Sabtu, 20 Agustus 2016

Artikel Agama (25)

Qarun Sang Kapitalis


                                                                          
 Subagio S.Waluyo

Membaca Surat Al-Qashash ayat 76 – 78 kita seperti diingatkan oleh Allah SWT tentang kisah di zaman Nabi Musa AS tentang orang yang serakah. Adalah Qarun yang dimaksudkan sebagai tokoh yang serakah, riya, kikir, dan sombong yang digambarkan pada ketiga ayat di atas. Karena kesombongannya, Qarun melakukan cara-cara tidak terpuji pada pengikut-pengikut Nabi Musa AS di antaranya melakukan provokasi agar mereka (para pengikut Nabi Musa AS) memusuhinya dan ingkar pada Allah SWT. Perilaku  Qarun sama dengan perilaku Fir`aun yang juga menganggap dirinya lebih tinggi daripada Allah SWT.  Agar lebih jelas lagi, silakan disimak bunyi ketiga ayat itu berikut ini:

Kamis, 18 Agustus 2016

Artikel Agama (24)

Sesudah Kesulitan—Ada Kemudahan


Subagio S. Waluyo

Menjalani hidup seperti mengendarai kendaraan di jalan raya. Terkadang kita ada di jalan yang enak dikendarai seperti jalan tol. Terkadang kita juga ada di jalan yang justru sebaliknya, jalan yang terjal, penuh lubang, berlumpur sehingga harus ekstra hati-hati mengendarainya. Kalau tidak, sudah  bisa ditebak, kita bisa celaka. Bahkan, tidak mustahil kita bisa juga menghadapi kematian. Jadi, kita di dunia ini dalam hidup memang terkadang menghadapi banyak kemudahan, terkadang sebaliknya menghadapi banyak kesulitan. Kalau menghadapi kemudahan, kita merasa senang dan bahagia. Tapi, kalau menghadapi  kesulitan, kita merasa sedih, penuh harap, dan tentu saja penuh ketakutan. Kita benar-benar merasa menderita.

Rabu, 17 Agustus 2016

All You Need Is Love (22)

Merdeka! Merdeka! Merdeka?

Subagio S. Waluyo 

 Merdeka!    
 
Tulisan ini dimulai dari sebuah puisi heroik yang ditulis Chairil Anwar, “Karawang Bekasi”. Puisi yang ditulis oleh penyair Angkatan `45  ini di hari-hari bersejarah buat negeri ini sering dibacakan dan juga sering dijadikan bahan perlombaan baca puisi atau deklamasi, baik di tingkat pendidikan menengah maupun tinggi. Bahkan, tidak sedikit di kalangan masyarakat umum juga menjadikan puisi ini sebagai bahan perlombaan baca puisi atau deklamasi. Memang, isi puisi ini bagi kita benar-benar membangkitkan semangat `45 yang tidak kunjung padam. Agar benar-benar kita bisa meresapi isinya, coba kita simak puisi berikut ini. 

Senin, 15 Agustus 2016

All You Need Is Love (21)

Orang Miskin Dilarang Bla..Bla..Bla...

Subagio S.Waluyo

Ingat orang miskin, ingat WS Rendra menulis dalam puisinya “Blues untuk Bonie”. Rendra menggambarkan tentang seorang penyanyi negro tua yang bernyanyi di sebuah cafe, di Boston yang pengunjungnya hanya tujuh pasang kaki (tujuh orang). Si negro tua sambil bernyanyi dan memetik gitar menyanyikan tentang Georgia tempat tinggalnya yang jauh yang digambarkan di sana didapati gubug-gubug kaum negro yang atapnya bocor dan masih banyak ditemukan cacing dan pellagra. Yang jelas, daerah tempat tinggal si negro tua adalah lingkungan kumuh dan tidak sehat. 

Sabtu, 13 Agustus 2016

All You Need Is Love (20)

Jangan Jadi Kapitalis

Subagio S.Waluyo
Di dekat rumah saya ada sebidang tanah. Luasnya sekitar 200 m2. Tanah itu oleh pemiliknya dibangun rumah-rumah kontrakan. Bagian depan, sekitar 60 m2 semula tidak dibangun. Dalam hati saya bersangka baik saja: “Mudah-mudahan tanah yang tersisa itu untuk halaman rumah.” Ternyata, sangka baik saya secara perlahan-lahan harus diganti dengan persangkaan yang kurang baik karena belakangan tanah yang tersisa itu pun dibangun untuk tambahan rumah kontrakan. Praktis tanah yang luasnya 200 m2 itu tidak menyisakan halaman rumah! Saya hanya mengurut dada seraya berkata (hanya dalam hati): “Serakah benar pemilik tanah ini. Karena di benaknya yang ada hanya uang, sampai demikian teganya tidak terpikirkan efek yang akan muncul dengan membangun rumah kontrakan tanpa halaman rumah!”  

Rabu, 10 Agustus 2016

All You Need Is Love (19)

Naik Kereta Api..Tut..Tut..Tuut

Subagio S. Waluyo

Entah mengapa sampai usia menjelang kepala enam ini masih saja ada ketertarikan saya dengan kereta api. Setiap kali mendengar kata `kereta api` ada sesuatu yang menggelitik saya untuk membacanya kalau itu memang berkaitan dengan beritanya atau paling tidak berupaya melihat atau menontonnya. Untuk membaca beritanya di zaman  kiwari ini tidak perlu beli media cetak, cukup dengan minta pertolongan `Mbah Google` dengan mengetik `kereta api` sudah bisa di-browsing sampai ditemukan isi tulisan utuhnya. Saya tinggal memilih dari sekian banyak tulisan atau paling tidak saya kunjungi website-nya. Begitu juga kalau saya mau menonton aktivitas tentang perkeretaapian, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional saya tinggal klik Youtube dan ketik kereta api, misalnya: kereta api Indonesia, segera terhidang sekian banyak film tentang aktivitas perkeretaapian. Seringkali saya harus berbagi dengan anak atau cucu saya untuk menyaksikan tayangan perjalanan kereta api (KA). Sesuatu yang membuat saya terhibur dengan menonton tayangan tersebut

Selasa, 09 Agustus 2016

All You Need Is Love (18)

Kota Anak-Anak Alfa

Subagio S. Waluyo

Masa kecil saya banyak diisi dengan aktivitas bermain. Di benak saya ketika itu tidak ada pikiran lain kecuali bermain. Buat saya dengan bermain pada waktu itu ada rasa kepuasan diri yang tidak ternilai. Kalau ditanya tentang waktu-waktu saya belajar di  luar sekolah, sedikit sekali waktu saya untuk belajar. Belajar hanya dilakukan di malam hari. Itu pun selesai belajar (yang hanya paling lama satu jam), ya bermain lagi sampai datang rasa kantuk atau capai baru selesai bermain. Itulah dunia masa kecil saya, masa kecil yang merasa puas bila diisi dengan bermain.  

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...