perlu keluar uang. Permainan anak-anak seperti `galasin` (kalau
di Jawa Tengah dinamakan `gobak sodor`) yang dimainkan secara massal yang
terbagi dalam dua grup (satu grup bisa sampai empat atau enam orang). Permainan
ini hanya butuh tanah yang agak luas dan rata (ada tanah yang luasnya 100 meter
juga sudah cukup) atau kalau ada lapangan badminton yang sedang tidak digunakan
juga bisa dipakai untuk bermain `galasin`. Permainan ini akan terasa lebih
nikmat jika dimainkan di malam hari ketika terang bulan.
Hampir
semua permainan anak-anak yang tergolong tradisional yang bisa dimainkan
bersama-sama dan tidak butuh biaya (kalau terpaksa harus keluar uang juga
relatif murah), seperti `petak umpet`, `benteng`, `egrang`, `perang-perangan`,
`bola kasti`, `layangan`, dan `galasin` membutuhkan tenaga ekstra. Dengan
bermain `galasin saja, misalnya, anak harus bisa berlari cepat, lincah,
cekatan, dan harus bisa mengelabui musuhnya yang menjadi penjaga. Jenis
permainan seperti galasin juga mebutuhkan kekompakan kelompok. Dalam permainan
ini dibutuhkan adanya kesatuan komando sehingga untuk bisa memainkannya dengan
apik harus ada satu orang yang menjadi kepala regu.
***
Mengapa
ada kecenderungan orang tua saat ini melarang bermain di luar? Apakah orang tua
sekarang lebih mengutamakan peran menjaga dan menjalankan tanggung jawab untuk
memenuhi kebutuhan fisik anak, serta memastikan anak menjalankan kewajiban
utama seperti sekolah? Mengapa jadi ada kebalikan dengan pola asuh orang tuanya
terdahulu yang lebih mengupayakan anak bermain di luar agar anak dapat
bersosialisasi, mengembangkan kreativitas, dan mampu berkompetisi di masa yang
lebih sulit secara finansial? Kalau direnungkan, orang tua generasi sebelumnya
lebih berpikir logis karena mereka sadar
keseimbangan aktivitas fisik, kognitif, dan sosial, penting untuk perkembangan
anak. Jadi, justru orang tua sekarang kurang menyadari semua itu. Orang tua sekarang lebih cenderung
mengarahkan anaknya agar nantinya menjalankan peran orangtua yang wajib bekerja
keras demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Untuk itu, tidak aneh jika suatu
saat nanti generasi jenis ini (disebut sebagai `generasi baby boomer`) kurang
memikirkan keseimbangan kehidupan keluarga.
Di
awal abad 21 ini (tepatnya tahun 2010 dan seterusnya) muncul anak-anak yang
dikenal dengan istilah anak-anak
`generasi alfa`.Bagaimana permainan anak-anak anak-anak `generasi Alfa`?
Istilah anak-anak `generasi alfa` merupakan julukan yang pertama kali diorbitkan
dalam tabloid Nova, 22 September 2015
yang mengutip pendapat Mark Mc Crindle. Dimaksudkan dengan `generasi alfa` atau
`generasi broadband` atau mobile ialah generasi keturunan awal
generasi Y dan terakhir generasi X. Ada
orang yang memprediksikan bahwa `generasi alfa` diprediksi adalah orang-orang
ekspresif dan hitec karena lahir dan
berada di era informasi. Bahkan, anak-anak `generasi alfa` diprediksi lebih
pragmatis materialistik karena dibesarkan di era kemajuan teknologi. Mereka
juga berpikir dengan sangat praktis, kurang memperhatikan nilai-nilai, lebih
egois. Selain itu, anak-anak `generasi alfa` cenderung memiliki berat badan
berlebih karena hidup di era menjamurnya makanan cepat saji dan junk food.
Karena
anak-anak `generasi alfa` lahir di era informasi, jenis permainannya juga
berbeda dengan generasi terdahulu (apalagi generasi saya yang lahir di
penghujung tahun `50-an). Anak-anak sekarang (`generasi alfa`) ketika
disetelkan lagu-lagu MP3 dari smartphone
kepalanya bergerak-gerak seakan mengikuti irama. Kalau tayangan video dari Youtube dimatikan, ia menjerit seolah
tak rela. Permainan anak-anak `generasi alfa` ini menggunakan teknologi layar
sentuh atau disapu dengan jari baik itu berupa gadget maupun notebook
atau laptop sehingga anak-anak
`generasi alfa` dalam permainannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan
lebih bersifat individual. Kemajuan teknologi yang demikian pesat telah
mempengaruhi gaya hidup anak-anak `generasi alfa`. Gaya hidup `generasi alfa`
lebih pragmatis materialistis.
***
Berbicara
tentang kota Jakarta yang menjadi sasaran utama para urban di Indonesia, seorang
peneliti berkebangsaan Perancis, Bernard Dorlean, pada tahun 1976 ketika
mengadakan penelitian tiga kampung di DKI Jakarta menyimpulkan Jakarta lebih
menyerupai aglomerasi kampung daripada sebuah kota yang terstruktur. Karena
itu, muncullah sebutan Jakarta sebagai `the
big village`. Dengan kata lain, Jakarta sebagai ibukota lebih mencerminkan
ciri suatu perkampungan dalam skala besar daripada sebuah kota yang memiliki
formalitas yang tinggi, tertata, dan memiliki sistem terpadu (Ekspedisi
Ciliwung/Tim Laporan Jurnalistik Kompas, 2009:181). Boleh jadi para pejabat
tinggi baik DKI maupun negara ini pada waktu itu merasa terpukul dengan sebutan
`the big village` itu sehingga dilakukan
langkah besar untuk membenahi Jakarta. Tetapi, pembenahan Jakarta tampaknya
tidak berbasis kearifan lokal atau boleh jadi mengabaikan pesan-pesan yang
termuat dalam pembangunan berkelanjutan, yaitu pembangunan yang berbasis
lingkungan sehingga tempat-tempat bermain untuk anak-anak diabaikan.
Wajar-wajar saja kalau kota Jakarta diberi julukan `kota yang tidak ramah
terhadap warganya (termasuk anak-anak)`. Bahkan, boleh juga Jakarta disebut
sebagai `kota tanpa peradaban` (meminjam judul buku yang mirip sama Kota Tanpa Warga/Jo Santoso, 2006).
Kota-kota
di negara ini sudah menjadi kota khusus untuk anak-anak `generasi alfa` yang
dicirikan seperti yang telah diuraikan di atas. Kota-kota di negara ini telah
tergerus oleh arus globalisasi. Banyak pemerintah kota di negara ini yang
sangat minim menyediakan taman-taman khusus bermain anak-anak. Akibatnya,
anak-anak kabur ke tempat-tempat play
station atau game online yang
cenderung menjadikan anak ke depannya sosiopat karena boleh jadi jenis-jenis
permainan tersebut mempengaruhi perilaku anak yang menjurus pada perilaku
antisosial. Jalan-jalan lingkungan di tempat-tempat tinggal penduduk kota
dimanfaatkan anak-anak untuk bermain. Tetapi, kondisi tempat seperti itu jelas
tidak aman karena tempat lalu lalang kendaraan bermotor. Agar mereka tidak
melakukan aktivitas di luar rumah, para orang tua mengambil jalan pintas, yaitu
melarang anaknya bermain. Sebagai gantinya berikan mainan buatan pabrik atau
gadget, ipad, atau notebook karena yang penting anak sambil bermain bisa duduk
manis walaupun berjam-jam anak-anak malang ini harus memelototi layar monitor.
***
Kota
yang sehat adalah kota yang memiliki daya dukung yang sehat bagi warganya.
Untuk itu, kota yang sehat memiliki indikator standar kenyamanan. Selain itu,
juga memiliki manajemen perkotaan yang mampu menjaga keutuhan kawasan per
kawasan. Artinya, kota yang nyaman harus memiliki keberpihakan pada kelestarian
lingkungan dengan menyediakan sekurang-kurangnya yang disebutkan di atas, yaitu
tiga puluh persen luas lahan kotanya untuk RTH. Sebagai tambahan, kota yang
nyaman harus memiliki institusi khusus yang dapat memobilisasi sumber-sumber
pembangunan pemukiman dan perkotaan yang berkelanjutan dan sampai batas
tertentu harus terlepas dari mekanisme pasar (Mengendalikan Masa Depan/Afthonul Afif, 2015:69). Apakah mungkin
pembangunan perkotaan di Indonesia bisa terlepas dari mekanisme pasar kalau
masih saja pemerintah ini sangat tergantung pada bantuan luar yang dalam hal
ini lembaga-lembaga internasional?
Kota-kota
di Indonesia sama seperti kota-kota di
dunia sekarang ini sebagian besar penghuninya adalah anak-anak kota `generasi
alfa`. Anak-anak kota `generasi alfa` memang banyak juga yang berprestasi
akademik. Angka-angka rapot atau ijazahnya memuaskan bahkan tinggi-tinggi.
Tetapi ada yang terlupakan, mereka sebagai makhluk ciptaan Tuhan telah tidak
lagi memiliki kecerdasan emosional dan spiritual sehingga banyak di antara
mereka yang cepat putus asa. Mereka tidak memiliki toleransi dan kepedulian
pada sesama. Banyak di antara mereka yang menderita penyakit psikopat atau
sosiopat. Apakah kalau nanti banyak di antara mereka yang menderita penyakit
psikopat atau sosiopat akan didiamkan saja? Waallahu
a`lam bissawab.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar