Rabu, 11 Desember 2013

Artikel Agama (16)


BERUSAHA MANDIRI




Seorang yang mengaku Muslim harus punya penghasilan bukan pendapatan. Kalau penghasilan jelas-jelas dari hasil `memeras keringat` (bekerja atau berbisnis). Sementara itu, kalau pendapatan bukan dari hasil bekerja atau berbisnis, tetapi dari hasil minta-minta (walaupun biar dianggap keren pakai proposal). Memang, kalau ditanya orang pasti disebutkan berapa pendapatannya sebulan bukan penghasilannya. Sebaiknya, diusulkan saja mulai saat ini diganti dengan berapa besar penghasilannya perbulan. Meskipun demikian, yang perlu ditekankan di sini seorang Muslim yang baik adalah orang yang sudah memiliki kemandirian. Dia tidak tergantung pada orang lain.

Dalam menjalani kehidupannya seorang Muslim yang baik punya harga diri karena mampu menghidupi baik dirinya maupun keluarganya melalui bekerja atau berbisnis. Dia sangat mengimani firman Allah yang terdapat dalam Al-Qur`an, Surat At-Taubah: 105 yang memerintahkan untuk bekerja karena baik Allah, Rasul-Nya, maupun orang-orang beriman melihat pekerjaannya. Selain itu, dia  juga berpegang teguh pada pernyataan Rasulullah SAW bahwa tidak ada makanan yang lebih baik bagi seseorang kecuali makanan yang diperoleh dari hasil pekerjaan tangannya sendiri. Dia memang berdo`a tapi dia tidak mau mengandalkan hanya do`a tanpa ada usaha. Sekali lagi, di luar do`a dia juga tunjukkan pada orang-orang di sekitarnya (bukan riya) bahwa dia punya kemampuan untuk mencari nafkah.

Salah satu tanda keimanan bagi seorang Muslim bisa ditunjukkan pada kemampuannya untuk menafkahi hidupmya (apalagi kalau termasuk menafkahi keluarganya). Untuk itu, seorang Muslim yang baik adalah pekerja keras dan amanah. Dia pekerja keras (mungkin saja mendekati workaholic `gila kerja) karena sebagai seorang Muslim yang baik dalam bekerja memang harus ada kesungguhan. Dia harus serius dan berprestasi walaupun tidak mengharapkan prestise. Dia pekerja yang amanah karena benar-benar berupaya menjaga kejujuran. Bukankah kejujuran itu kata orang adalah `mata uang yang berlaku di mana-mana?` Pekerja seperti ini tidak perlu terlalu cerdas (kalau memang ada juga boleh-boleh saja) tetapi tetap menjaga kebersihan hati. Pekerja seperti ini yang sangat diperlukan di negara yang ingin mewujudkan baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negara yang baik dan penuh dengan ampunan Allah).   

Kalau berbisnis, dia benar-benar bisa menunjukkan pebisnis yang ulet dan amanah (ini penting karena banyak pebisnis yang mengaku Muslim tapi `culas`). Dia pebisnis ulet karena dalam menjalankan usahanya pasti banyak mengalami `jatuh bangun`. Buat orang seperti ini sudah biasa kalau suatu saat mengalami kebangkrutan atau sebaliknya, untung besar. Dia pebisnis yang amanah karena dalam usahanya dilandasi keimanan sehingga tidak ada terbesit sedikit pun di benaknya untuk berbuat curang. Orang seperti ini jauh dari mempraktekkan cara-cara orang kapitalis berbisnis. Dia sadar bahwa berbisnis ala kapitalis telah menghancurkan sistem ekonomi dunia sehingga tampak jelas adanya kelas pengusaha sebagai pemilik modal yang semena-mena terhadap pekerja. Bahkan, lebih jauh dari itu dunia kapitalis telah memeras negara-negara yang kaya akan sumber daya alam (SDA) tapi miskin SDM, seperti Indonesia, sehingga kekayaan SDA-nya dikuasai dan SDM-nya dibiarkan terbelakang kompetensinya. Agar tidak jadi bulan-bulanan negara-negara kapitalis anak bangsa ini harus bisa mandiri.

Berusaha mandiri harus dijadikan falsapah hidup seorang Muslim. Kalau sudah dijadikan falsapah dia akan memiliki etos kerja atau etos usaha. Dia akan menjauhkan diri dari meminta-minta karena perilaku seperti itu jelas menunjukkan kelemahan. Dia harus punya harga diri. Untuk itu, dia harus tunjukkan pada dunia bahwa dia sanggup berusaha mandiri. Kalau dulu memang pernah punya pendapatan, sekarang dia punya penghasilan. Manusia Muslim seperti inilah yang layak ditiru dan dijadikan panutan karena dia telah menunjukkan diri sebagai orang yang punya etos kerja dan usaha. Wallahu a`lam bissawab.  
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...