Rabu, 09 Oktober 2013

Artikel Agama (3)

"UZLAH"     



Ibnu Athoillah Assukandary dalam Syarah Hikam menyebutkan bahwa dalam diri manusia terdapat yang namanya al-qalbu(hati).  Hati ini bisa membuat manusia sejahtera dan bisa pula membuat manusia sakit.  Namun, menurut Beliau selanjutnya mengatakan bahwa hati ini pula yang membuat tumbuhnya iman, tempat berseminya ma`rifat kepada Allah, dan berkembangnya rasa keikhlasan.
Berkembangnya rasa keikhlasan manusia sangat dipengaruhi oleh gersang tidaknya hati manusia.  Kegersangan hati manusia hanya bisa terobati oleh kedekatan dirinya pada Allah (taqarrubillaallah). Bagaimana untuk melakukannya?  Untuk melakukan taqarrub illaallah hanya ada satu cara, yaitu ber-uzlah.  Dimaksudkan dengan uzlah menurut Ibnu Athoillah adalah menghadapkan hati secara terarah khusus kepada Allah.  Dengan demikian, menurut Beliau,  hati akan terbebaskan dari masuknya gambaran-gambaran lain selain Allah.
        Uzlah yang mana akan kita pilih karena menurut Syeikh Zarruq uzlah terbagi dalam tiga bagian, yaitu:
1. orang yang ber-uzlah dengan hatinya saja sementara badannya/fisiknya tidak;
2. orang yang ber-uzlah badannya saja sementara hatinya tidak; dan
3.  orang yang ber-uzlah baik badan maupun hatinya.
Orang yang ber-uzlah menurut kriteria pertama adalah orang yang dapat memelihara hatinya dari keadaan sekitar dia.  Meskipun ia hidup di tengah-tengah kemaksyiatan, ia tidak terpengaruh oleh keadaan sekitarnya.  Orang yang ber-uzlah menurut kriteria kedua adalah orang yang terpengaruh oleh keadaan sekitarnya meskipun ia tinggal jauh dari keramaian kota (hidup menyendiri di tepi  hutan).  Sedangkan orang yang beruzlah menurut kriteria ketiga adalah orang yang benar-benar menjauhkan diri dari keadaan sekitarnya baik fisik maupun hatinya.
       Uzlah yang terbaik menurut Ibnu Athoillah adalah uzlah-nya Ahlun Nihayah atau tingkat sempurna .    Orang yang masuk kriteria pertama ini hidupnya diibaratkan seekor ikan yang hidup di laut.  Ikan laut tidak akan terasa asin walaupun ia hidup di air laut yang demikian asinnya. Begitulah hidup orang yang beriman, yang demikian dekatnya kepada Allah, ia tidak akan terpengaruh oleh keadaan sekitarnya meskipun di sekitarnya telah merajalela berbagai bentuk kemungkaran.  Justeru ia berbuat sebaliknya, ia berupaya memperbaiki keadaan sekitarnya dengan berdakwah.  Dakwah baginya merupakan kewajiban dalam rangka mencegah kemungkaran dan menegakkan kema`rufan  (3:104,110).  Tentu saja dakwah yang dilakukan adalah dakwah yang sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah saw.  Dakwah yang mengajak manusia untuk beriman kepada Allah  dengan cara memberi hikmah, memberi contoh teladan yang baik, dan memperlakukan manusia dengan rasa kemanusiaan (16:125) agar manusia dapat melakukan hal yang serupa  dengan dirinya, yaitu melakukan uzlah untuk mencapai tingkat kesempurnaan (uzlah ahlun nihayah).  Di bulan yang mulia ini, bulan yang penuh rahmat, maghfiroh (ampunan), dan itqun minan nar (bebas dari api neraka) ini sudah selayaknya setiap muslim melakukan uzlah.  Mudah-mudahan dengan ber-uzlah akan tercapai derajat taqwa sebagaimana yang termaktub di penghujung Surah Al-Baqarah : 183.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...