HUMANIORA, IPTEK, DAN SASTRA
1. Sedikit tentang Humaniora
Setiap kita pasti tahu istilah humaniora karena istilah tersebut cukup akrab di telinga kita. Mendengar istilah humaniora terbayanglah di benak kita, istilah tersebut sangat dekat
hubungannya dengan kata humanus. Memang benar istilah humaniora dekat dengan kata humanus
karena istilah tersebut mempunyai
akar kata yang sama, yaitu homo yang
artinya `manusia`. Dari kata homo kita kemudian memperoleh daftar panjang, di antaranya kata humanus
`bersifat manusiawi`, `sesuai dengan kodrat manusia`, humanisme
`paham yang berlandaskan pada kemanusiaan` (Mangunhardjana, 1997:93), humanistarisme `gerakan sosial yang berlandaskan pada paham
humanisme` (Mangunhardjana, 1997:96), dan humaniora
`seperangkat sikap dan perilaku moral manusia terhadap sesamanya` (Liek
Wilardjo, 1990: 259). Boleh juga humaniora didefinisikan sebagai
ilmu-Ilmu pengetahuan (seperti teologi, filsafat, ilmu hukum, ilmu sejarah,
filologi, ilmu bahasa, ilmu kesusastraan, dan ilmu kesenian) yang dianggap
bertujuan membuat manusia lebih berbudaya (Zainal Arifin, 1987: 60).
Istilah humaniora sebenarnya bukan istilah baru dalam khasanah kosa kata bahasa Indonesia. Namun, istilah tersebut sempat mencuat ketika mendiang menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nugroho Notosusanto, pada tahun 1983 mencanangkannya. Beliau pada waktu itu memberikan pernyataan-pernyataan tentang pentingnya pendidikan berpikir dan humaniora dalam rangka membentuk manusia Indonesia yang tidak hanya menguasai ilmu dan teknologi semata-mata, tetapi juga manusia yang berbudaya dan berwatak (Kompas, 23 Maret 1983). Pernyataan itu mendapat sambutan baik dari berbagai kalangan masyarakat dan pendidik.
Serentetan pertanyaan akan muncul di
benak kita, mengapa humaniora perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan
kita? Apakah humaniora memegang peranan
penting dalam rangka membentuk perilaku manusia? Apa yang ingin dicapai dengan
humaniora? Bidang-bidang apa saja yang
termasuk ke dalam humaniora? Sebagai tambahan perlu juga diajukan di
sini:apakah peranan humaniora dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi? Secara terinci
pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita bahas.
Pendidikan humaniora dimasukkan ke
dalam kurikulum pendidikan kita karena kita tidak menginginkan manusia satu
dimensi, yaitu manusia ahli, melainkan juga manusia utuh (Kompas, 27 April 1983). Dari
pernyataan tersebut juga bisa muncul pertanyaan berikut, “apa itu manusia ahli
dan manusia utuh?” . Dimaksudkan dengan
manusia ahli di sini adalah manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi. Sedangkan manusia utuh adalah
manusia yang di samping menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi juga manusia
berbudaya yang beriman kepada Tuhan, berwatak luhur, menghargai karya seni bangsanya
sendiri, mempunyai identitas diri, dan mempunyai persepsi historis (Kompas, 27 Arpil 1983). Untuk itu, dalam rangka membentuk manusia
ahli dan utuh, dipandang perlu dimasukkannya bukan hanya pendidikan berpikir,
tetapi juga pendidikan humaniora.
Dengan melihat uraian di atas
tampaknya pertanyaan yang berhubungan dengan humaniora: apakah humaniora
memegang peranan penting dalam rangka membentuk perilaku manusia dan apa yang
ingin dicapai dengan pendidikan humaniora, sudah terjawab karena yang kita
inginkan dari pendidikan kita nantinya bukan hanya menjadi manusia ahli tetapi
juga manusia utuh. Di samping itu, dari
uraian di atas tersirat bahwa pendidikan kita, di Indonesia, selama ini tidak
mengenal pendidikan humaniora. Artinya,
anak didik di Indonesia lebih banyak dijejali ilmu yang mengarah pada pengisian
otak (pendidikan berpikir) saja sehingga wajar saja kalau pendidikan itu
menghasilkan manusia skuler, manusia yang kosong/kering jiwanya, dan manusia
yang tidak berbudaya. Dengan adanya
pendidikan humaniora diharapkan manusia Indonesia masa depan adalah manusia
yang benar-benar utuh, yaitu manusia yang bukan saja berilmu tetapi juga
berprilaku sebagai makhluk Tuhan yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama,
memiliki akhlak mulia, menghargai karya seni, memiliki kesadaran berbangsa dan
bernegara yang tinggi, memiliki identitas diri sebagai bangsa Indonesia, dan
memiliki persepsi historis yang lengkap dan benar.
Pendidikan humaniora sebagaimana pada
definisi yang disampaikan oleh Zainal Arifin di atas, mencakup bidang-bidang
keilmuan seperti teologi, filsafat, ilmu hukum, ilmu sejarah, filologi, ilmu
bahasa, ilmu kesusastraan, dan ilmu kesenian. Dari definisi di atas
juga telah jelas bahwa pendidikan humaniora bertujuan membuat manusia lebih berbudaya
lagi sehingga humaniora sangat berperan dalam mengantisipasi perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Khusus masalah peranan humaniora dalam
mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan dapat kita
lihat pada uraian berikut ini.
2. Perananan Humaniora dalam
Mengantisipasi Perkembangan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (Iptek)
Di atas telah dijelaskan bahwa
pendidikan humaniora dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan kita karena kita
tidak menginginkan pendidikan menghasilkan manusia ahli saja melainkan juga
manusia utuh. Produk pendidikan kita
bukan hanya menjadi manusia yang hanya berpikir tetapi juga manusia
berbudaya. Jadi, tidak mustahil kalau
nantinya ada sarjana teknik atau IPA tetapi dapat menikmati, bahkan kalau
mungkin menciptakan, karya seni. Ia
menjadi sarjana dari berbagai disiplin ilmu tetapi berakhlak mulia, mencintai
negara dan bangsanya, dan memahami sejarah bangsanya. Bahkan, ia merasa bangga terlahir sebagai
bangsa Indonesia dengan menunjukkan jatidirinya. Untuk menghasilkan sarjana yang demikian,
mutlak diperlukan adanya masukan dari mata kuliah -mata kuliah yang berhubungan
erat dengan humaniora.
Albert Einstein dalam sebuah
ceramahnya di hadapan para mahasiswa California
Institute of Technology mengatakan :
Adalah
tidak cukup bahwa kamu memahami ilmu agar pekerjaanmu akan meningkatkan berkah
manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu
merupakan minat utama dari semua ikhtiar teknis, perhatian kepada masalah besar
yang tak kunjung terpecahkan dari pengaturan kerja dan pemerataan benda—agar
buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan bukan kutukan
terhadap kemanusiaan. Janganlah
kaulupakan hal ini di tengah tumpukan diagram dan persamaan.
(Jujun
S.Sumantri, 1978: 249).
Dari
ceramah Einstein tersebut tersirat bahwa perhatian manusia bukan semata-mata
terfokus pada perkembangan iptek
meskipun iptek dapat meningkatkan kesejahteraan manusia, tetapi juga
manusia harus memperhatikan sesamanya dan lingkungan sekitarnya sehingga buah
ciptaan manusia tidak membawa
kesengsaraan. Artinya, Einstein mengajak
pada kita semua agar kita benar-benar menjadi manusia utuh, yaitu manusia yang
berpikir dan berbudaya karena pendidikan yang hanya menghasilkan manusia
berpikir akan berakibat pada penghacuran
sesama manusia sekaligus perusakan seluruh isi alam semesta.
Berdasarkan ceramah Einstein tersebut juga ada
pesan tersirat, yaitu diperlukannya masukan-masukan pengimbang yang dalam hal
ini adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan humaniora. Dengan adanya ilmu-ilmu
humaniora diharapkan perkembangan iptek akan dapat diantisipasi dengan
baik. Ilmu-ilmu humaniora diharapkan
dapat mengantisipasi perkembangan iptek karena humaniora mengajak manusia untuk
memahami lebih jauh lagi tentang jati dirinya yaitu sebagai makhluk pengabdi
yang mau tidak mau juga harus berkeinginan
memperbaiki dirinya (reformasi) agar manusia itu bisa lebih manusiawi
lagi. Untuk membentuk manusia lebih
manusiawi lagi tidak ada cara lain kecuali kita harus mempelajari ilmu-ilmu
yang berhubungan dengan manusia (humaniora).
Berkaitan dengan uraian di atas,
kita dapat mengatakan perkembangan iptek yang tidak disertai dengan penanaman
nilai-nilai humaniora akan berakibat pada penghancuran sesama manusia. Kita tidak ingin dunia ini hancur-lebur
karena ulah sebagian manusia yang tidak bisa mengendalikan perkembangan
iptek. Kita tidak ingin iptek yang
demikian indahnya menjadi pembunuh sesama manusia. Kita tidak ingin iptek yang banyak memberikan
manfaat pada manusia pada masa damai menjadi mesin perusak akhlak manusia. Agar tidak terjadi semua kerusakan yang
diakibatkan oleh iptek sudah selayaknya kalau kita imbangi dengan ilmu-ilmu
humaniora. Humaniora yang bertujuan
menciptakan manusia lebih manusiawi lagi setidak-tidaknya bisa mengerem
manusia-manusia pelaku penemu iptek menjadi ilmuwan-ilmuwan yang manusiawi atau
dengan bahasa agamanya ilmuwan berakhlak mulia.
3. Sekilas tentang Manusia
Masalah manusia adalah masalah yang
tidak pernah selesai-selesainya untuk dibicarakan karena objek yang dibicarakan
adalah juga subjek yang membicarakannya (Karisma, 1985:iii). Dengan kata lain,
baik yang dibicarakan maupun yang membicarakannya adalah sama, yaitu manusia
itu sendiri. Di sisi lain, membicarakan
manusia adalah membicarakan makhluk Tuhan yang unik. Ia dikatakan unik karena khusus makhluk Tuhan
yang satu ini memang dikaruniakan Tuhan dengan memiliki banyak kelebihan bila
dibandingkan dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain di dunia ini.
Manusia dikatakan makhluk unik karena hanya manusia di muka bumi ini
yang mempersoalkan problematika kehidupannya.
Problematika kehidupan manusia sepanjang zaman di antaranya menyangkut
tentang posisinya dalam papan catur kehidupan, posisinya terhadap alam dan
Tuhannya, batas kehidupannya, yang harus dilakukan kepada sesamanya, tujuan
diciptakannya manusia, hak dan kewajibannya setelah diciptakannya, dan
keberadaan manusia sesudah mati.
Problematika itulah yang pada akhirnya melahirkan berbagai pandangan,
aliran filsafat, aliran kepercayaan, dan agama.
Semua orang yang terlibat di dalamnya – yang berangkat dari berbagai
sisi tersebut -- berusaha memberikan
jawaban terhadap problema tersebut. Sebelum kita menjawab berbagai problematika
kehidupan manusia yang selalu ada di sepanjang zaman, ada baiknya kita
mendefinisikan dulu pengertian manusia.
Apa itu manusia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, coba kita
simak puisi Chairil Anwar berikut ini.
DOA
Kepada Pemeluk Teguh
Tuhanku
Dalam
termangu
Aku
masih menyebut namaMu
Biar
susah sungguh
mengingat
Kau penuh seluruh
cayaMu
panas suci
tinggal
kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku
hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku
mengembara di negeri asing
Tuhanku
di
pintuMu aku mengetuh
aku
tidak bisa berpaling
1943
Dari
puisi di atas, jika dikaitkan dengan konsep manusia itu sendiri kita dapat
merumuskan tentang pengertian manusia bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang
dalam kondisi apapun jauh di hati sanubarinya masih ingat pada Tuhannya.
Tuhanku
Dalam
termangu
Aku
masih menyebut namaMu
Biar
susah sungguh
mengingat
Kau penuh seluruh
Manusia
selalu ingat dengan menyebut nama-Nya karena rahmat-Nya dalam hati manusia
diibaratkan sebagai cahaya yang meneranginya.
CayaMu
panas suci
tinggal
kerdip lilin di kelam sunyi
Di
sisi lain, hati manusia yang tidak pernah ingat pada Tuhannya dengan menyebut
nama-Nya ia akan mengalami kebingungan, hatinya tidak tenteram, sebagai manusia
ia tidak memiliki lagi kepribadian.
Dengan kata lain, manusia yang
jauh dari Tuhannya akan mengalami kehancuran kepribadian.
Tuhanku
aku
hilang bentuk
remuk
Dalam
kondisi demikian, tidak ada cara lagi baginya kecuali ia harus lari dari
kenyataan hidup karena ia tidak mau menerima kondisi dirinya yang sudah tidak
berbentuk lagi (yang tidak memiliki kepribadian).
Tuhanku
aku
mengembara di negeri asing
Kalau
ada peribahasa yang mengatakan “Setinggi-tinggi terbang bangau hinggap di
bubungan juga” begitu juga yang terjadi
pada diri semua manusia. Boleh-boleh saja ia pergi ke manapun (bahkan
pergi atau lari dari kenyataan), tetapi harap diingat pada akhirnya manusia
akan kembali kepada yang menciptakan dia.
Artinya, manusia yang masih menganggap bahwa dia makhluk Tuhan yang
harus menyembah Sang Khalik di kemudian
hari ia akan mengetuk pintu rumah Tuhan dengan bertaubat dan berdo`a.
Tuhanku
di
pintuMu aku mengetuk
aku
tidak bisa berpaling
Dari uraian di atas sebenarnya kita
sudah bisa merumuskan sebuah definisi tentang manusia yang sederhana sekalipun. Namun, agar rumusan yang sudah ada di benak
kita lebih pas lagi alangkah baiknya kalau kita melihat definisi yang dibuat
oleh Abbas Mahmud El Aqqad.
Menurut beliau yang dimaksud dengan
manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, yang diciptakan dengan
sifat-sifat ketuhanan (Karisma, 1985:5). Dari definisi di atas, ada tiga hal
penting yang perlu kita garis bawahi, yaitu (1) manusia sebagai ciptaan Tuhan,
(2) manusia mempertanggungjawabkan segala hal yang telah dilakukannya, dan (3)
manusia mempunyai sifat-sifat ketuhanan.
Dari
analisis definisi di atas (setelah kita menentukan adanya tiga hal penting
tersebut) jika dikaitkan dengan puisi di atas ada relevansinya terutama yang
menyangkut manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan makhluk yang bertanggung
jawab (lihat bait yang berbunyi: Tuhanku/di
pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling). Sementara itu, yang belum tampak adalah sifat-sifat
ketuhanan. Kalau ada pertanyaan: apakah manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan?
maka jawabannya: ya, manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan. Kita menjawab demikian karena manusia juga
punya sifat rahman (pengasih) dan rahim (penyayang). Tetapi, tidak semua sifat Tuhan dimiliki oleh
manusia. Jika bisa dikatakan, manusia
memiliki sedikit sekali sifat-sifat ketuhanan. Seandainya ada, itupun
tidak sesempurna sifat-sifat Tuhan.
1.4. Manusia dan Kemanusiaan
Di
atas telah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan. Karena itu, manusia diciptakan Tuhan sebagai
makhluk Tuhan yang paling sempurna kejadiannya.
Manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna kejadiannya
karena dalam dirinya terdapat tiga unsur penting, yaitu unsur fisik
(badan/tubuh), akal (intelektual), dan ruh (jiwa). Ketiga unsur tersebut satu
sama lain memiliki keterikatan yang tidak bisa dipisahkan. Ketiga hal yang
harus dipenuhi, yaitu fisik, akal, dan ruh.
Fisik dapat dipenuhi dengan makanan yang bersih, sehat, dan halal. Di samping itu, juga diperlukan olah raga
yang cukup. Akal dapat dipenuhi dengan
ilmu pengetahuan (dengan banyak belajar menuntut ilmu). Sedangkan ruh dapat dipenuhi dengan banyak
menyebut asma Tuhan (dzikir) dan berdo`a.
Jika ada manusia yang mementingkan
fisik, sementara unsur akal dan ruh sangat kurang, maka manusia seperti itu
tergolong idiot. Begitu pula jika ada
manusia yang mementingkan unsur fisik dan akal sementara ia melupakan untuk
memenuhi kebutuhan ruhnya, ia akan
menjadi manusia yang skuler yang kering jiwanya. Sebaliknya, jika ada manusia yang hanya
mementingkan unsur akal dan ruh sementara ia tidak memperhatikan unsur
fisiknya, ia akan menjadi manusia yang
lemah, manusia yang mudah dikalahkan oleh manusia lainnya. Jadi, manusia paripurna adalah manusia yang
memiliki tubuh yang kuat, akal yang sempurna, dan ruh/jiwa yang sehat.
Di atas disebutkan bahwa unsur ruh
harus dipenuhi dengan kebutuhan akan dzikir dan do`a. Selain itu, unsur ruh/jiwa juga bisa dipenuhi
dengan seni/ estetika. Tentu saja
seni/estetika di sini adalah seni/estetika yang mendukung manusia untuk tunduk
pada kekuasaan Tuhan bukan seni yang menjadikan manusia mengingkari kebesaran
Tuhannya. Menjadikan manusia lebih halus
lagi (memanusiakan manusia agar lebih manusiawi lagi) sehingga ia tunduk pada
kekuasaan Tuhan melalui seni sebagai mediatornya inilah hakikat sesungguhnya
tujuan pendidikan humaniora.
Tujuan pendidikan humaniora sebagai
mediator yang berperan dalam memanusiakan manusia akan membentuk dalam diri
manusia sifat-sifat kemanusiaan.
Bukankah saat ini rasa kemanusiaan telah nyaris hilang dalam diri kita?
Agar rasa kemanusiaan itu tidak hilang dari diri kita, kita harus memulainya
dengan mengenal siapa kita sebenarnya.
Untuk mengenal diri sendiri, kita harus memulainya dengan mengetahui
proses kejadian kita. Dengan kita
mengetahui proses kejadian kita, setidak-tidaknya kita akan tahu diri bahwa
kita diciptakan Tuhan dari barang yang hina (saripati tanah yang dengan bahasa
realitisnya:air mani/sperma). Setelah kita mengetahui asal-muasal kejadian
kita, barulah kita bisa melakukan langkah-langkah kongkrit hal-hal yang perlu
kita lakukan selama hidup di dunia
ini. Langkah-langkah kongkrit yang kita
lakukan tentu saja adalah langkah-langkah kemanusiaan yang diridhoi Tuhan.
Jadi, misi utama kita, sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan manusia di muka
bumi ini, adalah berupaya menjalankan
hidup ini dengan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung tinggi.
Nilai-nilai kemanusiaan yang manakah
yang akan kita junjung tinggi selama hidup di dunia ini? Nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung
tinggi adalah nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat
universal di antaranya adalah nilai-nilai yang berisikan tentang keindahan,
cinta kasih, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab,
kegelisahan, dan harapan. Nilai-nilai
kemanusiaan universal yang terurai di atas itu banyak ditemukan dalam kehidupan
kita sehari-hari salah satu di antaranya dalam karya-karya seni (sastra). Dengan kata lain, karya sastra sebagai
mediator dalam menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan merupakan sumber kita untuk
menggali nilai-nilai kemanusiaan yang universal itu.
5. Karya Sastra dan Kemanusiaan
Setiap kita dalam mengisi kehidupan
kita yang singkat ini berkewajiban
menerapkan nilai-nilai kemanusiaan.
Penerapan nilai-nilai kemanusiaan bisa dilakukan melalui berbagai
sarana/mediator. Salah satu mediator
yang dinilai efektif dalam menerapkan nilai-nilai kemanusiaan adalah karya
sastra. Karya sastra dijadikan sebagai
mediator karena karya sastra yang bermutu sarat dengan muatan nilai-nilai
kemanusiaan. Karya sastra yang tidak/kurang
memuat nilai-nilai kemanusiaan ia akan tergolong karya sastra kitsch (karya murahan). Tidak banyak
yang kita harapkan dari karya-karya sastra yang tergolong kitsch karena karya-karya demikian tidak akan memberikan bimbingan
dan pelajaran kepada pembacanya. Justeru
dengan membaca karya-karya seperti itu tidak mustahil pembacanya akan
berperilaku tidak manusiawi.
Kalau
kita berbicara tentang karya sastra, terbayanglah di benak kita ada dua jenis
karya sastra, yaitu karya fiksi dan nonfiksi.
Karya sastra yang berwujud karya fiksi kita mengenalnya dalam bentuk
prosa dan puisi. Sedangkan karya sastra
dalam bentuk nonfiksi kita mengenalnya dalam bentuk esei, kritik sastra, dan
studi/kajian sastra (termasuk ke dalamnya penelitian sastra, makalah yang
membahas tentang sastra, dan skiripsi/tesis/disertasi yang objeknya
sastra). Tentang pengertian kedua jenis
karya sastra di atas (karya fiksi dan nonfiksi) tampaknya tidak perlu kita
bicarakan di sini karena pada Bab III akan dibahas hal-hal yang berada di
seputar karya sastra (prosa dan puisi).
Karya
sastra yang dijadikan objek dalam tulisan ini adalah karya sastra dalam bentuk
fiksi (prosa dan puisi) karena nilai-nilai kemanusiaan dapat diketahui dari
karya sastra jenis itu. Selain itu,
dengan kita menelaah sebuah karya fiksi kita bisa langsung berdialog tentang
nilai-nilai kemanusiaan: entah nilai-nilai cinta kasih, keindahan, penderitaan,
keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, pengabdian, kegelisahan, dan
harapan. Sebagai tambahan, karya-karya
fiksi yang dijadikan objek pembahasan kita diutamakan adalah karya-karya fiksi
yang diambil dari negara kita sendiri karena karya-karya sastra Indonesia telah
banyak kita kenal. Meskipun demikian,
tidak menutup kemungkinan pada saat-saat tertentu kita juga bisa mengambil
karya-karya sastra dari pengarang-pengarang dunia yang sudah banyak dikenal
oleh kita semua.
6. Penutup
a. Dalam rangka menciptakan manusia ahli
dan utuh, manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan selain memerlukan pendidikan
berpikir yang dapat memenuhi kebutuhan pikirnya juga memerlukan pendidikan
humaniora.
b.
Dengan adanya pendidikan humaniora
(pendidikan yang mengarah pada memanusiakan manusia), manusia diharapkan dapat
membentuk dirinya sebagai sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki
sifat-sifat ketuhanan, yaitu pengasih dan penyayang yang terealisasikan ketika
peranannya dalam mengantisipasi perkembangan iptek.
c.
Dalam diri manusia terdapat tiga unsur
penting, yaitu unsur fisik (badan/ tubuh), unsur akal (intelektual), dan unsur ruh (jiwa) yang ketiganya adalah
ikatan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan porsinya harus
diberikan secara seimbang agar tidak terjadi unsur yang satu lebih banyak
daripada unsur yang lain atau sebaliknya.
d.
Salah satu cara untuk memanusiakan
manusia adalah melalui karya sastra karena karya sastra (prosa dan puisi)
banyak memperkenalkan pada para pembacanya tentang nilai-nilai kemanusiaan yang
menyangkut nilai-nilai cinta kasih, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab,
pengabdian, kegelisahan, dan harapan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar