Rabu, 09 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (11)

Bahasa Menunjukkan Kualitas Diri

Subagio S. Waluyo


Siapapun orangnya kalau mau berhasil dalam hidupnya harus punya kualitas diri. Orang yang punya kualitas diri memiliki salah satu indikator dengan meminjam konsep yang dikemukakan A. Mangunhardjana dalam bukunya Isme-Isme Dari A Sampai Z, (1997:45) adalah orang yang sadar terlibat. Atau boleh juga disebut orang yang mau berbuat sesuatu atas hal yang disadarinya. Orang yang minimal mengetahui dan memahami tentang perannya di muka bumi sehingga dia melakukan hal-hal positif baik untuk dirinya, orang lain, maupun bangsa (kalau perlu agamanya). Dengan demikian, orang dinilai memiliki kualitas diri kalau orang tersebut menyadari hakikat dirinya dan kemampuannya sebagai manusia. Tidak cukup sampai di situ, dengan kemampuan (potensi) yang ada pada dirinya dia melakukan sesuatu yang bermanfaat. 


Orang yang memiliki kualitas diri karena setiap kali  sebelum mengambil keputusan atau melakukan suatu tindakan selalu mempertimbangkan baik-buruknya atau bermanfaat-tidak bermanfaatnya sehingga sudah bisa dipastikan dalam berpikir dan berucap/berbahasa juga selalu positif. Jadi, kalau ada orang yang berbicaranya rapi (positif) mencerminkan cara berpikirnya/logikanya juga positif. Meskipun demikian ada pengecualian bagi orang-orang yang memang pekerjaannya suka menipu (tukang tipu) mereka juga rapi dalam berbicara. Alasan-alasan yang dikemukakan juga bisa diterima logika orang yang diajak berbicaranya. Orang yang diajak bicara sampai tertarik dengan retorikanya sehingga tanpa sadar dia terjerat oleh tipu dayanya. Tetapi, silakan dicoba kalau sekali waktu kita berupaya menyatakan ketidakmauan kita untuk mengikuti kehendaknya, akan tampak warna aslinya. Dia akan mengeluarkan kata-kata yang tidak layak kita dengar disertai dengan air mukanya yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya. Memang, kalau kita baru sekali menentangnya, dia belum menampakkan warna aslinya. Dia masih bisa bersikap sabar menunggu kesempatan sampai kita mau ditipu. Kalau sudah ke sekian kalinya kita tetap menentang bahkan berani adu argumen, baru tampak warna aslinya. Dia menunjukkan kekecewaannya karena keinginannya yang tidak terpenuhi.

Di dunia ini banyak orang yang terlatih dalam bicara. Namun, semuanya hanya retorika. Untuk bisa memiliki retorika yang apik, banyak orang yang belajar melalui pendidikan dan pelatihan kepemimpinan, misalnya, atau bisa juga ketika seseorang memasuki sebuah organisasi entah organisasi massa, kemahasiswaan, atau politik biasanya orang tersebut mau tidak mau harus belajar kepemimpinan dan keorganisasian yang di antaranya juga dipelajari yang berkaitan dengan cara-cara berkomunikasi, seperti public speaking. Seorang anggota dewan, misalnya, dia harus berani  dan pandai bicara walaupun seringkali argumennya lemah ketika berhadapan dengan orang-orang yang lebih menguasai bidang keilmuan tertentu. Tapi, karena kepiawaiannya dalam beretorika sudah tidak diragukan lagi tidak mustahil pendapatnya seringkali bisa dimenangkan meskipun di  kemudian hari ternyata pendapatnya bisa juga salah. Orang yang biasa di parlemen karena terbiasa berdebat, adu argumen, tidak mustahil dalam kondisi tertentu jika tidak bisa menguasai diri kualitas dirinya juga bisa turun. Untuk itu, melihat kondisi sudah demikian genting tidak aneh kalau bukan hanya mulut yang bicara tapi juga tangan yang bicara. 

Orang yang memiliki kualitas diri tentu saja juga bisa mengendalikan diri. Dalam kondisi apapun atau siapapun dia, entah dia seorang anggota dewan atau seorang manajer atau seorang tokoh agama sekalipun ketika dia harus berhadapan dengan kondisi yang sulit dia masih bisa mengontrol dirinya. Kata-katanya tetap bernas, punya daya tusuk atau daya tikam sampai ke relung-relung hati yang paling dalam orang yang jadi lawan bicaranya. Dia tidak mudah tersinggung dengan kata-kata lawan bicaranya walaupun lawan bicaranya dalam berbicara cenderung sinis atau kasar (bahkan tidak mustahil keluar kata-kata yang tidak enak didengar) karena dia benar-benar bisa menguasai dirinya. Justru orang yang menyaksikan bisa menilai betapa rendahnya kualitas lawan bicaranya. Kata-kata yang keluar dari lawan bicaranya yang tidak bisa mengontrol dirinya akan menjatuhkan posisi diri lawan bicaranya. Kalau lawan bicaranya seorang anggota dewan terhormat yang telah lumutan di parlemen, ternyata sekian lama di dunia politik tidak mendidiknya menjadi wakil rakyat yang terhormat.Kalau lawan bicaranya seorang terdidik yang memiliki gelar akademik yang `bererot` (banyak) karena lulusan dari perguruan tinggi ternama di dunia, ternyata gelar akademik, pengalaman pembelajaran di bangku perguruan tinggi tidak memberi bekas. Dia ternyata tidak bisa mempraktekkan komponen yang ada dalam filsafat ilmu, yaitu aksiologi. Mungkin secara epistimologi dan ontologi dalam filsafat ilmu dia telah benar-benar menguasainya, tetapi tidak dengan aksiologinya. Begitu juga dengan seorang pejabat negara atau petinggi militer atau siapapun juga profesi terhormatnya kalau tidak bisa menguasai diri orang tersebut tidak akan memiliki kualitas diri.


Kualitas diri seseorang tidak dibutuhkan latihan seperti orang yang dilatih lewat pendidikan dan pelatihan kepemimpinan. Tidak juga dia harus masuk organisasi massa, organisasi mahasiswa, atau organisasi politik agar bisa memiliki kualitas diri karena semua itu hanya sarana/alat. Orang yang memiliki kualitas diri adalah orang yang  belajar untuk berendah hati di hadapan sesama manusia. Dia juga belajar berendah diri di hadapan Sang Khalik, Allah SWT. Karena rendah hati, orang yang demikian ketika dia berbicara/berbahasa juga bisa menunjukkan kualitas dirinya. Marilah kita belajar untuk berendah hati walaupun kita bukan wakil rakyat terhormat atau bukan seorang akademisi terhormat atau bukan seorang tokoh ormas atau orpol atau pejabat negara atau petinggi militer atau pengusaha kelas internasional. Sesungguhnya, di hadapan Sang Khalik semua manusia sama kecuali ketaqwaannya (Surat Hujurat:13). Dengan rendah hati di hadapan manusia mudah-mudahan kita bisa memiliki kualitas diri sehingga dalam berbahasa pun kita bisa menunjukkan kualitas diri kita. Wallahu a`lam bissawab.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...