Rabu, 23 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (14)

MEMPERKOSA DAN PERKOSAAN
VERSUS
MEMERKOSA DAN PEMERKOSAAN

Kita sering menjumpai kata memperkosa dan perkosaan. Tetapi, kita mungkin jarang menjumpai kata memerkosa dan pemerkosaan. Contoh kalimat di bawah ini turut menerangjelaskan distribusi pemakaian kedua kata yang sebutkan pertama tadi.
1. Namun, membuatnya singkat tidak berarti bahwa kita harus memperkosa aturan kaidah bahasa secara sewenang-wenang. (J.S. Badudu, Inilah Bahasa Indonesia yang Benar, 1983:6)  
2.      Pada minggu malam itu terjadi perkosaan atas diri JU (18 th.) oleh beberapa pemuda.

Baik kata memperkosa maupun perkosaan kadang-kadang digunakan pada kalimat yang informasinya sama sehingga kita dibuat bingung mana yang sebenarnya harus kita pakai? Untuk itu, apa kata dasar kata-kata itu?


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 1999:757, perkosa, memerkosa (verba = kata kerja) 1. menundukkan dengan kekerasan; memaksa dengan kekerasan; menggagahi; merogol 2. melanggar (menyerang dan  sebagainya) dengan kekerasan. Jadi, di KBBI sudah diketahui kata dasarnya perkosa yang kemudian jika diberi imbuhan me- menjadi memerkosa. Tetapi, KBBI masih memberikan kelonggaran dengan membolehkan kata memperkosa selain memerkosa. Berarti dalam hal ini penyusun KBBI tidak konsisten untuk menggunakan hanya satu kata, yaitu memerkosa dan bukan memperkosa. Satu hal yang perlu dicatat, dalam KBBI sudah tidak ada lagi kata perkosaan, yang ada pemerkosaan, artinya yaitu (nomina = kata benda) 1. proses, perbuatan, cara memperkosa (?); 2. (kl = klasik) pelanggaran dengan kekerasan.

Jika dibandingkan dengan Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) yang disusun oleh W.J.S Poerwadarminta (1976:552), tidak ditemukan kata memerkosa dan pemerkosaan. Tentang kata dasar kedua kata tersebut (memerkosa, memperkosa, pemerkosaan, dan perkosaan) sama, yaitu perkosa yang berarti: 1. gagah; kuat; 2.paksa;kekerasan;dengan perkosa; dengan paksa; dengan kekerasan—perkosa. Arti pertama menunjukkan kata sifat. Ini jarang digunakan. Dalam konteks kalimat untuk menunjukkan kalimat `orang itu gagah/kuat` tidak akan ditemui `orang itu perkosa`. Sedangkan arti kedua menunjukkan kata kerja. Untuk pengertian kedua ini sering digunakan, bahkan ada kecenderungan menggantikan, kata digagahi atau dirusak. Namun, orang akan menafsirkan kata perkosa dengan sesuatu yang berbau mesum meskipun kontek kalimatnya tidak demikian.

Baik melalui KUBI maupun KBBI kita tahu bahwa kata-kata itu berasal dari kata perkosa. Secara morfologis prefiks me- jika dilekatkan pada kata dasar yang diawali dengan konsonan p, akan menimbulkan bunyi sengau (m). Sedangkan konsonan p pada awal kata dasar itu hilang/luluh sehingga kata pukul, potong, pecah, dan pikul akan menjadi memukul, memotong, memecah, dan memikul. Begitu juga kata perkosa akan menjadi memerkosa dan bukan memperkosa. Dalam KUBI belum ada kata memerkosa. Tetapi, dalam KBBI sudah ada meskipun masih dberi kelonggaran untuk dibolehkan pengguna bahasa menggunakan kata memperkosa.     

Mengenai pembubuhan prefiks meN-mem-, Ramlan memberikan pengecualian. Fonem p tidak akan hilang/luluh pada kata dasar yang berperfiks per- (Ramlan dalam Morfologi, 1980: 63). Apakah kata perkosa berasal dari bahasa asing atau bentuk dasar berprefiks per- sehingga sering kita temui kata memperkosa ataukah ada analogi lain, seperti memperdulikan, mempertamakan (?). Kita cenderung menggunakan kata memerkosa untuk pengertian `1. menundukkan dengan kekerasan; memaksa dengan kekerasan; menggagahi; merogol 2. melanggar (menyerang dan  sebagainya) dengan kekerasan karena kata memperkosa akan menimbulkan pengertian, misalnya pada kalimat `Dengan cara ini kita bisa memperkosa kata ....` yang berarti `membuat jadi...`.

Kata perkosaan dibentuk dari dua morfem, yaitu morfem dasar perkosa dan morfem terikat –an. Secara morfologis sufiks –an berfungsi sebagai pembentuk kata benda. Dalam hal ini ada dua segi yang harus diketahui, yaitu (1) menyatakan benda yang berhubungan dengan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar, misalnya, tulisan=hasil menulis; timbangan=alat menimbang/hasil menimbang, (2) menyatakan tiap-tiap, misalnya majalah bulanan=majalah yang terbit setiap bulan (Ramlan, Morfologi,1980P98). Jadi, kata perkosaan berdasarkan uraian di atas menunjukkan hasil memerkosa.


Pada judul di atas sengaja kita cantumkan kata perkosaan vs pemerkosaan. Kedua kata itu sering dirancukan pemakaiannya. Kata perkosaan digunakan untuk menyatakan hasil perbuatan yang telah terjadi, misalnya `Akibat perkosaan itu gadis JU tidak sadarkan diri`. Sedangkan pemerkosaan dibentuk dari kata memerkosa. Karena proses pembentukan kata benda pe-an, terbentuklah kata pemerkosaan. Bandingkan dengan memukul – pemukulan; memahat—pemahatan; mengobati—pengobatan. Dapatkah perduli—memerdulikan—pemerdulian; pertama—memertamakan—pemertamaan? Untuk itu, sebaiknya kita menerima kata memerkosa dan pemerkosaan sebagai ganti memperkosa (direkomendasikan untuk penyusun KBBI agar bersikap tegas dengan hanya menerima kata memerkosa sehingga tidak muncul lagi di terbitan berikutnya kata memperkosa) dan perkosaan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...