Jumat, 06 September 2013

Artikel Agama (2)


 Lima Syarat dalam Bertaubat

Pada dasarnya semua manusia lahir dalam keadaan fitrah tanpa dosa. Akan tetapi dalam perjalanan hidupnya karena kelemahannya, lingkungannya, dan pengaruh godaan syetan manusia banyak melakukan dosa. Meskipun demikian Allah swt mempunyai sifat Ar-rahman yang memberi kesempatan pada manusia untuk bertaubat dengan taubat yang sungguh-sungguh, meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat yang pernah dilakukan, dan bertekad untuk tidak mengulanginya atau taubatan nasuha. Allah berfirman :
 “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ….(At-tahrim : 8).

“Tobatlah kamu semua kepada Allah, hai orang-orang mukmin, supaya kamu beruntung” (An-nur :31)

Dalam hadist Bukhori-Muslim diceritakan bahwa ada seorang laki-laki dari Bani Israil yang telah membunuh sebanyak 99 orang. Lalu ia menyadari betapa kejinya perbuatan itu. Ia pun ingin kembali ke jalan yang benar dan pergilah ia ke seorang rahib untuk menanyakan perihal tobatnya. Akan tetapi rahib itu menyatakan bahwa pintu tobat untuknya sudah tertutup sehingga putus asalah dia. Lalu dibunuhnya rahib itu sehingga genaplah ia telah membunuh 100 orang. Ia pun kemudian pergi ke seorang alim lainnya yang memberitahukan bahwa tobat yang baik masih tetap ada. Ia pun pergi ke daerah yang penuh dengan ahli ibadah. Dalam perjalanan ke daerah tersebut kematian pun merenggutnya dan malaikat rahmat tahu betul akan tobatnya laki-laki tersebut dan dibawalah dia oleh malaikat rahmat dan tobatnya diterima Allah. SWT

Bencana alam, krisis politik, ekonomi, kepercayaan, sampai dengan berjangkitnya penyakit baru, flu burung, yang belum diketahui obatnya yang melanda bangsa kita sejak beberapa tahun terakhir ini adalah karena kesalahan kita semua terutama  para pengelola negara ini yang kurang amanah dalam menjalankan tugasnya. Untuk itu, sudah saatnya kita melakukan taubatan nasuha. Pertanyaan yang muncul: bagaimana kita melakukan taubatan nasuha?  Ini pertanyaan menarik karena sampai saat ini banyak orang yang belum mengetahui cara melakukan taubatan nasuha.  Terus terang saja banyak orang yang bertaubat sekedar bertaubat tetapi perilaku orang yang bertaubat belum tampak.  Untuk dapat melakukan taubatan nasuha tentu saja harus ada beberapa persayaratan dan cara yang mau tidak mau harus kita jalani.  Persyaratan penting dan cara bertaubat itu tergambar dari buku yang ditulis Muhammad Al-Musnad: Orang-orang yang Bertaubat Abad 20 yang pada intinya adalah:
  1. menghindari rasa pesimis kalau Allah tidak akan mengampuni hamba-hamba-Nya, sebaliknya menumbuhkan rasa optimis bahwa Allah pasti akan menghapuskan dosa hamba-hamba-Nya;
  2. meyakini bahwa jalan Allah adalah jalan kebahagiaan, kemenangan, dan keselamatan, sebaliknya jalan thogut adalah jalan kesengsaraan, kekalahan, dan kegagalan;
  3. senantiasa berpegang teguh (iltizam) dengan adab-adab dan nilai-nilai Islam meskipun hidup di tengah-tengah masyarakat yang jahiliyah;
  4. setiap saat menghadirkan di dalam dirinya bahwa dia pernah berbuat buruk bahkan dzolim pada orang lain; dan
  5. berupaya merenungi ayat-ayat Allah tentang pentingnya dan beruntungnya orang-orang yang bertobat dan alangkah meruginya orang-orang yang hidupnya masih bergelimpangan dengan dosa.
Dengan cara demikian, Insya Allah setiap hamba yang berniat  melakukan taubatan nasuha akan dihapus dosa-dosanya oleh Allah swt. Bukankah Allah swt Maha Pengasih dan Maha Penyayang.Wallahu a`lam bisawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...