Selasa, 09 Agustus 2016

All You Need Is Love (18)

Kota Anak-Anak Alfa

Subagio S. Waluyo

Masa kecil saya banyak diisi dengan aktivitas bermain. Di benak saya ketika itu tidak ada pikiran lain kecuali bermain. Buat saya dengan bermain pada waktu itu ada rasa kepuasan diri yang tidak ternilai. Kalau ditanya tentang waktu-waktu saya belajar di  luar sekolah, sedikit sekali waktu saya untuk belajar. Belajar hanya dilakukan di malam hari. Itu pun selesai belajar (yang hanya paling lama satu jam), ya bermain lagi sampai datang rasa kantuk atau capai baru selesai bermain. Itulah dunia masa kecil saya, masa kecil yang merasa puas bila diisi dengan bermain.  


Selain, belajar di malam hari sore harinya (itupun cuma paling lama satu jam) saya mengaji. Mengaji waktu itu baru sekedar belajar membaca Al-Qur`an (alif ba ta). Orang tua saya sengaja mendatangkan guru mengaji (ustadz) ke rumah. Saya dan adik-adik saya ikut belajar mengaji. Selesai mengaji saya ke mushollah yang letaknya di sebelah rumah untuk sholat magrib. Sementara menunggu waktu sholat, sebagai anak-anak ya saya gunakan untuk bermain. Singkatnya, kapan saja ada kesempatan tidak ada aktivitas yang lain kecuali bermain.

Orang tua saya bukan melakukan pembiaran kalau aktivitas anaknya cuma bermain. Sekali-sekali juga turut memarahi. Bahkan, kalau dalam pandangan mereka sang anak sudah dianggap keterlaluan karena seringnya bermain, sekali-sekali juga orang tua saya menjewer atau menyentil telinga. Tetapi, namanya juga anak-anak, perilaku yang dalam pandangan mereka dinilai negatif (karena seringnya bermain) tidak akan mempan, tetap saja saya dan adik-adik mengulanginya lagi. Meskipun saya lebih banyak waktunya untuk bermain daripada belajar atau mengaji, prestasi belajar saya di sekolah tidak pernah buruk. Jika ada pekerjaan rumah (PR), tanpa disuruh segera saya kerjakan. Kalau PR itu sulit (terutama untuk belajar berhitung atau matematika) saya bertanya pada teman-teman yang pendidikannya jauh lebih tinggi daripada saya. Di samping itu, dalam masalah ibadah sejak kecil saya sudah terbiasa sholat lima waktu dan puasa di bulan Ramadhan. Mungkin karena kebiasaan positif ini yang membuat orang tua saya pada akhirnya jenuh menegur atau memarahi saya.
***

Ketika kecil orang tua saya jarang membelikan mainan. Pada waktu itu walaupun sudah ada jenis mainan produksi pabrik (kebanyakan produk-produk luar dari China), orang tua saya sekali-sekali saja membelikan mainan. Mungkin karena ada kebiasaan buruk yang saya lakukan, yaitu mainan yang mereka belikan umumnya umurnya tidak panjang. Kalau tidak rusak, karena sering dibongkar atau dikutak-katik, ya hilang tidak jelas rimbanya. Di rumah saya tidak ada tempat khusus untuk tempat mainan (tidak seperti sekarang ketika saya mempunyai anak dan cucu). Buat saya dan adik-adik dengan jarangnya orang tua membelikan mainan tidak jadi masalah karena masih banyak permainan yang bisa mengisi aktivitas bermain saya yang tentu saja tidak akan mengurangi kesenangan saya.

Dengan jarangnya orang tua membelikan mainan produk pabrik, saya dan adik-adik menjadi kreatif. Apapun barang-barang bekas di hadapan saya pada waktu itu jadi mainan. Kalau ada kulit jeruk bali, saya jadikan mobil-mobilan. Kalau ada kertas bekas, saya jadikan pesawat terbang atau kapal laut. Bahkan, sekali-sekali saya buat layangan dari kertas koran atau kertas bekas pembungkus (semacam kertas minyak yang berwarna merah, kuning, hijau, atau putih). Uang jajan saya belikan benang gelasan. Sekali-sekali dengan teman-teman saya buat benang gelasan dengan hanya melihat orang yang membuat benang gelasan. Walaupun hasil buatan saya tergolong tidak bagus, buat saya yang penting saya bisa ikut bermain layang-layang.   

Kali lain, ada balon gas yang sudah meletus saya bakar untuk dijadikan alat menangkap capung. Karena kurang hati-hati, hasil bakaran itu mengenai tangan kiri saya. Lumayan panas dan melepuh. Beberapa hari tangan saya melembung seperti ada cairan. Ketika saya tusuk cairan itu, sakitnya luar biasa. Tapi, memang dasar anak-anak, tetap saja saya melakukan hal yang sama walaupun saya telah belajar dari pengalaman terdahulu agar tidak lagi melukai tangan saya. Lelehan balon itu saya tempelkan di lidi. Jadilah dengan alat itu saya menangkap capung. Benar-benar permainan yang murah yang menimbulkan kepuasan jiwa anak-anak.





Untuk membeli mainan tradisional seperti meriam bambu, saya harus merogoh dari kantung sendiri. Dulu di pinggiran kali Ciliwung ada orang yang menjual bambu-bambu yang bisa digunakan meriam bambu. Biasanya, saya membeli bambu bersama adik-adik saya dan beberapa teman. Bermain meriam bambu dengan modal yang relatif kecil sangat menyenangkan. Tetapi, aktivitas meniup asap yang ada di bambu yang diteruskan dengan menyundutnya sehingga terdengar gelegarnya sebuah kenikmatan tersendiri  meskipun suara letupannya jika dibandingkan dengan petasan tentu saja jauh lebih keras suara petasan.


Terkadang sebagai anak-anak, mungkin ini efek dari seringnya baca-baca komik yang penuh dengan cerita heroik atau nonton film-film perang di TV (pada waktu itu cuma ada TVRI) yang hitam putih saya dan teman-teman membuat ketapel. Lagi-lagi bahan dasar untuk membuat ketapel juga dari barang-barang bekas yang ada di sekitar kita yang sangat mudah didapat. Masih tentang kisah-kisah heroik, karena saya dan teman-teman sering nonton tv yang bercerita tentang kehebatan samurai yang tokohnya utamanya (kalau tidak salah) Shintaro, saya membuat pedang-pedangan dari bambu bekas pagar rumah. Sebagai pelindung agar tangan yang memegang alat itu tidak terluka ketika bermain saya gunakan karet bekas sendal jepit  yang dipotong  pas ukuran genggaman tangan. Singkat kata, semua benda yang dijadikan mainan relatif dari bahan-bahan yang mudah didapat. Kalau terpaksa harus beli, juga tidak harus merogoh kantung terlalu dalam alias murah. Jadi, permainan anak-anak di masa itu yang mahal bukan harganya tetapi kreativitasnya.
***

Meskipun saya lahir tinggal dan besar (sampai dewasa dan berkeluarga) di ibukota, Jakarta, kondisi Jakarta pada tahun-tahun `60-an dan `70-an tidak seperti sekarang. Pada waktu itu halaman-halaman rumah masih cukup luas. Masih banyak didapati tanah lapang yang bisa saya gunakan untuk bermain dengan teman-teman. Segala macam bentuk permainan anak-anak yang sekarang ini dikenal sebagai permainan tradisional banyak dimainkan. Umumnya, permainan tradisional itu sebagian besar tidak perlu keluar uang. Permainan anak-anak seperti `galasin` (kalau di Jawa Tengah dinamakan `gobak sodor`) yang dimainkan secara massal yang terbagi dalam dua grup (satu grup bisa sampai empat atau enam orang). Permainan ini hanya butuh tanah yang agak luas dan rata (ada tanah yang luasnya 100 meter juga sudah cukup) atau kalau ada lapangan badminton yang sedang tidak digunakan juga bisa dipakai untuk bermain `galasin`. Permainan ini akan terasa lebih nikmat jika dimainkan di malam hari ketika terang bulan.    

Hampir semua permainan anak-anak yang tergolong tradisional yang bisa dimainkan bersama-sama dan tidak butuh biaya (kalau terpaksa harus keluar uang juga relatif murah), seperti `petak umpet`, `benteng`, `egrang`, `perang-perangan`, `bola kasti`, `layangan`, dan `galasin` membutuhkan tenaga ekstra. Dengan bermain `galasin saja, misalnya, anak harus bisa berlari cepat, lincah, cekatan, dan harus bisa mengelabui musuhnya yang menjadi penjaga. Jenis permainan seperti galasin juga mebutuhkan kekompakan kelompok. Dalam permainan ini dibutuhkan adanya kesatuan komando sehingga untuk bisa memainkannya dengan apik harus ada satu orang yang menjadi kepala regu.

Permainan yang membutuhkan tenaga yang kuat, keterampilan,  dan keseimbangan seperti `egrang` tidak semua anak bisa memainkannya. Agar anak bisa memainkan `egrang` dengan lancar dibutuhkan latihan berkali-kali. Banyak juga anak yang tidak bisa menjaga keseimbangan ketika bermain `egrang` sering terjatuh dan terkilir. Jenis permainan seperti ini memang sedikit membahayakan. Tetapi, tetap saja, jenis permainan ini menggembirakan baik bagi anak yang bermain maupun yang hanya menjadi penonton. Sebagai pelengkap, perlu juga diketahui permainan tradisional yang dimainkan anak-anak juga mengajarkan anak belajar berhitung. Jenis permainan seperti `congklak`/`dakon` baru bisa dimainkan kalau anak sudah bisa berhitung. Tentu saja, ini yang sangat perlu diketahui, semua jenis permainan tradisional membutuhkan keterampilan dan kejujuran.
***

Seiring dengan perjalanan waktu sedikit demi sedikit terjadi proses penghilangan permainan tradisional. Anak-anak generasi saya yang dulu akrab dengan permainan tradisional, anak-anak generasi berikutnya yang lahir di awal abad 21 ini karena arus globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi yang demikian pesat perlahan namun pasti menggeser permainan tradisional. Mereka sudah tidak lagi mengenal itu main `galasin`, `egrang`, `benteng`, atau `gangsing`. Salah satu tudingan bisa-bisa saja karena semakin sempitnya lahan untuk bermain anak-anak. Di samping itu, ada sebagian orang tua yang merasa tenang kalau anak-anaknya bermain di rumah. Orang tua seperti ini untuk mengantisipasi agar anak-anaknya betah di rumah mau tidak mau menyediakan mainan-mainan buatan pabrik yang harganya boleh jadi harus merogoh kantung lebih dalam lagi.    

Mengapa ada kecenderungan orang tua saat ini melarang bermain di luar? Apakah orang tua sekarang lebih mengutamakan peran menjaga dan menjalankan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan fisik anak, serta memastikan anak menjalankan kewajiban utama seperti sekolah? Mengapa jadi ada kebalikan dengan pola asuh orang tuanya terdahulu yang lebih mengupayakan anak bermain di luar agar anak dapat bersosialisasi, mengembangkan kreativitas, dan mampu berkompetisi di masa yang lebih sulit secara finansial? Kalau direnungkan, orang tua generasi sebelumnya lebih berpikir logis karena mereka  sadar keseimbangan aktivitas fisik, kognitif, dan sosial, penting untuk perkembangan anak. Jadi, justru orang tua sekarang kurang menyadari semua  itu. Orang tua sekarang lebih cenderung mengarahkan anaknya agar nantinya menjalankan peran orangtua yang wajib bekerja keras demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Untuk itu, tidak aneh jika suatu saat nanti generasi jenis ini (disebut sebagai `generasi baby boomer`) kurang memikirkan keseimbangan kehidupan keluarga.

Di awal abad 21 ini (tepatnya tahun 2010 dan seterusnya) muncul anak-anak yang dikenal dengan istilah anak-anak  `generasi alfa`.Bagaimana permainan anak-anak anak-anak `generasi Alfa`? Istilah anak-anak `generasi alfa` merupakan julukan yang pertama kali diorbitkan dalam tabloid Nova, 22 September 2015 yang mengutip pendapat Mark Mc Crindle. Dimaksudkan dengan `generasi alfa` atau `generasi broadband` atau mobile ialah generasi keturunan awal generasi Y dan  terakhir generasi X. Ada orang yang memprediksikan bahwa `generasi alfa` diprediksi adalah orang-orang ekspresif dan hitec karena lahir dan berada di era informasi. Bahkan, anak-anak `generasi alfa` diprediksi lebih pragmatis materialistik karena dibesarkan di era kemajuan teknologi. Mereka juga berpikir dengan sangat praktis, kurang memperhatikan nilai-nilai, lebih egois. Selain itu, anak-anak `generasi alfa` cenderung memiliki berat badan berlebih karena hidup di era menjamurnya makanan cepat saji dan junk food.

Karena anak-anak `generasi alfa` lahir di era informasi, jenis permainannya juga berbeda dengan generasi terdahulu (apalagi generasi saya yang lahir di penghujung tahun `50-an). Anak-anak sekarang (`generasi alfa`) ketika disetelkan lagu-lagu MP3 dari smartphone kepalanya bergerak-gerak seakan mengikuti irama. Kalau tayangan video dari Youtube dimatikan, ia menjerit seolah tak rela. Permainan anak-anak `generasi alfa` ini menggunakan teknologi layar sentuh atau disapu dengan jari baik itu berupa gadget maupun notebook atau laptop sehingga anak-anak `generasi alfa` dalam permainannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan lebih bersifat individual. Kemajuan teknologi yang demikian pesat telah mempengaruhi gaya hidup anak-anak `generasi alfa`. Gaya hidup `generasi alfa` lebih pragmatis materialistis. 

Gambar di sebelah kiri ini memperlihatkan adanya perbedaan yang sangat jauh antara anak-anak terdahulu (before) dengan anak-anak yang sekarang (today) yang dinamakan anak-anak `generasi alfa`.  Anak-anak yang terdahulu (before) dalam permainan lebih mengutamakan kebersamaan. Ada kejujuran, kebersamaan, kecekatan, kelincahan, kekuatan fisik, kreativitas, dan yang paling penting, yaitu adanya  toleransi. Bagaimana dengan anak-anak `generasi alfa` (today)? Mereka masing-masing asyik dengan gadget-nya yang tinggal menggeser tampilan-tampilan di layar gadget dengan telunjuknya. Tidak dibutuhkan fisik. Tidak ada kecekatan. Tidak ada kontak fisik. Lebih menunjukkan sikap individualisnya. Tanpa disadari generasi ini tidak punya toleransi. Tidak punya kepedulian karena mereka lebih mengedepankan sifat egosentrisnya. Tidak mustahil `generasi alfa` akan menderita penyakit anti sosial atau bisa juga sosiopat.
***

Jakarta sebagai ibukota negara seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia (bahkan dunia) memang memiliki daya tarik tersendiri. Kota ini setiap saat mengundang orang untuk mengadu nasib. Walaupun banyak di antara mereka yang gagal hidup di kota Jakarta, tetap saja masih banyak orang yang nekad untuk belajar mengubah nasibnya. Berpindahnya orang-orang dari daerah atau desa ke kota yang dinamakan urbanisasi memang tidak bisa dibendung. Akibatnya, kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia semakin padat. Lahan-lahan kosong semakin langka. Rumah-rumah penduduk yang semula berhalaman luas kini disesaki dengan rumah-rumah kontrakan/petak. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab anak-anak `generasi alfa` lebih cenderung duduk manis di rumah seraya bermain gadge atau permainan jenis teknologi canggih lainnya.   

Berbicara tentang kota Jakarta yang menjadi sasaran utama para urban di Indonesia, seorang peneliti berkebangsaan Perancis, Bernard Dorlean, pada tahun 1976 ketika mengadakan penelitian tiga kampung di DKI Jakarta menyimpulkan Jakarta lebih menyerupai aglomerasi kampung daripada sebuah kota yang terstruktur. Karena itu, muncullah sebutan Jakarta sebagai `the big village`. Dengan kata lain, Jakarta sebagai ibukota lebih mencerminkan ciri suatu perkampungan dalam skala besar daripada sebuah kota yang memiliki formalitas yang tinggi, tertata, dan memiliki sistem terpadu (Ekspedisi Ciliwung/Tim Laporan Jurnalistik Kompas, 2009:181). Boleh jadi para pejabat tinggi baik DKI maupun negara ini pada waktu itu merasa terpukul dengan sebutan `the big village` itu sehingga dilakukan langkah besar untuk membenahi Jakarta. Tetapi, pembenahan Jakarta tampaknya tidak berbasis kearifan lokal atau boleh jadi mengabaikan pesan-pesan yang termuat dalam pembangunan berkelanjutan, yaitu pembangunan yang berbasis lingkungan sehingga tempat-tempat bermain untuk anak-anak diabaikan. Wajar-wajar saja kalau kota Jakarta diberi julukan `kota yang tidak ramah terhadap warganya (termasuk anak-anak)`. Bahkan, boleh juga Jakarta disebut sebagai `kota tanpa peradaban` (meminjam judul buku yang mirip sama Kota Tanpa Warga/Jo Santoso, 2006).

Bukan hanya Jakarta, kota-kota besar baik di Jawa maupun di luar Jawa juga cenderung mengabaikan pembangunan taman-taman kota, ruang publik, atau ruang terbuka hijau (RTH) yang bisa dimanfaatkan untuk permainan anak-anak tradisional. Coba perhatikan foto di sebelah kiri ini, pemandangan taman kota yang diisi dengan anak-anak yang melakukan permainan tradisional seperti `egrang` sudah demikian langka. Tidak semua kota di Indonesia memfasilitasi warganya untuk melakukan aktivitas seperti yang terdapat dalam foto tersebut. Seandainya, ada luas lahannya terbatas. Tidak sesuai dengan aturan yang ada, yaitu seluas tiga puluh persen dari luas kota.

Kota-kota di negara ini sudah menjadi kota khusus untuk anak-anak `generasi alfa` yang dicirikan seperti yang telah diuraikan di atas. Kota-kota di negara ini telah tergerus oleh arus globalisasi. Banyak pemerintah kota di negara ini yang sangat minim menyediakan taman-taman khusus bermain anak-anak. Akibatnya, anak-anak kabur ke tempat-tempat play station atau game online yang cenderung menjadikan anak ke depannya sosiopat karena boleh jadi jenis-jenis permainan tersebut mempengaruhi perilaku anak yang menjurus pada perilaku antisosial. Jalan-jalan lingkungan di tempat-tempat tinggal penduduk kota dimanfaatkan anak-anak untuk bermain. Tetapi, kondisi tempat seperti itu jelas tidak aman karena tempat lalu lalang kendaraan bermotor. Agar mereka tidak melakukan aktivitas di luar rumah, para orang tua mengambil jalan pintas, yaitu melarang anaknya bermain. Sebagai gantinya berikan mainan buatan pabrik atau gadget, ipad, atau notebook karena yang penting anak sambil bermain bisa duduk manis walaupun berjam-jam anak-anak malang ini harus memelototi layar monitor.
***

Kota yang sehat adalah kota yang memiliki daya dukung yang sehat bagi warganya. Untuk itu, kota yang sehat memiliki indikator standar kenyamanan. Selain itu, juga memiliki manajemen perkotaan yang mampu menjaga keutuhan kawasan per kawasan. Artinya, kota yang nyaman harus memiliki keberpihakan pada kelestarian lingkungan dengan menyediakan sekurang-kurangnya yang disebutkan di atas, yaitu tiga puluh persen luas lahan kotanya untuk RTH. Sebagai tambahan, kota yang nyaman harus memiliki institusi khusus yang dapat memobilisasi sumber-sumber pembangunan pemukiman dan perkotaan yang berkelanjutan dan sampai batas tertentu harus terlepas dari mekanisme pasar (Mengendalikan Masa Depan/Afthonul Afif, 2015:69). Apakah mungkin pembangunan perkotaan di Indonesia bisa terlepas dari mekanisme pasar kalau masih saja pemerintah ini sangat tergantung pada bantuan luar yang dalam hal ini lembaga-lembaga internasional?

Kota-kota di Indonesia  sama seperti kota-kota di dunia sekarang ini sebagian besar penghuninya adalah anak-anak kota `generasi alfa`. Anak-anak kota `generasi alfa` memang banyak juga yang berprestasi akademik. Angka-angka rapot atau ijazahnya memuaskan bahkan tinggi-tinggi. Tetapi ada yang terlupakan, mereka sebagai makhluk ciptaan Tuhan telah tidak lagi memiliki kecerdasan emosional dan spiritual sehingga banyak di antara mereka yang cepat putus asa. Mereka tidak memiliki toleransi dan kepedulian pada sesama. Banyak di antara mereka yang menderita penyakit psikopat atau sosiopat. Apakah kalau nanti banyak di antara mereka yang menderita penyakit psikopat atau sosiopat akan didiamkan saja? Waallahu a`lam bissawab.       


     

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...