Rabu, 09 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (11)

Bahasa Menunjukkan Kualitas Diri

Subagio S. Waluyo


Siapapun orangnya kalau mau berhasil dalam hidupnya harus punya kualitas diri. Orang yang punya kualitas diri memiliki salah satu indikator dengan meminjam konsep yang dikemukakan A. Mangunhardjana dalam bukunya Isme-Isme Dari A Sampai Z, (1997:45) adalah orang yang sadar terlibat. Atau boleh juga disebut orang yang mau berbuat sesuatu atas hal yang disadarinya. Orang yang minimal mengetahui dan memahami tentang perannya di muka bumi sehingga dia melakukan hal-hal positif baik untuk dirinya, orang lain, maupun bangsa (kalau perlu agamanya). Dengan demikian, orang dinilai memiliki kualitas diri kalau orang tersebut menyadari hakikat dirinya dan kemampuannya sebagai manusia. Tidak cukup sampai di situ, dengan kemampuan (potensi) yang ada pada dirinya dia melakukan sesuatu yang bermanfaat. 

Artikel Agama (3)

"UZLAH"     



Ibnu Athoillah Assukandary dalam Syarah Hikam menyebutkan bahwa dalam diri manusia terdapat yang namanya al-qalbu(hati).  Hati ini bisa membuat manusia sejahtera dan bisa pula membuat manusia sakit.  Namun, menurut Beliau selanjutnya mengatakan bahwa hati ini pula yang membuat tumbuhnya iman, tempat berseminya ma`rifat kepada Allah, dan berkembangnya rasa keikhlasan.

Kebahasaan dan Kesastraan (10)

LEWAT PUISI AMIR HAMZAH BICARA 
TENTANG CINTA PADA TUHAN



Padamu Jua
                    Amir Hamzah
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Mati hari – bukan kawanku …

                             (Nyanyi Sunyi, 1959:5)

            Puisi di atas menggambarkan betapa manusia pada akhirnya harus kembali kepada Tuhannya karena hanya Tuhan yang memberi kedamaian dan kebahagiaan. Manusia yang mencari selain Tuhan ia tidak akan memperoleh cahaya.  Dengan kata lain, ia akan memperoleh kegelapan seperti orang buta yang meraba-raba mencari benda-benda di sekitarnya.  Karena itu, cahaya Tuhan demikian berharga buat manusia dia diibaratkan sebagai:

Kebahasaan dan Kesastraan (09)

EBIET MENGAJAK KITA MENCINTAI ALLAH


Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang ber-Tuhan.  Karena manusia makhluk yang ber-Tuhan (beragama maksudnya), tentu saja di dalam hati nuraninya yang bersih pasti mengakui adanya Yang Maha Esa, Maha Kuasa,  Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki Tuhan dengan sebutan kata `Maha` di depannya merupakan wujud pengakuan kita kepada Sang Khalik.  Pengakuan ini pun seharusnya diwujudkan sebagai landasan pada saat kita mencintai siapapun.  Artinya, kita harus menjadikan bahwa karena hanya Allah kita mencintai siapapun.

Kebahasaan dan Kesastraan (08)

TANGGUNG JAWAB DALAM PROSA INDONESIA 


Salah satu kelebihan manusia diciptakan Tuhan adalah manusia memiliki tanggung jawab.  Karena memiliki tanggung jawab, manusia juga makhluk pengabdi. Untuk mengabdi (kepada Sang Khalik tentunya) manusia memerlukan pedoman atau aturan yang kita namakan sebagai pandangan hidup (boleh juga agama).  Apa itu pandangan hidup?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut, coba  kita dapat  amati dua potongan kisah yang ditulis oleh Kuntowidjojo berikut ini.

Kebahasaan dan Kesastraan (07)

PENDERITAAN DALAM JANTERA BIANG LALA 


           Setiap orang pasti pernah mengalami penderitaan.  Kalau ada orang yang mangaku bahwa dia tidak pernah menderita, pengakuannya pasti bohong.  Atau kalau ada orang yang tidak mau menderita,  berati dia telah melawan dan mengingkari kenyataan hidup.  Ia tergolong manusia hedonis.  Manusia yang hanya mau hidup serba enak menghindari penderitaan.  Manusia jenis ini pun manusia yang melawan dan mengingkari kenyataan.  Mengapa?  Ia mengingkari kenyataan hidup karena masalah  penderitaan adalah masalah yang terus mengikuti hidup kita sejak kita berada di dunia sampai nanti dicabut nyawa kita.  Jadi, sebagai manusia kita harus siap hidup menderita.

Kebahasaan dan Kesastraan (06)

UNSUR KEGELISAHAN DALAM KARYA SASTRA


            Seorang ibu rumah tangga mengeluhkan tentang anaknya yang gagap jika berbicara.  Anaknya sejak berumur lima tahun sangat sulit untuk menyebut kata-kata yang dimulai dengan huruf `s` seperti mengucapan kata `saya` yang terasa sulit sehingga diucapkan “…ssssa-sa-saya….“ Ibu tersebut gelisah jika sampai dewasa nanti anaknya akan gagap seperti itu karena sudah banyak cara yang dilakukan tidak banyak membawa hasil.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...