Rabu, 23 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (15)

HUMANIORA, IPTEK, DAN SASTRA

1. Sedikit tentang Humaniora

           Setiap kita pasti tahu istilah humaniora karena istilah tersebut  cukup akrab di telinga kita. Mendengar istilah humaniora terbayanglah di benak kita, istilah tersebut sangat dekat hubungannya dengan kata humanus.  Memang benar istilah humaniora dekat dengan kata humanus karena istilah tersebut mempunyai akar kata yang sama, yaitu homo yang artinya `manusia`.  Dari kata homo kita kemudian memperoleh daftar panjang, di antaranya kata humanus  `bersifat manusiawi`, `sesuai dengan kodrat manusia`,  humanisme `paham yang berlandaskan pada kemanusiaan` (Mangunhardjana, 1997:93), humanistarisme `gerakan sosial yang berlandaskan pada paham humanisme` (Mangunhardjana, 1997:96), dan humaniora `seperangkat sikap dan perilaku moral manusia terhadap sesamanya` (Liek Wilardjo,  1990: 259). Boleh juga humaniora didefinisikan sebagai ilmu-Ilmu pengetahuan (seperti teologi, filsafat, ilmu hukum, ilmu sejarah, filologi, ilmu bahasa, ilmu kesusastraan, dan ilmu kesenian) yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih berbudaya (Zainal Arifin, 1987: 60).         

Istilah humaniora sebenarnya bukan istilah baru dalam khasanah kosa kata bahasa Indonesia. Namun, istilah tersebut sempat mencuat ketika mendiang menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nugroho Notosusanto, pada tahun 1983 mencanangkannya.  Beliau pada waktu itu memberikan pernyataan-pernyataan tentang pentingnya pendidikan berpikir dan humaniora dalam rangka membentuk manusia Indonesia yang tidak hanya menguasai ilmu dan teknologi semata-mata, tetapi juga manusia yang berbudaya dan berwatak (Kompas, 23 Maret 1983).  Pernyataan itu mendapat sambutan baik dari berbagai kalangan masyarakat dan pendidik.   

            Serentetan pertanyaan akan muncul di benak kita, mengapa humaniora perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan kita?  Apakah humaniora memegang peranan penting dalam rangka membentuk perilaku manusia? Apa yang ingin dicapai dengan humaniora?  Bidang-bidang apa saja yang termasuk ke dalam humaniora? Sebagai tambahan perlu juga diajukan di sini:apakah peranan humaniora dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi?  Secara terinci pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita bahas.  
            Pendidikan humaniora dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan kita karena kita tidak menginginkan manusia satu dimensi, yaitu manusia ahli, melainkan juga manusia utuh (Kompas, 27 April 1983).  Dari pernyataan tersebut juga bisa muncul pertanyaan berikut, “apa itu manusia ahli dan manusia utuh?” .  Dimaksudkan dengan manusia ahli di sini adalah manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.  Sedangkan manusia utuh adalah manusia yang di samping menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi juga manusia berbudaya yang beriman kepada Tuhan, berwatak luhur, menghargai karya seni bangsanya sendiri, mempunyai identitas diri, dan mempunyai persepsi historis (Kompas, 27 Arpil 1983).  Untuk itu, dalam rangka membentuk manusia ahli dan utuh, dipandang perlu dimasukkannya bukan hanya pendidikan berpikir, tetapi juga pendidikan humaniora.
            Dengan melihat uraian di atas tampaknya pertanyaan yang berhubungan dengan humaniora: apakah humaniora memegang peranan penting dalam rangka membentuk perilaku manusia dan apa yang ingin dicapai dengan pendidikan humaniora, sudah terjawab karena yang kita inginkan dari pendidikan kita nantinya bukan hanya menjadi manusia ahli tetapi juga manusia utuh.  Di samping itu, dari uraian di atas tersirat bahwa pendidikan kita, di Indonesia, selama ini tidak mengenal pendidikan humaniora.  Artinya, anak didik di Indonesia lebih banyak dijejali ilmu yang mengarah pada pengisian otak (pendidikan berpikir) saja sehingga wajar saja kalau pendidikan itu menghasilkan manusia skuler, manusia yang kosong/kering jiwanya, dan manusia yang tidak berbudaya.  Dengan adanya pendidikan humaniora diharapkan manusia Indonesia masa depan adalah manusia yang benar-benar utuh, yaitu manusia yang bukan saja berilmu tetapi juga berprilaku sebagai makhluk Tuhan yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, memiliki akhlak mulia, menghargai karya seni, memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang tinggi, memiliki identitas diri sebagai bangsa Indonesia, dan memiliki persepsi historis yang lengkap dan benar.
          Pendidikan humaniora sebagaimana pada definisi yang disampaikan oleh Zainal Arifin di atas, mencakup bidang-bidang keilmuan seperti teologi, filsafat, ilmu hukum, ilmu sejarah, filologi, ilmu bahasa, ilmu kesusastraan, dan ilmu kesenian. Dari definisi di atas juga telah jelas bahwa pendidikan humaniora bertujuan membuat manusia lebih berbudaya lagi sehingga humaniora sangat berperan dalam mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Khusus masalah peranan humaniora dalam mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan dapat kita lihat pada uraian berikut ini.   

2. Perananan Humaniora dalam Mengantisipasi Perkembangan Ilmu 
       Pengetahuan dan Teknologi (Iptek)

            Di atas telah dijelaskan bahwa pendidikan humaniora dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan kita karena kita tidak menginginkan pendidikan menghasilkan manusia ahli saja melainkan juga manusia utuh.  Produk pendidikan kita bukan hanya menjadi manusia yang hanya berpikir tetapi juga manusia berbudaya.  Jadi, tidak mustahil kalau nantinya ada sarjana teknik atau IPA tetapi dapat menikmati, bahkan kalau mungkin menciptakan, karya seni.  Ia menjadi sarjana dari berbagai disiplin ilmu tetapi berakhlak mulia, mencintai negara dan bangsanya, dan memahami sejarah bangsanya.  Bahkan, ia merasa bangga terlahir sebagai bangsa Indonesia dengan menunjukkan jatidirinya.  Untuk menghasilkan sarjana yang demikian, mutlak diperlukan adanya masukan dari mata kuliah -mata kuliah yang berhubungan erat dengan humaniora.
            Albert Einstein dalam sebuah ceramahnya di hadapan para mahasiswa California Institute of Technology mengatakan :
            Adalah tidak cukup bahwa kamu memahami ilmu agar pekerjaanmu akan meningkatkan berkah manusia.  Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtiar teknis, perhatian kepada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dari pengaturan kerja dan pemerataan benda—agar buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan terhadap kemanusiaan.  Janganlah kaulupakan hal ini di tengah tumpukan diagram dan persamaan.
(Jujun S.Sumantri, 1978: 249).    
Dari ceramah Einstein tersebut tersirat bahwa perhatian manusia bukan semata-mata terfokus pada perkembangan iptek  meskipun iptek dapat meningkatkan kesejahteraan manusia, tetapi juga manusia harus memperhatikan sesamanya dan lingkungan sekitarnya sehingga buah ciptaan manusia tidak  membawa kesengsaraan.  Artinya, Einstein mengajak pada kita semua agar kita benar-benar menjadi manusia utuh, yaitu manusia yang berpikir dan berbudaya karena pendidikan yang hanya menghasilkan manusia berpikir akan berakibat pada  penghacuran sesama manusia sekaligus perusakan seluruh isi alam semesta.    
             Berdasarkan ceramah Einstein tersebut juga ada pesan tersirat, yaitu diperlukannya masukan-masukan pengimbang yang dalam hal ini adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan humaniora. Dengan adanya ilmu-ilmu humaniora diharapkan perkembangan iptek akan dapat diantisipasi dengan baik.  Ilmu-ilmu humaniora diharapkan dapat mengantisipasi perkembangan iptek karena humaniora mengajak manusia untuk memahami lebih jauh lagi tentang jati dirinya yaitu sebagai makhluk pengabdi yang mau tidak mau juga harus berkeinginan  memperbaiki dirinya (reformasi) agar manusia itu bisa lebih manusiawi lagi. Untuk  membentuk manusia lebih manusiawi lagi tidak ada cara lain kecuali kita harus mempelajari ilmu-ilmu yang berhubungan dengan manusia (humaniora).
            Berkaitan dengan uraian di atas, kita dapat mengatakan perkembangan iptek yang tidak disertai dengan penanaman nilai-nilai humaniora akan berakibat pada penghancuran sesama manusia.  Kita tidak ingin dunia ini hancur-lebur karena ulah sebagian manusia yang tidak bisa mengendalikan perkembangan iptek.  Kita tidak ingin iptek yang demikian indahnya menjadi pembunuh sesama manusia.  Kita tidak ingin iptek yang banyak memberikan manfaat pada manusia pada masa damai menjadi mesin perusak akhlak manusia.  Agar tidak terjadi semua kerusakan yang diakibatkan oleh iptek sudah selayaknya kalau kita imbangi dengan ilmu-ilmu humaniora.  Humaniora yang bertujuan menciptakan manusia lebih manusiawi lagi setidak-tidaknya bisa mengerem manusia-manusia pelaku penemu iptek menjadi ilmuwan-ilmuwan yang manusiawi atau dengan bahasa agamanya ilmuwan berakhlak mulia.

3. Sekilas tentang Manusia

            Masalah manusia adalah masalah yang tidak pernah selesai-selesainya untuk dibicarakan karena objek yang dibicarakan adalah juga subjek yang membicarakannya (Karisma, 1985:iii). Dengan kata lain, baik yang dibicarakan maupun yang membicarakannya adalah sama, yaitu manusia itu sendiri.  Di sisi lain, membicarakan manusia adalah membicarakan makhluk Tuhan yang unik.  Ia dikatakan unik karena khusus makhluk Tuhan yang satu ini memang dikaruniakan Tuhan dengan memiliki banyak kelebihan bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain di dunia ini.  
               Manusia dikatakan makhluk unik karena hanya manusia di muka bumi ini yang mempersoalkan problematika kehidupannya.  Problematika kehidupan manusia sepanjang zaman di antaranya menyangkut tentang posisinya dalam papan catur kehidupan, posisinya terhadap alam dan Tuhannya, batas kehidupannya, yang harus dilakukan kepada sesamanya, tujuan diciptakannya manusia, hak dan kewajibannya setelah diciptakannya, dan keberadaan manusia sesudah mati.  Problematika itulah yang pada akhirnya melahirkan berbagai pandangan, aliran filsafat, aliran kepercayaan, dan agama.  Semua orang yang terlibat di dalamnya – yang berangkat dari berbagai sisi tersebut --  berusaha memberikan jawaban terhadap problema tersebut. Sebelum kita menjawab berbagai problematika kehidupan manusia yang selalu ada di sepanjang zaman, ada baiknya kita mendefinisikan dulu pengertian manusia.  
            Apa itu manusia?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut, coba kita simak puisi Chairil Anwar berikut ini.
DOA

                        Kepada Pemeluk Teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuh
aku tidak bisa berpaling

1943


Dari puisi di atas, jika dikaitkan dengan konsep manusia itu sendiri kita dapat merumuskan tentang pengertian manusia bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang dalam kondisi apapun jauh di hati sanubarinya masih ingat pada Tuhannya.
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh  
mengingat Kau penuh seluruh


Manusia selalu ingat dengan menyebut nama-Nya karena rahmat-Nya dalam hati manusia diibaratkan sebagai cahaya yang meneranginya. 
CayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi


Di sisi lain, hati manusia yang tidak pernah ingat pada Tuhannya dengan menyebut nama-Nya ia akan mengalami kebingungan, hatinya tidak tenteram, sebagai manusia ia tidak memiliki lagi kepribadian.  Dengan  kata lain, manusia yang jauh dari Tuhannya akan mengalami kehancuran kepribadian.
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk


Dalam kondisi demikian, tidak ada cara lagi baginya kecuali ia harus lari dari kenyataan hidup karena ia tidak mau menerima kondisi dirinya yang sudah tidak berbentuk lagi (yang tidak memiliki kepribadian).
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing


Kalau ada peribahasa yang mengatakan “Setinggi-tinggi terbang bangau hinggap di bubungan juga”  begitu juga yang terjadi pada diri semua  manusia.  Boleh-boleh saja ia pergi ke manapun (bahkan pergi atau lari dari kenyataan), tetapi harap diingat pada akhirnya manusia akan kembali kepada yang menciptakan dia.  Artinya, manusia yang masih menganggap bahwa dia makhluk Tuhan yang harus menyembah Sang Khalik  di kemudian hari ia akan mengetuk pintu rumah Tuhan dengan bertaubat dan berdo`a.
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


            Dari uraian di atas sebenarnya kita sudah bisa merumuskan sebuah definisi tentang manusia  yang sederhana sekalipun.  Namun, agar rumusan yang sudah ada di benak kita lebih pas lagi alangkah baiknya kalau kita melihat definisi yang dibuat oleh Abbas Mahmud El Aqqad. 
            Menurut beliau yang dimaksud dengan manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, yang diciptakan dengan sifat-sifat ketuhanan (Karisma, 1985:5). Dari definisi di atas, ada tiga hal penting yang perlu kita garis bawahi, yaitu (1) manusia sebagai ciptaan Tuhan, (2) manusia mempertanggungjawabkan segala hal yang telah dilakukannya, dan (3) manusia mempunyai sifat-sifat ketuhanan.
Dari analisis definisi di atas (setelah kita menentukan adanya tiga hal penting tersebut) jika dikaitkan dengan puisi di atas ada relevansinya terutama yang menyangkut manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan makhluk yang bertanggung jawab (lihat bait yang berbunyi: Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling).  Sementara itu,  yang belum tampak adalah sifat-sifat ketuhanan. Kalau ada pertanyaan: apakah manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan? maka jawabannya: ya, manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan.  Kita menjawab demikian karena manusia juga punya sifat rahman (pengasih) dan rahim (penyayang).  Tetapi, tidak semua sifat Tuhan dimiliki oleh manusia. Jika bisa dikatakan, manusia  memiliki sedikit sekali sifat-sifat ketuhanan. Seandainya ada, itupun tidak sesempurna sifat-sifat Tuhan. 

1.4. Manusia dan Kemanusiaan

            Di atas telah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan.  Karena itu, manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna kejadiannya.  Manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna kejadiannya karena dalam dirinya terdapat tiga unsur penting, yaitu unsur fisik (badan/tubuh), akal (intelektual), dan ruh (jiwa). Ketiga unsur tersebut satu sama lain memiliki keterikatan yang tidak bisa dipisahkan. Ketiga hal yang harus dipenuhi, yaitu fisik, akal, dan ruh.  Fisik dapat dipenuhi dengan makanan yang bersih, sehat, dan halal.  Di samping itu, juga diperlukan olah raga yang cukup.  Akal dapat dipenuhi dengan ilmu pengetahuan (dengan banyak belajar menuntut ilmu).  Sedangkan ruh dapat dipenuhi dengan banyak menyebut asma Tuhan (dzikir) dan berdo`a. 
            Jika ada manusia yang mementingkan fisik, sementara unsur akal dan ruh sangat kurang, maka manusia seperti itu tergolong idiot.  Begitu pula jika ada manusia yang mementingkan unsur fisik dan akal sementara ia melupakan untuk memenuhi kebutuhan ruhnya, ia akan  menjadi manusia yang skuler yang kering jiwanya.  Sebaliknya, jika ada manusia yang hanya mementingkan unsur akal dan ruh sementara ia tidak memperhatikan unsur fisiknya, ia akan  menjadi manusia yang lemah, manusia yang mudah dikalahkan oleh manusia lainnya.  Jadi, manusia paripurna adalah manusia yang memiliki tubuh yang kuat, akal yang sempurna, dan ruh/jiwa yang sehat. 
            Di atas disebutkan bahwa unsur ruh harus dipenuhi dengan kebutuhan akan dzikir dan do`a.  Selain itu, unsur ruh/jiwa juga bisa dipenuhi dengan seni/ estetika.  Tentu saja seni/estetika di sini adalah seni/estetika yang mendukung manusia untuk tunduk pada kekuasaan Tuhan bukan seni yang menjadikan manusia mengingkari kebesaran Tuhannya.  Menjadikan manusia lebih halus lagi (memanusiakan manusia agar lebih manusiawi lagi) sehingga ia tunduk pada kekuasaan Tuhan melalui seni sebagai mediatornya inilah hakikat sesungguhnya tujuan pendidikan humaniora.  
            Tujuan pendidikan humaniora sebagai mediator yang berperan dalam memanusiakan manusia akan membentuk dalam diri manusia sifat-sifat kemanusiaan.  Bukankah saat ini rasa kemanusiaan telah nyaris hilang dalam diri kita? Agar rasa kemanusiaan itu tidak hilang dari diri kita, kita harus memulainya dengan mengenal siapa kita sebenarnya.  Untuk mengenal diri sendiri, kita harus memulainya dengan mengetahui proses kejadian kita.  Dengan kita mengetahui proses kejadian kita, setidak-tidaknya kita akan tahu diri bahwa kita diciptakan Tuhan dari barang yang hina (saripati tanah yang dengan bahasa realitisnya:air mani/sperma). Setelah kita mengetahui asal-muasal kejadian kita, barulah kita bisa melakukan langkah-langkah kongkrit hal-hal yang perlu kita lakukan selama  hidup di dunia ini.  Langkah-langkah kongkrit yang kita lakukan tentu saja adalah langkah-langkah kemanusiaan yang diridhoi Tuhan. Jadi, misi utama kita, sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini, adalah berupaya  menjalankan hidup ini dengan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung tinggi.
            Nilai-nilai kemanusiaan yang manakah yang akan kita junjung tinggi selama hidup di dunia ini?  Nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung tinggi adalah nilai kemanusiaan yang bersifat universal.  Nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal di antaranya adalah nilai-nilai yang berisikan tentang keindahan, cinta kasih, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, kegelisahan, dan harapan.  Nilai-nilai kemanusiaan universal yang terurai di atas itu banyak ditemukan dalam kehidupan kita sehari-hari salah satu di antaranya dalam karya-karya seni (sastra).  Dengan kata lain, karya sastra sebagai mediator dalam menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan merupakan sumber kita untuk menggali nilai-nilai kemanusiaan yang universal itu. 
  
5. Karya Sastra dan Kemanusiaan

            Setiap kita dalam mengisi kehidupan kita  yang singkat ini berkewajiban menerapkan nilai-nilai kemanusiaan.  Penerapan nilai-nilai kemanusiaan bisa dilakukan melalui berbagai sarana/mediator.  Salah satu mediator yang dinilai efektif dalam menerapkan nilai-nilai kemanusiaan adalah karya sastra.  Karya sastra dijadikan sebagai mediator karena karya sastra yang bermutu sarat dengan muatan nilai-nilai kemanusiaan.  Karya sastra yang tidak/kurang memuat nilai-nilai kemanusiaan ia akan tergolong karya sastra kitsch (karya murahan). Tidak banyak yang kita harapkan dari karya-karya sastra yang tergolong kitsch karena karya-karya demikian tidak akan memberikan bimbingan dan pelajaran kepada pembacanya.  Justeru dengan membaca karya-karya seperti itu tidak mustahil pembacanya akan berperilaku tidak manusiawi.     
Kalau kita berbicara tentang karya sastra, terbayanglah di benak kita ada dua jenis karya sastra, yaitu karya fiksi dan nonfiksi.  Karya sastra yang berwujud karya fiksi kita mengenalnya dalam bentuk prosa dan puisi.  Sedangkan karya sastra dalam bentuk nonfiksi kita mengenalnya dalam bentuk esei, kritik sastra, dan studi/kajian sastra (termasuk ke dalamnya penelitian sastra, makalah yang membahas tentang sastra, dan skiripsi/tesis/disertasi yang objeknya sastra).  Tentang pengertian kedua jenis karya sastra di atas (karya fiksi dan nonfiksi) tampaknya tidak perlu kita bicarakan di sini karena pada Bab III akan dibahas hal-hal yang berada di seputar karya sastra (prosa dan puisi).
Karya sastra yang dijadikan objek dalam tulisan ini adalah karya sastra dalam bentuk fiksi (prosa dan puisi) karena nilai-nilai kemanusiaan dapat diketahui dari karya sastra jenis itu.  Selain itu, dengan kita menelaah sebuah karya fiksi kita bisa langsung berdialog tentang nilai-nilai kemanusiaan: entah nilai-nilai cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, pengabdian, kegelisahan, dan harapan.  Sebagai tambahan, karya-karya fiksi yang dijadikan objek pembahasan kita diutamakan adalah karya-karya fiksi yang diambil dari negara kita sendiri karena karya-karya sastra Indonesia telah banyak kita kenal.  Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan pada saat-saat tertentu kita juga bisa mengambil karya-karya sastra dari pengarang-pengarang dunia yang sudah banyak dikenal oleh kita semua.   

6.  Penutup

a.  Dalam rangka menciptakan manusia ahli dan utuh, manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan selain memerlukan pendidikan berpikir yang dapat memenuhi kebutuhan pikirnya juga memerlukan pendidikan humaniora.
b.    Dengan adanya pendidikan humaniora (pendidikan yang mengarah pada memanusiakan manusia), manusia diharapkan dapat membentuk dirinya sebagai sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, yaitu pengasih dan penyayang yang terealisasikan ketika peranannya dalam mengantisipasi perkembangan iptek.       
c.    Dalam diri manusia terdapat tiga unsur penting, yaitu unsur fisik (badan/ tubuh), unsur akal (intelektual),  dan unsur ruh (jiwa) yang ketiganya  adalah  ikatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan porsinya harus diberikan secara seimbang agar tidak terjadi unsur yang satu lebih banyak daripada unsur yang lain atau sebaliknya.

d.    Salah satu cara untuk memanusiakan manusia adalah melalui karya sastra karena karya sastra (prosa dan puisi) banyak memperkenalkan pada para pembacanya tentang nilai-nilai kemanusiaan yang menyangkut nilai-nilai cinta kasih, penderitaan,  keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, pengabdian, kegelisahan, dan harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...