Sesudah Kesulitan—Ada
Kemudahan
Subagio S.
Waluyo
Menjalani
hidup seperti mengendarai kendaraan di jalan raya. Terkadang kita ada di jalan
yang enak dikendarai seperti jalan tol. Terkadang kita juga ada di jalan yang justru
sebaliknya, jalan yang terjal, penuh lubang, berlumpur sehingga harus ekstra hati-hati mengendarainya. Kalau tidak, sudah
bisa ditebak, kita bisa celaka. Bahkan, tidak mustahil kita bisa juga
menghadapi kematian. Jadi, kita di dunia ini dalam hidup memang
terkadang menghadapi banyak kemudahan, terkadang sebaliknya menghadapi banyak
kesulitan. Kalau menghadapi kemudahan, kita merasa senang dan bahagia. Tapi,
kalau menghadapi kesulitan, kita merasa
sedih, penuh harap, dan tentu saja penuh ketakutan. Kita benar-benar merasa
menderita.
Perilaku manusia ketika menghadapi dua sisi kehidupan itu bisa berbeda. Kalau merasa senang, banyak manusia yang lupa bersyukur sehingga dia tidak mustahil terjerumus dalam kemaksiatan. Tapi, ketika susah dia tidak pernah berupaya untuk mengoreksi diri. Justru, dia mencari-cari faktor penyebab kesusahannya dengan menyalahi orang lain. Ini bisa terjadi karena di kala senang dia tidak pernah bersyukur. Masih lebih baik kalau ada orang ketika susah (menderita), dia banyak dekat pada Allah dengan memperbanyak amalan entah yang namanya sholat sunnah, dzikir, atau tilawah Qur`an meskipun ketika senang lupa pada yang memberikan kesenangan.
Seorang hamba Allah manakala mendapat
kesenangan sehingga merasa hidup benar-benar nikmat dan bahagia memperbanyak
bersyukur, ketika mendapat kesulitan dia juga yakin bahwa setiap ada kesulitan
pasti ada kemudahan. Bukankah Allah SWT memang telah mengingatkan kita:
“ Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan. Maka, apabila kamu telah selesai (dari suatu
urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Hanya kepada
Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.” (Alam Nasyroh,4-8)
Dua kali Allah SWT mengingatkan kita
bahwa sesudah kesulitan (pasti) ada kemudahan. Bagi orang yang beriman tidak
perlu ada keraguan tentang firman Allah tersebut karena Allah SWT juga
mengingatkan kita agar kalau sudah selesai mengerjakan suatu pekerjaan jangan
merasa cukup tetapi diteruskan lagi pekerjaan berikutnya. Selain itu, juga
Allah tekankan agar kita bersungguh-sungguh mengerjakannya. Kalau bersikap
sebaliknya, kita merasa puas, tidak lagi meneruskan pekerjaan berikutnya, dan
tidak ada kesungguhan mengerjakannya, jangan berharap mendapat kemudahan. Tetap
saja kita akan terbelit pada berbagai kesulitan.
Tentang hasil pekerjaan yang kita
kerjakan bisa jadi baik atau buruk itu semua kehendak Allah. Justru di sinilah
seorang hamba Allah jika telah selesai mengerjakan pekerjaan harus bersyukur
dalam bentuk beribadah kepada Allah SWT. Perlu diingat, apapun profesi kita sebagai
hamba Allah yang bersyukur kita harus yakin bahwa apa saja yang kita kerjakan
pasti akan ada hasilnya. Kalau memang ditakdirkan hasil kerjanya dinilai belum
baik atau gagal, kita harus mau
memperbaikinya. Kita juga harus punya kemauan (tentu saja disertai kemampuan)
untuk melakukan perubahan. Bukankah Allah juga telah mengingatkan bahwa suatu
kaum tidak mungkin bisa berubah (nasibnya, mindset-nya,
dan sebagainya) kalau memang dari kaum itu sendiri tidak mau berubah
(Ar-Ra`ad:11). Dengan demikian, dapat
disimpulkan kunci sukses seorang hamba Allah dari lima ayat di atas adalah
yakin bahwa setiap kesulitan ada kemudahan, tidak boleh merasa puas dalam
melakukan pekerjaan, ada kesungguhan melakukan pekerjaan, dan tetap bersyukur dengan
beribadah kepada-Nya. Dengan cara demikian, Insya Allah, kita selaku hamba
Allah akan bisa mewujudkan kehidupan masa depan yang lebih baik. Bukankah kita
berkeinginan bahwa hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin dan hari
esok harus lebih baik daripada hari ini? Wallahu
a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar