Kamis, 05 September 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (02)

Lanjutan....
SOSOK PERILAKU GURU
DALAM PANDANGAN DUA PENYAIR
(HARTOJO ANDANGDJAJA DAN WS RENDRA)

/3/
            Gambaran sosok guru yang dimunculkan oleh HA adalah gambaran guru di tahun `50-an.  Gambaran guru dua puluh tahun kemudian bukan lagi seperti itu. Gambaran guru tahun `70-an adalah gambaran guru yang seperti diungkapkan oleh Taufik Ismail ‘Guru kencing berdiri/Murid mengencingi guru’.  Gambaran guru tahun `70-an, bahkan memasuki milenium ketiga ini, adalah gambaran guru yang sudah tidak mempunyai nilai-nilai kebenaran di hadapan murid-muridnya sebagaimana terlihat pada bait puisi ini.
Ibu guru perlu sepeda motor dari Jepang
Ibu guru ingin hiburan dan cahaya  
Ibu guru ingin atap rumahnya tidak bocor,
Dan juga ingin jaminan pil penenang,
tonikum-tonikum dan obat perangsang yang dianjurkan oleh dokter

            Kalau guru sudah begitu banyak yang ia inginkan, bagaimana ia bisa mempertahankan nilai-nilai kebenaran?  Bagaimana ia bisa memberi contoh terbaik bagi murid-muridnya?  Bukankah guru seperti orang-orang bijak mengatakan “digugu lan ditiru”?  Mau dibawa ke mana anak-anak didiknya kalau guru sudah tidak bisa mempertahankan kebenaran?  Apakah guru cukup dengan mengatakan ini:
“Kemajuan akan berjalan dengan lancar.
Kita harus menguasai mesin industri.
Kita harus maju seperti Jerman,
Jepang, dan Amerika.
Sekarang, keluarkanlah daftar logaritma”
yang kemudian dijawab dengan:
murid-murid tertawa
dan mengeluarkan rokok.  
dan terjadilah sebuah dialog yang menarik:  
“Kami tidak suka daftar logaritma.
Tidak ada gunanya!”


“Kalian tidak ingin maju?”

“Kemajuan bukan soal logaritma.
Kemajuan adalah soal perundingan.”

“Jadi apa yang kalian inginkan?”

“Kami tidak ingin apa-apa.
Kami sudah punya semuanya.”
Kalau sudah begitu, biasanya guru hanya mengatakan: “Kalian mengacau!”
            Apakah murid-murid itu pengacau?  Murid-murid bisa berperilaku seperti itu karena merupakan cermin betapa buruknya dunia pendidikan di negara ini.  Mereka bisa berperilaku demikian karena di depan mata mereka sendiri tampak gambaran keburukan budaya bangsa ini yang dicontohkan oleh orang tua mereka sendiri.
“Kami tidak mengacau.
Kami tidak berpolitik.
Kami merokok dengan santai.
Seperti ayah-ayah kami di kantor mereka:
santai, tanpa politik
berunding dengan Cina,
berunding dengan Jepang,
menciptakan suasana girang.
Dan di saat ada pemilu,
kami membantu keamanan,
meredakan partai-partai.”
Jadi, mereka memprotes keadaan buruk itu dengan tidak lagi mengindahkan perintah gurunya karena di hadapan mereka sudah tidak ada lagi orang yang menjaga nilai-nilai kebenaran. 
            Kebenaran.  Itulah tema yang ingin disampaikan oleh WSR dalam “Sajak SLA”  Penyair yang tetap konsisten dengan nilai-nilai kebenaran ini sengaja menampilkan puisi-puisi yang sarat protes sosial, seiring dengan bertambahnya usia, ia juga berupaya menyampaikan nilai-nilai kebenaran dalam puisi-puisinya yang lain.  Salah satu puisinya yang juga menampilkan nilai-nilai kebenaran (juga menggambarkan sosok guru) adalah “Orang Biasa”.
            Dalam puisi “Orang Biasa” WSR sengaja menampilkan seseorang yang telah memilih jalan hidupnya sebagai guru yang tidak terikat oleh ikatan sejarah, revolusi kemerdekaan, dan sejarah nasional.  Tetapi ia juga jadi korban tindakan ketidakadilan penguasa yang telah memotong tanahnya.
Aku lahir di desa Sengon, Yogyakarta.
Setelah tamat Sekolah Guru Bawah
aku hana punya satu lowongan
tanpa pilihan lain:
sebuah Sekolah Dasar
di Rangkasbitung.

Barangkali ada ikatan sejarah?
Juga tidak.
Di zaman revolusi kemerdekaan,
meskipun aku masih sangat muda,
aku di Mranggen ikut bergerilya,
melawan imperialis Inggris dan Belanda
Tidak. Tidak.
Di Rangkasbitung.
aku tidak pernah terlibat dalam sejarah besar.
Aku hanya mengajar di Sekolah Dasar
sampai pensiun,
dan tanahku terpotong
gara-gara pembangunan jalan raya.
Jelas ini bukan sejarah nasional
apalagi internasional.

Meskipun ia sebagai guru dan mantan pejuang yang pernah melawan penjajah, ia dengan menjadi guru dirinya benar-benar lengkap.  Dengan menjadi guru, semangatnya bergelora.  Ia juga sadar bahwa profesi guru bukanlah profesi yang istimewa buat ukuran dunia.

Tetapi aku hanya mengalami kelengkapan diriku
apabila menjadi guru
Semangatku bergelora,
gairah hidupku menyala,
dalam suku maupun duka,
apabila aku menjadi guru.
Memang tidak istimewa untuk ukuran dunia.
Sangat, sangat  biasa .

            Sebagai pensiunan guru ia tidak ingin anak-anaknya gelisah karena dirinya hanya sebagai orang biasa.  Ia beranggapan bahwa profesi guru adalah anugerah yang harus ia terima.  Ia tidak pernah putus asa dan merasa menderita.  Ia selalu gembira dan tidak menunjukkan rasa rendah diri.  Bahkan, ia merasa bangga dengan pilihan hidupnya sebagai guru.  Karena itulah, barangkali, pilihan hidupnya yang paling indah.
Kenapa anak-anakku menjadi gelisah,
hanya karena aku mantap menjadi orang biasa?
Aku bukan panglima.  Aku bukan bankir.
Bahwa aku mendapat ijazah itu
sudah anugerah
Ilmu hitung dan bahasa Inggris mendapat nilai lima.
Tetapi! Te-ta-pi …..
aku bukan orang yang putus asa
ataupun menderita.
Aku gembira.
Dan aku juga tidak rendah diri.
Aku bangga.
Hidupku indah.

Demikianlah WSR telah menyampaikan nilai-nilai kebenaran melalui dua buah puisinya yang menggambarkan sosok perilaku guru yang berbeda satu dengan lainnya.  Kalau di tahun `70-an ia menampilkan sosok perilaku guru sebagai orang yang tidak layak untuk diteladani, di tahun `90-an justeru sebaliknya ia menampilkan orang yang bangga pilihan hidupnya sebagai guru meskipun guru juga tidak luput dari tindakan kesewenang-wenangan penguasa Orbe Baru.

/4/
            Yang ingin ditampilkan oleh kedua penyair melalui puisinya adalah nilai-nilai kebenaran yang harus ditegakkan oleh setiap pendidik (dalam hal ini guru).  Nilai-nilai kebenaran itu tercermin dari perilaku guru yang benar-benar egaliter dan murid-murid SLA yang memprotes keadaan yang demikian buruknya di negara ini.  Kalau di tahun-tahun `50-an (beberapa tahun setelah kemerdekaan) puisi HA menampilkan sosok guru yang sederhana dan egaliter, yang benar-benar menunjukkan diri sebagai makhluk pengabdi dalam rangka mencerdaskan anak bangsa, maka di tahun-tahun `70-an memasuki era Orde Baru terjadi penjungkirbalikan dalam dunia pendidikan.  Penjungkirbalikan dalam dunia pendidikan mau tidak mau juga mengena pada penjungkirbalikan perilaku guru dan murid.
Guru memasuki milenium ketiga ini telah mengalami suatu perubahan sosial (kalau bisa dikatakan degradasi moral) meskipun dalam puisi tersebut tercermin sebagai protes sosial WSR terhadap segala sisi kehidupan bangsa ini.  Penjungkirbalikan itu berakibat pada ketidakmampuan intelektual muda menterjemahkan makna kehidupan sebagaiman terefleksikan pada bait puisi ini.
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum.

                                                         (“Sajak Anak Muda”).   

Apakah di masa depan bangsa ini menghendaki adanya generasi gagap seperti yang tergambar pada bait puisi di atas?  Sudah tentu hal itu tidak dikehendaki. 
            Sebagai tambahan, perlu juga dijelaskan di sini bahwa HA dan WSR sebagai penyair telah berhasil membangun sosok perilaku guru. Masih banyak penyair Indonesia lainnya yang menyoroti perilaku guru yang tidak kalah menariknya untuk dibahas.  Namun, sebagai sebuah studi bandingan puisi-puisi yang ditampilkan kedua penyair itu dianggap sudah mewakili perilaku guru yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...