Ibnu Athoillah Assukandary dalam Syarah Hikam menyebutkan bahwa dalam
diri manusia terdapat yang namanya al-qalbu(hati). Hati ini bisa membuat manusia sejahtera dan
bisa pula membuat manusia sakit. Namun,
menurut Beliau selanjutnya mengatakan bahwa hati ini pula yang membuat
tumbuhnya iman, tempat berseminya ma`rifat kepada Allah, dan berkembangnya rasa
keikhlasan.
Berkembangnya rasa keikhlasan manusia
sangat dipengaruhi oleh gersang tidaknya hati manusia. Kegersangan hati manusia hanya bisa terobati
oleh kedekatan dirinya pada Allah (taqarrubillaallah).
Bagaimana untuk melakukannya? Untuk
melakukan taqarrub illaallah hanya
ada satu cara, yaitu ber-uzlah. Dimaksudkan dengan uzlah menurut Ibnu Athoillah adalah menghadapkan hati secara
terarah khusus kepada Allah. Dengan
demikian, menurut Beliau, hati akan
terbebaskan dari masuknya gambaran-gambaran lain selain Allah.
Uzlah
yang mana akan kita pilih karena menurut Syeikh Zarruq uzlah terbagi dalam tiga bagian, yaitu:
1. orang
yang ber-uzlah dengan hatinya saja
sementara badannya/fisiknya tidak;
2. orang
yang ber-uzlah badannya saja
sementara hatinya tidak; dan
3. orang yang ber-uzlah baik badan maupun hatinya.
Orang yang
ber-uzlah menurut kriteria pertama
adalah orang yang dapat memelihara hatinya dari keadaan sekitar dia. Meskipun ia hidup di tengah-tengah
kemaksyiatan, ia tidak terpengaruh oleh keadaan sekitarnya. Orang yang ber-uzlah menurut kriteria kedua adalah orang yang terpengaruh oleh
keadaan sekitarnya meskipun ia tinggal jauh dari keramaian kota (hidup
menyendiri di tepi hutan). Sedangkan orang yang beruzlah menurut kriteria ketiga adalah orang yang benar-benar
menjauhkan diri dari keadaan sekitarnya baik fisik maupun hatinya.
Uzlah
yang terbaik menurut Ibnu Athoillah adalah uzlah-nya Ahlun Nihayah atau
tingkat sempurna . Orang yang masuk kriteria pertama ini
hidupnya diibaratkan seekor ikan yang hidup di laut. Ikan laut tidak akan terasa asin walaupun ia
hidup di air laut yang demikian asinnya. Begitulah hidup orang yang beriman, yang
demikian dekatnya kepada Allah, ia tidak akan terpengaruh oleh keadaan
sekitarnya meskipun di sekitarnya telah merajalela berbagai bentuk
kemungkaran. Justeru ia berbuat
sebaliknya, ia berupaya memperbaiki keadaan sekitarnya dengan berdakwah. Dakwah baginya merupakan kewajiban dalam
rangka mencegah kemungkaran dan menegakkan kema`rufan (3:104,110). Tentu saja dakwah yang dilakukan adalah
dakwah yang sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah saw. Dakwah yang mengajak manusia untuk beriman
kepada Allah dengan cara memberi hikmah,
memberi contoh teladan yang baik, dan memperlakukan manusia dengan rasa
kemanusiaan (16:125) agar manusia
dapat melakukan hal yang serupa dengan
dirinya, yaitu melakukan uzlah untuk
mencapai tingkat kesempurnaan (uzlah
ahlun nihayah). Di bulan yang mulia
ini, bulan yang penuh rahmat, maghfiroh
(ampunan), dan itqun minan nar (bebas
dari api neraka) ini sudah selayaknya setiap muslim melakukan uzlah.
Mudah-mudahan dengan ber-uzlah
akan tercapai derajat taqwa sebagaimana yang termaktub di penghujung Surah Al-Baqarah : 183.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar