JIKA CHAIRIL ANWAR DAN MOTINGGO BOESJE
BICARA TENTANG HARAPAN
A
K U
Chairil Anwar
Kalau
sampai waktuku
`Ku
mau tak seorang `kan merayu
Tidak
juga kau
Tak
perlu sedu sedan itu
Aku
ini binatang jalan
Dari
kumpulannya terbuang
Biar
peluru menembus kulitku
Aku
tetap meradang menerjang
Luka
dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga
hilang pedih peri
Dan
aku lebih tidak perduli
Aku
mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
Berkaitan dengan puisi Chairil Anwar
di atas (agar kita terhindar dari membacakan dan mendeklamasikan puisi dengan
mimik yang dibuat-buat namun tidak mengerti isi puisinya) ada hal-hal yang
perlu kita bicarakan di sini. Isi puisi
di atas, kalau kita amati ada unsur harapan penyairnya tentang sesuatu yang
diperjuangkan. Baris yang berbunyi `Ku mau tak seorang `kan merayu dan Aku mau hidup seribu tahun lagi merupakan salah satu bukti bahwa sang
penyair berkeinginan agar tidak ada kompromi (politik dagang sapi) dalam
mewujudkan kemerdekaan negeri ini (`Ku
mau tak seorang `kan merayu). Oleh karena itu, ia bertekad agar negeri ini
bisa benar-benar menikmati udara kemerdekaan selama- lamanya (Aku mau hidup seribun tahun lagi).
Di samping dua baris yang secara
jelas menunjukkan unsur harapan dengan adanya kata `mau` masih ada dua baris
dan satu bait yang sebenarnya juga menunjukkan hal yang sama. Kita bisa perhatikan pada baris yang berbunyi
Aku tetap meradang menerjang dan Aku akan lebih tidak perduli. Kedua baris itu menyatakan bahwa sebagai
pejuang tidak ada kata pantang menyerah karena ada satu prinsip `merdeka` atau
`mati` dan seorang pejuang tidak perduli dengan tubuh yang penuh luka, bahkan
nyawa pun jika memungkinkan dikorbankan.
Sedangkan bait yang menunjukkan unsur harapan terlihat pada Luka dan bisa kubawa berlari/Berlari/Hingga
hilang pedih peri. Artinya, seorang
pejuang yang bertekad mewujudkan kemerdekaan, ia harus menahan segala macam
bentuk penderitaan. Ia harus perjuangkan kemerdekaan itu dengan menahan segala
macam bentuk penderitaan karena ia merasa yakin bahwa penderitaan itu pada
akhirnya akan hilang dan berganti dengan kenikmatan.
Agar kita memiliki pemahaman yang
utuh tentang puisi “Aku” ada baiknya kita meangambil sesuatu yang tersirat pada
puisi di atas. Pada puisi “Aku”, jika
kita renungkan, ada hal yang ingin disampaikan penyairnya, yaitu:
·
setiap orang pada saat menghadapi sesuatu yang pelik atau
tidak mengenakkan (yang membuat
seseorang boleh jadi menderita) harus diawali dengan sikap optimis;
·
sudah menjadi ketentuan Tuhan bahwa segala sesuatu yang
ingin kita capai (kemerdekaan) harus dimulai dengan pengorbanan yang sudah
tentu akan menimbulkan penderitaan;
·
menghindari penderitaan dan menggantikannya dengan kompromi
(melakukan dialog dengan kelompok lain) adalah sikap yang perlu dijauhi karena
hasil yang diperoleh melalui kompromi tidak seoptimal dari hasil yang diperoleh
karena perjuangan; dan
·
tidak selamanya penderitaan akan mengikuti kehidupan
seseorang (bangsa) karena semua itu pasti akan berakhir dengan kebahagiaan
manakala seseorang benar-benar sabar melakoni penderitaannya.
Uraian di atas sangat boleh jadi
kurang memuaskan kita. Karena itu boleh-boleh saja kita mengambil contoh lain
sehingga kita memiliki gambaran yang utuh tentang harapan. Salah satu cara
untuk memperluas wawasan kita tentang harapan adalah dengan menelaah sebuah
cerita atau kisah. Teks di bawah ini, yang akan kita analisis terutama dari
sisi harapannya, diharapkan mempermudah kita memahami konsep tentang manusia
dan harapan.
BANGKU
BATU
Motinggo Busye
………………………………………………………………………………………………………
Sementara itu, hari ulang tahunku
yang ke tujuh puluh enam sudah dekat pula.
Ketika aku melihat kalender, ulang tahunku jatuh pada hari Minggu. Secara tak sengaja, menyelinap saja ingatan
kepada Juliati. Jika aku tak membuat
kesalahan yang gegabah ketika menelpon dulu, tentulah hari ulang tahunku yang
ketujuh puluh enam dirayakan di bangku batu di Taman Monas itu bersama Juliati.
Setelah shalat subuh dan membaca
sura Al Mulk dan mencicil beberapa
ayat Al Qur`an, sebagaimana hari Sabtu kemarin, hari Minggu itu aku melangkah
ke Monas menjinjing satu boks berisi kue-kue.
Aku sungguh terkejut karena kulihat
ada seorang wanita duduk di bangku batu itu.
Dan wanita itu tak lain Juliati.
Aku sangat gembira. Sangat sangat
sangat gembira.
“Roy. Selamat ulang tahun, semoga tetap sehat dan
panjang umur,” katanya seraya memberi
sebuah bungkusan kecil. Juliati menyuruh
aku membuka kado itu. Ternyata sepasang
sepatu olahraga.
“Roy. Kautahu, mengapa aku tidak ke sini selama
hampir enam bulan? Mesti-nya kau sudah
tahu, Roy,” katanya.
“Aku sudah tahu. Kamu jengkel sebab aku melakukan apa yang
kamu larang. Aku minta maaf,” kataku.
“Oke. Tapi kamu juga harus maafkan
Willy, Roy. Aku tak ingin ada konflik dengan anakku sendiri. Orang setua kita harus pandai-pandai mengelak
dari konflik. Betul kan? Tapi kini aku berani ke sini lagi, karena
Willy sudah tak di Indonesia lagi. Dia
sudah kawin dengan orang bule itu. Kini
aku sudah sendirian di rumah. Mengambil
uang pensiun juga sendiri, begitu juga membayar rekening listrik dan telepon,”
kata Juliati.
Juliati meneruskan:”Sekarang kamu
boleh menelpon saya anytime,
Roy. Namun jangan harapkan aku yang
menelpon kamu. Aku tetap saja tidak akan
menelpon kamu. Aku seperti mengidap
trauma, selalu merasa istrimu masih hidup.”
Karena Juliati kali ini yang banyak
bicara, hampir saja aku lupa mengucapkan terima kasih karena dia ingat hari
ulang tahunku dan memberi kado dengan
ukuran sepatu olah raga yang pas pula.
Tetapi ada satu hal penting. Walapun setelah pertemuan itu aku dan Juliati
masih bertemu terus setiap pekan, dan walaupun aku sudah diperkenankan
berkunjung ke rumahnya, tetapi satu hal senantiasa aku takut menyatakan
kepadanya. Itu menjadi sebuah rahasia
abadi. Rahasiaku itu aku pendam
dalam-dalam.
Katakanlah aku bisa coba-coba
menyatakan hal itu kepada Juliati, dan Juliati pun senang hati
menerimanya. Kalau memang begitu, tentu
aku tidak menderita apa-apa malahan tambah bahagia, tambah sehat dan punya masa
tua yang indah. Katakan- lah semisal
Juliati menerimanya!
Sebaliknya, jika hal itu kunyatakan
pada Juliati, dan Juliati tak senang dan dia menolak, aku akan terkena stroke.
Tak sedikit orang-orang berusia lanjut tidak mampu menerima hal yang
mengejutkan lalu terkena stroke.
Lebih bagus seperti ini saja. Tiap Minggu duduk mengobrol berdua di bangku
batu ini. Kami tak kurang cerita-cerita
masa lalu kami, atau cerita masa lalu teman-teman kami. Bahkan kami sering sama mengisahkan cerita
yang sudah daur ulang. Sebagai orang
lanjut usia kami sadar bahwa kami cuma punya cerita-cerita tentang masa
lalu. Kami hampir tak punya cerita
tentang masa datang. Itu sebenarnya
bisa, jika aku punya keberanian untuk menyatakan sesuatu yang amat rahasia itu
kepada Juliati. Ah, lebih baik itu tetap
rahasia terpendam. Bangku batu itu
nantinya menjadi batu yang tak berguna, menjadi batu biasa seperti batu-batu
lainnya. Tidak, aku tidak ingin
ke-hilangan bangku batu ini.
Pada akhirnya aku coba juga
memberanikan diri untuk menyatakan hal itu.
Jika dia menolak, aku sudah rela sekiranya terkena stroke.
“Juli,” ucapku gemetar, “Aku akan
menyatakan sesuatu.”
Dia menatapku, kemudian meluncurlah
ucapannya:”Sebaiknya jangan. Aku sudah
tahu apa yang mau kaukatakan. Kita kan
sudah tua? Buat apa kita menjadi anak kecil lagi, Roy? Mendingan seperti ini saja seterusnya. Kamu hidup di rumahmu, menggoreng telur mata
sapi dan tempe setiap pagi. Aku di
rumahku, menunggu surat-surat dari anakku.
Sekali seminggu kita ketemu di bangku batu ini. Kita tidak terlibat dalam konflik, bukan?”
Lama aku terdiam.
“Jika orang satu rumah, biasanya ada
konflik. Orang tua sebaiknya menghindari
konflik,” katanya.
“Betul juga,” ucapku.
“Jangan marah Roy. Walaupun sikapku aneh, aku tetap saja
menganggap istrimu masih hidup. Tahu
kamu, aku hadir di bangku batu ini seolah-olah mencuri-curi agar istrimu dan
suamiku tidak memergoki kita,” ucapnya tertawa kecil.
(Dua Tengkorak Kepala, 1999:119 – 123)
Meskipun kita hanya mengambil
sebagian dari cerpen “Bangku Batu”, kita sudah melihat adanya unsur harapan
pada kisah di atas. Unsur harapan
tersebut tersurat dari ucapan dan tindakan tokoh `aku` terhadap Juliati teman
lamanya ketika di SMA dulu. Kalau tokoh
`aku` demikian menaruh harapan pada Juliati (mengingat sikap Juliati yang
demikian baik dan memberikan hadiah di saat hari ulang tahunnya yang ke-76),
tidak demikian halnya dengan Juliati. Juliati ternyata tidak memberikan harapan
pada tokoh `aku` (tidak merespon keinginan tokoh `aku`). Mengapa Juliati tidak menyambut keinginan
tokoh `aku`? Ia menolak keinginan tokoh `aku` karena ia menyadari, baik dirinya maupun tokoh `aku`
sudah sama-sama tua. Di samping itu,
bayangan istri tokoh aku masih melekat di benaknya. Bahkan, ia merasa bahwa pertemuan rutinnya di
bangku batu itu lebih merupakan tempat persembunyian dari intaian mendiang
istri tokoh `aku` dan juga suaminya sendiri yang telah lama meninggal
dunia. Oleh karena itu, ia mengambil
keputusan agar hubungannya seperti sekarang saja (hubungan persahabatan).
Jika
kita telusuri teks di atas, unsur harapan yang ada pada tokoh `aku` dimulai
ketika pada suatu Minggu tokoh `aku` bertemu kembali dengan Juliati, temannya,
setelah selama enam bulan tidak bertemu.
Bahkan, bukan hanya itu, ternyata Juliati ingat betul bahwa hari itu
merupakan ulang tahun tokoh `aku` yang ke-76.
Tokoh `aku` yang mengira Juliati marah padanya, ternyata salah
duga. Justru, Juliati memberikan surprise, dengan memberikan hadiah ulang
tahunnya berupa sepatu olah raga (“Roy. Selamat ulang tahun, semoga tetap sehat dan
panjang umur,” katanya seraya memberi sebuah bungkusan kecil. Juliati menyuruh aku membuka kado itu). Dengan
pemberian itu bagi tokoh `aku` ada anggapan bahwa Juliati sangat memperhatikan
dirinya sehingga tumbuh kesempatan untuk menyatakan harapannya. Harapan itu semakin kuat karena anak bungsu
Juliati, Willy, sudah tidak berada lagi di Indonesia. Di samping itu, setelah anaknya pergi,
Juliati tinggal sendiri (“ Oke. Tapi kamu
juga harus maafkan Willy, Aku tak ingin ada konflik dengan anakku sendiri. Orang setua kita harus pandai-pandai mengelak
dari konflik. Betul kan? Tapi kini aku berani ke sini lagi, karena
Willy sudah tak di Indonesia lagi. Dia
sudah kawin dengan orang bule itu. Kini aku sudah sendirian di rumah. Mengambil uang pensiun juga sendiri, begitu
juga membayar rekening listrik dan telepon,” kata Juliati).
Harapan
untuk menyampaikan hasratnya semakin kuat manakala Juliati membolehkan
menelponnya setiap waktu meskipun dari pihak Juliati tidak akan menelpon tokoh
`aku` karena masih ada trauma dengan istrinya ( ”Sekarang kamu boleh menelpon saya anytime, Roy. Namun jangan harapkan aku yang menelpon
kamu. Aku tetap saja tidak akan menelpon
kamu. Aku seperti mengidap trauma, selalu merasa istrimu masih hidup” ). Selayaknya, tokoh `aku` ketika Juliati
mengatakan bahwa ia tidak berkenan menelponnya karena masih ada trauma dengan
istrinya, ia harus menyadari kalau Juliati tidak menghendaki adanya hubungan
yang lebih jauh dari sekedar berteman.
Tetapi, tokoh `aku` yang tidak pandai membaca perkataan seseorang,
bertindak sebaliknya. Artinya, ia tetap
memiliki harapan terhadap Juliati (Tetapi
ada satu hal penting. Walapun setelah
pertemuan itu aku dan Juliati masih bertemu terus setiap pekan, dan walaupun
aku sudah diperkenankan berkunjung ke rumahnya, tetapi satu hal senantiasa aku
takut menyatakan kepadanya. Itu menjadi
sebuah rahasia abadi. Rahasiaku itu aku
pendam dalam-dalam) meskipun ia juga menyadari adanya risiko yang akan
terjadi jika diterima keinginannya dan ditolak (Katakanlah aku bisa coba-coba menyatakan hal itu kepada Juliati, dan
Juliati pun senang hati menerimanya.
Kalau memang begitu, tentu aku tidak menderita apa-apa malahan tambah
bahagia, tambah sehat dan punya masa tua yang indah. Katakanlah semisal Juliati menerimanya!
Sebaliknya, jika hal itu kunyatakan pada Juliati, dan Juliati tak senang dan
dia menolak, aku akan terkena stroke.
Tak sedikit orang-orang berusia lanjut tidak mampu menerima hal yang
mengejutkan lalu terkena stroke).
Dengan
cukup berani tokoh `aku` menyampaikannya (“Juli”,
ucapku gemetar, “Aku akan menyatakan sesuatu” ). Juliati yang pandai
membaca keinginan tokoh `aku` meskipun belum selesai disampaikan secara
langsung menjawabnya (Dia menatapku,
kemudian meluncurlah ucapannya:”Sebaiknya jangan. Aku sudah tahu apa yang mau kaukatakan. Kita kan sudah tua? Buat apa kita menjadi
anak kecil lagi, Roy? Mendingan seperti
ini saja seterusnya. Kamu hidup di
rumahmu, menggoreng telur mata sapi dan tempe setiap pagi. Aku di rumahku, menunggu surat-surat dari
anakku. Sekali seminggu kita ketemu di
bangku batu ini. Kita tidak terlibat
dalam konflik, bukan?”). Jawaban
Juliati memupus harapan tokoh `aku` walaupun dibujuk dengan “Jangan marah Roy. Walaupun sikapku aneh, aku tetap saja
menganggap istrimu masih hidup. Tahu
kamu, aku hadir di bangku batu ini seolah-olah mencuri-curi agar istrimu dan
suamiku tidak memergoki kita,” ucapnya tertawa kecil.
Potongan
cerita di atas mengajarkan kita bahwa tidak semua harapan yang kita inginkan
dapat terkabul dengan baik. Manakala harapan terkabul kita tidak boleh
melupakan itu merupakan suatu kenikmatan dari-Nya. Namun, manakala kita tidak memperolehnya kita
tidak pun harus berbesar hati. Di sisi
lain, kita pun selayaknya pandai melihat suatu fenomena manakala ada ucapan
atau ungkapan (tersirat) yang menunjukkan tidak adanya titik harapan buat kita.
Hal itu sangat membantu kita agar kita tidak terlalu terburu-buru menyampaikan
keinginan atau harapan kita walaupun kita melihat banyak sela yang seringkali
mempengaruhi kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar