Selasa, 29 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (18)

UNSUR KEINDAHAN DALAM CERPEN

Salah satu bentuk karya sastra yang diminati pembaca karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya dan (mungkin saja) mudah dicerna adalah cerita pendek (cerpen). Sebagai salah satu karya sastra cerpen meskipun mudah dicerna, dimungkinkan adanya unsur-unsur keindahan. Salah satu contoh cerpen yang juga memuat nilai-nilai keindahan adalah potongan cerpen (yang sebenarnya cukup panjang untuk sebuah cerpen) yang ditulis oleh Kurnia JR di bawah ini.

Kereta Berangkat Senja
               
                                                                                                           Kurnia JR      
            Stasiun nampak sunyi karena bukan hari libur. Perlahan-lahan kereta berderak menyeret kenangan yang merambat pergi bersama waktu. Kuharapkan gerimis atau cuaca murung.  Tetapi langit justru lembayung – matahari masih membekaskan keremangan di ufuk. Angin berkesiur lewat jendela.  Kereta tak penuh.  Aku bisa menganjurkan kaki ke bangku di mukaku.  Roda-roda besi menderas di atas rel terasa menggilas karat-karat di hatiku.
            Gedung-gedung tampak sunyi di luar, terlebih-lebih ketika malam telah meliputi bumi.  Gelap.  Kereta sesekali berhenti untuk memberi kesempatan kereta dari arah yang berlawanan melintasi rel tunggal.  Pada saat-saat menanti seperti itu aku merasa ditindih beban berat di punggung.  “Let  it Be…”,  entah dari mana, The Beatles melantun ke hati. Tapi tak bisa!  Bayang-bayang terus menguntit, tak sudi melepaskan aku barang sedetik pun untuk menjadi tenteram.  Keteduhan biara dan janji-janji pada Tuhan kini telah silam dari kehidupanku, bagai tak pernah ada.  Tahun-tahun berlalu tanpa membekaskan apa-apa.  Sakramen-sakramen dan doa-doa kudus mengering dari hatiku dan bibirku.  Pada kaca jendela kereta terlukis hantu lama dari lubuk hati; rumah Tuhan Yang Maha Agung tapi memerihkan hati.  Jiwa tandus, Tuhan – itulah sebagian dari kata-kata lama yang pernah terucap dalam kehidupanku dan kini tak ada lagi.  Aku menikah.
            Keputusan itu telah menghancurkan seluruh rencana bagi riwayat hidupku sejak ayah memberiku nama.  Meskipun demikian, aku sama sekali tak merasakan bahwa kejadian tersebut cukup luar biasa.  Pada mulanya aku bimbang sesaat, memilih-milih, lalu memutuskan.  Namun, akibatnya sungguh di luar perkiraan.  Batinku dilanda perang besar menghadapi tuntutan pertanggungjawaban yang menekan.  Aku sama sekali tak menyangka, demi Tuhan, bahwa jauh di sudut hatiku yang gelap bersemayam sejenis persengkolan yang menciptakan huru-hara dalam batinku, yang memburuku menuntut  sumpah suci pada biara!
            “Kau bertanggung jawab sepenuhnya pada diri dan kehidupanmu sendiri, Nak,” kata Guru. “Kau pula toh yang memikul segenap konsekuensi pilihanmu.”
            Aku tak berkata apa-apa, begitu juga hatiku.  Lahir batin, aku membisu, tidak pula berpikir.  Tak menyanggah ataupun membenarkan kata-katanya.  Aku hanya menunduk seolah merenung, padahal kepalaku kosong, hampa.
            Tahukah Anda bagaimana aku mengambil pilihanku? --ingin juga kukemukan kalimat itu padanya.  Tapi hatiku tak bergerak.  Guru yang tua itu agaknya menafsirkan kebungkamanku sebagai tanda selesainya pertemuan kami, entahlah.
            Selanjutnya aku hidup damai dengan peristiwa-peristiwa biasa.  Merencanakan ke-hidupan bersama serta anak-anak, dan seterusnya.  Hari-hariku menjadi teratur dan jadwal ke-giatan bersiklus bulanan, tak lagi harian atau tahunan sebagaimana sebelumnya biasa kujalani. Biaya-biaya dianggarkan secara teratur dan pengeluaran pun harus selalu diperhitungkan.Tetapi aku menerimanya sebagai sesuatu yang wajar dan semestinya.Semuanya kujalani tanpa kejutan atau luka, sampai Tuhan menegurku dengan cara-Nya sendiri pada suatu saat: suatu kecelakaan dan rumah tanggaku hancur.
……………………………………………………………………………………………………….......
            Kesan apa yang timbul setelah kita membaca potongan cerita pendek (cerpen) di atas?  Apakah ada nilai-nilai estetikanya? Untuk pertanyaan kedua ini kita bisa secara pasti mengatakan: ada!  Untuk itu, mari kita telaah kata-kata dan kalimat-kalimat yang menunjukkan adanya nilai-nilai estetika pada potongan cerpen tersebut.
            Potongan cerpen tersebut sebagaimana dikomentari oleh Korrie Layun Rampan, ketika diminta komentarnya tentang cerpen tersebut, sebagai cerpen yang lebih berupa cerpen esei daripada cerpen dalam arti konvensional, yaitu cerpen yang lebih cenderung berkisah.  Untuk menelaah cerpen yang cenderung berkisah dibutuhkan ketajaman imajinasi kita.  Di samping itu, juga diperlukan pemahaman filsafat yang mendalam.  Tentu saja, sebagai pelengkap, kita perlu pandai-pandai menangkap bahasa simbolik yang terkandung pada setiap kata, frase, atau kalimat. 
            Pada paragraf pertama saja kita dapati ada empat buah kalimat yang menunjukkan kepiawaian penulis cerpen dalam mengungkapkan kalimat-kalimat yang memerlukan kerutan dahi seperti terlihat pada contoh berikut ini.
1)   Perlahan-lahan kereta berderak menyeret kenangan yang merambat pergi bersama waktu.         
2)   Kuharapkan gerimis atau cuaca murung.
3)   Tetapi langit justru lembayung – matahari masih membekaskan keremangan di ufuk.
4)   Roda-roda besi menderas di atas rel terasa menggilas karat-karat di hatiku.
Pada keempat kalimat di atas, terutama pada bagian-bagian kalimat yang bergaris bawah, penulis menggunakan bentuk personifikasi yang terasa enak untuk dinikmati.  Coba saja kita uraikan, pada butir 1) penulis menggambarkan kereta api berjalan demikian perlahan karena baru saja berangkat dari sebuah stasiun.  Jalannya kereta api yang demikian perlahan itu seirama dengan berlalu-nya kenangan demi kenangan yang terlintas di benak penulis.  Kemudian pada butir 2) penulis mengharapkan suasana yang demikian sepi itu selayaknya disertai dengan gerimis atau cuaca murung (cuaca gelap manakala gerimis), ternyata pada butir 3) justru sebaliknya, matahari masih bersinar meskipun sinar itu telah meredup sehingga masih tersisa keremangan di ufuk barat.  Di penghujung akhir paragraf pertama ini penulis seperti yang terlihat pada butir 4) sekali lagi mengungkapkan betapa suara-suara roda-roda yang bergerak di atas kereta api itu diibaratkan sesuatu yang membuat pilu hatinya selama ini.
            Penulis cerpen tersebut telah berhasil melakukan prolog melalui paragraf pembuka yang ditampilkan dengan kalimat-kalimat yang penuh dengan simbol bahasa.  Ia telah berhasil mengajak kita berimajinasi atau membayangkan yang dirasakan penulisnya.  Sejak awal kita diajak penulis cerpen untuk membayang- kan stasiun yang sunyi, kereta yang bergerak perlahan, cuaca yang menjelang sore hari, kereta api yang kosong, dan bunyi derit roda kereta api yang seolah-olah menyayat hatinya. 
Suasana yang ditampilkan adalah suasana kesunyian sebagaimana juga terlihat pada paragraf kedua (yang juga merupakan paragraf pembuka).  Ia masih menampilkan gedung-gedung di sekitarnya yang tampak sunyi karena sudah tidak ada lagi aktivitas di gedung-gedung itu.  Kereta yang sesekali berhenti di stasiun kecil, karena harus menunggu kereta api yang lewat dari arah yang berlawanan, memberikan beban berat bagi si Aku akibat begitu banyaknya kenangan pahit yang tidak bisa dihilangkan, yang mengakibatkan ia tidak memperoleh ketenangan.
Tapi tak bisa! Bayang-bayang terus menguntit, tak sudi melepaskan aku barang sedetik pun untuk menjadi tenteram.


Ia bukan saja merasa tidak tenang, tetapi juga mulai tidak percaya pada agamanya karena … Keteduhan biara dan janji-janji Tuhan kini telah silam dari kehidupanku, bagai tak pernah ada…. sehingga wajar-wajar saja kalau tempat ibadahnya selama ini, yang digambarkan sebagai rumah Tuhan, seperti …hantu lama dari lubuk hati …. Dengan demikian, si Aku merasa jiwanya tandus.  Sebagai salah satu solusinya, dalam rangka menghadapi kemelut tersebut, ia memutuskan untuk menikah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...