UNSUR KEINDAHAN DALAM CERPEN
Salah satu bentuk karya sastra yang diminati pembaca karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya dan (mungkin saja) mudah dicerna adalah cerita pendek (cerpen). Sebagai salah satu karya sastra cerpen meskipun mudah dicerna, dimungkinkan adanya unsur-unsur keindahan. Salah satu contoh cerpen yang juga memuat nilai-nilai keindahan adalah potongan cerpen (yang sebenarnya cukup panjang untuk sebuah cerpen) yang ditulis oleh Kurnia JR di bawah ini.
Kurnia
JR
Stasiun
nampak sunyi karena bukan hari libur. Perlahan-lahan kereta berderak menyeret
kenangan yang merambat pergi bersama waktu. Kuharapkan gerimis atau cuaca
murung. Tetapi langit justru lembayung –
matahari masih membekaskan keremangan di ufuk. Angin berkesiur lewat
jendela. Kereta tak penuh. Aku bisa menganjurkan kaki ke bangku di
mukaku. Roda-roda besi menderas di atas
rel terasa menggilas karat-karat di hatiku.
Gedung-gedung
tampak sunyi di luar, terlebih-lebih ketika malam telah meliputi bumi. Gelap.
Kereta sesekali berhenti untuk memberi kesempatan kereta dari arah yang
berlawanan melintasi rel tunggal. Pada
saat-saat menanti seperti itu aku merasa ditindih beban berat di punggung. “Let it Be…”,
entah dari mana, The Beatles melantun ke hati. Tapi tak bisa! Bayang-bayang terus menguntit, tak sudi
melepaskan aku barang sedetik pun untuk menjadi tenteram. Keteduhan biara dan janji-janji pada Tuhan
kini telah silam dari kehidupanku, bagai tak pernah ada. Tahun-tahun berlalu tanpa membekaskan
apa-apa. Sakramen-sakramen dan doa-doa
kudus mengering dari hatiku dan bibirku.
Pada kaca jendela kereta terlukis hantu lama dari lubuk hati; rumah
Tuhan Yang Maha Agung tapi memerihkan hati.
Jiwa tandus, Tuhan – itulah sebagian dari kata-kata lama yang pernah
terucap dalam kehidupanku dan kini tak ada lagi. Aku menikah.
Keputusan
itu telah menghancurkan seluruh rencana bagi riwayat hidupku sejak ayah
memberiku nama. Meskipun demikian, aku
sama sekali tak merasakan bahwa kejadian tersebut cukup luar biasa. Pada mulanya aku bimbang sesaat,
memilih-milih, lalu memutuskan. Namun,
akibatnya sungguh di luar perkiraan.
Batinku dilanda perang besar menghadapi tuntutan pertanggungjawaban yang
menekan. Aku sama sekali tak menyangka,
demi Tuhan, bahwa jauh di sudut hatiku yang gelap bersemayam sejenis
persengkolan yang menciptakan huru-hara dalam batinku, yang memburuku
menuntut sumpah suci pada biara!
“Kau
bertanggung jawab sepenuhnya pada diri dan kehidupanmu sendiri, Nak,” kata
Guru. “Kau pula toh yang memikul segenap konsekuensi pilihanmu.”
Aku
tak berkata apa-apa, begitu juga hatiku.
Lahir batin, aku membisu, tidak pula berpikir. Tak menyanggah ataupun membenarkan
kata-katanya. Aku hanya menunduk seolah
merenung, padahal kepalaku kosong, hampa.
Tahukah
Anda bagaimana aku mengambil pilihanku? --ingin juga kukemukan kalimat itu
padanya. Tapi hatiku tak bergerak. Guru yang tua itu agaknya menafsirkan
kebungkamanku sebagai tanda selesainya pertemuan kami, entahlah.
Selanjutnya
aku hidup damai dengan peristiwa-peristiwa biasa. Merencanakan ke-hidupan bersama serta
anak-anak, dan seterusnya. Hari-hariku
menjadi teratur dan jadwal ke-giatan bersiklus bulanan, tak lagi harian atau
tahunan sebagaimana sebelumnya biasa kujalani. Biaya-biaya dianggarkan secara
teratur dan pengeluaran pun harus selalu diperhitungkan.Tetapi aku menerimanya
sebagai sesuatu yang wajar dan semestinya.Semuanya kujalani tanpa kejutan atau
luka, sampai Tuhan menegurku dengan cara-Nya sendiri pada suatu saat: suatu
kecelakaan dan rumah tanggaku hancur.
……………………………………………………………………………………………………….......
Kesan apa yang timbul setelah kita
membaca potongan cerita pendek (cerpen) di atas? Apakah ada nilai-nilai estetikanya? Untuk
pertanyaan kedua ini kita bisa secara pasti mengatakan: ada! Untuk itu, mari kita telaah kata-kata dan
kalimat-kalimat yang menunjukkan adanya nilai-nilai estetika pada potongan
cerpen tersebut.
Potongan cerpen tersebut sebagaimana
dikomentari oleh Korrie Layun Rampan, ketika diminta komentarnya tentang cerpen
tersebut, sebagai cerpen yang lebih berupa cerpen esei daripada cerpen dalam
arti konvensional, yaitu cerpen yang lebih cenderung berkisah. Untuk menelaah cerpen yang cenderung berkisah
dibutuhkan ketajaman imajinasi kita. Di
samping itu, juga diperlukan pemahaman filsafat yang mendalam. Tentu saja, sebagai pelengkap, kita perlu
pandai-pandai menangkap bahasa simbolik yang terkandung pada setiap kata,
frase, atau kalimat.
Pada paragraf pertama saja kita
dapati ada empat buah kalimat yang menunjukkan kepiawaian penulis cerpen dalam
mengungkapkan kalimat-kalimat yang memerlukan kerutan dahi seperti terlihat
pada contoh berikut ini.
1)
Perlahan-lahan
kereta berderak menyeret kenangan yang merambat pergi bersama waktu.
2)
Kuharapkan gerimis
atau cuaca murung.
3)
Tetapi langit
justru lembayung – matahari masih membekaskan keremangan di ufuk.
4)
Roda-roda besi
menderas di atas rel terasa menggilas karat-karat di hatiku.
Pada keempat
kalimat di atas, terutama pada bagian-bagian kalimat yang bergaris bawah,
penulis menggunakan bentuk personifikasi yang terasa enak untuk dinikmati. Coba saja kita uraikan, pada butir 1) penulis
menggambarkan kereta api berjalan demikian perlahan karena baru saja berangkat
dari sebuah stasiun. Jalannya kereta api
yang demikian perlahan itu seirama dengan berlalu-nya kenangan demi kenangan
yang terlintas di benak penulis. Kemudian
pada butir 2) penulis mengharapkan suasana yang demikian sepi itu selayaknya
disertai dengan gerimis atau cuaca murung (cuaca gelap manakala gerimis),
ternyata pada butir 3) justru sebaliknya, matahari masih bersinar meskipun
sinar itu telah meredup sehingga masih tersisa keremangan di ufuk barat. Di penghujung akhir paragraf pertama ini
penulis seperti yang terlihat pada butir 4) sekali lagi mengungkapkan betapa
suara-suara roda-roda yang bergerak di atas kereta api itu diibaratkan sesuatu
yang membuat pilu hatinya selama ini.
Penulis cerpen tersebut telah
berhasil melakukan prolog melalui paragraf pembuka yang ditampilkan dengan
kalimat-kalimat yang penuh dengan simbol bahasa. Ia telah berhasil mengajak kita berimajinasi
atau membayangkan yang dirasakan penulisnya.
Sejak awal kita diajak penulis cerpen untuk membayang- kan stasiun yang
sunyi, kereta yang bergerak perlahan, cuaca yang menjelang sore hari, kereta
api yang kosong, dan bunyi derit roda kereta api yang seolah-olah menyayat
hatinya.
Suasana
yang ditampilkan adalah suasana kesunyian sebagaimana juga terlihat pada
paragraf kedua (yang juga merupakan paragraf pembuka). Ia masih menampilkan gedung-gedung di
sekitarnya yang tampak sunyi karena sudah tidak ada lagi aktivitas di
gedung-gedung itu. Kereta yang sesekali
berhenti di stasiun kecil, karena harus menunggu kereta api yang lewat dari
arah yang berlawanan, memberikan beban berat bagi si Aku akibat begitu
banyaknya kenangan pahit yang tidak bisa dihilangkan, yang mengakibatkan ia
tidak memperoleh ketenangan.
Tapi
tak bisa! Bayang-bayang terus menguntit, tak sudi melepaskan aku barang sedetik
pun untuk menjadi tenteram.
Ia bukan saja
merasa tidak tenang, tetapi juga mulai tidak percaya pada agamanya karena … Keteduhan biara dan janji-janji Tuhan kini
telah silam dari kehidupanku, bagai tak pernah ada…. sehingga wajar-wajar
saja kalau tempat ibadahnya selama ini, yang digambarkan sebagai rumah Tuhan,
seperti …hantu lama dari lubuk hati ….
Dengan demikian, si Aku merasa jiwanya tandus.
Sebagai salah satu solusinya, dalam rangka menghadapi kemelut tersebut,
ia memutuskan untuk menikah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar