Berubah atau Mati
Dalam Surat Ar-Ra`ad:11 yang berbunyi
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum kalau kaum itu sendiri tidak
mau mengubah dirinya sendiri” ada perintah tersirat dari bunyi ayat tersebut,
yaitu kita mau berubah atau mati? Perintah tersirat tersebut tentu saja membuat
kita jadi bertanya-tanya yang salah satunya tentunya berbunyi : ”Apakah Allah
demikian kejam sehingga menyuruh kita berubah atau mati?”. Coba kita singkirkan
pertanyaan itu dari benak kita. Kita ubah
dengan sikap sangka baik kita pada Allah.
Bagaimana kalau perintah itu dijadikan motivasi agar kita mau berubah
dalam segala hal?
Kita jadikan itu sebagai motivasi agar ada perubahan karena banyak di antara kita tidak mau menyadari bahwa sebenarnya kita (mungkin) punya saham dalam membuat kerusakan di negara ini? Atau kebijakan-kebijakan yang kita anggap benar setelah diimplementasikan justeru berakibat negatif atau setidaknya banyak mengundang pro-kontra di masyarakat? Atau sikap kita pada sesama manusia ketika bermuamalah terkadang (bahkan sering) menyakitkan atau menciptakan ketidakharmonisan? Atau kita merasa puas dengan capaian-capaian yang kita peroleh? Atau kita merasa lebih nikmat dengan kondisi yang sekarang kita rasakan? Atau kita merasa nikmat dengan kemapanan yang kita rasakan saat ini? Atau kita tidak mempunyai keinginan untuk meraih suatu amalan (pekerjaan) lebih baik lagi) Atau, bisa juga, kita merasa puas dengan nasib kita?
Banyak hal yang sebenarnya dapat kita
temukan yang semuanya bermuara pada kelemahan kita yang selama ini lalai dalam
melakukan perubahan. Jadi, kita harus punya niat untuk melakukan perubahan
karena orang yang punya kesungguhan untuk berubah berarti punya harapan dalam
hidupnya. Sebaliknya, kalau kita tidak melakukan perubahan berarti dalam hidup
ini kita tidak mempunyai harapan. Untuk itu, sangat layak kalau kita sebenarnya
telah mati meskipun secara fisik kita masih hidup.
Berkaitan dengan itu, ada ayat (42:30)
yang mengatakan:” Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah
disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar
(dari kesalahan-kesalahanmu)”. Jadi,
kalau kita lalai untuk melakukan perubahan yang berakibat kita tidak mau
berubah, wajar-wajar saja musibah menimpa diri kita. Semakin lama kita tidak
mau berubah, semakin banyak musibah menimpa umat ini yang terkadang bukan saja
musibah itu tertuju pada orang-orang yang banyak melakukan perbuatan dosa,
tetapi juga mereka yang beriman. Apakah
kita mau negara ini yang dikatakan Allah sebagai baldatun thoyyibatun wa
robbun ghofur terkena musibah yang tidak henti-hentinya?
Kita tidak mau terus-menerus terkena
musibah. Biar bagaimanapun musibah yang
menerpa kita tidak mengenakkan. Untuk
itu, kita harus berubah. Kita harus
banyak introspeksi diri dengan tazqiyatun nafs. Memperbanyak wirid
kita. Memperbanyak amalan sunnah. Memperbanyak merenungi segala hal yang telah
kita perbuat. Memperbanyak istighfar manakala kita renungkan betapa
banyak dosa kita pada Allah dan juga pada sesama kita. Memperbanyak berbuat amar ma`ruf nahi
munkar. Dengan melakukan itu semua, insya
Allah, kita tidak menjadi orang yang
mati sebelum mati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar