Selasa, 24 Desember 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (22)

PELANGGARAN HAM DALAM SOROTAN SASTRAWAN

Subagio S. Waluyo

/1/

Untuk kesekian kalinya terjadi lagi pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) di negara kita. Entah berapa kali lagi peristiwa pelanggaran HAM akan terjadi lagi di negara yang kita cintai ini. Kita berharap, semua orang yang mempunyai hati nurani pun berharap, agar peristiwa yang mengenaskan, yang memakan korban manusia yang tidak sedikit, yang melecehkan hak-hak yang paling mendasar dalam hidup manusia dan kemanusiaan tidak terulang lagi. Meskipun demikian, tampaknya di masa reformasi ini, peristiwa yang pernah terjadi di masa-masa Orde Baru terulang kembali. Mengapa di masa-masa setiap orang sudah demikian bebas menyatakan euphoria-nya masih saja ada segelintir orang diselimuti tabir ketakutan dengan teror-teror ninja, bentrokan antaragama yang memakan korban manusia tak terhitung jumlahnya, tindakan sewenang-wenang aparat militer yang membunuh bangsanya sendiri, demonstrasi mahasiswa yang diterjang nyawanya oleh rentetan timah-timah panas, dan ditampilkannya di hadapan kita badut-badut politik produk Orde Baru yang yang mengulang kembali perilaku Orde dengan bermain dagelan di lembaga terhormat (KPU dan mungkin juga DPR/MPR) di negara ini? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut berpulang pada masih adanya pelecehan HAM di negara ini.

Minggu, 15 Desember 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (21)

Di Seputar Prosa  dan Puisi

Subagio S.Waluyo


          /a/
  Secara sederhana yang dimaksudkan dengan prosa dalam KBBI ialah  karangan bebas, maksudnya tidak terikat oleh kaidah yang terdapat pada puisi  (1999:790).    Tampaknya, definisi yang tercantum dalam  KBBI belum memuaskan kita dalam menentukan  jawaban yang tepat tentang prosa karena hanya  dibedakan dengan pernyataan  “… tidak terikat oleh kaidah yang terdapat pada  puisi.”  Untuk itu, kita lihat pendapat lain, yaitu pendapat Abdul Rozak Zaidan  yang mendefinisikan prosa sebagai jenis karya sastra yang dibedakan dari puisi  karena tidak terikat oleh kaidah puitika.  Selain itu, prosa lebih cenderung  memakai bahasa sehari-hari.  Prosa itu sendiri ada juga yang disebut prosa  puitis atau prosa lirik dan sajak prosa atau prosa berirama (1994:157).  Yang menjadi pertanyaan, prosa lirik dan prosa berirama tergolong puisi atau prosa?  Coba saja kita simak sebait prosa lirik berikut ini.    

Rabu, 11 Desember 2013

Artikel Agama (19)

DIMANA-MANA SELALU DISIPLIN



Tabrakan kereta api (KA) dengan truk tanki BBM Pertamina yang terjadi 9 Desember 2013, di Bintaro, Jakarta yang memakan korban meninggal dan puluhan luka-luka kalau diteliti lebih jauh lebih disebabkan oleh ketidakadanya kedisiplinan. Dimulai dari supir tanki minyak BBM Pertamina yang tidak disiplin, yang dengan seenaknya menyeberangi pintu pelintasan KA sehingga terjadi tabrakan truk tanki minyak BBM Pertamina dengan lokomotif. Akhirnya, lokomotif dan gerbong KA terbakar dan memakan korban. Kalau saja supir tanki BBM Pertamina itu mau disiplin sangat dimungkinkan tidak terjadi musibah tersebut. Di negara ini sekian banyak musibah yang terjadi di jalan raya lebih disebabkan oleh tidak tegaknya disiplin. Masyarakat negara ini memang cenderung mengabaikan sebuah kata bernama `disiplin`.

Artikel Agama (18)

MENGELOLA WAKTU



“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran” (Surat Al-Asr : 1—3).

Banyak orang yang tahu, bahkan paham, isi yang terkandung dalam Surat Al-Asr yang tercantum di atas. Tetapi, mengapa masih banyak (sebagian besar) orang yang tergolong merugi? Artinya, orang-orang yang diberi umur panjang oleh Allah SWT tapi selama hidup di dunia tidak/kurang memberikan manfaat buat sesamanya. Timbul pertanyaan, bagaimana dengan orang-orang yang disebut sukarelawan yang telah mendarmabaktikan hampir seluruh hidupnya untuk menolong sesama manusia? Sepanjang dia beriman pada Allah tentu saja dia termasuk orang yang tidak merugi. Sebaliknya, kalau yang dia lakukan tidak dilandasi iman pada Allah SWT akan sia-sia saja apapun yang dia lakukan. Karena itu, sukarelawan sejati sebenarnya adalah orang-orang yang bekerja demi kemanusiaan tapi semua yang dia lakukan dilandasi iman pada Allah SWT.

Artikel Agama (17)

MENGKRANGKENG NAFSU



Nafsu dalam diri manusia seperti orang gila. Nafsu akan selalu memprovokasi manusia untuk melakukan  keburukan. Nafsu itu bagi seorang Muslim harus ditundukkan. Nafsu harus dikrangkeng dengan vonis selamanya. Jadi, tidak ada remisi atau keringanan hukuman buat yang namanya nafsu. Tetapi, nafsu suatu saat bisa menghirup udara bebas manakala manusia yang punya nafsu lalai. Bahkan, tidak mustahil nafsu saking kuatnya bisa berkuasa dan mengendalikan manusia. Untuk itu, ada manusia yang sepanjang hidupnya tidak berhasil mengkrangkeng nafsu.

All You Need is Love (09)


REGULASI DIRI (4)


Subagio S.Waluyo 
/1/
Abu Lubabah  bin Mundzir salah seorang sahabat Nabi suatu kali mendapat amanah dari Rasulullah untuk menemuni Bani Quraidzhah dari kalangan Yahudi. Amanah yang diberikan Rasulullah disebabkan oleh permintaan dari Bani Quraidzah agar mengutus Abu Lubabah. Meskipun Rasulullah mengutus Abu Lubabah, yang mengambil keputusan pada mereka tetap Sa`ad bin Muadz. Tetapi, entah kenapa ketika mereka bertanya tentang ketundukannya pada Sa`ad bin Muadz, Abu Lubabah memberikan jawaban dengan tangannya yang diletakkan ke lehernya yang artinya mereka akan disembelih. Atau dia menyuruh mereka agar tidak mau menerima putusan Sa`id bin Muadz. Menyadari akan kesalahan perbuatannya bahwa dia merasa berikhianat pada Allah dan Rasul-Nya, Abu Lubabah kemudian pergi ke mesjid dan mengikatkan dirinya di salah satu tiang masjid. Selama tujuh hari dia tidak makan dan minum sehingga tidak sadarkan diri. Kemudian Allah SWT mengampuni kesalahannya dengan memerintahkannya untuk melepaskan ikatannya. Sebagai orang yang merasa bersalah Abu Lubabah bersedia meninggalkan kampung halamannya. Bahkan, bukan hanya itu, dia juga berkeinginan untuk menyerahkan seluruh kekayaannya untuk kepentingan umat. Meskipun demikian, Rasulullah SAW hanya mengizinkan dia menyerahkan sepertiga dari kekayaannya.  

Artikel Agama (16)


BERUSAHA MANDIRI




Seorang yang mengaku Muslim harus punya penghasilan bukan pendapatan. Kalau penghasilan jelas-jelas dari hasil `memeras keringat` (bekerja atau berbisnis). Sementara itu, kalau pendapatan bukan dari hasil bekerja atau berbisnis, tetapi dari hasil minta-minta (walaupun biar dianggap keren pakai proposal). Memang, kalau ditanya orang pasti disebutkan berapa pendapatannya sebulan bukan penghasilannya. Sebaiknya, diusulkan saja mulai saat ini diganti dengan berapa besar penghasilannya perbulan. Meskipun demikian, yang perlu ditekankan di sini seorang Muslim yang baik adalah orang yang sudah memiliki kemandirian. Dia tidak tergantung pada orang lain.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...