UNSUR KEGELISAHAN DALAM KARYA SASTRA
Seorang ibu rumah tangga mengeluhkan
tentang anaknya yang gagap jika berbicara.
Anaknya sejak berumur lima tahun sangat sulit untuk menyebut kata-kata
yang dimulai dengan huruf `s` seperti mengucapan kata `saya` yang terasa sulit
sehingga diucapkan “…ssssa-sa-saya….“ Ibu tersebut gelisah jika sampai dewasa
nanti anaknya akan gagap seperti itu karena sudah banyak cara yang dilakukan
tidak banyak membawa hasil.
Ibu
rumah tangga lainnya juga mengeluhkan tentang penyakit anaknya yang
`aneh`. Dikatakan `aneh` karena anak pertamanya (ibu tersebut mempunyai dua
anak, anak pertama berusia sembilan tahun sedangkan yang kedua baru berumur
setengah tahun) yang baru dua tahun lalu menggunakan kacamata minus setengah
dengan silindris ringan, ternyata sekarang anak itu didapati sering
menggosok-gosok matanya. Anaknya juga
mengaku kalau akhir-akhir ini penglihatannya buram. Sang ibu merasa gelisah
kalau anaknya akan mengalami kebutaan karena kelainan retina.
Ada lagi keluhan yang disampaikan
seorang ibu rumah tangga. Keluhan sang
ibu rumah tangga ini tidak berhubungan dengan kesehatan fisik anaknya melainkan
berhubungan dengan wajah anaknya. Ia mengeluhkan kalau wajah anaknya sama
dengan wajah pembantunya. Ia juga
mengakui kalau anaknya justru lebih dekat dengan pembantunya daripada ibunya. Ibu ini gelisah jika sampai besar nanti wajah
anaknya tidak menyerupai, baik ibu mapun bapaknya. Bahkan, lebih dari itu seandainya sang anak
menganggap ibunya selama ini adalah pembantu rumah tangganya.
Masih banyak lagi keluhan yang
disampaikan ibu-ibu rumah tangga tentang anaknya. Belum lagi keluhan-keluhan
lainnya yang berhubungan erat dengan kehidupannya di rumah tangga. Belum lagi keluhan dari bapak-bapak di
seputar tempat kerjanya atau juga di rumah tangga. Belum lagi keluhan dari
anak-anak remaja atau orang-orang dewasa yang masih lajang. Jadi, demikian banyak orang yang mengeluhkan
permasalahannya yang belum juga bisa mereka selesaikan sehingga muncullah
berbagai macam bentuk kegelisahan.
Manusia hidup memang tidak akan
mungkin menghindari kegelisahan. Justru dengan adanya kegelisahan itu
menunjukkan bahwa kita selaku manusia
masih hidup karena kehidupan itu sendiri selalu menyajikan berbagai
peristiwa dan pengalaman. Tidak semua
peristiwa dan pengalaman yang kita rasakan itu mengenakkan. Tidak sedikit peristiwa dan pengalaman yang
kita temukan justru tidak mengenakkan, menegangkan, dan menekan. Tidak sedikit
pula orang yang dikuasai dan menjadi korban kegelisahan yang dalam istilah
psikologi disebut sebagai anxiety complex
(Mangunhardjana, 1987:7).
Kegelisahan memang sudah menjadi
bagian dari kehidupan manusia modern yang terkadang tidak bisa diselesaikan.
Jika kegelisahan itu tidak bisa diselesaikan akan menimbulkan penyakit-penyakit
sosial lainnya. Peristiwa Mei 1998 yang
ditandai oleh berbagai macam bentuk kerusuhan sosial boleh jadi merupakan salah
satu luapan kegelisahan manusia mengingat pada waktu itu nilai tukar rupiah
yang demikian rendahnya. Hal itu
berakibat pada inflasi yang ditandai dengan membumbungnya harga-harga kebutuhan
pokok yang tentu saja tidak terjangkau oleh kalangan masyarakat kecil. Menghadapi hal itu mereka menjadi gelisah.
Kegelisahan itu terealisasi dalam bentuk
penjarahan, tindakan vandalis, dan anarkis.
Potongan kisah di bawah ini menggambarkan seorang WNI keturunan Cina
(Pheng Hwa) yang merasa gelisah karena dengan identitas dirinya. Ketika ia baru
saja pulang dari luar negeri, kegelisahan itu semakin menjadi-jadi karena tidak
ada seorang pun anggota keluarganya yang bisa dihubungi. Boleh jadi anggota
keluarganya pada waktu itu menjadi korban kerusuhan (entah keluarganya telah
menjadi korban atau mengungsi). Namun,
yang pasti kegelisahan telah menghinggapi sebagian besar WNI keturunan
(terutama Cina) karena di antara mereka banyak yang menjadi korban kerusuhan
Mei 1998.
PANGGIL AKU: PHENG HWA
Veven
Sp Wardhana
Sejarah telah menyeretku menjadi
bunglon: cepat berganti nama begitu ber-pindah tempat hinggap. Ada saatnya kukenalkan diriku sebagai Pheng
Hwa, ada masa-nya kusebutkan namaku sebagai Effendi Wardhana, sebuah nama sebagaimana
tertulis di KTP, atau menurut istilah kami sering disebut sebagai nama
pemberian negara.
Karena aku dan keluargaku tinggal di
kota kawedanaan, sementara komunitas waniktio1)
tidak begitu banyak, sekalipun orang terbiasa memanggilku Pheng Hwa, atau
Ping An jika itu sudah sangat akrab, toh saat ke kantor polsek atau instansi
pemerintah aku harus menyebutkan nama pemberian negara itu.
Lama-lama, bukan hanya pada kantor
resmi itu harus kusebutkan nama KTP itu.
Pada kawan sekolah lanjutan di kota kabupaten, pada rekan sekolah di
Yogya, pada sesama karyawan di perusahaan tempatku bekerja di Jakarta pun nama
yang sama dengan yang di KTP itulah yang kuperkenalkan. Lalu, aku pun kemudian jadi terbiasa dengan
nama Effendi Wardhana, sementara kalau ada yang memanggilku Pheng Hwa, bahkan
dulu terkadang singkek 2 kuping jadi mendadak gatal.
………………………………………………………………………………………………………..
Di negeri asing ini, dengan nama
Pheng Hwa atau Effendi Wardhana, aku tak lagi merasa asing atas diriku sendiri
sebagaimana yang selama ini diam-diam menye-linap dan mengendap dalam benak.
Aku tak lagi menggubris aku akan
dipanggil dengan nama apa, toh, aku
sudah tidak lagi merasa ngumpet –
entah dari apa – jika harus menyebutkan nama pemberian negara itu. Juga aku tak lagi perlu merasa khawatir –
entah karena apa – jika kemudian ada yang memanggilku pakai nama waniktio itu.
Aku merasa baru terlahir kembali.
Ada perasaan plong macam itulah aku kini pulang kembali ke Tanah Air, ke
Jakarta, menyusul istriku yang sudah pulang lebih dulu enam bulan sebelumnya.
Saat mendarat di Cengkareng, hari
sudah hampir pagi. Menjelang melewati
meja pemeriksaan paspor, aku mencium gelagat aneh. Entah apa.Petugas imigrasi
yang memeriksa paspor pun perlu menatapku dengan tajam, sambil bercampur rasa
penasar- an. Entah pula karena apa. Sambil menunggu bagasi, aku mencari telepon
umum dan menelpon ke rumah, mengabarkan pada istriku bahwa aku sudah sampai di
Bandara Soekarno-Hatta. Di seberang tak
ada yang mengangkat telepon. Kuulang lagi menelpon rumah dengan nomor
satunya. Tetap saja tak ada yang
mengangkat di seberang sana.
Sabuk bagasi terus berputar dan satu
persatu tas mulai diturunkan. Kucoba
kuulang menelpon. Hampa.
Setelah kuambil beberapa tasku dan
kutumpuk di atas troli, aku beranjak menuju jalan keluar.
“Ada keluarga yang menjemput?” tanya
petugas di pintu keluar sambil meng-ambil tiket bagasiku. Aku tak sempat menjawabnya karena mataku
segera kuedarkan ke deretan para penjemput di serambi itu. Sama sekali aku tak menemukan istriku atau
keluarga yang lain. Yang kulihat adalah
banyaknya orang berdesak-desak tidur di sem-barang tempat. Ah,
kenapa suasana bandara ini malah seperti stasiun kereta api di Senen atau
Gambir?
Kucoba lagi menelpon ke rumah. Yang terdengar tetap nada sambung, tapi tetap
juga di seberang sana tak ada yang mengangkatnya.
Berulang-ulang kucoba lagi menelpon
lewat telepon umum di sebelahnya, di sebelahnya lagi, di sebelahnya lagi. Tetap tak ada yang mengangkat.
Tak ada pula sopir taksi yang
menawarkan jasanya. Tak ada mobil lalu
lalang di jalanan seberang. Aku makin
merasakan bahwa aku sedang tidak berada di wilayah bandara.
Ternyata, bukan hanya aku yang gagal
mengontak telepon ke rumah. Para
penelpon lainnya juga mengeluhkan hal yan sama:jika tidak ada yang mengangkat,
justru telepon di seberang sedang on-line.
Diam-diam aku teringat pada film The Philadelphia Experiment 12 yang pernah kutonton entah berapa tahun
lewat. Buru-buru kucari seorang petugas.
“Tahun berapa sekarang ini?” tanyaku pada seorang petugas.
Tampaknya pertanyaanku dianggap ganjil. Tahun berapa?
Pastilah petugas itu menganggap aku terguncang oleh jetlag yang sangat luar biasa.
“Sekarang tanggal 15 Mei,” jawabnya menegas-negaskan, seolah
sekalian meralat pertanyaanku.
“Ya, tapi tahun berapa?” sergahku. Dan bukan hanya petugas itu yang kini
menunjukkan raut wajah penuh rasa heran.
Orang-orang di sekeliling yang kebetulah mendengar pertanyaanku yang
tampaknya cukup keras itu bahkan menampakkan ekspresi yang menuduh bahwa aku
adalah orang sinting.
“Tahun berapa sekarang?” tanyaku pada orang di
sampingku. Raut muka yang kutanya itu
mengkerut. Aku tafsirkan di sedang
bertanya mengenai diriku.
“Panggil saja nama saya: Pheng Hwa. Saya benar-benar tidak bertanya soal jam,
hari, atau tanggal. Tapi, tahun! Tahun
berapa sekarang?”
Catatan:
1.
Waniktio
kependekan dari warga negara Indonesia keturunan Tionghoa.
2.
Singkek,
sebutan untuk Tionghoa totok.
(Kumpulan Cerpen Kompas 1999 Derabat,
1999:159 – 160; 163 – 165)
Gambaran
kegelisahan sudah ditampakkan ketika penulis baru saja memulai sebuah ceritanya
(Sejarah telah menyeretku menjadi
bunglon: cepat berganti nama begitu berpindah tempat hinggap.) karena
Effendi Wardhana (pelaku utama dalam cerpen itu) adalah WNI keturunan Cina (nonpribumi).
Karena itu pula, ia sebagai waniktio
harus menjadi bunglon dengan mengubah-ubah nama. Dengan demikian, sebagai manusia yang
seharusnya bisa hidup sewajarnya dengan menggunakan satu nama,tampaknya ia
harus pandai-pandai mengganti namanya setiap saat. Pergantian nama sangat bergantung pada
tempat, situasi, dan kondisi.
Pheng Hwa atau Effendi Wardhana
sebagai WNI yang sebenarnya sudah merasa Indonesia adalah tanah airnya justru
harus berganti-ganti nama. Dengan berganti-ganti nama sebagai manusia yang
ingin menikmati udara kebebasan sebagaimana manusia Indonesia lainnya, ia
sebenarnya menderita karena selalu dihantui kegelisahan. Kegelisahan itu bukan
saja dari keharusan gonta-ganti nama yang sudah jelas-jelas merepotkannya,
tetapi juga faktor keturunan yang melekat pada dirinya.
Tampaknya,
faktor keturunan bagi sebuah negara yang dalam undang-undangnya tidak
membeda-bedakan kedudukan dan status warga negaranya pada kenyataannya tidak
demikian. Kenyataan menunjukkan setiap
kali ada kerusuhan meskipun tidak melibatkan kalangan nonpribumi, tetap saja
mereka menjadi korban. Salah satu bukti
bisa dilihat di banyak tempat ketika terjadi kerusuhan bertebaran tulisan
besar-besar di toko-toko (entah siapa yang punya) seperti `milik pribumi`, atau
`pribumi Muslim`. Berarti ada kesan
bahwa setiap kali ada kerusuhan pasti diwarnai dengan SARA sehingga banyak
kalangan non-pribumi yang pada akhirnya menjadi bunglon dengan menyebut dirinya
sebagai `pribumi` atau masih diembel-embeli dengan kata `Muslim` di
belakangnya. Jadi, mereka bukan saja
telah menggonta-ganti nama tetapi juga menyebut dirinya sebagai `pribumi` atau
`pribumi Muslim`. Bahkan, tidak mustahil
di KTP-nya pun kalau memungkinkan, mereka mengganti agamanya meskipun agama yang
dipeluknya tidak sesuai dengan yang tercantum di KTP. Perilaku seperti itu
jelas menggambarkan sosok perilaku manusia yang dihantui kegelisahan. Kalau mereka tidak gelisah, tidak mungkin
mereka mau berbuat seperti itu.
Salah
seorang di antara mereka yang juga mengalami kegelisahan adalah Pheng Hwa alias
Effendi Wardhana. Kegelisahan Pheng Hwa bukan saja tampak dari kerap kalinya penggantian nama, tetapi
juga ketika ia baru saja pulang dari luar negeri. Ketika baru saja sampai di Bandara
Soekarno-Hatta ia berupaya menghubungi istrinya di Jakarta. Ternyata,
berkali-kali ia menelpon istrinya, berkali-kali pula tidak ada yang mengangkat
telpon di rumahnya meskipun tetap ada nada sambung. Kegelisahannya semakin bertambah manakala ia
melihat di seputar bandara banyak orang yang berdesakan tidur di sembarang
tempat (mereka yang sementara mengungsi ke luar negeri karena takut menjadi
korban kerusuhan). Puncak dari
kegelisahan terjadi ketika ia menanyakan pada petugas bukan hari, tanggal, atau
bulan melainkan tahun (“Tahun berapa
sekarang ini?”). Jelas, bertanya
tentang tahun merupakan sebuah pertanyaan yang aneh. Karena demikian gelisahnya (yang terkadang
manusia menjadi panik dan tidak bisa mengendalikan diri) ia minta dipanggil
`Pheng Hwa` (Panggil saja nama saya:
Pheng Hwa.) yang justru nama tersebut jarang digunakan di negaranya sendiri
apalagi dalam situasi yang pada saat itu tidak menguntungkan buat orang seperti
dia.
Kegelisahan
bukan saja terjadi pada kehidupan manusia.
Kegelisahan juga bisa terjadi pada kehidupan bangsa.Tentang kegelisahan
kehidupan bangsa juga terekam dalam karya-karya sastra Indonesia. Tentang
kegelisahan kehidupan bangsa (yang dikaitkan dengan masa depan bangsa) bisa
dilihat pada puisi Taufik Ismail (1998: 87 – 89) di bawah ini.
KEMBALIKAN
INDONESIA PADAKU
kepada Kang Ilen
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang
menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian
berwarna putih
dan
sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang
malam dengan bola
yang
bentuknya seperti telur angsa,
Hari
depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta
penduduknya.
Kembalikan
Indonesia
padaku.
Hari
depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah
sinar lampu 15 wat,
Hari
depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran
berat bebannya
kemudian angsa-angsa berenang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang
menganga, dan di
dalam mulut
itu ada bola-bola lampu 15 wat, sebagian putih dan
sebagian
hitam,yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang
berenang-renang sambil
main
pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam dan membawa
seratus
juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,
Kembalikan
Indonesia
padaku,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang
malam dengan bola
yang
bentukanya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena
seratus juta
penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian
berwarna putih
dan
sebagian hitam,yang menyala bergantian.
Kembalikan
Indonesia
padaku.
Paris,
1971.
Tiga puluh tahun yang lalu, ketika
puisi ini ditulis, kondisi Indonesia memang jauh berbeda dengan sekarang. Kita pada waktu itu dengan jumlah penduduk ± seratus juta baru saja melaksanakan
Pembangunan Lima Tahun (Pelita) Pertama.
Sebagai negara yang baru saja terjadi penggantian kekuasaan (±
empat tahun) dari Soekarno ke Soeharto,
kondisi Indonesia benar-benar masih memprihatinkan karena ekonomi negara
kita memang belum sehat benar.
Keprihatinan ini direkam oleh Taufik Ismail. Dengan ketajaman imajinasinya ia membayangkan
kondisi bangsa Indonesia di masa depan.
Mengapa ia bisa membayangkan demikian jauh yang akhirnya melahirkan
puisi di atas?
Sebagai penyair, Taufik telah
melihat adanya berbagai gejala yang akan muncul di masa depan. Peralihan
kekuasaan sebenarnya bukan saja
terjadinya peralihan orang yang
berkuasa, tetapi juga terjadi peralihan kebijaksanaan negara. Artinya, kalau di
masa Soekarno Pemerintah Indonesia pada waktu itu lebih cenderung mengedepankan
pembangunan politik, di masa Soeharto lebih cenderung mengedepankan pembangunan
ekonomi. Untuk melaksanakan pembangunan ekonomi, karena kondisi ekonomi
Indonesia pada waktu itu masih morat-marit, terpaksa Indonesia meminta bantuan
dari negara-negara kaya. Dengan meminta
bantuan pada negara-negara kaya, berarti mulai saat itu Indonesia berhutang
pada negara-negara tersebut.
Taufik
melihat adanya gejala yang tidak sehat, yaitu mentalitas bangsa kita yang belum
siap melaksanakan pembangunan ekonomi. Salah satu tanda ketidaksiapannya adalah masih adanya penyakit
aji mumpung yang berakibat pada
penyelewengan anggaran pembangunan yang justru sebagian besar anggaran itu
diperoleh dari pinjaman. Kalau bisa
dikatakan, mulai saat itu sudah muncul penyakit KKN yang jauh lebih hebat
daripada di masa sebelumnya. Apa yang
akan terjadi jika penyakit itu muncul?
Melihat gejala yang nantinya merusak kehidupan bangsa, Taufik merasa
gelisah. Kegelisahan itu ditampakkan
Taufik pada puisi di atas ketika pada saat itu bangsa Indonesia akan menjadi
bangsa yang miskin karena demikian banyak di antara mereka yang kelaparan. Mereka kelaparan (penyakit kemungkinan kurang
makan atau KKM) karena pada saat itu negara telah bangkrut. Yang bisa menikmati pembangunan hanya
sebagian kecil. Sebagian besar rakyat Indonesia hidup di bawah garis
kemiskinan. Bahkan, Indonesia ke depan
adalah Indonesia yang kelabu (suram) seperti diibaratkan dalam bait puisinya Hari depan Indonesia adalah bola lampu 15
wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian. Jadi, hari depan Indonesia dikiaskan sebagai
bangsa yang terkadang terang (walaupun terangnya hanya 15 wat) dan terkadang
gelap.
Lingkungan hidup Indonesia ke depan adalah lingkungan hidup yang rusak karena telah dilakukan pengurasan sumber daya alam (SDA) habis-habisan tanpa memikirkan akibatnya. Lingkungan itu bertambah rusak lagi manakala asap industri mengganti lahan-lahan pertanian. Berdirinya ribuan pabrik dan industri berakibat pada kegaduhan karena saat itu masyarakat Indonesia telah menjadi masyarakat industri. Masyarakat industri adalah masyarakat yang sibuk siang-malam bekerja bersama mesin pabrik yang terus berputar. Bukan hanya itu, kebijakan pemerintah yang lebih memusatkan pembangunan di Pulau Jawa akan berakibat pada penumpukan penduduk di pulau tersebut sehingga dikhawatirkan tidak ada keseimbangan karena sebagian besar penduduk Indonesia menumpuk di Pulau Jawa. Untuk itu, Taufik dengan mencurahkan kegelisahannya melalui puisi di atas mengajak kita untuk merenungkan kondisi bangsa Indonesia di masa depan.
Lingkungan hidup Indonesia ke depan adalah lingkungan hidup yang rusak karena telah dilakukan pengurasan sumber daya alam (SDA) habis-habisan tanpa memikirkan akibatnya. Lingkungan itu bertambah rusak lagi manakala asap industri mengganti lahan-lahan pertanian. Berdirinya ribuan pabrik dan industri berakibat pada kegaduhan karena saat itu masyarakat Indonesia telah menjadi masyarakat industri. Masyarakat industri adalah masyarakat yang sibuk siang-malam bekerja bersama mesin pabrik yang terus berputar. Bukan hanya itu, kebijakan pemerintah yang lebih memusatkan pembangunan di Pulau Jawa akan berakibat pada penumpukan penduduk di pulau tersebut sehingga dikhawatirkan tidak ada keseimbangan karena sebagian besar penduduk Indonesia menumpuk di Pulau Jawa. Untuk itu, Taufik dengan mencurahkan kegelisahannya melalui puisi di atas mengajak kita untuk merenungkan kondisi bangsa Indonesia di masa depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar