ALIH KODE DAN CAMPUR KODE
DALAM PENGAKUAN PARIYEM
1. Pendahuluan
Banyak cara yang dapat ditempuh untuk meninjau sebuah karya sastra. Ada yang meninjaunya dari segi pendidikan, agama, sosiologi, moral, psikologi, sastra, dan ada pula yang meninjaunya dari segi bahasa (linguistik) dengan segala aspeknya. Sepanjang pengetahuan penulis, sampai dengan tahun `90-an masih jarang orang yang meninjau sebuah karya sastra dari segi sosiolinguistik.
Pada kesempatan kali ini, penulis mencoba meninjau sebuah karya sastra dari segi sosiolinguistik. Karya sastra yang dijadikan objek tinjauan penulis berupa prosa liris yang ditulis oleh Linus Suryadi Agustinus yang berjudul Pengakuan Pariyem (PP). Prosa liris ini sebenarnya pernah ditinjau dari segi sosiolinguistik oleh Stephanus Djawanai pada acara Sarasehan Sanggar Bambu, tanggal 5 Maret 1982, di Yogyakarta. Stephanus Djawanai pada sarasehan tersebut mencoba membahasnya dari tiga aspek, yaitu kosa kata, ragam sapaan, dan ciri formal tata bahasa. Sedangkan penulis meskipun menijaunya dari segi yang sama, penulis hanya membicarakannya dari aspek variasi bahasa, yaitu alih kode (AK) dan campur kode (CK).
Sosiolingustik sebagai cabang ilmu antardisipliner ialah studi atau pembahasan bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Untuk itu, sosiolinguistik mempelajari dan membahas aspek-aspek kemasyarakatan bahasa, khususnya perbedaan-perbedaan (variasi-variasi) yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor kemasyarakatan. Karya sastra lahir dari pemakai bahasa yang berkaitan erat dengan faktor-faktor kemasyarakatan. Penulis tertarik pada prosa liris PP terutama dari segi bahasanya.
Bahasa prosa liris PP ini yang menonjol adalah bahasa percakapan. Dalam percakapan tersebut terjadi adanya peristiwa peralihan bahasa, yaitu peralihan dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa atau sebaliknya. Di samping itu juga terjadi percampuran bahasa, yaitu percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa dan sedikit bahasa asing. Peralihan bahasa selanjutnya dikenal dengan AK dan percampuran bahasa dikenal dengan CK. Berdasarkan adanya peristiwa AK dan CK penulis mencoba untuk membahasnya.
2. Pengertian AK dan CK
Akhir-akhir ini banyak sastrawan yang memasukkan kata-kata, frase-frase, kalimat-kalimat, dan ungkapan-ungkapan, bahasa daerah ke dalam karya-karya sastranya. Banyak kata, frase, kalimat, dan ungkapan yang tidak kita pahami maknanya. Hal itu karena kita tidak mengetahui bahasan;ya. Bahasa Indonesia bagi mereka (para sastrawan) merupakan bahasa kedua meskipun mereka dikenal sebagai sastrawan Indonesia. Akibat penguasaan lebih dari satu bahasa terjadilah yang dikenal dengan language dependency `ketergantungan bahasa`. Karena adanya ketergantungan bahasa, sering terjadi penyimpangan (interferensi) bahasa. Interferensi bahasa lebih disebabkan oleh adanya language contact `kontak bahasa` yang dimiliki oleh dwibahasawan. Interferensi bahasa dapat terjadi dalam semua komponen kebahasaan. Artinya, peristiwa interferensi dapat terjadi dalam bidang-bidang fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikal. Di samping itu, interferensi bisa terjadi di luar tataran linguistik yang kita mengenalnya sebagai AK dan CK. Sebelum penulis jelaskan pengertian AK dan CK, ada baiknya jika penulis menjelaskan dulu pengertian kode.
Dimaksudkan dengan kode menurut Soepomo Poedjosoedarmo ialah sebagai berikut:
… suatu sistem tutur yang penerapan unsur bahasanya mempunyai ciri-ciri khas sesuai dengan latar belakang penutur, relasi penutur dengan lawan bicara dan situasi tutur yang ada. Jadi dalam kode itu terdapatlah unsur-unsur bahasa seperti kalimat-kalimat, kata-kata, morfem dan fonem.
(Soepomo, 1978:4)
Sedangkan Harimurti Kridalaksana menyebutkan dengan:
1. lambang atau sistem ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan makna tertentu. Bahasa manusia adalah sejenis kode;
2. sistem bahasa dalam suatu masyarakat; dan
3. variasi tertentu dalam suatu bahasa.
(Harimurti, 1982: 87)
Suwito mendefinisikan istilah kode dimaksudkan untuk menyebutkan salah satu varian di dalam hirarki kebahasaan (Suwito, 1983: 54). Setiap varian merupakan tingkat tertentu dalam hirarki kebahasaan yang kesemuanya tercakup dalam kode. Sedangkan kode merupakan bagian dari bahasa. Jika orang menyebutkan cabang linguistik yang mempelajari leksikon disebut leksikologi, maka kata-kata atau istilah-istilah linguistik, leksikon, dan leksikologi merupakan kode-kode tertentu yang digunakan di kalangan bahasawan.
Kita sering mendengar orang bercakap dengan mengganti-ganti kode bahasanya. Penggantian itu dapat disadari, dapat pula tidak. Akibatnya,mereka telah menyuguhkan arti kode yang bermacam-macam. Hal itu bisa terjadi di masyarakat kita, terutama pada masyarakat yang menguasai lebih dari satu bahasa (bilingual dan multillinguasl). Pada masyarakat tertentu peralihan kode, tampak jelas sekali (termasuk di sini masyarakat Jawa).
AK adalah peristiwa peralihan kode yang satu ke kode yang lain. Timbulnya AK karena faktor-faktor komponen bahasa yang bermacam-macam di antaranya:
suasana hati pembicara pertama yang tiba-tiba berganti;
ada pembicara lain yang tiba-tiba muncul;
suasana pembicaraan yang berganti;
adanya pengaruh dari pokok pembicaraan yang lain;
adanya suatu kenyataan bahwa pembicara pertama tidak begitu menguasai kode yang tengah dipakainya; dan
adanya pengaruh kalimat-kalimat atau kode yang baru saja terucapkan dan macamnya lain dengan kodenya semula.
(Soepomo, 1978 : 21-22)
AK ada yang bersifat sementara, ada pula yang bersifat permanen. AK bisa terjadi antarbahasa, antarvarian, antarregister, dan antargaya. Apabila AK terjadi antarbahasa-bahasa daerah dalam satu bahasa nasional, antardialek dalam satu bahasa daerah, dan antarragam atau antargaya dalam satu dialek. AK seperti itu disebut AK interen. AK yang terjadi antara bahasa asli dan bahasa asing disebut AK eksteren.
Di samping AK, kita mengenal CK. Antara keduanya harus dibedakan. Jika AK melibatkan peralihan kalimat, CK hanya ditandai oleh pemakaian kata-kata dari lain kode (Soepomo, 1978: 33). Soepomo menyebutkan CK dengan pinjam leksikon.
CK digunakan untuk menyebutkan aspek lain dari saling ketergantungan bahasa dalam masyarakat. CK timbul karena seseorang memiliki lebih dari satu bahasa. Latar belakang terjadinya CK berdasarkan atas latar belakang sikap dan kebahasaan yang saling bergantung. Karena adanya kesalingtergantungan, timbul CK. Untuk lebih memperjelas uraian di atas, coba kita lihat contoh-contoh berikut ini.
Contoh AK
Pelawak :
“Kamu itu diberi tahu kok malah `emoh-emoh rupane medeni`, itu gimana? `Wong ki nek rung pengalaman, ya, ta ngono kuwi`. Sudah sekarang gini, kalo dengan saya, gimana?”
Padanan AK-nya:
`emoh-emoh` tidak mau-tidak mau, `rupane` rupanya, `medeni` menakutkan, `wong` orang, `ki` itu, `nek` kalau, `rung` belum, `pengalaman` pengalaman, `ngono` begitu, dan `kuwi` itu.
Contoh CK
A : “ Wah, `piye`?! Semalam saya tunggu-tunggu kok tidak datang?
Katanya mau datang jam 08.00.”
B : “`Soale`, gini, saya sebenarnya mau datang `meriki`. Sepeda motor
saya rusak. Jadi `kowe` menghadiri rapat jam `pinten`?”
A : “Sampai jam 08.15 `sampeyan` tidak datang lantas `tak` tinggal. Lha,
ulemane jam 08.00, kok?!”
Padanan CK-nya:
`piye` bagaimana, `soale` soalnya, `meriki` kemari, `kowe` kamu, `pinten` berapa, `sampeyan` kamu, `tak` saya, dan `ulemane` acaranya.
Pada kedua contoh di atas tampak adanya AK dan CK dalam percakapan. Prosa liris PP yang cenderung menggunakan bahasa percakapan juga tidak luput dari pemakaian AK dan CK. Selanjutnya, dapat dilihat pembahasan berikut ini.
3 Pembahasan Prosa Liris PP
Fokus karya sastra adalah bahasa. Bahasa bagi sastrawan (penyair, novelis, dan cerpenis) merupakan materi. Untuk seorang sastrawan, bahasa adalah zat yang akan dibentuk dan diciptakan. Bahasa dalam puisi berbeda dengan bahasa dalam prosa. Begitu pula dalam penyusunan kata-katanya. Kata-kata yang disusun merupakan suatu kesatuan yang padu. Sedangkan bahasa dalam prosa liris hampir sama dengan prosa (novel, roman, cerpen) hanya dalam prosa liris ada unsur irama seperti halnya puisi. Bahkan, prosa liris ada unsur-unsur, seperti majas, rima, asonansi, konsonansi, dan citra. Dengan kata lain, prosa liris ialah karya sastra yang ditulis dalam ragam prosa, tetapi dicirikan oleh unsur-unsur puisi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988: 703). Agar terdapat gambaran di benak kita tentang puisi, prosa, dan prosa liris, berikut ini bisa dilihat contoh-contohnya.
Contoh Puisi:
DOA SEORANG MANUSIA
Tuhanku
Jadikan aku batu-batu tembok kota Jakarta
biar kusimpan semua rahasia penghuninya
dalam diamku yang setia
Karena diamku sebagai manusia
tak dapat kupercaya
(Senandung Hidup)
Contoh Prosa:
………………………………………………………………………………
Sarijah menyarankan pada anak-anaknya supaya datang menjenguk Bagindo Tahar dan menemui Rafilus. Ia percaya bahwa Rafilus akan bersikap adil terhadap saudara-saudaranya seayahnya. Ia yakin bahwa kedatangan Rafilus dari Jakarta pasti untuk mengurus harta Bagindo Tahar. Kalau tidak soal harta mengapa ia datang? Ia tidak pernah memikirkan bahwa kedatangan Rafilus sebagai pernyataan sayang dan hormat anak terhadap ayah.
(Warisan)
Contoh Prosa Liris:
…………………………………………
Kembali saya masuk ke kamar
Dan kembali hari saya pun nanar
Ketimbang diri resah-susah tidur
saya panggil datang menjelang
Sekelumit riwayat masa silam
pelahan muncul dalam kenangan
(Pengakuan Pariyem)
Dengan ketiga contoh di atas, tampak adanya perbedaan di antara ketiga jenis karya sastra tersebut. Selanjutnya, sesuai dengan yang telah penulis jelaskan dalam bagian pendahuluan bahwa penulis tertarik pada prosa lirik PP terutama dari segi bahasanya, yaitu pemakaian AK dan CK yang keduanya termasuk dalam lingkup sosiolinguistik. Karena itu, dalam pembahasan berikut ini penulis mencoba menganalisis prosa lirik PP berdasarkan adanya peristiwa AK dan CK. Penulis tidak membahasnya satu buku PP secara utuh, melainkan penulis mengambil beberapa bait saja sebagai sampelnya.
3.1 AK dalam Prosa Liris PP
Pada prosa liris PP tidak banyak terjadi AK. AK yang terjadi pada PP cenderung bersifat interen. Artainya, AK terjadi dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Sebagai bukti terjadi AK dapat kita lihat bait-bait prosa liris di bawah ini.
(1) ………………………………………………………………..
Tapi biarkan sajalah –
Saya eling pesan bapak, kok
Paugeraning urip iku Sang Murbeng Jagad
Biarkan saya dikata-katai murtad
biarkan saya dikata-katai kapir
(PP, 1981: 16)
(2) ……………………………………………………………….
Tapi bila sudah eling lagi
Saya ketawa cekikikan pula
“O, Pariyem, Pariyem
dadi wong kuwi mbokiya nyebut
ngilo githoke dhewe”
Begitulah saya ngomong
sendirian di depan pengilon
(PP, 1981: 19)
(3) ……………………………………
“O, Allah, Gusti nyuwun ngapura
O,Allah, apakah dosa?!”
Sedang mulut melahap nasi
saya pun sibuk bertanya-tanya
Tapi benarkah orang Jawa itu
punya konsep perkara dosa?
Benarkah dia menghayatinya?
Simbah saya berpesan:
Orang berisi itu orang yang
semakin runduk ke bumi
-itulah ngelmu padi
Sikap congkak dan sombong diri
tanda orang itu kurang pekerti
“Wani ngalah luhur wekasanipun”
-itulah wejangannya
(PP, 1981: 40)
(4) …………………………………….
Menjadi berat, ia semakin gawat
karena menteror batin insan
O, Allah Gusti nyuwun ngapura
mBokiyaa, mikir ya mikir
tapinya sak madya wae, gitu
mBokiyaa, ngrasa ya ngrasa
tapinya sak madya wae, gitu
Hidup berjalan, hidup berdesir
antara rasa dan pikir selaras
(PP, 1981: 43)
(5) …………………………………….
“Sampeyan dhewe wong Jawa
Tapi kok bertanya tentang dosa
Ah, ya., apa sampeyan sudah lupa
Wong Jawa wis ora nJawani – kata simbah –
karena lupa sama adat yang baik
tapi bukan adat yang diadatkan”
(PP, 1981: 45)
(6) …………………………………….
Satu dalam kegemparan diri
memberikan restu pada kami
Dan mantera pun dia bisikkan
di kuping saya sebelah kiri:
Ooh rasaku, ooh rasamu
dudu mungsuh dudu satru
Jagad wadonmu, jagad lanangku
ngrasuk rasa ngrasuk kalbu
“Berulang-ulang dia ucapkan
Berulang-ulang dia tikamkan
Ibarat keris ligan manjing warangka
demikianlah jagad pria dan wanodya
(PP, 1981: 67)
(7) ……………………………………………..
mereka pun pada berdatangan
Ngangsu kawruh pada pinisepuh
dalam dunia yang sudah lusuh
Agar jejeg imannya
dan landhep batinnya
(PP, 1981: 85)
(8) ……………………………………………..
Semoga kita tetap terjaga :
Wening lan eling sajroning batin
(PP,1981: 135)
(9) ……………………………………………..
“Lha, semalaman ngelamun lagi, ya
tidak ngaso dn tidak tidur, kan?
Mikir wong lanang, ngerasa wong edan“
(PP, 1981: 136)
(10) ……………………………………………
Lantaran nDoro Ayu pun angkat suara:
“Kacang mangsa ninggal lanjaran
Ario,Bapakmu dulu juga demikian
Suka ugal-ugalan, goda perempuan
Lihatlah selirnya di banyak papan”
(PP, 1981: 137)
(11) …………………………………………..
Dan nDoro Ayu tersenyum, berperibahasa:
“Betapapun, anak polah bapak kepradhah”
Tiada kata dalam perbendaharaan batin saya
saya hanya bisa menunduk, tak bisa apa-apa
Kata-kata luber dan lebur menjadi air mata
(PP, 1981: 152)
(12) …………………………………………………
Bukan nasi dang, bukan nasi liwet
beras Delanggu, atau beras Cianjur
Tapi sebagaimana makanan pokok kami
Ketela jrendel kering digodhog, gathot
ketela jrendel tumbuk diedang, thiwul
Itulah makanan pengganjal perut kami
(PP, 1981: 153)
(13) …………………………………………………..
Tapi semua itu sudah lebih dari cukup
dan lebih dari itu impian sayup-sayup
O,betapa tak pantas saya bayangkan
Ibarat kere munggah bale
- bukan tempatnya mapan
(PP, 1981: 156)
(14) …………………………………………………….
Pakaian dan rambutnya awut-awutan
penampilannya nglomprot waton dandan
Rasa kasihnya tercurah pada sithuyul
dan dia rela mengabaikan dirinya
(PP, 1981:157)
(15) ……………………………………………………
Dan Endang pun diajar jogetan
di atas amben di hari malam
nDoro Putri nembang dolanan:
(PP, 1981: 175)
Penulis berdasarkan bait-bait di atas menemukan ada lima belas butir yang menunjukkan adanya AK pada prosa liris PP tersebut. Di antara kelima belas butir itu ada yang digunakan berulang-ulang, yaitu butir nomor (3) di atas. Ada tiga belas kali ungkapan O, Allah Gusti nyuwun ngapura yang digunakan. Jika dibandingkan dengan banyaknya bait yang terdapat pada prosa liris tersebut, pemakaian AK tidak/belum dianggap banyak.
Mengapa Linus memanfaatkan pemakaian AK pada hasil karyanya kali ini? Penulis berusaha menganalisis bahwa sebab-sebab timbulnya AK ada empat sebab, yaitu (1) untuk menunjukkan situasional; (2) untuk membangkitkan rasa humor; (3) bermaksud merayu dan membujuk; dan (4) untuk menunjukkan kekesalan hati. Selanjutnya, keempat butir sebab tersebut dapat diuraikan lebih detail lagi.
(1) Untuk Menunjukkan Situasional
Sebagian penutur ada yang ber-AK untuk menunjukkan situasional. Orang melakukan AK seperti itu karena faktor situasi, lawan bicara, topik, dan faktor-faktor sosio-situasional yang lain, yang sebenarnya m engharuskan untuk ber-AK. AK semacam ini akan menimbulkan kesan dipaksakan sehingga timbul ketidakwajaran dan sering juga tidak komunikatif. Pada bait-bait nomor (1), (3), (5), (8), (10), (11), dan (13) di atas Linus agaknya ingin menunjukkan bahwa ia orang Jawa, yang paling tidak tahu tentang peribahasa bahasa Jawa. Hal itu jelas terlihat pada ungkapan-ungkapan “Peugeraning urip iku Sang Murbeng Jagad”, “Wani ngalah luhur wekasanipun”, “Wong Jawa wis ora nJawani”, “Wening lan eling sajroning batin”, “Kacang mangsa ninggal lanjaran”, “…anak polah bapa kepradhah”, dan “Kere munggah bale”. Peribahasa tersebut sudah jarang digunakan oleh orang-orang Jawa dalam berbicara. Mungkin orang-orang tertentu saja yang biasa menggunakannya. Dengan memasukkan unsur-unsur peribahasa seperti itu, kita bisa menilai siapa dia, apa pekerjaannya, apa pula jabatannya, dan bagaimana kedudukannya dalam masyarakat.
Pada bait nomor (5) di sana ada pernyataan yang berbunyi “Sampeyan dhewe wong Jawa” yang bisa dikaitkan dengan ungkapan yang berbunyi “Wong Jawa wis ora nJawani” yang apabila diamati secara cermat ada pesan yang ingin disampaikan oleh Linus, yaitu agar orang Jawa cinta kepada kebudayaannya serta melestarikannya. Pesan itu ditujukan khususnya kepada generasi muda yang menurut pengamatannya ada kecenderungan untuk meninggalkan budaya Jawa yang dianggap oleh Linus sebagai kebudayaan yang Adi luhung. Jadi, jangan sampai nanti terjadi ada orang Jawa yang lupa sama adat yang baik, tapi bukan adat yang diadatkan…. Demikian katanya dalam prosa liris tersebut.
(2) Untuk Membangkitkan Rasa Humor
Jika kita perhatikan bait-bait nomor (2), (4), (9), (12), dan (14) di atas, tampak jelas sekali kalau Linus sengaja melakukan AK dengan maksud untuk membangkitkan rasa humor. Sebagai bukti adanya maksud tersebut, coba saja diganti pernyataan-pernyataan tersebut –- yang uraiannya secara keseluruhan jelas-jelas sudah ada unsur humor – dengan padanannya yang terdapat dalam bahasa Indonesia, ada kemungkinan para pembaca tidak akan tersenyum. Sebaliknya, yang timbul adalah kesan kekakuan. Bahkan, mungkin juga prosa liris tersebut kurang komunikatif. Untuk itu, peranan AK penting sekali karena AK seperti itu pada saat-saat tertentu sangat dibutuhkan agar pembaca merasa puas atau senang.
(3) Bermaksud untuk Merayu dan Membujuk
Ada kecenderungan sebagian orang untuk ber-AK karena bermaksud untuk merayu dan membujuk. Hal itu, sering kita jumpai apabila menjumpai sepasang sejoli yang sedang berasyik masyuk. Ungkapan-ungkapan seperti darling, my sweet girl, dan the first night, the first night diucapkan berkali-kali. Dengan mengungkapkan ungkapan-ungkapan yang berbau asing ada rasa kebanggaan dan ada kecenderungan untuk menciptakan segalanya – untuk mereka berdua – agar lebih syahdu lagi.
Yang terjadi pada prosa liris PP juga demikian. Pada bait nomor (6) di atas, Kang Kliwon ketika berusaha menyetubuhi Iyem – Pariyem – membisikkan mantera di kuping kiri Pariyem yang berbunyi “Ooh rasaku, ooh rasamu dudu mungsung dudu satru Jagad wadonmu, jagad lanangku ngrasuk rasa ngrasuk kalbu”. Mantera tersebut berulang-ulang diucapkan dengan tujuan untuk menciptakan atau menambah suasana yang lebih masyuk lagi. Dengan ungkapan tersebut diharapkan lawan jenisnya terbius dan terbuai. Pada akhirnya, memang dengan cara seperti itu tujuan yang ingin dicapai oleh pasangan yang sedang asyik masyuk itu tercapai sudah.
(4) Untuk Menunjukkan Kekesalan Hati
Pemakaian AK juga bisa terjadi untuk menunjukkan kekesalan hati. Meskipun untuk menumpahkan segala kekesalan yang mengganjal di hati seseorang bisa ditumpahkan dalam bahasa pertama, kadang-kadang juga bisa digunakan bahasa kedua atau bahasa asing. Semakin banyak seseorang menguasai bahasa asing, semakin banyak pula ia memiliki cara untuk menumpahkan kekesalannya dalam bentuk bahasa. Pada prosa liris PP juga ditemukan adanya AK yang digunakan untuk menunjukkan kekesalan hati. Hal itu terbukti dengan adanya pemakaian ungkapan O, Allah Gusti nyuwun ngapura berulang kali – ada tiga belas kali ungkapan yang sama digunakan --. Di samping itu, ada juga digunakan ungkapan mBokiya yang apabila dirangkaikan dengan ungkapan O, Allah Gusti nyuwun ngapura semakin jelas adanya penunjukkan kekesalan hati.
Untuk menunjukkan kekesalan hati, sebenarnya bisa dilakukan dengan tidak menggunakan AK. Namun tidak demikian bagi Linus karena justeru dengan adanya AK yang diambil dari ungkapan-ungkapan bahasa Jawa menjadikan prosa lirisnya dirasakan semakin enak didengar. Sikap seperti Linus dalam menunjukkan kekesalan hati dengan menggunakan AK – yang dalam hal ini menggunakan bahasa Jawa – juga sering dilakukan oleh masyarakat kita meskipun mereka telah menguasai bahasa Indonesia. Karena adanya rasa bahasa itulah orang lebih cenderung ber-AK pada saat menunjukkan dan menumpahkan kekesalan hatinya.
3.2 CK dalam Prosa Liris PP
Aspek lain dari permainan kata-kata dalam prosa liris PP ialah terjadinya CK yang sangat dominan. Dibandingkan dengan AK, CK jauh lebih banyak jumlahnya. Seluruh bait prosa liris PP tidak terlepas dari adanya pemakaian CK. CK yang terdapat pada PP lebih cenderung bersifat ke dalam. Artinya, terjadi CK antara kata-kata dalam bahasa Indonesia dan unsur-unsur bahasa Jawa. Sementara CK yang bersifat ke luar – CK dengan unsur-unsur bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Belanda, dan Cina – tidak banyak dijumpai.
CK yang terdapat dalam prosa liris PP pun apabila dianalisis berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya dapat dibedakan menjadi lima macam sebagaimana terurai berikut ini.
(1) Penyisipan Unsur-unsur yang Berwujud Kata:
(a) ……………………………………….
Ya, ya, Pariyem saya
Saya lahir di atas amben bertikar
dengan ari-ari menyertai pula
Oleh mbah dukun dipotong dengan welat
tajamnya tujuh kali pisau cukur
(PP, 1981: 1)
(b) …………………………………………
Ketika itu rumah lagi kosong
Sedang ditinggal pergi plesir
Ke kebon binatang Gembira Loka
naik andhong – sekeluarga –
mereka mau nonton si Gombloh
Itu lho kuda Nil dari Mesir
yang mengajak guyon sama pawangnya
(PP, 1981: 31)
(c) …………………………………………..
Dusun Karang kami lewati
Dusun Wonosari ada di depan
Kami menempuh bulak, gliyak-gliyak
dan selendang saya singsatkan leher
Dan tangan saya kuat dia pegang
dan tangan dia kuat saya pegang
(PP, 1981:66)
(d) …………………………………………
O, saya nglakoni menurut saya mau
bila tak ada mau saya tak nglakoni
weton saban hari berdoa dalam batin
saban hari berkunjung pada Tuhan
weton saban hari mengunjungi orang lain
dan setia mengunjungi diri sendiri
O, mana ada yang berkelebihan?
Timbangan njomplang, timbangan sebanding
timbang kegembiraan tanpa rasa asing
(PP, 1981: 75)
(e) …………………………………………..
Lha, dia sinau di Sarjana Wiyata
Sore hari sinau joget di Suryabrantan
Seminggu sepisan mengajar bocah-bocah
beksan di nDalem Pendhopo Taman Siswa
(PP, 1981: 109)
(2) Penyisipan Unsur-unsur yang Berwujud Frase:
(a) ……………………………………………….
Umur saya 25 tahun sekarang
-- tapi nuwun sewu
tanggal lahir saya lupa
(PP, 1981: 1)
(b) ……………………………………………….
Memang dia clingus banget
Tapi sorot matanya tak bisa menipu
(PP, 1981: 31)
(c) ………………………………………..
Saban hari rajin ke Bulaksumur
ngangsu ngelmu pada para dosen
(PP, 1981: 33)
(d) ………………………………………..
Bertelekan tongkat
apabila berjalan
Sak titahe, tak bergegas
mengikuti irama jagad dalam
(PP, 1981: 52)
(e) …………………………………………
Rembulan condong di Barat
Tanda malam berangkat larut
Dan nDoro Kanjeng sudah pulang
pulang dari sarasehan pedalangan
(PP, 1981: 59)
(f) ………………………………………….
Susuk dari kuningan dan dari perak
dan terutama banget susuk dari emas
Dengan ngobong menyan dan japa mantra
tapi pun dengan pantangan beragam pula
Dan susuk pun tersemat di bagian badan
menambah molek pesuryan seorang sindhen
(PP, 1981: 61)
(g) ……………………………………………….
Dia buka surjan, sarung dan kathok kolornya
dia pun buka kebaya, jarit, dan kutang saya
(PP, 1981: 66)
(h) “Huss, bukan malam pertama”
“Lho,lha apa namanya, Kang”
“The first night, first night”
Waduh, bahasa Inggris cas-cis-cus
menganggapnya keren, wong mendem
(PP, 1981: 77)
(i) ………………………………………………
O, Allah, bila dia mesem
betapa bikin kita terpendam
Pasti banyak priyagung kesengsem
(PP, 1981: 91)
(j) …………………………………………………
O, Allah, nDoro Ayu, nDoro Ayu
Betapa anggun dan luhur budinya
Saya tak m elihat di mana celahnya
saya melihat keagungan wanodya
O, berbahagialah nDoro Kanjeng
mempunyai dhiajeng nDoro Ayu
(PP, 1981: 93)
(k) ………………………………………………..
Bulan ini bulan Maulud
Perayaan Sekaten sudah tiba
nDoro Ayu, nDoro Putri, dan saya
datang pula ke Alun-alun Lor
Datang ke dalam hiruk-pikuk Sekaten
yang diadakan sekali saban tahunnya
nDoro Ayu dan saya membeli kinang
ngalap berkah dalam keramaian
(PP, 1981: 96)
(l) ……………………………………………….
Andhong mandheg di plataran depan
nDoro Ayu membayar ongkos pak kusir
Saya mengangkut barang belanjaan
langsung ke dapur
(PP, 1981:121)
(m) ……………………………………………..
Sedangkan jagongan mbladheg
sampai bayi umur 35 hari
(PP, 1981:170)
(3) Penyisipan Unsur-unsur yang Berwujud Bentuk Baster
(a) ………………………………………………
Jumat Wage waktunya
ketika hari bangun fajar
(PP, 1981: 1)
(b) ……………………………………..
Ingkung ayam: lambang keutuhan badan
wadhag telanjang
Nasi tumpeng dan gudhangan: lambang
pergaulan hidup
(PP, 1981: 2)
(c) ………………………………………
Ini hidup absurd banget, impossible
Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin?
Sedangkan mulut terus m enganga
Perut minta isi saban harinya
Sengkarut kebutuhan yang muncul
(PP, 1981: 9)
(d) ………………………………………….
Memang saya dibaptis rama pastur landa
berambut pirang dan tubuhnya jangkung
-- Van de Mouten namanya
Jadi jelasnya, terang-terangan saja:
-- kepercayaan saya Katolik mistik
alias Katolik Kejawen
Maria Magdalena nama permandian saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
(PP, 1981: 11)
(e) ………………………………………………
O, beginilah pokal anak muda
baru kini jagad direguknya
Saya ingat hari terjadinya
Dan saya ingat hari pasarannya
Kamis Pahing persisnya
(PP, 1981: 33)
(f) ………………………………………………
Guwayanya suntrut
dan pasuryannya bercahaya
Demikianlah saya menyandra dia
Dia suka celana blue jean belel
berkaos T-Shirt dan kaca-mata
(PP, 1981: 35)
(g) ………………………………………………
Sebagai Direktur Pusat Sinau dan
Penelitian Kebudayaan Indonesia
Universitas Gajah Mada
(PP, 1981: 55)
(h) ………………………………………
Sebagai anak ledheg dan pesinden
(PP, 1981: 62)
(i) ……………………………………….
Teman dolan dan nonton wayang
teman ngeringkel di Patrolan
(PP, 1981: 76)
(j) ………………………………………….
Di kamar Sepen dan ruang Pendhopo
Hanya dipisah dengan pintu gebyog
(PP, 1981: 84)
(k) ………………………………………….
Suatu hari wong bule datang
Tuan Amerika itu sinau wayang
Dan bertanya pada nDoro Kanjeng
Kenapa ya,orang Jawa itu betah
krasan nonton wayang sampai fajar
Dalam percakapan di ruang depan
nDoro Kanjeng kasih wejangan:
(PP, 1981: 89)
(l) ………………………………………….
Kini pukul 24.00 tengah malam
Titik perkisaran jagad terungkap
Sedang segala gerak-hidup mandheg
(PP, 1981:129)
(m) …………………………………………
Orang meteng mana ada aibnya
tak ada aib bagi orang meteng
(PP, 1981:138)
(n) ………………………………………….
Aku menelan pil anti meteng
(PP, 1981: 165)
(o) ………………………………………..
Lalu berdua mereka terlibat parikan
saling berganti, saling ledek-ledekan
Ah, ya, betapa cekatan mereka parikan
saling bercanda dan saling mencandra
: sumber ilmunya adalah ilmu plesedan
(PP, 1981:167)
(p) …………………………………………
Lha, ini beda dengan si Pairin?
Kalau dia sudah momong Endang
Sembari tetap menganyam caping
Endang ditidurkan di amben depan
Sedang mulutnya bengak-bengok
(PP, 1981:172)
(q) ………………………………………..
Lha, ini beda dengan bapak saya
kalau dia sudah ura-ura, mas
Mengingatkan saya jaman dulu
Sebagai bekas pemain kethoprak
terasa suaranya ulem dan gandem
(PP, 1981:173)
(4) Penyisipan Unsur-unsur yang Berwujud Perulangan Kata:
(a) …………………………………………
Begitulah, nama membawa tuah:
Bibit, Bobot, dan Bebet
Dan saya sudah 3B sebagai babu, kok
(PP, 1981: 5)
(b) ………………………………………..
Saya lega-lila, kok
Gusti Allah tidak sare
(PP, 1981: 16)
(c) …………………………………………
Hidup yang prasojo saja
Tak usah yang aeng-aeng
Madeg, Mantep, dan Madhep
Dan saya sudah 3M sebagai babu, kok
(PP, 1981: 22)
(d) ……………………………………………
Ibarat jagad malam semerbak bintang
tanpa pamrih menerangi kegelapan
Asih, Asah, dan Asuh
Dan saya sudah 3A sebagai babu, kok
(PP, 1981: 23)
(e) ……………………………………………
Darah saya mengalir mengikuti fitrahnya
batin saya tenang; bebas dari kerisauan
Keras, Kerja, dan Karya
Dan saya sudah 3K sebagai babu, kok
(PP, 1981: 25)
(f) ……………………………………………..
Lirih, Laras, dan Lurus
Dan saya sudah 3L sebagai babu, kok
(PP, 1981: 27)
(g) ……………………………………………
Solah bawanya
dan tindak-tanduknya
Titis, Tatas dan Tetes
Dan dia sudah 3T sebagai orang muda, kok
(PP, 1981: 34)
(h) ……………………………………………
Susuk itu memang punya daya sihir, kok
pria yang kena akan kepencut-kepelitut
Hatinya kemut-kemut, kepalanya senut-senut
dia pun dirambati rasa mabok kepayang
(PP, 1981: 61)
(i) ………………………………………………
Ki dalang Kencuran dari Kencuran
- ah,amit-amit nuwun sewu
- saya tak eling namanya
(PP, 1981: 79)
(j) ………………………………………………
Cengar-cengir bibir dan hidungnya
nDoro Ayu pun nimbrung menggoda:
“Lha, siapa yang jelalatan, lho?
Itu buah dari kata-katamu, to”
Sejumlah pemuda mesam-mesem
menyaksikan adegan kami pula
(PP, 1981: 97)
(k) ………………………………………………
Tubuhnya langsing dan kulitnya langsat
matanya blalak-blalak alias cemerlang
(PP, 1981:109)
(l) ………………………………………………
Alangkah mengagumkan dia!
Lha, pinggulnya megal-megol
laksana menthok berjalan
Sekali dia jingkrak-jingkrak
laksana orang kesurupan
(PP, 1981:123)
(m) …………………………………………….
Dan nDoro Kanjeng memberi tetenger
Endang Sri Setianingsih namanya
(PP, 1981:168)
(n) ……………………………………………….
Lha, ya jangan meleh-melehake, mas
(PP, 1981:169)
(o) ……………………………………………….
O, Allah, gelinya setengah mati, Mas
Dengan bibir, lidah, dan gusinya lembut
penthil saya dikenyut-kenyut
(PP, 1981:170)
(P) ……………………………………………….
Dan dengan lilingan seorang eyang
nDoro Kanjeng pun mengudang-kudang
(PP, 1981:174)
Dari penyisipan unsur-unsur kebahasaan yang terdapat pada setiap bait dalam prosa liris PP tersebut, penulis berkesimpulan bahwa Linus sengaja menyisipkan unsur-unsur bahasa Jawa. Apabila kata-kata, frase-frase, idiom-idiom, dan perulangan kata diganti dengan yang terdapat dalam bahasa Indonesia, ada sesuatu yang dirasakan kurang enak, baik oleh Linus sebagai penulis prosa liris PP maupun pembacanya (apalagi bagi pembaca yang menguasai bahasa Jawa).
Pertanyaan yang kini muncul di benak kita: “Mengapa Linus memanfaatkan CK dalam hasil karyanya?” Pemanfaatan CK dalam prosa liris tersebut terjadi karena beberapa faktor, yaitu (1) kebanggaan (prestise) dengan anggapan mempergunakan CK dari bahasa Jawa akan menunjukkan pemakainya adalah orang Jawa yang paling tidak menguasai dan sangat mencintai bahasanya; (2) kurang memahami atau boleh jadi kurang menguasai bahasa Indonesia sehingga untuk kata-kata tertentu yang sulit dicari padanannya terpaksa mempergunakan bahasa yang dikuasainya; dan (3) menjaga kerahasiaan dengan maksud agar orang lain tidak tahu yang ingin diungkapkan sehingga orang lain yang membacanya perlu mengernyitkan dahinya.
4. P e n u t u p
Tulisan ini tidak berpretensi untuk menyarankan agar para sastrawan Indonesia menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (maksudnya bahasa baku) sehingga timbul kesan untuk tidak membenarkan pemanfaatan unsur-unsur bahasa daerah. Memang dengan memasukkan unsur-unsur bahasa daerah akan tampak di hadapan penikmat sastra sebuah karya sastra yang kedaerah-daerahan. Namun, apakah tidak mungkin unsur-unsur bahasa daerah itu akan turut memperkaya kosa kata bahasa Indonesia? Di samping itu, juga tidak mustahil dengan memasukkan unsur-unsur kedaerahan yang mewarnai isi dan inti cerita menunjukkan keanekabudayaan bangsa Indonesia. Bukankah, hal yang wajar kalau dulu sastra Indonesia diwarnai pengaruh-pengaruh Melayu, maka sekarang tongkat estafet telah beralih ke sastrawan-sastrawan yang sarat dengan bahasa dan budaya Jawa?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar