TANGGUNG JAWAB DALAM PROSA INDONESIA
Salah
satu kelebihan manusia diciptakan Tuhan adalah manusia memiliki tanggung
jawab. Karena memiliki tanggung jawab,
manusia juga makhluk pengabdi. Untuk mengabdi (kepada Sang Khalik tentunya)
manusia memerlukan pedoman atau aturan yang kita namakan sebagai pandangan
hidup (boleh juga agama). Apa itu
pandangan hidup? Untuk menjawab
pertanyaan tersebut, coba kita
dapat amati dua potongan kisah yang
ditulis oleh Kuntowidjojo berikut ini.
“Katakanlah, Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?”
“Tidak ada , Kakek”, kataku,
keluar begitu saja dari kesadaranku. “Tidak ada yang lebih dari itu.”
“Bagus. Tidak
kusangka kau akan sepandai ini, Cucu.” Ia menepuk pundakku. Kemudian membenarkan letak duduknya dan
kembali menatap bunga-bunga itu.
“Segalanya mengendap. Cobalah lihat, cucu. Bunga-bunga di
atas air ini melam-bangkan ketenteraman, ketenangan dan keteguhan jiwa. Di luar mata-hari membakar. Hilir-mudik kendaraan.Orang berjalan ke
sana-kemari memburu waktu.Pabrik-pabrik ber- dentang. Mesin berputar. Di pasar
orang bertengkar tentang harga. Tukang copet
me-mainkan tangannya. Pemimpin
meneriakkan semboyan kosong. Anak-anak
bertengkar merebut layang-layang. Apakah
arti-nya semua itu, Cucu? Mereka
semua menipu diri sendiri. Hidup ditemukan dalam ketenangan. Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu. Hawa dingin menyejuk hatimu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu.Katakanlah,
apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan keteguhan batin, Cucu.”
Aku mendengarkan sebaik-baiknya. Ia mengatur nafas. Lalu berdiri.
“Nah, sudah sampai waktunya kita jalan-jalan!”
Kami berjalan. Menerobos pohon-pohon bunga. Pada setiap
bunga kakek men- jentik, tertawa. “Bagus.
Bagus sekali bukan, cucu?” Aku tersenyum. “Ya, dunia ini indah seperti bunga mekar.
Membuat dunia tenang. Ini dunia kita!”
(Dilarang Mencintai Bunga-bunga,1996:12-13)
Sahabat tua itu mengajaknya bersama menghabiskan waktu.
”Waktu,” kata sahabat itu, “Sesuatu harus kita nikmati.Seperti juga benda lainnya.” Barman menam-bahkan:”Ya,
atau kita makan waktu, atau kita dimakan waktu.” Dan ia tertawa. “Kita ber- sahabat, kita
mesti ramah!” sahabat itu meneruskan. “Mengapa mesti bermusuhan?”
Mereka pun menyiapkan diri untuk suatu perjalanan yang
sesuai dengan laki-laki tua. “Inilah
perjalanan dua orang kakek-kakek,” kata sahabat itu. Di rumah terdapat pancing. Barman dibawa ke belakang rumah. Ada sebuah jalan terbentang di situ. “Engkau mau mancing atau menjala, Bung?”
“Aku tak biasa dengan air sungai,” kata Barman.
Sahabat itu hanya tertawa.
“Engkau mesti belajar dari hidup ini.”
“Eh, engkau mau juga kita membawa telur? Dan jangan lupa
korek api. Menurut tampangmu, kau ini sebangsa orang yang belum
bahagia waktu kecil-mu, ya. Inilah saat
kauulang kembali riwayat itu. Bertualang
di gunung.”
Barman masih harus mempelajari sahabat barunya itu. Orang itu suka bicara, tidak seperti
diduganya semula.
“Jauhkah perjalanan kita?”
“Orang gunung akan mengatakan dekat saja. Apa peduli kita!” Laki-laki itu menunju-nunjuk suatu arah,
berbelok-belok dengan jari yang melayang-layang di udara. Mereka pun keluar dari pekarangan. Ketika sampai di bawah pohon cemra, Barman
baru teringat sesuatu, ia berhenti.
“Apa?” tanya sahabat barunya.
“Aku lupa. Belum menanyakan namamu.”
“Namaku Humam. Engkau
siapa?”
“Barman.”
“Tetapi, ah. Apa peduli kita. Nama yang satu sama saja
dengan lainnya. Aku sebenarnya tak lagi
punya nama. Aku hanyalah sesuatu seperti
yang lainnya. Di sini, nama tak ada
gunanya.”
Barman teringat kembali, hari-harinya yang habis di
jalanan. Ia selalu berjalan, tanpa nama
dan tanpa nama orang-orang lainnya. Apa
bedanya di kota dengan di gunung? Nama
sama-sama hilang di antara orang-orang atau di antara pohon-pohon.
“Humam, Hum atau Mam.
Engkau bisa usahakan telepon?”
Barman ingat Popi. Ia ingin
memberitahukan kepergiannya itu kepadanya.
“Untuk apa. Kita tak
perlu apa pun lagi. Kita sudah
hilang.”
Barman tak mengerti pernyataan itu, namun ia menghormati bahkan
kata-kata yang sulit dipahami. Dan ia
dapat mengagumi.
“Jadi bagaimana?”
“Kesendirian adalah hakikat kita, he.”
“Anakmu.
Istrimu. Keluargamu. Sahabatmu.”
“Semua sudah kulepaskan.”
“Semuanya?”
“Ya.”
“Dan aku?”
“Pertemuan kita lain, Bung. Suatu kebetulan belaka.Hubungan
kita ialah bukan hubungan.”
Untuk beberapa lama mereka diam. Barman mencoba mengingat sahabat itu:
Laki-laki tua yang hidup sendiri!
Pikirannya berjalan-jalan. Sampai
Humam menyentuh tangannya. “Hati-hati!”
Mereka berjalan di pinggir jurang.
“Kalau engkau memikirkan aku, itu kesalahan Bung. Justru karena ber-tentangan dengan
keadaanku. Tidak ada yang perlu
dikhawatirkan. Itu sudah berjalan, dan berjalan dengan baik. Beban itu sudah kulepaskan.”
Laki-laki yang baru dikenal itu banyak menimbulkan
pertanyaan bagi Barman daripada jawab. Barman mengira itu sebuah kecelakaan.
Dan ia menge-luh, mengenangkan Popi yang di rumah. Tak terasa ia memukul
jidatnya sendiri. Orang itu merasa senang dengan hidupnya yang menyendiri. Sedangkan ia merasa itu penderitaan. Ketika ia menoleh pada sahabat itu, laki-laki
yang memberinya teka-teki itu mengatakan kepadanya: “Keadaanku ialah
ketiadaan-ku,” dan seperti berbicara pada diri sendiri: “Atau sebaliknya.”
(Khotbah di Atas Bukit, 2000:68-71)
Kedua
potongan kisah di atas memberikan banyak pandangan hidup. Jika kita amati secara teliti, kita akan
mendapatkan ada hal-hal yang sama tentang ungkapan-ungkapan yang sarat dengan
pandangan hidup (filsafat), baik yang dikemukakan oleh si pemelihara
bunga-bunga (kakek) kepada anak tetangganya (cucu) pada cerpen “Dilarang
Mencintai Bunga-bunga” maupun oleh Humam kepada Barman (pada novel Khotbah di Atas Bukit).
Ungkapan-ungkapan yang sarat dengan pandangan hidup (filsafat) itu di
antaranya:
“Dilarang
Mencintai Bunga-bunga”
|
Khotbah di Atas Bukit
|
||
1.
|
“Katakanlah,
Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?”
|
1.
|
“Inilah
saat kauulang kembali riwayat itu.”
|
2.
|
“Segalanya
mengendap…Bunga- bunga di atas air ini melambang-kan ketenteraman,
ketenangan dan keteguhan jiwa…. Mereka semua menipu diri sendiri. Hidup ditemukan dalam ketenang an. Bukan
dalam hiruk-pikuk du-nia.Tataplah bunga-bunga di atas air itu.Hawa dingin
menyejuk ha- timu. Engkau menemukan dirimu. Engkau akan tahu,siapakah
diri- mu. Katakanlah, apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa dan
keteguhan batin, Cucu.”
|
2.
|
“Aku
sebenarnya tak lagi punya nama. Aku
hanyalah sesuatu seperti yang lainnya.”
|
3.
|
“Ya,
dunia ini indah seperti bunga mekar.
Membuat dunia tenang ini dunia kita!”
|
3.
|
“Kita
tak perlu apa pun lagi. Kita sudah
hilang.”
|
4.
|
4.
|
“Kesendirian
adalah hakikat kita, he.”
|
|
5.
|
5.
|
“Pertemuan
kita lain, Bung.Suatu ke- betulan. Hubungan kita ialah bukan hubungan.”
|
|
6.
|
6.
|
“Itu
sudah berjalan, dan berjalan de-ngan baik. Beban itu sudah dilepas-kan.”
|
|
7.
|
7.
|
“Keadaanku
ialah ketiadaanku.”
“Atau
sebaliknya.”
|
|
Dari
tabel di atas kita menemukan ada beberapa ungkapan yang bermakna sama,
seperti “Hidup ditemukan dalam
ketenangan” dengan “Kesendirian adalah hakikat kita “ atau “Engkau
menemukan dirimu. Engkau akan tahu,siapakah dirimu” dengan
“Kita tak perlu apa pun lagi.
Kita sudah hilang.”
Ungkapan-ungkapan tersebut
menunjukkan betapa kayanya pandangan hidup yang dimiliki penulisnya
(Kuntowidjojo). Ungkapan-ungkapan yang
sarat dengan nasihat itu juga merupakan sarana kita untuk bercermin seraya
bertanya pada diri sendiri : selama di dunia ini, apakah kita telah melakukan
peran kita sepenuhnya selaku manusia di hadapan Sang Khalik?
Sehubungan
dengan masalah pandangan hidup, seandainya ada orang yang bertanya: pandangan
hidup apakah yang terbaik bagi manusia?
Kita tidak usah ragu-ragu bahwa pandangan hidup yang terbaik bagi
manusia adalah yang datangnya dari Sang Khalik (agama). Kita bisa mengatakan demikian karena:
·
agama bersifat universal sehingga kebaikan agama adalah
kebaikan bagi seluruh umat manusia (tidak dibatasi oleh geografis, kesukuan,
kebangsaan, ras, dan warna kulit);
·
agama tidak terikat oleh waktu, artinya sampai kapan pun,
baik perintah maupun larangannya akan tetap berlaku dan tidak boleh disesuaikan
oleh kondisi waktu;
·
agama datang dari Sang Pencipta Manusia yang tentu saja akan
mengetahui sisi-sisi kelemahan manusia sehingga apapun yang diberikan untuk
manusia sudah diperhitungkan oleh-Nya; dan
·
kebenaran agama yang datangnya dari Tuhan tidak bisa
diragukan karena semua itu dikembalikan pada umatnya (sementara kebenaran yang
diciptakan manusia sifatnya relatif dan mudah berubah karena manusia tidak akan
mungkin bisa melepaskan sifat-sifat manusiawinya yang di satu sisi justru
banyak memiliki kelemahan).
Dengan adanya
butir-butir di atas, masih layakkah kita menyepelekan pandangan hidup yang
datangnya dari Tuhan (agama)? Risiko apa
yang akan muncul jika kita menyepelekannya?
Coba, kita perhatikan petikan kisah berikut ini.
BULAN SABIT
Joni Ariadinata
………………………………………………………………………………………………………
Kota
itu pun milik hantu. Gelomang dzikir
mengutuknya dengan sopan, dan di lorong-lorong orang berbicara politik. Maut tetap mengintai. Perempuan-perempuan, para janda anak-anak
orang tua; ribuan lelaki-perempuan dipaksa mati di jalan-jalan.Dibenam di hutan
rawa. Maka hantu berubah menjadi
iblis:langit, katanya, kelak berwarna hitam kelam.
“Kami
benci tentara.”Rapat suara bocah memandang
langit. Beribu-ribu.Tak ada tangis: “Bapak kami mati ditembak!” bergelombang
masuk hutan. Dendam merubah dada menjadi
besi. Menjadi api.
“Maukah
kutembak? Kalian bukan pahlawan, tapi pengkhianat. Pemberontak tengik! Siapa
pemimpin kalian, heh?!” bertanya. Ribuan
interogasi. Bunyi salak pistol dan
penjara. Malam hitam kegelapan
pintu-pintu dan jendela rumah.
Dijarah. Tapi barisan beku
mengatup:”Pemimpin kami adalah hati.
Kami tak pernah takluk pada iblis yang menciptakan api! Kalianlah pengkhianat…”
“Sial!!”
raungan truk dan gemerocak rantai panser baja meletupkan amarah tengik. Pusaran waktu pecah:gelombang api. Segerombol serdadu menghanguskan kota,
melipat peta dan menunjuk-nunjuk nyawa seperti layaknya Tuhan. Berbulan-bulan. Putus asa:”Seluruh penduduk Serambi telah
menjadi pemberontak Tuhan…”
”Kita
memang Tuhan!” bunyinya menantang. Raut
wajah putus asa para serdadu, pekik darah mirip anak anjing yang sakit;
menerjang dengan tangan mengayunkan karaben dan meledakkannya ke atas langit. Glar!
Glar! Glar! “Tahan tembakanmu, Letnan!!” suatu hari. Kekeruhan wajah tak ada cahaya. Melihat jauh kejauhan yang kosong. Setiap menit, menjadi detik, dan jam-jam yang
meledak:”Kita digaji untuk membunuh, kau dengar, Kolonel? Kita memakan darah…”
“Prajurit
tak patut untuk berpikir.”
“Kau
kira kami ini apa?”
“Kau
menghamburkan peluru untuk sesuatu yang tidak jelas!”
“Lalu
apa bedanya? Menembak angin atau
menembak kepala, semua diajarkan dengan sama persis. Dan kita harus bertanggung jawab. Begitu mudahkah?”
“Benar!”
serempak yang lain membetulkan.
Ketegangan merayap dan gigi gemeretak: “Perintah komando pusat telah
membuat kita semua gila. Berapa ribu
nyawa lagi harus kita korbankan? Seluruh
penduduk menginginkan kematian; dan kita menyambutnya tanpa m erasa bahwa
dengan itu kita telah menjadi pahlawan.
Mereka masuk hutan untuk sebuah keyakinan. Sedang kita apa? Bajingan tengik! Jika semua orang di daerah ini memilih
menjadi pemberontak, maka itu berarti seluruh wilayah Serambi sudah lenyap
dalam peta negara. Apakah kita akan
mengusirnya, menembakinya, dan memusnahkannya seperti melenyapkan hutan untuk
menjadikannya sebuah padang rumput tempat bermain golf para pemimpin politik? Kalau itu pilihan presiden dan panglima, maka
aku memilih berhenti. Tembaklah aku,
kolonel! Engkau sudah lupa bahwa mereka
yang kita perangi, adalah saudara kita sendiri.
Bukan segerombolan monyet seperti doktrin ajaranmu…”
“Diam! Semuanya diam! Kalian semua berada di bawah
garis komando. Setiap pem-bangkangan
disiplin, akan diseret ke meja pengadilan militer. Kau berani melanggar perintah, Letnan
Sujarwo?”
“Aku
bicara sebagai manusia…”
Glar!
Letupan keras menghamburkan isi kepala.
Letnan Sujarwo ditembak menggeliat.
Lalu lenggang. Mati. Kolonel Hardi gemetar dengan amarah
memuncak:”Siapa lagi yang mencoba menjadi pengkhianat, heh? Dalam hirarki ini, akulah komandan. Apa yang aku perintahkan adalah hukum! Tidak
ada kata tidak…” menggelegar. Keputusan
yang salah. Sunyi langit mati dan bangkai Letnan Sujarwo menguapkan
hawa panas kegelisahan para serdadu serentak berlompatan memekik. Mengutuk.
Berpantul dari pohon ke pohon.
Suara-suara campur, jam memantik:serentet tembakan kembali memecah
langit. Kepul asap, menerjang daun;
ledak gelegar granat, badai di kepala meletup.
Keputusasaan.
“Aku
bunuh kamu, Letnan!! Aku bunuh…”
“Kopral! Kau…” teriak-teriak keras. Gediblag kaki dan keriuhan gema sekarat
saling hantam.
“Gila!!
Kita semua gila!!”
Mereka
menembak. Saling menembak. Menembak hening, memburu bayangan
korban. Dan bunyi kemerinting sisa
mesiu, debu-debu, jatuh di mimpi bayi; menguak kencang, membangunkan ibu yang
lantas mengalirkan air mata pedih.
Bersipongang dari ruang ke ruang.
Menjadi hujan, Menjadi rintihan
di lelap malam. Gusti.
(1999:175—177)
Kisah
di atas merupakan gambaran manusia yang tidak menggunakan lagi agama sebagai
pandangan hidupnya. Mereka saling
menghabisi sesamanya. Mereka telah
menjadikan doktrin militer sebagai pandangan hidupnya atau agamanya yang
baru. Ketika salah seorang di antara
mereka terpanggil hati nuraninya, atas nama kesatuan orang seperti itu harus
dihabisi. Jadi, pandangan hidup yang
tidak berangkat dari agama akan menjadikan manusia menjadi kanibal bagi manusia
lainnya. Berbagai peristiwa yang telah
memakan banyak korban anak bangsa ini merupakan tolak ukur kita bahwa pandangan
hidup yang bukan agama, yang kita anut selama ini, ternyata telah gagal
menjadikan kita lebih manusiawi lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar