Bahasa
Menunjukkan Kualitas Diri
Subagio
S. Waluyo
Siapapun orangnya kalau mau berhasil
dalam hidupnya harus punya kualitas diri. Orang yang punya kualitas diri memiliki
salah satu indikator dengan meminjam konsep yang dikemukakan A. Mangunhardjana
dalam bukunya Isme-Isme Dari A Sampai Z,
(1997:45) adalah orang yang sadar terlibat. Atau boleh juga disebut orang yang
mau berbuat sesuatu atas hal yang disadarinya. Orang yang minimal mengetahui
dan memahami tentang perannya di muka bumi sehingga dia melakukan hal-hal
positif baik untuk dirinya, orang lain, maupun bangsa (kalau perlu agamanya).
Dengan demikian, orang dinilai memiliki kualitas diri kalau orang tersebut
menyadari hakikat dirinya dan kemampuannya sebagai manusia. Tidak cukup sampai
di situ, dengan kemampuan (potensi) yang ada pada dirinya dia melakukan sesuatu
yang bermanfaat.
Orang yang memiliki kualitas diri karena setiap kali sebelum mengambil keputusan atau melakukan suatu tindakan selalu mempertimbangkan baik-buruknya atau bermanfaat-tidak bermanfaatnya sehingga sudah bisa dipastikan dalam berpikir dan berucap/berbahasa juga selalu positif. Jadi, kalau ada orang yang berbicaranya rapi (positif) mencerminkan cara berpikirnya/logikanya juga positif. Meskipun demikian ada pengecualian bagi orang-orang yang memang pekerjaannya suka menipu (tukang tipu) mereka juga rapi dalam berbicara. Alasan-alasan yang dikemukakan juga bisa diterima logika orang yang diajak berbicaranya. Orang yang diajak bicara sampai tertarik dengan retorikanya sehingga tanpa sadar dia terjerat oleh tipu dayanya. Tetapi, silakan dicoba kalau sekali waktu kita berupaya menyatakan ketidakmauan kita untuk mengikuti kehendaknya, akan tampak warna aslinya. Dia akan mengeluarkan kata-kata yang tidak layak kita dengar disertai dengan air mukanya yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya. Memang, kalau kita baru sekali menentangnya, dia belum menampakkan warna aslinya. Dia masih bisa bersikap sabar menunggu kesempatan sampai kita mau ditipu. Kalau sudah ke sekian kalinya kita tetap menentang bahkan berani adu argumen, baru tampak warna aslinya. Dia menunjukkan kekecewaannya karena keinginannya yang tidak terpenuhi.
Orang yang memiliki kualitas diri karena setiap kali sebelum mengambil keputusan atau melakukan suatu tindakan selalu mempertimbangkan baik-buruknya atau bermanfaat-tidak bermanfaatnya sehingga sudah bisa dipastikan dalam berpikir dan berucap/berbahasa juga selalu positif. Jadi, kalau ada orang yang berbicaranya rapi (positif) mencerminkan cara berpikirnya/logikanya juga positif. Meskipun demikian ada pengecualian bagi orang-orang yang memang pekerjaannya suka menipu (tukang tipu) mereka juga rapi dalam berbicara. Alasan-alasan yang dikemukakan juga bisa diterima logika orang yang diajak berbicaranya. Orang yang diajak bicara sampai tertarik dengan retorikanya sehingga tanpa sadar dia terjerat oleh tipu dayanya. Tetapi, silakan dicoba kalau sekali waktu kita berupaya menyatakan ketidakmauan kita untuk mengikuti kehendaknya, akan tampak warna aslinya. Dia akan mengeluarkan kata-kata yang tidak layak kita dengar disertai dengan air mukanya yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya. Memang, kalau kita baru sekali menentangnya, dia belum menampakkan warna aslinya. Dia masih bisa bersikap sabar menunggu kesempatan sampai kita mau ditipu. Kalau sudah ke sekian kalinya kita tetap menentang bahkan berani adu argumen, baru tampak warna aslinya. Dia menunjukkan kekecewaannya karena keinginannya yang tidak terpenuhi.
Di dunia ini banyak orang yang
terlatih dalam bicara. Namun, semuanya hanya retorika. Untuk bisa memiliki
retorika yang apik, banyak orang yang belajar melalui pendidikan dan pelatihan kepemimpinan,
misalnya, atau bisa juga ketika seseorang memasuki sebuah organisasi entah
organisasi massa, kemahasiswaan, atau politik biasanya orang tersebut mau tidak
mau harus belajar kepemimpinan dan keorganisasian yang di antaranya juga dipelajari
yang berkaitan dengan cara-cara berkomunikasi, seperti public speaking. Seorang anggota dewan, misalnya, dia harus
berani dan pandai bicara walaupun
seringkali argumennya lemah ketika berhadapan dengan orang-orang yang lebih
menguasai bidang keilmuan tertentu. Tapi, karena kepiawaiannya dalam beretorika
sudah tidak diragukan lagi tidak mustahil pendapatnya seringkali bisa
dimenangkan meskipun di kemudian hari
ternyata pendapatnya bisa juga salah. Orang yang biasa di parlemen karena
terbiasa berdebat, adu argumen, tidak mustahil dalam kondisi tertentu jika
tidak bisa menguasai diri kualitas dirinya juga bisa turun. Untuk itu, melihat
kondisi sudah demikian genting tidak aneh kalau bukan hanya mulut yang bicara
tapi juga tangan yang bicara.
Orang yang memiliki kualitas diri
tentu saja juga bisa mengendalikan diri. Dalam kondisi apapun atau siapapun
dia, entah dia seorang anggota dewan atau seorang manajer atau seorang tokoh
agama sekalipun ketika dia harus berhadapan dengan kondisi yang sulit dia masih
bisa mengontrol dirinya. Kata-katanya tetap bernas, punya daya tusuk atau daya
tikam sampai ke relung-relung hati yang paling dalam orang yang jadi lawan
bicaranya. Dia tidak mudah tersinggung dengan kata-kata lawan bicaranya walaupun
lawan bicaranya dalam berbicara cenderung sinis atau kasar (bahkan tidak
mustahil keluar kata-kata yang tidak enak didengar) karena dia benar-benar bisa
menguasai dirinya. Justru orang yang menyaksikan bisa menilai betapa rendahnya
kualitas lawan bicaranya. Kata-kata yang keluar dari lawan bicaranya yang tidak
bisa mengontrol dirinya akan menjatuhkan posisi diri lawan bicaranya. Kalau
lawan bicaranya seorang anggota dewan terhormat yang telah lumutan di parlemen,
ternyata sekian lama di dunia politik tidak mendidiknya menjadi wakil rakyat
yang terhormat.Kalau lawan bicaranya seorang terdidik yang memiliki gelar
akademik yang `bererot` (banyak) karena lulusan dari perguruan tinggi ternama
di dunia, ternyata gelar akademik, pengalaman pembelajaran di bangku perguruan
tinggi tidak memberi bekas. Dia ternyata tidak bisa mempraktekkan komponen yang
ada dalam filsafat ilmu, yaitu aksiologi. Mungkin secara epistimologi dan
ontologi dalam filsafat ilmu dia telah benar-benar menguasainya, tetapi tidak
dengan aksiologinya. Begitu juga dengan seorang pejabat negara atau petinggi
militer atau siapapun juga profesi terhormatnya kalau tidak bisa menguasai diri
orang tersebut tidak akan memiliki kualitas diri.
Kualitas diri seseorang tidak
dibutuhkan latihan seperti orang yang dilatih lewat pendidikan dan pelatihan
kepemimpinan. Tidak juga dia harus masuk organisasi massa, organisasi
mahasiswa, atau organisasi politik agar bisa memiliki kualitas diri karena
semua itu hanya sarana/alat. Orang yang memiliki kualitas diri adalah orang
yang belajar untuk berendah hati di
hadapan sesama manusia. Dia juga belajar berendah diri di hadapan Sang Khalik,
Allah SWT. Karena rendah hati, orang yang demikian ketika dia
berbicara/berbahasa juga bisa menunjukkan kualitas dirinya. Marilah kita
belajar untuk berendah hati walaupun kita bukan wakil rakyat terhormat atau
bukan seorang akademisi terhormat atau bukan seorang tokoh ormas atau orpol
atau pejabat negara atau petinggi militer atau pengusaha kelas internasional.
Sesungguhnya, di hadapan Sang Khalik semua manusia sama kecuali ketaqwaannya
(Surat Hujurat:13). Dengan rendah hati di hadapan manusia mudah-mudahan kita
bisa memiliki kualitas diri sehingga dalam berbahasa pun kita bisa menunjukkan
kualitas diri kita. Wallahu a`lam
bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar