Kamis, 05 September 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (01)


SOSOK PERILAKU GURU
DALAM PANDANGAN DUA PENYAIR
(HARTOJO ANDANGDJAJA DAN WS RENDRA)


/1/
           
Setiap orang yang pernah mengecap bangku sekolah pasti mengenal orang yang pernah mendidiknya.  Orang tersebut dinamakan guru.  Setiap kali orang menyebut guru terbayanglah di benak setiap orang bahwa guru adalah makhluk alit.  Dia disebut alit karena profesi guru adalah profesi yang belum mendapatkan kesejahteraan yang memadai, baik di Masa Orde Baru maupun di Masa Reformasi sekarang ini.  Dia juga disebut alit karena jarang orang yang berprofesi guru menunjukkan dengan bangga tentang profesinya sebagai guru.  Kalau boleh dikatakan orang yang berprofesi guru tidak akan menampakkan sisi superioritasnya.  Dengan kata lain, seorang guru akan lebih memunculkan sosok egaliternya.


            Meskipun guru adalah makhluk alit (walaupun banyak guru yang secara fisik sama seperti seorang olahragawan atau militer), profesi guru tetap profesi terhormat di manapun dia berada.  Dia dikatakan terhormat karena  melalui guru terciptalah manusia yang memegang jabatan tertinggi di setiap negara (presiden atau raja sekalipun).  Melalui guru tercipta milyaran manusia yang bisa baca tulis, bisa mengenal ilmu, dan bisa mengenal setiap detil dari sisi-sisi kehidupan manusia.  Melalui guru dengan segudang ilmu pengetahuan yang ditransferkan kepada setiap anak didiknya terciptalah jutaan hasil penelitian, buku-buku, dan lautan ilmu pengetahuan yang tak terhingga.  Melalui guru ada makhluk-makhluk Tuhan yang bisa mengatur jalannya roda pemerintahan, aturan birokrasi, dan aturan  tatacara bermasyarakat. Tanpa guru sangat sulit dibayangkan akan jadi apa wujud dunia ini?  Akan jadi apa pula penduduk dunia ini?  Kata yang paling tepat, tanpa guru dunia dan seluruh isinya akan mengalami kegelapan karena tidak ada seorang pun yang bisa membaca dan menulis atau  mengenal dan menemukan ragam  ilmu.
            Berbicara tentang guru tentu saja tidak akan melepaskan diri dari kehidupannya sehari-hari.  Justeru, sisi-sisi kehidupan seorang guru adalah sisi-sisi kehidupan yang paling menarik. Sisi-sisi kehidupannya yang demikian luas dari aktivitasnya sebagai guru, yang setiap kali tidak lepas dari dunia buku dan kurikulum sampai dengan kehidupannya di rumah tangga.  Sisi-sisi kehidupan seorang guru tidak akan selesai hanya dengan berpuluh-puluh seminar.  Dengan sekian banyak seminar tidak akan terkupas sisi-sisi unik kehidupan seorang guru.  Kehidupan seorang guru akan lebih efektif jika dituliskan dalam bentuk karya seni (Iwan Falls yang meneriakkan sosok Umar Bakri lebih menyentuh perasaan manusia bila dibandingkan dengan seminar tentang guru).  Jadi, melalui sebuah karya seni, baik dalam wujud syair lagu, seperti Iwan Falls yang telah menampilkan sosok Umar Bakri, cerpen-cerpen, novel-novel, maupun puisi-puisi akan lebih banyak menyentuh perasaan manusia.
            Adalah Hartojo Andangdjaja (1930–1990) dan WS Rendra yang menampilkan sosok perilaku guru dalam sekian banyak puisi yang diciptakannya.  Mereka menampilkan sosok guru karena ada sesuatu yang menyentuh lubuk hatinya yang paling dalam.  Mereka melihat guru sebagai makhluk alit yang tidak berdaya.  Alit dari segi kesejahteraannya, alit dari segi keberadaannya di hadapan hukum yang cenderung menguntungkan bagi masyarakat elit tertentu, alit dari segi pandangan anggota keluarganya (meskipun tidak semuanya berpikiran demikian) yang terbius oleh kehidupan yang serba materialistis, dan alit dari segi jenjang profesi yang masyarakatnya belum menempatkan guru sejajar dengan pegawai tinggi atau direktur sekalipun.    Singkatnya, profesi guru adalah profesi alit bagi negara yang belum memperhatikan dunia pendidikan.
            Melalui puisi-puisinya mereka menampilkan sosok perilaku guru yang sebenarnya.  Hartojo Andangdjaja (selanjutnya disingkat HA) menampilkan sosok perilaku guru dalam puisinya “Dari Seorang Guru kepada Murid-muridnya”.  Sementara itu, WS Rendra (selanjutnya disingkat WSR) juga menyoroti sosok perilaku guru dalam “Sajak SLA“ dan “Orang Biasa”.  Dari puisi-puisi hasil karya kedua penyair tersebut tampak di hadapan penikmat sastra sosok positif dan negatif perilaku guru yang sebenarnya.  Dengan membicarakan puisi-puisi kedua penyair tersebut, setidak-tidaknya hati nurani manusia yang bersih akan terpanggil untuk memperhatikan nasib makhluk Tuhan yang alit dari sisi profesi tetapi mulia di hadapan manusia.
/2/

            Ada orang yang mengatakan puisi merupakan sarana untuk mengungkapkan pengalaman batin.  Pengalaman batin yang terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna dan ditafsirkan secara estetik.  Pengalaman batin yang dicurahkan/diekspresikan ke dalam sebuah puisi dikemas dengan bahasa yang indah (estetis).  Karena keestetikan itulah, puisi menggunakan bahasa yang khas, bahasa yang semata-mata bertujuan untuk menggugah perasaan pembaca/penikmatnya.
            Puisi diciptakan, di antaranya,  untuk menggugah perasaan pembaca/ penikmatnya. Salah satu puisi yang setidak-tidaknya dapat menggugah perasaan orang di antaranya yang ditulis HA berikut ini.
DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA
                                                                     Hartojo Andangdjaja
Apa yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdianku kepadamu

Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidupku di rumah tangga

Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
-----horison yang selalu baru bagiku----
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
Untuk mengenal ini semua
Solo, 1955
Puisi di atas mencerminkan egaliternya seorang guru.  Sisi egaliternya sudah tampak terlihat di bait pertama.
Apa yang kupunya anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdianku kepadamu
Bait puisi di atas menjelaskan kepada pembaca bahwa guru benar-benar makhluk alit.  Makhluk yang hanya punya buku-buku dan sedikit ilmu karena itu semua merupakan modal sang guru untuk mentransferkan ilmunya kepada murid-muridnya.
            Dari bait itu juga tercermin bahwa guru adalah makhluk pengabdi, yang mengabdikan ilmunya pada sesama manusia dengan tujuan mencerdaskan anak bangsa.  Tetapi, makhluk pengabdi itu belum diberi imbalan jasa yang setimpal meskipun berjuta-juta manusia (bahkan milyaran) manusia bisa terbebaskan dari buta aksara, buta matematika, dan buta ilmu pengetahuan.  Dengan kata lain, kesejahteraan mereka belum diperhatikan.  Karena itu, sangat wajar kalau sang guru melarang (tidak menghendaki) murid-muridnya datang ke rumahnya.
Kalau di hari minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
Kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidupku di ruma tangga.
Kemiskinan.  Barangkali itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bait puisi di atas.  Guru memang tidak memiliki apa-apa.  Dia hanya memiliki buku-buku dan sedikit ilmu.  Barang-barang yang ada di rumahnya adalah barang-barang yang, kalau bisa dikatakan,  sudah tidak layak pakai, seperti kursi-kursi tua dan meja tulis sederhana.  Kemiskinan yang membelenggu kehidupannya yang mau tidak mau menjadikan ia tidak pernah berpikir untuk hidup sehat yang terlihat dari jendela-jendela yang tidak pernah diganti kainnya sehingga warna kain-kain jendela itu kusam. 
            Itulah sisi kehidupan rumah tangga seorang guru.  Kehidupan yang jauh dari sederhana.  Tetapi, mungkin juga, sisi mulia perilaku seorang guru.  Ia masih ingin menampilkan sosok perilaku guru yang masih memiliki harga diri (prestise) terbukti dari tidak maunya ia bercerita di depan kelas.
Ah, tentang ini tak pernah aku bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
----- horison yang selalu baru bagiku ------
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua
Prestise yang dimunculkan oleh sang guru bukan berangkat dari ‘gengsi’,  tetapi dari ketidakinginannya untuk mengetahui aib diri dan rumah tangganya di hadapan murid-muridnya yang masih bersih dari dosa.  Ia masih menganggap murid-muridnya adalah harapan masa depan bangsa ini dengan memberikan permisalan sebagai ‘horison yang selalu baru bagiku’.  Karena mereka adalah horison yang selalu baru, ia tidak mau merusak horision yang selalu baru itu untuk mengenal sisi-sisi kehidupan guru yang sangat sulit dijangkau oleh murid-muridnya.  Hal serupa juga diungkap oleh HA dalam puisi lainnya  (“Dari Seorang Bapa kepada Anaknya”) tentang nilai-nilai kebaikan, yang mencakup  cinta kasih, kejujuran, kerendah-hatian, dan segala yang terlahir dari kebenaran.
Suatu ketika nanti bila tiba saatnya
akan kuajarkan padamu, anakku, apa yang berharga
akan kuajarkan cinta kasih, kejujuran, kerendahhatian
dan segala hal yang terlahir dari kebenaran
Bermodalkan nilai-nilai kebenaran itulah, sang guru tidak berkeinginan untuk berterus-terang pada murid-muridnya tentang kehidupannya sebagai guru.  
            HA memang seorang guru.  Ketika puisi itu ditulis, HA mengajar di SMP dan SMA di kota kelahirannya (Solo). Profesinya sebagai guru tersebut tetap dipertahankan sampai akhir hayatnya meskipun pada tahun 1962 – 1970 ia sempat berkecimpung di dunia jurnalistik. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...