Naik Kereta
Api..Tut..Tut..Tuut
Subagio
S. Waluyo
Entah mengapa
sampai usia menjelang kepala enam ini masih saja ada ketertarikan saya
dengan kereta api. Setiap kali mendengar kata `kereta api` ada sesuatu yang
menggelitik saya untuk membacanya kalau itu memang berkaitan dengan beritanya atau
paling tidak berupaya melihat atau menontonnya. Untuk membaca beritanya di
zaman kiwari ini tidak perlu beli media cetak, cukup dengan minta
pertolongan `Mbah Google` dengan mengetik `kereta api` sudah
bisa di-browsing sampai ditemukan isi tulisan utuhnya. Saya
tinggal memilih dari sekian banyak tulisan atau paling tidak saya
kunjungi website-nya. Begitu juga kalau saya mau menonton
aktivitas tentang perkeretaapian, baik di tingkat lokal, nasional maupun
internasional saya tinggal klik Youtube dan ketik kereta api,
misalnya: kereta api Indonesia, segera terhidang sekian banyak film tentang
aktivitas perkeretaapian. Seringkali saya harus berbagi dengan anak atau cucu
saya untuk menyaksikan tayangan perjalanan kereta api (KA). Sesuatu yang
membuat saya terhibur dengan menonton tayangan tersebut
***
Pertama kali saya
benar-benar bisa menikmati perjalanan KA ketika saya berusia sepuluh tahun.
Waktu itu, tahun 1968, tiga hari menjelang lebaran saya bersama-sama orang tua dan
empat orang adik saya yang masih kecil-kecil melakukan perjalanan ke Yogya. KA
ke Yogya tidak seperti sekarang banyak pilihannya. KA khusus untuk ke Yogya, di
luar KA Gaya Baru Malam atau BIMA, cuma ada kereta api senja kelas ekonomi. KA
saat itu yang tergolong jarak jauh juga tidak ada yang berangkat pagi hari
seperti sekarang ini. Semua KA yang melalui jalur selatan (ini saya ketahui
setelah dewasa) berangkat dari Stasiun Gambir. Untuk jalur utara melalui
Stasiun Senin. Setelah Stasiun Gambir direhab, secara berangsur-angsur semua KA
yang berkelas ekonomi dan bisnis dipindahkan ke Stasiun Senin. Stasiun Gambir
hanya diperuntukkan KA-KA kelas eksekutif.
Mungkin karena saya masih anak-anak, saya nikmati saja
perjalanan itu. Berangkat malam hari praktis tidak bisa melihat pemandangan.
Karena saat itu saya hanya tahu jalur KA menuju Yogya lewat Bogor, saya sempat
bertanya pada orang tua saya kalau KA ini nanti lewat Bogor. Orang tua saya
dengan bijak menjelaskan kalau jalur KA yang ke arah Yogya tidak lewat Bogor.
Belakangan ketika saya buka-buka peta Pulau Jawa saya dapati jalur KA di Jawa
ternyata bukan hanya ke arah selatan tetapi juga ke arah barat dan timur. Untuk
ke arah timur itu pun masih terbagi lagi nanti di Stasiun Cikampek yang ke arah
selatan (Bandung dan seterusnya) dan di Stasiun Cirebon juga terbagi lagi ke
arah timur (Semarang, Surabaya, dan seterusnya) dan ke arah selatan
(Purwokerto, Yogya dan seterusnya). Semua jalur yang ke arah timur (meskipun
ada yang berbelok ke jalur selatan, baik di Stasiun Cikampek maupun Cirebon)
ternyata tersambung juga ke arah yang sama. Orang yang mau ke Surabaya atau
Malang bisa lewat jalur utara, bisa juga jalur selatan.
Sekitar pukul 02.00 dinihari KA berhenti cukup lama di Stasiun
Prupuk karena ada sedikit kerusakan. KA baru bisa berangkat menjelang subuh.
