Jumat, 06 September 2013

Artikel Agama (1)


Berubah atau Mati

Dalam Surat Ar-Ra`ad:11 yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak mau mengubah dirinya sendiri” ada perintah tersirat dari bunyi ayat tersebut, yaitu kita mau berubah atau mati? Perintah tersirat tersebut tentu saja membuat kita jadi bertanya-tanya yang salah satunya tentunya berbunyi : ”Apakah Allah demikian kejam sehingga menyuruh kita berubah atau mati?”. Coba kita singkirkan pertanyaan itu dari benak kita.  Kita ubah dengan sikap sangka baik kita pada Allah.  Bagaimana kalau perintah itu dijadikan motivasi agar kita mau berubah dalam segala hal?



Kita jadikan itu sebagai motivasi agar ada perubahan karena banyak di antara kita tidak mau menyadari bahwa sebenarnya kita (mungkin) punya saham dalam membuat kerusakan di negara ini? Atau kebijakan-kebijakan yang kita anggap benar setelah diimplementasikan justeru berakibat negatif atau setidaknya banyak mengundang pro-kontra di masyarakat?  Atau sikap kita pada sesama manusia ketika bermuamalah terkadang (bahkan sering) menyakitkan  atau menciptakan ketidakharmonisan? Atau kita merasa puas dengan capaian-capaian yang kita peroleh? Atau kita merasa lebih nikmat dengan kondisi yang sekarang kita rasakan? Atau kita merasa nikmat dengan kemapanan yang kita rasakan saat ini?  Atau kita tidak mempunyai keinginan untuk meraih suatu amalan (pekerjaan) lebih baik lagi) Atau, bisa juga, kita merasa puas dengan nasib kita? 

Banyak hal yang sebenarnya dapat kita temukan yang semuanya bermuara pada kelemahan kita yang selama ini lalai dalam melakukan perubahan. Jadi, kita harus punya niat untuk melakukan perubahan karena orang yang punya kesungguhan untuk berubah berarti punya harapan dalam hidupnya. Sebaliknya, kalau kita tidak melakukan perubahan berarti dalam hidup ini kita tidak mempunyai harapan. Untuk itu, sangat layak kalau kita sebenarnya telah mati meskipun secara fisik kita masih hidup. 

Berkaitan dengan itu, ada ayat (42:30) yang mengatakan:” Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.  Jadi, kalau kita lalai untuk melakukan perubahan yang berakibat kita tidak mau berubah, wajar-wajar saja musibah menimpa diri kita. Semakin lama kita tidak mau berubah, semakin banyak musibah menimpa umat ini yang terkadang bukan saja musibah itu tertuju pada orang-orang yang banyak melakukan perbuatan dosa, tetapi juga mereka yang beriman.  Apakah kita mau negara ini yang dikatakan Allah sebagai baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur terkena musibah yang tidak henti-hentinya?

Kita tidak mau terus-menerus terkena musibah.  Biar bagaimanapun musibah yang menerpa kita tidak mengenakkan.  Untuk itu, kita harus berubah.  Kita harus banyak introspeksi diri dengan tazqiyatun nafs. Memperbanyak wirid kita.  Memperbanyak amalan sunnah.  Memperbanyak merenungi segala hal yang telah kita perbuat. Memperbanyak istighfar manakala kita renungkan betapa banyak dosa kita pada Allah dan juga pada sesama kita.  Memperbanyak berbuat amar ma`ruf nahi munkar.  Dengan melakukan itu semua, insya Allah, kita tidak menjadi orang  yang mati sebelum mati.
                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...