BERUSAHA MANDIRI
Seorang yang mengaku Muslim harus punya penghasilan
bukan pendapatan. Kalau penghasilan jelas-jelas dari hasil `memeras keringat`
(bekerja atau berbisnis). Sementara itu, kalau pendapatan bukan dari hasil
bekerja atau berbisnis, tetapi dari hasil minta-minta (walaupun biar dianggap
keren pakai proposal). Memang, kalau ditanya orang pasti disebutkan berapa
pendapatannya sebulan bukan penghasilannya. Sebaiknya, diusulkan saja mulai
saat ini diganti dengan berapa besar penghasilannya perbulan. Meskipun demikian,
yang perlu ditekankan di sini seorang Muslim yang baik adalah orang yang sudah
memiliki kemandirian. Dia tidak tergantung pada orang lain.
Dalam menjalani kehidupannya seorang Muslim yang baik
punya harga diri karena mampu menghidupi baik dirinya maupun keluarganya
melalui bekerja atau berbisnis. Dia sangat mengimani firman Allah yang terdapat
dalam Al-Qur`an, Surat At-Taubah: 105 yang memerintahkan untuk bekerja karena
baik Allah, Rasul-Nya, maupun orang-orang beriman melihat pekerjaannya. Selain
itu, dia juga berpegang teguh pada pernyataan
Rasulullah SAW bahwa tidak ada makanan yang lebih baik bagi seseorang kecuali
makanan yang diperoleh dari hasil pekerjaan tangannya sendiri. Dia memang
berdo`a tapi dia tidak mau mengandalkan hanya do`a tanpa ada usaha. Sekali lagi,
di luar do`a dia juga tunjukkan pada orang-orang di sekitarnya (bukan riya) bahwa dia punya kemampuan untuk
mencari nafkah.
Salah satu tanda keimanan bagi seorang Muslim bisa
ditunjukkan pada kemampuannya untuk menafkahi hidupmya (apalagi kalau termasuk
menafkahi keluarganya). Untuk itu, seorang Muslim yang baik adalah pekerja
keras dan amanah. Dia pekerja keras (mungkin saja mendekati workaholic `gila kerja) karena sebagai
seorang Muslim yang baik dalam bekerja memang harus ada kesungguhan. Dia harus
serius dan berprestasi walaupun tidak mengharapkan prestise. Dia pekerja yang amanah
karena benar-benar berupaya menjaga kejujuran. Bukankah kejujuran itu kata
orang adalah `mata uang yang berlaku di mana-mana?` Pekerja seperti ini tidak
perlu terlalu cerdas (kalau memang ada juga boleh-boleh saja) tetapi tetap
menjaga kebersihan hati. Pekerja seperti ini yang sangat diperlukan di negara
yang ingin mewujudkan baldatun
thoyyibatun wa robbun ghofur (negara yang baik dan penuh dengan ampunan Allah).
Kalau berbisnis, dia benar-benar bisa menunjukkan
pebisnis yang ulet dan amanah (ini penting karena banyak pebisnis yang mengaku
Muslim tapi `culas`). Dia pebisnis ulet karena dalam menjalankan usahanya pasti
banyak mengalami `jatuh bangun`. Buat orang seperti ini sudah biasa kalau suatu
saat mengalami kebangkrutan atau sebaliknya, untung besar. Dia pebisnis yang
amanah karena dalam usahanya dilandasi keimanan sehingga tidak ada terbesit
sedikit pun di benaknya untuk berbuat curang. Orang seperti ini jauh dari mempraktekkan
cara-cara orang kapitalis berbisnis. Dia sadar bahwa berbisnis ala kapitalis
telah menghancurkan sistem ekonomi dunia sehingga tampak jelas adanya kelas
pengusaha sebagai pemilik modal yang semena-mena terhadap pekerja. Bahkan,
lebih jauh dari itu dunia kapitalis telah memeras negara-negara yang kaya akan
sumber daya alam (SDA) tapi miskin SDM, seperti Indonesia, sehingga kekayaan
SDA-nya dikuasai dan SDM-nya dibiarkan terbelakang kompetensinya. Agar tidak
jadi bulan-bulanan negara-negara kapitalis anak bangsa ini harus bisa mandiri.
Berusaha mandiri harus dijadikan falsapah hidup
seorang Muslim. Kalau sudah dijadikan falsapah dia akan memiliki etos kerja
atau etos usaha. Dia akan menjauhkan diri dari meminta-minta karena perilaku
seperti itu jelas menunjukkan kelemahan. Dia harus punya harga diri. Untuk itu,
dia harus tunjukkan pada dunia bahwa dia sanggup berusaha mandiri. Kalau dulu
memang pernah punya pendapatan, sekarang dia punya penghasilan. Manusia Muslim
seperti inilah yang layak ditiru dan dijadikan panutan karena dia telah
menunjukkan diri sebagai orang yang punya etos kerja dan usaha. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar