Kamis, 18 Agustus 2016

Artikel Agama (24)

Sesudah Kesulitan—Ada Kemudahan


Subagio S. Waluyo

Menjalani hidup seperti mengendarai kendaraan di jalan raya. Terkadang kita ada di jalan yang enak dikendarai seperti jalan tol. Terkadang kita juga ada di jalan yang justru sebaliknya, jalan yang terjal, penuh lubang, berlumpur sehingga harus ekstra hati-hati mengendarainya. Kalau tidak, sudah  bisa ditebak, kita bisa celaka. Bahkan, tidak mustahil kita bisa juga menghadapi kematian. Jadi, kita di dunia ini dalam hidup memang terkadang menghadapi banyak kemudahan, terkadang sebaliknya menghadapi banyak kesulitan. Kalau menghadapi kemudahan, kita merasa senang dan bahagia. Tapi, kalau menghadapi  kesulitan, kita merasa sedih, penuh harap, dan tentu saja penuh ketakutan. Kita benar-benar merasa menderita.

Perilaku manusia ketika menghadapi dua sisi kehidupan itu bisa berbeda. Kalau merasa senang, banyak manusia yang lupa bersyukur sehingga dia tidak mustahil terjerumus dalam kemaksiatan. Tapi, ketika susah dia tidak pernah berupaya untuk mengoreksi diri. Justru, dia mencari-cari faktor penyebab kesusahannya dengan menyalahi orang lain. Ini bisa terjadi karena di kala senang dia tidak pernah bersyukur. Masih lebih baik kalau ada orang ketika susah (menderita), dia banyak dekat pada Allah dengan memperbanyak amalan entah yang namanya sholat sunnah, dzikir, atau tilawah Qur`an meskipun ketika senang lupa pada  yang memberikan kesenangan.

Seorang hamba Allah manakala mendapat kesenangan sehingga merasa hidup benar-benar nikmat dan bahagia memperbanyak bersyukur, ketika mendapat kesulitan dia juga yakin bahwa setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Bukankah Allah SWT memang telah mengingatkan kita:
“ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka, apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.” (Alam Nasyroh,4-8)

Dua kali Allah SWT mengingatkan kita bahwa sesudah kesulitan (pasti) ada kemudahan. Bagi orang yang beriman tidak perlu ada keraguan tentang firman Allah tersebut karena Allah SWT juga mengingatkan kita agar kalau sudah selesai mengerjakan suatu pekerjaan jangan merasa cukup tetapi diteruskan lagi pekerjaan berikutnya. Selain itu, juga Allah tekankan agar kita bersungguh-sungguh mengerjakannya. Kalau bersikap sebaliknya, kita merasa puas, tidak lagi meneruskan pekerjaan berikutnya, dan tidak ada kesungguhan mengerjakannya, jangan berharap mendapat kemudahan. Tetap saja kita akan terbelit pada berbagai kesulitan.


Tentang hasil pekerjaan yang kita kerjakan bisa jadi baik atau buruk itu semua kehendak Allah. Justru di sinilah seorang hamba Allah jika telah selesai mengerjakan pekerjaan harus bersyukur dalam bentuk beribadah kepada Allah SWT. Perlu diingat, apapun profesi kita sebagai hamba Allah yang bersyukur kita harus yakin bahwa apa saja yang kita kerjakan pasti akan ada hasilnya. Kalau memang ditakdirkan hasil kerjanya dinilai belum baik  atau gagal, kita harus mau memperbaikinya. Kita juga harus punya kemauan (tentu saja disertai kemampuan) untuk melakukan perubahan. Bukankah Allah juga telah mengingatkan bahwa suatu kaum tidak mungkin bisa berubah (nasibnya, mindset-nya, dan sebagainya) kalau memang dari kaum itu sendiri tidak mau berubah (Ar-Ra`ad:11).  Dengan demikian, dapat disimpulkan kunci sukses seorang hamba Allah dari lima ayat di atas adalah yakin bahwa setiap kesulitan ada kemudahan, tidak boleh merasa puas dalam melakukan pekerjaan, ada kesungguhan melakukan pekerjaan, dan tetap bersyukur dengan beribadah kepada-Nya. Dengan cara demikian, Insya Allah, kita selaku hamba Allah akan bisa mewujudkan kehidupan masa depan yang lebih baik. Bukankah kita berkeinginan bahwa hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini? Wallahu a`lam bissawab.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...