Senin, 15 Agustus 2016

All You Need Is Love (21)

Orang Miskin Dilarang Bla..Bla..Bla...

Subagio S.Waluyo

Ingat orang miskin, ingat WS Rendra menulis dalam puisinya “Blues untuk Bonie”. Rendra menggambarkan tentang seorang penyanyi negro tua yang bernyanyi di sebuah cafe, di Boston yang pengunjungnya hanya tujuh pasang kaki (tujuh orang). Si negro tua sambil bernyanyi dan memetik gitar menyanyikan tentang Georgia tempat tinggalnya yang jauh yang digambarkan di sana didapati gubug-gubug kaum negro yang atapnya bocor dan masih banyak ditemukan cacing dan pellagra. Yang jelas, daerah tempat tinggal si negro tua adalah lingkungan kumuh dan tidak sehat. 

Sabtu, 13 Agustus 2016

All You Need Is Love (20)

Jangan Jadi Kapitalis

Subagio S.Waluyo
Di dekat rumah saya ada sebidang tanah. Luasnya sekitar 200 m2. Tanah itu oleh pemiliknya dibangun rumah-rumah kontrakan. Bagian depan, sekitar 60 m2 semula tidak dibangun. Dalam hati saya bersangka baik saja: “Mudah-mudahan tanah yang tersisa itu untuk halaman rumah.” Ternyata, sangka baik saya secara perlahan-lahan harus diganti dengan persangkaan yang kurang baik karena belakangan tanah yang tersisa itu pun dibangun untuk tambahan rumah kontrakan. Praktis tanah yang luasnya 200 m2 itu tidak menyisakan halaman rumah! Saya hanya mengurut dada seraya berkata (hanya dalam hati): “Serakah benar pemilik tanah ini. Karena di benaknya yang ada hanya uang, sampai demikian teganya tidak terpikirkan efek yang akan muncul dengan membangun rumah kontrakan tanpa halaman rumah!”  

Rabu, 10 Agustus 2016

All You Need Is Love (19)

Naik Kereta Api..Tut..Tut..Tuut

Subagio S. Waluyo

Entah mengapa sampai usia menjelang kepala enam ini masih saja ada ketertarikan saya dengan kereta api. Setiap kali mendengar kata `kereta api` ada sesuatu yang menggelitik saya untuk membacanya kalau itu memang berkaitan dengan beritanya atau paling tidak berupaya melihat atau menontonnya. Untuk membaca beritanya di zaman  kiwari ini tidak perlu beli media cetak, cukup dengan minta pertolongan `Mbah Google` dengan mengetik `kereta api` sudah bisa di-browsing sampai ditemukan isi tulisan utuhnya. Saya tinggal memilih dari sekian banyak tulisan atau paling tidak saya kunjungi website-nya. Begitu juga kalau saya mau menonton aktivitas tentang perkeretaapian, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional saya tinggal klik Youtube dan ketik kereta api, misalnya: kereta api Indonesia, segera terhidang sekian banyak film tentang aktivitas perkeretaapian. Seringkali saya harus berbagi dengan anak atau cucu saya untuk menyaksikan tayangan perjalanan kereta api (KA). Sesuatu yang membuat saya terhibur dengan menonton tayangan tersebut

Selasa, 09 Agustus 2016

All You Need Is Love (18)

Kota Anak-Anak Alfa

Subagio S. Waluyo

Masa kecil saya banyak diisi dengan aktivitas bermain. Di benak saya ketika itu tidak ada pikiran lain kecuali bermain. Buat saya dengan bermain pada waktu itu ada rasa kepuasan diri yang tidak ternilai. Kalau ditanya tentang waktu-waktu saya belajar di  luar sekolah, sedikit sekali waktu saya untuk belajar. Belajar hanya dilakukan di malam hari. Itu pun selesai belajar (yang hanya paling lama satu jam), ya bermain lagi sampai datang rasa kantuk atau capai baru selesai bermain. Itulah dunia masa kecil saya, masa kecil yang merasa puas bila diisi dengan bermain.  

Senin, 07 September 2015

All You Need Is Love (17)

ALBUM “SGT. PEPPER`S LONELY HEART CLUB BAND”
SEBAGAI PRODUK BUDAYA UNGGUL NEGARA MAJU

Subagio S Waluyo

/I/

Penerjemah buku Tarikh Khulafa, Samson Rahman, dalam Kata Pengantarnya  menulis:
”Hanya mereka yang  pernah melakukan pekerjaan yang agung dan besarlah yang berhak untuk dicantumkan dalam sejarah. Hanya mereka yang mampu mengubah arah mata angin pikiran dan pola pikir manusialah yang patut mendapatkan lisensi untuk ditorehkan dalam sejarah. Manusia-manusia yang memiliki karakter, integritas dan `bobot` (mereka yang mampu mengopotimalkan potensi diri yang ada pada dirinya untuk mengubah dunia) sebagaimana manusialah yang pantas untuk ditorehkan dalam sejarah.”
(Imam suyuthi, 2010:ix)

Dalam dunia tarik suara di negara-negara maju, siapakah yang layak dicantumkan atau ditorehkan dalam sejarah yang pernah melakukan pekerjaan yang agung dan besar?  Siapakah yang mampu mengubah arah mata angin pikiran dan pola pikir manusia? Siapa pula yang memiliki karakter, integritas, dan mampu mengoptimalkan potensi diri yang ada pada dirinya sehingga mampu mengubah dunia? Jawabannya hanya satu: The Beatles. Mengapa hanya empat anak muda Liverpool dari Britania Raya yang di awal-awal penampilannya berambut poni yang bermain musik dengan alat seadanya? Apakah tidak ada grup band yang lain selain mereka?

Jumat, 30 Mei 2014

Kebahasaan dan Kesastraan (23)

BAGAIMANA NANTI VERSUS NANTI BAGAIMANA

Subagio S. Waluyo


/a/
Melihat judul di atas, saya yakin ada orang yang beranggapan bahwa `bagaimana nanti` lebih layak digunakan daripada `nanti bagaimana`. Ada juga yang beranggapan bahwa `nanti bagaimana` lebih layak digunakan daripada `bagaimana nanti`. Meskipun demikian, ada juga yang tidak mau ambil pusing, kedua-duanya baik `bagaimana nanti` maupun `nanti bagaimana` sama saja artinya. Khusus untuk pendapat yang ketiga ini ada anggapan bahwa hal itu lebih disebabkan penempatan kedua kata itu saja yang dipertukarkan tempatnya. Tentang artinya tidak ada perbedaan yang substansial. Tulisan ini lebih cenderung untuk memasalahkan pendapat yang ketiga ini agar semua orang tahu bahwa kedua frase tersebut jelas-jelas berbeda dari sisi muatan yang terkandung di dalamnya.

Sabtu, 03 Mei 2014

All You Need Is Love (16)

KECERDASAN SPIRITUAL DAN POLITIK BAGI-BAGI UANG

Subagio S.Waluyo

(1)
Pemilu Pileg 2014 ditandai dengan adanya fenomena money politic (politik bagi-bagi uang) yang dilakukan aktor-aktor politik, calon anggota dewan (CAD) baik yang baru mau masuk parlemen (tingkat DPRD II, DPRD I, dan DPR) maupun yang tergolong incumbent (patahana). Politik bagi-bagi uang untuk Pemilu Pileg 2014 ini tergolong terbesar jika dibandingkan dengan pemilu-pemilu pileg terdahulu di masa reformasi. Politik bagi-bagi uang ini dilakukan oleh semua partai politik (parpol) tidak terkecuali parpol yang semula tidak melakukan praktek politik bagi-bagi uang untuk saat ini demi memperoleh kursi di parlemen terpaksa melakukannya. Untuk itu, tidaklah aneh ketika Sebastian Salang beberapa waktu lalu di acara Indonesian Lawyer Club (ILC) yang biasa ditayangkan oleh TV One menantang para peserta yang umumnya dari para pengurus parpol untuk mengangkat tangannya kalau partainya tidak melakukan politik bagi-bagi uang, tidak ada satu pun di antara para peserta yang berani mengangkat tangannya. Dengan demikian, sudah bisa disimpulkan bahwa fenomena praktek politik bagi-bagi uang telah dilakukan oleh semua parpol.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...