SOSOK PERILAKU GURU
DALAM PANDANGAN DUA PENYAIR
(HARTOJO ANDANGDJAJA DAN WS RENDRA)
/3/
Gambaran
sosok guru yang dimunculkan oleh HA adalah gambaran guru di tahun `50-an. Gambaran guru dua puluh tahun kemudian bukan
lagi seperti itu. Gambaran guru tahun `70-an adalah gambaran guru yang seperti
diungkapkan oleh Taufik Ismail ‘Guru kencing berdiri/Murid mengencingi
guru’. Gambaran guru tahun `70-an,
bahkan memasuki milenium ketiga ini, adalah gambaran guru yang sudah tidak
mempunyai nilai-nilai kebenaran di hadapan murid-muridnya sebagaimana terlihat
pada bait puisi ini.
Ibu guru perlu sepeda
motor dari Jepang
Ibu guru ingin hiburan
dan cahaya
Ibu guru ingin atap
rumahnya tidak bocor,
Dan juga ingin jaminan
pil penenang,
tonikum-tonikum dan obat
perangsang yang dianjurkan oleh dokter
Kalau
guru sudah begitu banyak yang ia inginkan, bagaimana ia bisa mempertahankan
nilai-nilai kebenaran? Bagaimana ia bisa
memberi contoh terbaik bagi murid-muridnya?
Bukankah guru seperti orang-orang bijak mengatakan “digugu lan
ditiru”? Mau dibawa ke mana anak-anak
didiknya kalau guru sudah tidak bisa mempertahankan kebenaran? Apakah guru cukup dengan mengatakan ini:
“Kemajuan akan berjalan
dengan lancar.
Kita harus menguasai
mesin industri.
Kita harus maju seperti
Jerman,
Jepang, dan Amerika.
Sekarang,
keluarkanlah daftar logaritma”
yang kemudian dijawab dengan:
murid-murid tertawa
dan
mengeluarkan rokok.
dan terjadilah sebuah dialog yang menarik:
“Kami tidak suka daftar
logaritma.
Tidak ada gunanya!”
“Kalian tidak ingin
maju?”
“Kemajuan bukan soal
logaritma.
Kemajuan adalah soal
perundingan.”
“Jadi apa yang kalian
inginkan?”
“Kami tidak ingin
apa-apa.
Kami sudah
punya semuanya.”
Kalau sudah begitu, biasanya guru hanya
mengatakan: “Kalian mengacau!”
Apakah
murid-murid itu pengacau? Murid-murid
bisa berperilaku seperti itu karena merupakan cermin betapa buruknya dunia
pendidikan di negara ini. Mereka bisa
berperilaku demikian karena di depan mata mereka sendiri tampak gambaran
keburukan budaya bangsa ini yang dicontohkan oleh orang tua mereka sendiri.
“Kami tidak mengacau.
Kami tidak berpolitik.
Kami merokok dengan
santai.
Seperti ayah-ayah kami di
kantor mereka:
santai, tanpa politik
berunding dengan Cina,
berunding dengan Jepang,
menciptakan suasana
girang.
Dan di saat ada pemilu,
kami membantu keamanan,
meredakan
partai-partai.”
Jadi, mereka memprotes keadaan buruk itu
dengan tidak lagi mengindahkan perintah gurunya karena di hadapan mereka sudah
tidak ada lagi orang yang menjaga nilai-nilai kebenaran.
Kebenaran. Itulah tema yang ingin disampaikan oleh WSR dalam “Sajak SLA” Penyair yang tetap konsisten dengan
nilai-nilai kebenaran ini sengaja menampilkan puisi-puisi yang sarat protes
sosial, seiring dengan bertambahnya usia, ia juga berupaya menyampaikan
nilai-nilai kebenaran dalam puisi-puisinya yang lain. Salah satu puisinya yang juga menampilkan
nilai-nilai kebenaran (juga menggambarkan sosok guru) adalah “Orang Biasa”.
Dalam
puisi “Orang Biasa” WSR sengaja
menampilkan seseorang yang telah memilih jalan hidupnya sebagai guru yang tidak
terikat oleh ikatan sejarah, revolusi kemerdekaan, dan sejarah nasional. Tetapi ia juga jadi korban tindakan
ketidakadilan penguasa yang telah memotong tanahnya.
Aku lahir di desa Sengon,
Yogyakarta.
Setelah tamat Sekolah
Guru Bawah
aku hana punya satu
lowongan
tanpa pilihan lain:
sebuah Sekolah Dasar
di Rangkasbitung.
Barangkali ada ikatan
sejarah?
Juga tidak.
Di zaman revolusi
kemerdekaan,
meskipun aku masih sangat
muda,
aku di Mranggen ikut
bergerilya,
melawan imperialis
Inggris dan Belanda
Tidak. Tidak.
Di Rangkasbitung.
aku tidak pernah terlibat
dalam sejarah besar.
Aku hanya mengajar di
Sekolah Dasar
sampai pensiun,
dan tanahku terpotong
gara-gara pembangunan
jalan raya.
Jelas ini bukan sejarah
nasional
apalagi internasional.
Meskipun ia sebagai guru dan mantan pejuang
yang pernah melawan penjajah, ia dengan menjadi guru dirinya benar-benar
lengkap. Dengan menjadi guru,
semangatnya bergelora. Ia juga sadar
bahwa profesi guru bukanlah profesi yang istimewa buat ukuran dunia.
Tetapi aku hanya
mengalami kelengkapan diriku
apabila menjadi guru
Semangatku bergelora,
gairah hidupku menyala,
dalam suku maupun duka,
apabila aku menjadi guru.
Memang tidak istimewa
untuk ukuran dunia.
Sangat, sangat biasa .
Sebagai
pensiunan guru ia tidak ingin anak-anaknya gelisah karena dirinya hanya sebagai
orang biasa. Ia beranggapan bahwa
profesi guru adalah anugerah yang harus ia terima. Ia tidak pernah putus asa dan merasa
menderita. Ia selalu gembira dan tidak
menunjukkan rasa rendah diri. Bahkan, ia
merasa bangga dengan pilihan hidupnya sebagai guru. Karena itulah, barangkali, pilihan hidupnya
yang paling indah.
Kenapa anak-anakku
menjadi gelisah,
hanya karena aku mantap
menjadi orang biasa?
Aku bukan panglima. Aku bukan bankir.
Bahwa aku mendapat ijazah
itu
sudah anugerah
Ilmu hitung dan bahasa
Inggris mendapat nilai lima.
Tetapi! Te-ta-pi …..
aku bukan orang yang
putus asa
ataupun menderita.
Aku gembira.
Dan aku juga tidak rendah
diri.
Aku bangga.
Hidupku indah.
Demikianlah WSR telah menyampaikan nilai-nilai kebenaran melalui dua buah
puisinya yang menggambarkan sosok perilaku guru yang berbeda satu dengan
lainnya. Kalau di tahun `70-an ia
menampilkan sosok perilaku guru sebagai orang yang tidak layak untuk
diteladani, di tahun `90-an justeru sebaliknya ia menampilkan orang yang bangga
pilihan hidupnya sebagai guru meskipun guru juga tidak luput dari tindakan
kesewenang-wenangan penguasa Orbe Baru.
/4/
Yang
ingin ditampilkan oleh kedua penyair melalui puisinya adalah nilai-nilai
kebenaran yang harus ditegakkan oleh setiap pendidik (dalam hal ini guru). Nilai-nilai kebenaran itu tercermin dari
perilaku guru yang benar-benar egaliter dan murid-murid SLA yang memprotes
keadaan yang demikian buruknya di negara ini.
Kalau di tahun-tahun `50-an (beberapa tahun setelah kemerdekaan) puisi HA menampilkan sosok guru yang
sederhana dan egaliter, yang benar-benar menunjukkan diri sebagai makhluk
pengabdi dalam rangka mencerdaskan anak bangsa, maka di tahun-tahun `70-an
memasuki era Orde Baru terjadi penjungkirbalikan dalam dunia pendidikan. Penjungkirbalikan dalam dunia pendidikan mau
tidak mau juga mengena pada penjungkirbalikan perilaku guru dan murid.
Guru memasuki milenium
ketiga ini telah mengalami suatu perubahan sosial (kalau bisa dikatakan
degradasi moral) meskipun dalam puisi tersebut tercermin sebagai protes sosial WSR terhadap segala sisi kehidupan
bangsa ini. Penjungkirbalikan itu
berakibat pada ketidakmampuan intelektual muda menterjemahkan makna kehidupan
sebagaiman terefleksikan pada bait puisi ini.
Kita adalah angkatan
gagap
yang diperanakkan oleh
angkatan takabur
Kita kurang pendidikan
resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan
berpolitik,
dan tidak diajar dasar
ilmu hukum.
(“Sajak Anak Muda”).
Apakah di masa depan bangsa ini menghendaki
adanya generasi gagap seperti yang tergambar pada bait puisi di atas? Sudah tentu hal itu tidak dikehendaki.
Sebagai
tambahan, perlu juga dijelaskan di sini bahwa HA dan WSR sebagai
penyair telah berhasil membangun sosok perilaku guru. Masih banyak penyair
Indonesia lainnya yang menyoroti perilaku guru yang tidak kalah menariknya
untuk dibahas. Namun, sebagai sebuah
studi bandingan puisi-puisi yang ditampilkan kedua penyair itu dianggap sudah
mewakili perilaku guru yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar