REGULASI DIRI (4)
Subagio
S.Waluyo
/1/
Abu Lubabah bin Mundzir salah seorang sahabat Nabi suatu
kali mendapat amanah dari Rasulullah untuk menemuni Bani Quraidzhah dari
kalangan Yahudi. Amanah yang diberikan Rasulullah disebabkan oleh permintaan
dari Bani Quraidzah agar mengutus Abu Lubabah. Meskipun Rasulullah mengutus Abu
Lubabah, yang mengambil keputusan pada mereka tetap Sa`ad bin Muadz. Tetapi,
entah kenapa ketika mereka bertanya tentang ketundukannya pada Sa`ad bin Muadz,
Abu Lubabah memberikan jawaban dengan tangannya yang
diletakkan ke lehernya yang artinya mereka akan disembelih. Atau dia menyuruh
mereka agar tidak mau menerima putusan Sa`id bin
Muadz. Menyadari akan kesalahan perbuatannya bahwa dia merasa berikhianat pada
Allah dan Rasul-Nya, Abu Lubabah kemudian pergi ke mesjid dan mengikatkan
dirinya di salah satu tiang masjid. Selama tujuh hari dia tidak makan dan minum
sehingga tidak sadarkan diri. Kemudian Allah SWT mengampuni kesalahannya dengan
memerintahkannya untuk melepaskan ikatannya. Sebagai orang yang merasa bersalah
Abu Lubabah bersedia meninggalkan kampung halamannya. Bahkan, bukan hanya itu,
dia juga berkeinginan untuk menyerahkan seluruh kekayaannya untuk kepentingan
umat. Meskipun demikian, Rasulullah SAW hanya mengizinkan dia menyerahkan
sepertiga dari kekayaannya.
Pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah di atas? Seorang hamba Allah manakala menyadari kesalahannya (merasa berkhianat pada Allah dan Rasul-Nya) segera dia bertaubat dalam bentuk mengikatkan dirinya di salah satu tiang masjid (versi Abu Lubabah bin Mundzir). Abu Lubabah telah merespon dirinya karena melakukan kesalahan yang dia menganggapnya sebagai kesalahan besar. Mungkin bagi orang di zaman kiwari ini tidak akan mau melakukan tindakan sejauh itu. Apalagi dia bersedia keluar dari kampung halamannya dan mengorbankan hartanya seluruhnya sebagai hukuman atas kesalahannya. Tindakan Abu Lubabah yang telah merespon dirinya itu layak mendapatkan apresiasi. Apresiasi dengan nilai tertinggi diberikan Rasulullah SAW dengan memberikan amanah yang lebih terhormat lagi ketika dalam penaklukan kota Mekah Abu Lubabah memegang panji Bani Amru bin Auf. Itulah reward bagi orang yang telah demikian sempurna melakukan respon diri. Kalau begitu, apa itu respon diri? Mengapa respon diri demikian dibutuhkan di tengah-tengah kehidupan umat manusia yang sampai saat ini seolah-olah telah kehilangan identitas dirinya? langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan agar seseorang bisa merespon dirinya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang perlu dicari jawabannya.
/2/
Respond diri bisa diartikan sebagai kesiapan seseorang
menghukum dirinya (kalau dia memang melakukan kesalahan) dan dia berhak
mendapat hadiah (kalau dikembalikan pada konsep agama hadiahnya berupa pahala
atau ganjaran) kalau dia melakukan kebaikan. Respon diri atau boleh juga
disebut respon individu terbagi dalam
dua bagian, yaitu respon adaptif dan respon maladaptif. Respon adaptif ditandai
oleh pikiran logis, persepsi akurat, dan emosi konsisten/stabil. Sedangkan
respon maladaptif ditandai oleh kelainan pikiran/ halusinasi, ketidakmampuan
perilaku untuk melakukan hubungan sosial, dan mengagumi diri sendiri (narsis).
Respon adaptif ialah respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan
budaya secara umum yang berlaku di dalam masyarakat. Sementara itu, respon
maladaptif ialah respon yang tidak dapat
diterima oleh norma-norma sosial dan budaya secara umum yang berlaku di
masyarakat. Dengan demikian perilaku yang ditunjukkan Abu Lubabah bin Mundzir
tergolong respon diri/individu yang bersifat adaptif. Tulisan ini lebih
mengarah pada respon diri/individu yang lebih bersifat adaptif.
/3/
Respon diri/individu yang bersifat adaptif sangat
dibutuhkan di tengah-tengah kondisi umat manusia yang nyaris telah kehilangan
identitas dirinya. Respon individu adaptif yang ditandai oleh pikiran logis,
persepsi yang akurat, emosi yang konsisten, perilaku yang sesuai dengan cara
bersikap individu, dan hubungan sosial yang harmonis sangat dibutuhkan oleh
manusia-manusia (yang mengaku) modern yang terjangkit penyakit respon individu
yang maladaptif. Manusia-manusia (yang mengaku) modern memiliki gangguan proses
dalam berpikir, halusinasi, gangguan sensori persepsi (persepinya tidak
akurat), perilakunya tidak tertata, dan menutup diri. Manusia-manusia modern
banyak yang terkena sindrom tidak menyadari ketidakmampuan. Perilaku ini persis
seperti anak kecil yang baru belajar naik sepeda melihat orang bisa naik
sepeda, dia merasa mampu bisa naik sepeda padahal dia baru belajar naik sepeda.
Semestinya, mereka menyadari bahwa mereka mempunyai kelemahan atau
ketidak-mampuan. Seringkali yang muncul di permukaan orang yang merasa `sok
mampu padahal dia tidak mampu.
Orang yang punya respon diri yang adaptif bersikap
sebaliknya, dia karena memiliki pikiran yang logis, misalnya, dia akan akui
bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan. Jadi, jauh dari sikap `sok mampu.
Karena sudah punya modal seperti itu, dia akan berusaha belajar agar nantinya
memiliki kompetensi. Orang yang mau belajar dari kelemahan lambat-laun akan
memiliki persepsi yang kuat tentang sesuatu. Ciri dari orang yang punya
persepsi yang kuat apabila melihat suatu permasalahan dia akan coba kaitkan
masalah yang ada saat ini dengan masalah sejenis yang terdahulu. Kesimpulannya,
bisa jadi ada hubungan masalah yang dihadapi saat ini dengan masalah sejenis
yang terdahulu atau bisa juga tidak ada hubungan sehingga dia berkesimpulan ini
benar-benar masalah baru.
Orang yang mau belajar cenderung konsisten emosinya
sehingga dalam kondisi apapun dia tetap stabil emosinya. Salah satu ciri
pemimpin yang baik ditandai dengan sikap kestabilan emosional. Emosinya tidak
perlu meledak-ledak jika menghadapi orang-orang yang tidak suka dengan
keputusan yang diambilnya. Dia akan berupaya mempelajari faktor-faktor penyebab
orang tidak suka dengan keputusan yang diambilnya. Setelah diketahui dia
berupaya mengoreksinya kalau memang ada yang perlu dikoreksi. Orang-orang
seperti ini diharapkan bisa menciptakan hubungan yang harmonis dengan sesama
manusia. Singkatnya, manusia jenis ini adalah manusia yang bisa menerima
kebersamaan (pluralis). Manusia jenis ini adalah manusia yang sangat didambakan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Manusia jenis ini yang paling layak
menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang sekarang ini ibarat penyakit sudah
demikian kronis.
/4/
Bangsa ini mempunyai perilaku yang sama dengan perilaku
orang modern yang terkena sindrom tidak menyadari ketidakmampuannya. Buktinya,
bangsa ini seringkali melakukan eksprimen yang tidak pernah memperoleh hasil
yang memadai. Di masa orde baru pemerintah yang berkuasa pada waktu itu
memasukkan mata pelajaran tentang budi pekerti yang terus berjalan sampai
dengan masa-masa di awal orde baru. Kemudian, di masa orde baru dimasukkan mata pelajaran bahkan sampai di perguruan
tinggi yang berkaitan dengan humaniora. Hasilnya, bagaimana? Tetap saja masih
kuatnya perilaku buruk yang menimpa anak bangsa ini. Jatuhnya rezim Soeharto
yang boleh dikatakan seperti bangunan yang dari luar tampak kekar dan kuat,
ternyata di dalamnya kropos. Ternyata bangunan yang kuat itu dibangun oleh dana
pinjaman dari luar yang sudah dikorup oleh jaringan koruptor di kalangan
pejabat tinggi. Mereka-mereka ini yang di masa lalu terlalu kenyang dengan menu
makanan yang bernama budi pekerti dan humaniora.
Di masa reformasi bangsa ini memasukkan pendidikan
karakter. Mungkin melihat contoh kongkret di luar yang ternyata berhasil
menerapkan pendidikan karakter bangsa ini pun tidak mau kalah. Tentang
hasilnya, memang belum bisa dijawab sekarang karena baru diterapkan di
sekolah-sekolah melalui Kurikulum 2013. Tapi, tidak sedikit orang yang mencibir
wacana memasukkan pendidikan karakter walaupun dibungkus dengan kata-kata
ketaqwaan karena di luar sana (realitanya) pelaku-pelaku korupsi, misalnya, banyak yang aman-aman saja berkeliaran tanpa
jeratan hukum. Mereka masih bebas melakukan aktivitasnya walaupun sudah
jelas-jelas dijerat sebagai tersangka. Kalau mereka masuk penjara, coba
perhatikan ruang tempat dia dipenjara terkesan mewah seperti di rumahnya
sendiri. Selain, itu sudah bukan menjadi rahasia umum, di malam hari mereka
bebas keluar masuk penjara sekedar menikmati `dugem`. Jadi, apa gunanya
anak-anak didik kita dicekoki dengan pendidikan karakter kalau banyak
penyimpangan yang dipertontonkan di hadapan mereka? Bukankah pendidikan terbaik
itu diawali dengan pendidikan yang berangkat dari contoh-contoh teladan yang
salah satu di antaranya sikap tegas terhadap koruptor dengan tidak melihat
pelaku-pelakunya. Untuk itu, tidak perlu banyak berwacana dengan pendidikan
karakter kalau belum bisa bersikap tegas terhadap pelaku-pelaku menyimpang yang
telah masuk ke dalam semua segi kehidupan manusia di negara ini.
/5/
Orang yang tergolong memiliki respon diri
yang adatip kalau merujuk konsep Jendela Johari termasuk ke dalam orang yang
terbuka. Orang jenis ini akan mengetahui kelebihan dan kekurangan
diri sendiri. Demikian juga orang lain diluar dirinya dapat mengenalinya.
Karena dia mengenali orang lain dan orang lain juga mengenal dirinya, orang
seperti ini bersikap terbuka kepada orang lain dan terbuka untuk orang lain
menilai dan memberi masukan tentang dirinya. Dengan demikian, orang yang
memiliki respon diri yang adaptif diharapkan dalam kehidupannya bisa memberikan
manfaat buat orang lain. Bahkan, kalau perlu, orang jenis ini bisa memberikan
manfaat buat bangsa dan negara ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar