REGULASI DIRI (2)
(Surat Al-Hasyr, 59 : 18-19)
Ayat Qur`an di atas mengajak kita untuk melakukan pengamatan diri dengan cara melihat diri sendiri beserta perilakunya. Dengan kata lain, kita melakukan introspeksi diri. Berkaitan dengan instrospeksi diri, sesuai dengan gambar yang disertakan dalam tulisan ini kalau kita sebagai hamba Allah terkena azab tidak ada jalan lain selain bertaubat dan beristigfar. Sementara, kalau mendapat ujian (karena orang beriman tidak luput dari ujian yang Allah berikan), dia harus bersabar dan bersyukur. Bagaimana cara mengimplementasikannya? Berikut ini berdasarkan gambar tersebut dikemukan langkah-langkahnya.
****
Langkah kedua, kita sebagai makhluk yang lemah pasti memiliki banyak masalah. Untuk bisa memecahkan berbagai masalah kita harus fokus. Sering kita temukan orang-orang yang tidak fokus untuk memecahkan masalah sehingga masalah yang dihadapi tidak pernah terselesaikan. Akibatnya, terjadi penumpukan masalah yang berkelanjutan dengan munculnya penyakit kejiwaan pada orang tersebut. Contoh konkrit yang bisa kita temukan di rumah tangga, misalnuya, ketika orang tua yang terlalu sayang pada anaknya memberikan sesuatu yang berlebihan yang tujuannya sekedar menyenangkan hati sang anak. Padahal sesuatu yang menyenangkan anak sifatnya sementara. Artinya, pada saat itu mungkin-mungkin saja sang anak senang dengan pemberian orang tuanya, tapi pada selang waktu berikutnya dia akan meminta untuk sesuatu yang menyenangkannya. Orang tua yang selalu memberikan kesenangan pada anak sesungguhnya tidak pernah akan membentuk jiwa sang anak yang bisa meregulasi dirinya. Orang tua seharusnya pelajari dulu apa yang menjadi masalah utama sang anak. Baru setelah itu mereka memulai fokus untuk memecahkan masalahnya,
Langkah ketiga, kalau seseorang sudah bisa terbebaskan dari masalah yang dihadapi karena fokus untuk menemukan solusinya, berikutnya sebagai tanda syukur kepada Allah, orang tersebut harus menunjukkan kepeduliannya. Salah satu bentuk menunjukkan kepedulian, yaitu dia harus fokus membantu sesamanya. Sebagai hamba Allah yang beriman harus bisa membuktikan keimanannya. Salah satu bukti bahwa dirinya memiliki adanya keimanan, yaitu dia harus membantu sesamanya yang memerlukan bantuannya. Kita sering membahasakannya dengan kata `sedekah`. Perlu diketahui, kata `sedekah` bukan hanya yang berhubungan dengan materi (uang, barang) tetapi juga berkaitan dengan jasa. Dalam hal ini orang yang menyampaikan kebaikan dan mendamaikan orang bertengkar juga dinamakan sedekah. Jadi, kata `sedekah` punya pengertian yang demikian luas. Banyak orang sukses di dunia ini untuk bisa mengejar prestasinya tidak luput dari sedekah. Dengan sedekah menimbulkan energi baru bagi seseorang karena ketika seseorang melakukannya dimulai dengan rasa cinta.
Langkah keempat, sebagai hamba Allah yang secara rutin melaksanakan ibadah upayakan untuk menjaga kualitas kekhusyuannya dalam beribadah. Agar tercipta sebuah kekhusyuan, seorang hamba Allah pada saat ibadah harus merasakan adanya kehadiran Allah. Di sini seorang hamba Allah harus yakin bahwa Allah SWT melihat dan mengawasi kita. Kalau seorang hamba Allah sudah merasa dilihat dan diawasi, Insya Allah dia akan semakin khusyu` ibadahnya. Dia memulai ibadah dengan niat yang ikhlas karena Allah semata. Tidak boleh lagi dalam ibadahnya hanya mengharapkan pahala. Justeru yang harus dia perhatikan tentang ridho tidaknya Allah atas ibadah yang dia lakukan. Dia akan berupaya untuk tidak main-main dalam beribadah. Orang yang sudah terbiasa khusyu` dalam ibadah, pasti dia juga akan serius dalam menghadapi problematika kehidupan,
Langkah Kelima, hamba Allah yang sholeh, hamba Allah yang tekun beribadah, yang setiap saat berdzikir, berdo`a, dan beristighfar tidak selayaknya menodai dirinya dengan banyak keluhan. Orang yang banyak mengeluh menandakan dirinya orang yang lemah. Orang yang cepat putus asa, frustrasi, dan tidak bisa memecahkan masalahnya sendiri. Orang semacam ini untuk memecahkan masalahnya sendiri saja belum tentu bisa bagaimana untuk membantu orang lain? Orang seperti ini perlu dipertanyaan regulasi dirinya. Untuk itu, jauhkan diri kita dari keluhan yang akan menodai kebaikan-kebaikan kita. Kebaikan-kebaikan yang kita kerjakan akan tidak mempunyai nilai manakala suatu saat kita mengeluh yang akhirnya lama kelamaan menjadi terbiasa mengeluh.
Langkah terakhir, tentu saja semua yang telah kita lakukan hanya Allah yang akan menentukan hasilnya. Untuk itu, kita harus tawakal kepada Allah. Namun, perlu diingat tawakal tidak sama dengan memasrahkan dirinya seperti orang-orang bersikap menerima apa adanya tanpa berbuat apapun. Kita kerjakan semampu kita. Tentang hasilnyam serahkan pada Allah SWT karena memang Dia yang Maha Menentukan. Kita tidak punya daya upaya kecuali Allah. Tidak boleh ada keraguan di diri kita tentang kemampuan Allah dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Kita juga harus yakin bahwa hasil yang kita peroleh (meskipun menurut kita dinilai kurang) itulah yang terbaik dari Allah SWT.
Alangkah indahnya hidup ini seandainya semua umat manusia bisa menerapkan langkah-langkah di atas, Namun, kita harus menyadari bahwa Allah SWT tidak menciptakan makhluknya seragam. Artinya, manusia diciptakan beragam sehingga beragam pula pemikirannya. Di sinilah letak kekayaan Allah SWT yang tidak dimiliki oleh makhluk-Nya yang paling baik ciptaan-Nya (manusia) sehingga Allah SWT memberikan jalan bagi manusia, apakah dia mengikuti jalan yang buruk (kejahatan) atau baik (ketaqwaan) sebagaimana telah digariskan Allah SWT dalam firman-Nya yang termaktub dalam QS As-Syams: 8. Wallahu a`alam bissawab,
.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar