Kamis, 31 Oktober 2013

All You Need Is Love (03)

Makhluk SosBud 

Judul tulisan ini semula berbunyi "Manusia sebagai Makhluk Sosial dan Budaya". Karena yang tergolong makhluk sosial dan budaya adalah manusia (makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan:binatang, tumbuhan, dan ,apalagi, setan tidak mungkin masuk ke dalam ke dua golongan tersebut), kata `manusia` pada judul itu dihilangkan saja. Supaya lebih ringkas, tidak bertele-tele, disingkat saja menjadi "Makhluk Sosial dan Budaya", yang kemudian disingkat lagi biar lebih benar-benar singkat menjadi "Makhluk SosBud". Tapi, jangan karena muncul makhluk sosbud ada orang yang iseng masukkan saja makhluk paspal (sekarang IPA salah satu jurusan di SMA). Makhluk paspal atau makhluk IPA itu tidak ada. Jadi, kita tidak perlu lagi beranalogi-analogian (nanti jadi tambah panjang urusannya). Meskipun disebut SosBud dalam tulisan ini tetap kita bagi dua bagian, yaitu bagian pertama dibahas terlebih dahulu makhluk sosial. Setelah itu, baru kita bahas makhluk budaya. 

Selasa, 29 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (18)

UNSUR KEINDAHAN DALAM CERPEN

Salah satu bentuk karya sastra yang diminati pembaca karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya dan (mungkin saja) mudah dicerna adalah cerita pendek (cerpen). Sebagai salah satu karya sastra cerpen meskipun mudah dicerna, dimungkinkan adanya unsur-unsur keindahan. Salah satu contoh cerpen yang juga memuat nilai-nilai keindahan adalah potongan cerpen (yang sebenarnya cukup panjang untuk sebuah cerpen) yang ditulis oleh Kurnia JR di bawah ini.

Kamis, 24 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (17)

KARYA SASTRA ANTARA PEMENUHAN
ESTETIKA, IMAJINASI, DAN PESAN MORAL



1.  Karya Sastra dan Bukan Karya sastra

Adakah yang membedakan sebuah karya sastra dengan bukan karya sastra (orang menyebutnya sebagai karya populer, picisan, murahan, atau kitsch)? Sekilas tampaknya susah membedakannya, bukan?  Apakah kita wajib percaya pada seorang sastrawan bahwa sebuah karya fiksi , misalnya, yang sedang kita baca adalah sebuah karya sastra karena karya fiksi tersebut ditulis seorang sastrawan terkenal?  Apakah seorang sastrawan sudah dipastikan akan kerap kali menghasilkan sebuah karya sastra?  Atau bukan malah sebaliknya, mungkinkah suatu saat seorang sastrawan menghasilkan karya fiksi murahan, picisan, populer,  atau kitsch? Apakah benar stigma yang melekat pada seorang penulis murahan bahwa ia tidak akan pernah menghasilkan sebuah karya sastra?  Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul di benak kita karena kita sendiri pun belum memahami dan membedakan antara karya sastra dan bukan karya sastra.

Rabu, 23 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (16)

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE 
DALAM PENGAKUAN PARIYEM 


1. Pendahuluan

Banyak cara yang dapat ditempuh untuk meninjau sebuah karya sastra.  Ada yang meninjaunya dari segi pendidikan, agama, sosiologi, moral, psikologi, sastra, dan ada pula yang meninjaunya dari segi bahasa (linguistik) dengan segala aspeknya.  Sepanjang pengetahuan penulis, sampai dengan tahun `90-an masih jarang orang yang meninjau sebuah karya sastra dari segi sosiolinguistik.  
Pada kesempatan kali ini, penulis mencoba meninjau sebuah karya sastra dari segi sosiolinguistik.  Karya sastra yang dijadikan objek tinjauan penulis berupa prosa liris yang ditulis oleh Linus Suryadi Agustinus yang berjudul Pengakuan Pariyem (PP).  Prosa liris ini sebenarnya pernah ditinjau dari segi sosiolinguistik oleh Stephanus Djawanai pada acara Sarasehan Sanggar Bambu, tanggal 5 Maret 1982, di Yogyakarta.  Stephanus Djawanai pada sarasehan tersebut mencoba membahasnya dari tiga aspek, yaitu kosa kata, ragam sapaan, dan ciri formal tata bahasa.  Sedangkan penulis meskipun menijaunya dari segi yang sama,  penulis hanya membicarakannya dari aspek variasi bahasa, yaitu alih kode (AK) dan campur kode (CK).

Kebahasaan dan Kesastraan (15)

HUMANIORA, IPTEK, DAN SASTRA

1. Sedikit tentang Humaniora

           Setiap kita pasti tahu istilah humaniora karena istilah tersebut  cukup akrab di telinga kita. Mendengar istilah humaniora terbayanglah di benak kita, istilah tersebut sangat dekat hubungannya dengan kata humanus.  Memang benar istilah humaniora dekat dengan kata humanus karena istilah tersebut mempunyai akar kata yang sama, yaitu homo yang artinya `manusia`.  Dari kata homo kita kemudian memperoleh daftar panjang, di antaranya kata humanus  `bersifat manusiawi`, `sesuai dengan kodrat manusia`,  humanisme `paham yang berlandaskan pada kemanusiaan` (Mangunhardjana, 1997:93), humanistarisme `gerakan sosial yang berlandaskan pada paham humanisme` (Mangunhardjana, 1997:96), dan humaniora `seperangkat sikap dan perilaku moral manusia terhadap sesamanya` (Liek Wilardjo,  1990: 259). Boleh juga humaniora didefinisikan sebagai ilmu-Ilmu pengetahuan (seperti teologi, filsafat, ilmu hukum, ilmu sejarah, filologi, ilmu bahasa, ilmu kesusastraan, dan ilmu kesenian) yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih berbudaya (Zainal Arifin, 1987: 60).         

Kebahasaan dan Kesastraan (14)

MEMPERKOSA DAN PERKOSAAN
VERSUS
MEMERKOSA DAN PEMERKOSAAN

Kita sering menjumpai kata memperkosa dan perkosaan. Tetapi, kita mungkin jarang menjumpai kata memerkosa dan pemerkosaan. Contoh kalimat di bawah ini turut menerangjelaskan distribusi pemakaian kedua kata yang sebutkan pertama tadi.
1. Namun, membuatnya singkat tidak berarti bahwa kita harus memperkosa aturan kaidah bahasa secara sewenang-wenang. (J.S. Badudu, Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, 1983:6)  
2.      Pada minggu malam itu terjadi perkosaan atas diri JU (18 th.) oleh beberapa pemuda.

Artikel Agama (7)

REGULASI DIRI (2)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.”
(Surat Al-Hasyr, 59 : 18-19)
Ayat Qur`an di atas mengajak kita untuk melakukan pengamatan diri dengan cara melihat diri sendiri beserta perilakunya. Dengan kata lain, kita melakukan introspeksi diri. Berkaitan dengan instrospeksi diri, sesuai dengan gambar yang disertakan dalam tulisan ini kalau kita sebagai hamba Allah terkena azab tidak ada jalan lain selain bertaubat dan beristigfar. Sementara, kalau mendapat ujian (karena orang beriman tidak luput dari ujian yang Allah berikan), dia harus bersabar dan bersyukur. Bagaimana cara mengimplementasikannya? Berikut ini berdasarkan gambar tersebut dikemukan langkah-langkahnya.

**** 

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...