Kami sampai di Stasiun Tugu sekitar pukul 10.00. Sebuah perjalanan yang
melelahkan karena kalau dihitung-hitung lamanya perjalanan hampir enam belas
jam. Meskipun demikian, jika perjalanan dari Jakarta ke Yogya makan waktu
sekitar enam belas jam, pada waktu kembali ke Jakarta jauh lebih cepat hanya
butuh waktu sebelas jam. Dibandingkan dengan sekarang orang yang melakukan
perjalanan dengan KA sejenis jauh lebih cepat yang hanya memakan waktu paling
lama sepuluh jam. Jika menggunakan KA Bisnis (Fajar Utama) atau KA Eksekutif
(KA Taksaka) hanya butuh waktu delapan atau sembilan jam. Tetapi, jika
dibandingkan dengan orang yang mudik memakai kendaraan pribadi atau umum saat
ini, menjelang lebaran (meskipun sudah ada jalan tol sampai Brebes Timur),
naik KA pada waktu itu jauh lebih cepat. Tidak terbayangkan di zaman yang
seharusnya jauh lebih baik dalam segala hal mengapa musti ada orang yang
merenggangkan nyawa hanya untuk pulang kampung?
Jalur KA pada waktu itu sedikit sekali yang menggunakan jalur
ganda. Setahu saya sampai dengan tumbangnya Orde Baru, jalur ganda yang ke arah
timur baru sampai Stasiun Cikampek dan di jalur tengah (Jakarta-Bogor). KA
kelas ekonomi harus bersabar menunggu kedatangan KA kelas-kelas yang lebih
tinggi untuk lewat baik yang searah maupun yang berlawanan arah. Terkadang
butuh waktu cukup lama untuk bisa melanjutkan perjalanan setelah menanti
kedatangan KA yang lain. Ketika masih anak-anak saya terkadang bermimpi
(mungkin juga berkhayal) kalau suatu saat nanti ada sekian banyak jalur ganda
(bisa sampai dua jalur ganda) yang bisa mempercepat perjalanan KA. Mimpi saya
baru terjawab akhir-akhir ini ketika pemerintah mulai serius menangani
jalur-jalur KA yang tergolong ramai. Hal ini terbukti ketika jalur utara dari
Jakarta sampai Surabaya sudah menggunakan jalur ganda. Jalur selatan dari
Cirebon sampai Purwokerto juga sama (bahkan, dari Kutoarjo sampai Solo sudah
selesai lebih dulu). Sekarang masyarakat pengguna KA ingin melihat keseriusan pemerintah
menyelesaikan jalur ganda dari Purwokerto sampai Kutoarjo dan dari Solo sampai
Madiun dan seterusnya. Mudah-mudahan saja harapan masyarakat bisa terkabul.
***
Belanda sebagai penjajah negeri ini terlepas dari jiwa kapitalis
yang melekat pada dirinya, tampaknya memiliki pandangan jauh ke depan. Memang,
pembangunan jalur KA di masa itu lebih ditujukan untuk memudahkan mereka
membawa hasil bumi dan produk-produk pabrik yang ada saat itu ke berbagai
tempat. Beberapa kota pelabuhan seperti Jakarta (Tanjung Priok) dan Surabaya
(Tanjung Perak) terhubung dengan jalur KA. Jadi, pembangunan jalur KA yang
memakan hampir satu abad (dimulai tahun 1867 dan terakhir tahun 1925) merupakan
bentuk keseriusan mereka membangun moda transportasi yang cepat, murah, dan massal.
Jika dibandingkan dengan pemerintah kita sampai saat ini, mereka boleh lebih
dikatakan lebih visioner. Mengapa? Mereka walaupun penjajah telah memikirkan
jauh-jauh hari pemecahan masalah transportasi karena dalam pandangan mereka
jalan raya yang dibangun pada waktu itu (misalnya Jalan Raya Daendels)
dipandang kurang efektif dan efisien untuk pengangkutan barang dan hasil bumi.
Untuk itu, mereka lakukan pembangunan jalur KA besar-besaran yang
menghubungan beberapa kota di Jawa dan sebagian kota di Sumatera. Hasilnya,
beberapa kota di Jawa terhubung dengan jalur KA. Kalau Pemerintah Kolonial
Belanda pada waktu itu tidak melakukan pembangunan jalur KA, saya yakin sampai
saat ini beberapa kota di Jawa dan Sumatera tidak akan terhubung dengan
jalur KA (pembangunan jalur ganda saja baru bisa diwujudkan beberapa tahun
belakangan ini).
Meminjam ungkapan Djamaludin Ancok dalam bukunya Psikologi
Kepemimpinan dan Inovasi (Penerbit Erlangga, 2012), kepemimpinan
Pemerintah Kolonial Belanda telah menunjukkan pada bangsa ini sebagai
kepemimpinan dengan gaya leader. Sementara Kepemimpinan
Pemerintah Indonesia sampai saat ini masih menunjukkan diri sebagai
kepemimpinan dengan gaya manajer. Mengapa? Pemerintah Kolonial Belanda lebih
berpandangan ke depan dan dengan perencanaan yang lebih bersifat jangka
panjang. Pemerintah Indonesia lebih tertuju pada tugas rutin yang berdimensi
jangka pendek. Karena itu, dengan meminjam pendapat Riant Nugroho dalam
bukunya Policy Making (Alex Media Computindo, 2015) tidak
aneh jika kebijakan publik yang dibangun berbasiskan masalah. Masalah
seperti yang banyak orang tahu adalah sesuatu yang telah dan sedang terjadi
pada saat ini. Kebijakan publik itu sendiri membangun masa depan dan membawa
masa depan ke hari ini (Riant Nugroho, 2015:34). Jadi, sampai kapan pun
kalau mindset Pemerintah Indonesia tidak pernah berubah
melihat perkembangan dan perubahan yang terjadi di negara ini pada akhirnya
pemerintah hanya disibukkan menyelesaikan satu masalah menyusul masalah
berikutnya.
***
Mengubah mindset bukan hanya menjadi beban
pemerintah saat ini, tapi juga semua anak bangsa perlu memiliki perubahan mindset. Perubahan mindset ditujukan
pada mindset yang semula deformatif ke arah reformatif.
Mindset reformatif dicirikan salah satunya adalah adanya tindakan
inisiatif dari orang atau institusi yang bersangkutan. Orang atau institusi
yang punya inisiatif tentu saja adalah orang atau institusi yang memiliki
banyak kreativitas. Dengan demikian, orang atau institusi yang memiliki mindset
reformatif juga orang atau institusi yang memiliki inovasi. Memang, lagu
anak-anak tentang KA cenderung ada sedikit kebohongan karena di syair lagu
tersebut ada terkesan naik KA ke Bandung atau ke Surabaya naik dengan percuma.
Tetapi, nilai positif yang ada pada KAI saat ini dalam memberikan pelayanan
pada para pengguna KA patut diapresiasi. Para pengguna KA dengan nyaman, dan
aman merasakan betapa nikmatnya melakukan perjalanan dengan KA. Tidaklah aneh
jika KA sekarang menjadi pilihan utama orang-orang yang ingin melakukan
perjalanan baik jarak dekat, menengah, maupun jauh. Selain itu, ini yang lebih
penting, sesuatu yang sudah baik patut untuk dijaga komitmennya. Kalau perlu
lebih ditingkatkan lagi pelayanannya. Satu hal lagi yang juga perlu dilakukan,
ke depan sarana transportasi KA harus dijadikan pilihan utama para pengguna
dari kalangan dhuafa (masyarakat kecil). Artinya, KA harus
berpihak pada orang kecil. Jangan tergiur pada pemikiran kapitalis yang
cenderung mencari keuntungan. Bukankah PT KAI sampai saat ini juga masih
memperoleh subsidi dari pemerintah? Kalau memang masih mendapat subsidi dari
pemerintah lewat APBN, apa salahnya jika kehadiran negara itu benar-benar ada
di tengah-tengah masyarakat kecil? Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar