MEMPERKOSA DAN PERKOSAAN
VERSUS
MEMERKOSA DAN PEMERKOSAAN
1. Namun,
membuatnya singkat tidak berarti bahwa kita harus memperkosa aturan kaidah bahasa secara sewenang-wenang. (J.S.
Badudu, Inilah Bahasa Indonesia yang
Benar, 1983:6)
2. Pada
minggu malam itu terjadi perkosaan atas diri JU (18 th.) oleh beberapa pemuda.
Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
1999:757, perkosa, memerkosa (verba = kata kerja) 1. menundukkan
dengan kekerasan; memaksa dengan kekerasan; menggagahi; merogol 2. melanggar (menyerang
dan sebagainya) dengan kekerasan. Jadi,
di KBBI sudah diketahui kata dasarnya
perkosa yang kemudian jika diberi
imbuhan me- menjadi memerkosa. Tetapi, KBBI masih memberikan kelonggaran dengan membolehkan kata memperkosa selain memerkosa. Berarti dalam hal ini penyusun KBBI tidak konsisten untuk menggunakan hanya satu kata, yaitu memerkosa dan bukan memperkosa. Satu hal yang perlu
dicatat, dalam KBBI sudah tidak ada lagi kata perkosaan, yang ada pemerkosaan,
artinya yaitu (nomina = kata benda) 1. proses, perbuatan, cara memperkosa (?);
2. (kl = klasik) pelanggaran dengan kekerasan.
Jika dibandingkan dengan Kamus Umum Bahasa Indonesia
(KUBI) yang disusun oleh W.J.S Poerwadarminta (1976:552), tidak ditemukan kata memerkosa dan pemerkosaan. Tentang kata dasar kedua kata tersebut (memerkosa, memperkosa, pemerkosaan,
dan perkosaan) sama, yaitu perkosa yang berarti: 1. gagah; kuat;
2.paksa;kekerasan;dengan perkosa; dengan paksa; dengan kekerasan—perkosa. Arti pertama menunjukkan kata
sifat. Ini jarang digunakan. Dalam konteks kalimat untuk menunjukkan kalimat
`orang itu gagah/kuat` tidak akan ditemui `orang itu perkosa`. Sedangkan arti
kedua menunjukkan kata kerja. Untuk pengertian kedua ini sering digunakan,
bahkan ada kecenderungan menggantikan, kata digagahi atau dirusak. Namun, orang
akan menafsirkan kata perkosa dengan
sesuatu yang berbau mesum meskipun kontek kalimatnya tidak demikian.
Baik melalui KUBI maupun KBBI kita tahu bahwa
kata-kata itu berasal dari kata perkosa.
Secara morfologis prefiks me- jika
dilekatkan pada kata dasar yang diawali dengan konsonan p, akan menimbulkan bunyi sengau (m). Sedangkan konsonan p
pada awal kata dasar itu hilang/luluh sehingga kata pukul, potong, pecah, dan pikul akan menjadi memukul,
memotong, memecah, dan memikul.
Begitu juga kata perkosa akan
menjadi memerkosa dan bukan memperkosa. Dalam KUBI belum ada kata memerkosa. Tetapi, dalam KBBI sudah ada
meskipun masih dberi kelonggaran untuk dibolehkan pengguna bahasa menggunakan
kata memperkosa.
Mengenai pembubuhan prefiks meN-mem-, Ramlan memberikan pengecualian. Fonem p tidak akan hilang/luluh pada kata dasar
yang berperfiks per- (Ramlan dalam
Morfologi, 1980: 63). Apakah kata perkosa
berasal dari bahasa asing atau
bentuk dasar berprefiks per- sehingga
sering kita temui kata memperkosa ataukah
ada analogi lain, seperti memperdulikan,
mempertamakan (?). Kita cenderung
menggunakan kata memerkosa untuk pengertian `1. menundukkan dengan kekerasan;
memaksa dengan kekerasan; menggagahi; merogol 2. melanggar (menyerang dan sebagainya) dengan kekerasan karena kata
memperkosa akan menimbulkan pengertian, misalnya pada kalimat `Dengan cara ini
kita bisa memperkosa kata ....` yang berarti `membuat jadi...`.
Kata perkosaan
dibentuk dari dua morfem, yaitu morfem dasar perkosa dan morfem terikat –an.
Secara morfologis sufiks –an berfungsi
sebagai pembentuk kata benda. Dalam hal ini ada dua segi yang harus diketahui,
yaitu (1) menyatakan benda yang berhubungan dengan tindakan yang tersebut pada
bentuk dasar, misalnya, tulisan=hasil
menulis; timbangan=alat
menimbang/hasil menimbang, (2) menyatakan tiap-tiap, misalnya majalah bulanan=majalah yang terbit setiap bulan
(Ramlan, Morfologi,1980P98). Jadi, kata perkosaan
berdasarkan uraian di atas menunjukkan hasil memerkosa.
Pada judul di atas sengaja kita cantumkan kata
perkosaan vs pemerkosaan. Kedua kata itu sering dirancukan pemakaiannya. Kata
perkosaan digunakan untuk menyatakan hasil perbuatan yang telah terjadi,
misalnya `Akibat perkosaan itu gadis JU tidak sadarkan diri`. Sedangkan
pemerkosaan dibentuk dari kata memerkosa. Karena proses pembentukan kata benda
pe-an, terbentuklah kata pemerkosaan. Bandingkan dengan memukul – pemukulan;
memahat—pemahatan; mengobati—pengobatan. Dapatkah perduli—memerdulikan—pemerdulian;
pertama—memertamakan—pemertamaan? Untuk itu, sebaiknya kita menerima kata memerkosa dan pemerkosaan sebagai ganti memperkosa
(direkomendasikan untuk penyusun KBBI agar bersikap tegas dengan hanya menerima
kata memerkosa sehingga tidak muncul
lagi di terbitan berikutnya kata memperkosa)
dan perkosaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar