Qarun Sang Kapitalis
Membaca
Surat Al-Qashash ayat 76 – 78 kita seperti diingatkan oleh Allah SWT tentang
kisah di zaman Nabi Musa AS tentang orang yang serakah. Adalah Qarun yang
dimaksudkan sebagai tokoh yang serakah, riya, kikir, dan sombong yang
digambarkan pada ketiga ayat di atas. Karena kesombongannya, Qarun melakukan
cara-cara tidak terpuji pada pengikut-pengikut Nabi Musa AS di antaranya
melakukan provokasi agar mereka (para pengikut Nabi Musa AS) memusuhinya dan
ingkar pada Allah SWT. Perilaku Qarun
sama dengan perilaku Fir`aun yang juga menganggap dirinya lebih tinggi daripada
Allah SWT. Agar lebih jelas lagi,
silakan disimak bunyi ketiga ayat itu berikut ini:
“Sesungguhya
Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka (sesama
kaumnya). Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang
kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.
(Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, `Janganlah kamu terlalu bangga.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orng-orang yang terlalu membanggakan diri`.
Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan Janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Qarun berkata,
`Sesungguhnya aku hanya diberi harta
itu, karena ilmu yang ada padaku`....”
(Al-Qashash:
76—78)
Qarun dan Nabi Musa masih terhitung
sepupu karena Qarun anak paman Nabi Musa AS. Ketika miskin Qarun berakhlak
baik. Tapi, entah mengapa ketika Allah berikan kekayaan ada perubahan dalam akhlaknya.
Qarun menjadi berakhlak buruk. Qarun merasa bahwa kekayaannya selama ini
merupakan jerih payahnya berbisnis. Memang benar dari kerja kerasnya Allah
berikan sedikit demi sedikit kekayaan sehingga digambarkan kunci-kunci gudang
yang digunakan untuk mengunci perbendaharaan hartanya demikian berat dipikul
oleh orang-orang yang berotot. Keberhasilannya dalam mengubah nasibnya dari
seorang miskin menjadi orang yang sangat kaya tidak disyukurinya. Justru dia
semakin sombong. Bentuk kesombongan yang paling nyata ketika dia mengumpulkan
orang untuk memamerkan kekayaannya. Meskipun ada orang yang memberikan nasihat
agar dia tidak membanggakan diri, dia bergeming alias cuek bebek (masa bodo
amat). Dia pun diingatkan oleh Allah seperti yang termaktub dalam ayat 77 di
surat yang sama (Al-Qashash).
Khusus untuk ayat 77, ada empat butir
yang bisa kita ambil sebagai pembelajaran. Keempat butir itu bisa kita uraikan
satu persatu. Pertama, mencari kebahagiaan negeri akhirat. Sebagai manusia
perlu dicamkan bahwa kita hidup bukan hanya di dunia ini. Di dunia ini kita
hidup hanya sementara. Ada kehidupan yang abadi, yaitu kehidupan akhirat. Kalau
semua manusia sadar bahwa ada kehidupan akhirat yang abadi, mereka tentu tidak
mau menyia-nyiakan waktu selama hidup di dunia ini. Mereka pasti berusaha mau memanfaatkan
hidupnya sebaik mungkin. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, kebanyakan
manusia tidak menyadarinya sehingga mereka melakukan lebih banyak keburukan
daripada kebaikan. Untuk itu, tidaklah aneh jika sebagian besar manusia gagal
dalam menjalankan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat.
Kedua, ada kesempatan manusia untuk
memanfaatkan hidupnya selama di dunia
dengan melakukan sesuatu yang merupakan kenikmatan duniawi. Tapi, perlu
diingat, kenikmatan duniawi tentu saja yang tidak berbaur dengan kemaksiatan.
Ada manusia yang selama hidupnya menikmati kenikmatan duniawi dengan melakukan
hal-hal yang terlarang, misalnya berzina, berjudi, dan mabuk-mabukan. Jelas,
yang seperti itu merupakan perbuatan terlarang. Kenikmatan yang diperoleh
dengan melakukan itu semua hanya kenikmatan sementara. Kenikmatan semacam itu
adalah kenikmatan yang bergelimang dengan lumpur-lumpur dosa. Karena itu,
selagi Allah masih memberi kesempatan pada kita untuk bisa hidup di dunia ini,
kita perlu menyibukkan diri dengan sesuatu yang bermanfaat sebagaimana bunyi
hadits berikut ini.
“Diriwayatkan
dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: `sebagian dari
kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak berguna`”
(HR
Tirmidzi)
Ketiga,
berbuat baik pada orang lain dengan memberikan bantuan entah itu dalam bentuk
tenaga, pikiran, materi, atau do`a. Selama kita memiliki kemampuan fisik yang
memadai, apa salahnya kita bantu orang lain yang memang diminta atau tidak
memerlukan tenaga kita? Orang-orang di sekitar kita yang menjadi korban entah
itu yang namanya gempa, misalnya, bisa kita bantu dengan tenaga kita selama kita
ada waktu walaupun sehari saja atau beberapa jam saja. Kalau tenaga memang
tidak bisa, karena waktunya memang tidak ada, kita bisa bantu lewat bantuan
pemikiran. Negara ini kondisinya seperti kita ketahui demikian acakadul. Kita
bisa bantu dalam bentuk sumbangan pemikiran. Kita menulis di media sosial atau
media cetak berupa artikel atau apapun yang memuat pemikiran-pemikiran kita. Di
sini dengan cara seperti itu kita sudah memberikan bantuan pemikiran. Lebih
baik lagi kalau kita berperan sebagai narasumber dalam sebuah seminar, diskusi
panel, atau workshop yang membahas
masalah-masalah sosial di sekitar kita. Tenaga kita sudah tidak memungkinkan
karena ada faktor kesehatan. Pemikiran juga kita tidak bisa karena memang ada
keterbatasan untuk menulis atau berbicara. Tapi, kita masih punya harta. Nah,
dengan harta yang kita miliki sebagian apa salahnya kalau kita sumbangkan. Terakhir,
ini juga urgen, kita bisa memberikan bantuan dalam bentuk do`a. Singkatnya,
selama kita masih diberi umur oleh Allah SWT manfaatkan baik tenaga, pemikiran,
harta, maupun do`a untuk membantu orang lain. Sebagai tambahan, perlu juga
direnungkan bunyi hadits berikut ini.
“Dari Abu
Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda `Jika salah seorang di antara
kalian baik (sempurna) Islamnya, setiap kebaikan yang dikerjakannya akan
dicatat/dilipatgandakan dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap
keburukan yang dilakukannya akan dicatat seperti apa yang ia lakukan (tidak
ditambahi)`”
(HR Bukhari)
Keempat,
usahakan kita tidak menjadi orang yang melakukan kerusakan di muka bumi ini
atau berbuat dzolim pada sesama kita. Sebagai orang yang beriman tidak
selayaknya kita berperilaku seperti orang munafik yang terdapat dalam Surat
Al-Baqarah:11—12. Orang-orang munafik di ayat itu jika ada larangan berbuat
kerusakan di muka bumi, justru menjawab sebaliknya bahwa mereka mengadakan
perbaikan padahal yang dilakukan adalah sebaliknya, yaitu mereka berlaku
dzolim. Jadi, di hadapan kita mereka mengatakan melakukan kebaikan tetapi di
belakang kita mereka melakukan berbagai kerusakan (kedzoliman). Perilaku
seperti ini di zaman kiwari persis sama dengan perilaku musuh-musuh orang
beriman. Gambar di atas merupakan contoh orang-orang yang berlaku dzolim.
Mereka berbisnis yang menguntungkan diri sendiri tapi di sekitarnya banyak
orang susah. Inilah gambaran negara kita yang sebenarnya.
Orang
seperti Qarun walaupun sudah diingatkan, karena sudah dikuasai iblis, tetap
saja bergeming. Qarun malah berkilah bahwa semua harta yang diperolehnya lebih
karena ilmu yang ada padanya. Ini bentuk kesombongan manusia yang telah
dikuasai iblis. Perilaku Qarun di samping sombong, juga serakah, riya`, dan
kikir. Perilaku Qarun sama persis dengan perilaku orang-orang kapitalis. Atau bukankah
malah sebaliknya, orang-orang kapitalis justru banyak belajar dari Qarun? Coba saja perhatikan perilaku Qarun,
sebagai orang yang termasuk serakah dia
beranggapan boleh-boleh (mungkin juga sah-sah) saja kalau manusia itu serakah
asalkan tidak bertentangan dengan kepentingan umum. Bukankah ajaran mbahnya
kapitalis, Adam Smith, memang demikian?
Perilaku
buruk Qarun semakin menjadi-jadi, dia memprovokasi Nabi Musa AS agar tidak mau
mengikuti ajarannya. Banyak juga pengikut Nabi Musa yang terkena provokasinya. Melihat
semakin banyaknya orang yang ingkar pada Allah akibat provokasi Qarun, Nabi
Musa AS tidak bisa berdiam diri. Beliau berdo`a pada Allah SWT agar diberi
hukuman yang setimpal atas perilaku Qarun yang telah berlebihan. Akhirnya,
Allah SWT memberikan hukuman yang tidak tanggung-tanggung, Qarun beserta harta
miliknya ditelan bumi (Surat Al-Qashash:81). Naudzubillahi min dzalik !



Tidak ada komentar:
Posting Komentar