PENDERITAAN DALAM JANTERA BIANG LALA
Setiap orang pasti pernah mengalami
penderitaan. Kalau ada orang yang
mangaku bahwa dia tidak pernah menderita, pengakuannya pasti bohong. Atau kalau ada orang yang tidak mau menderita, berati dia telah melawan dan mengingkari
kenyataan hidup. Ia tergolong manusia
hedonis. Manusia yang hanya mau hidup
serba enak menghindari penderitaan.
Manusia jenis ini pun manusia yang melawan dan mengingkari
kenyataan. Mengapa? Ia mengingkari kenyataan hidup karena
masalah penderitaan adalah masalah yang
terus mengikuti hidup kita sejak kita berada di dunia sampai nanti dicabut
nyawa kita. Jadi, sebagai manusia kita
harus siap hidup menderita.
Kita
tidak boleh terpesona bahwa hidup itu indah sehingga harus selalu indah. Atau hidup itu nikmat. Jadi, kita harus hidup dalam suasana
kenikmatan. Kalau sudah demikian
falsafah hidup kita, kita tergolong orang yang mendukung hedonisme. Hedonisme harus kita hindari karena hedonisme
menjadikan kita sebagai hamba konsumerisme.
Dengan kata lain, hedonisme menjadikan kita manusia yang
kontraproduktif. Artinya, kita menjadi
manusia pembeli daripada membuat sendiri, lebih suka menanggapi daripada
memainkan sendiri; lebih suka mendapat daripada memberi (Mangunhardjana,
1997:91).
Gaya
hidup hedonis tampaknya sudah menjadi falsafah hidup terutama di kota-kota
besar di Indonesia. Gaya hidup seperti
ini jelas merusak kehidupan bangsa. Kita
bisa menyaksikan di lembaga-lembaga pendidikan (dari SD sampai PT) sudah
menjadi hal yang biasa kalau setiap ujian atau ulangan selalu diwarnai budaya
menyontek. Anak didik kita lebih suka menyontek daripada berpayah-payah
belajar. Gaya hidup hedonis juga tampak
pada kutipan di bawah ini, ketika Bajus selaku seorang pengusaha agar mudah
memperoleh `proyek` dengan seenaknya memberikan umpan seorang perempuan kepada
Blengur sang tamu dari Jakarta. Padahal
di balik transaksi kedua belah pihak tersebut ada tersirat pelecehan wanita
dengan menjadikan wanita sebagai umpan untuk memperlicin usahanya. Untuk lebih jelasnya, bisa kita lihat teks
berikut ini.
…………………………………………………………………………………………………
Bajus terus tergagap. Sudah terbayang olehnya bila dia gagal
menyenangkan hati Blengur maka lima juta bakal lepas dari tangan. Bahkan buat selanjutnya dia mungkin tidak
akan mendapat pekerjaan lagi. Segalanya harus
kembali dimulai dari titik nol.
Oh, tidak bisa jadi. Blengur
tidak boleh dikecewakan bahkan dengan santapan yang sudah berada tepat di ujung
lidah. Dia bisa murka. Sekali lagi Bajus hendak membujuk
Srintil. Kali ini bulat tekadnya Srintil
harus menurut.
Hati-hati dibukanya pintu kamar
Srintil. Dia masih tersedu hingga bagian
pung-gungnya berguncang. Bajus duduk di pinggir tempat tidur, suaranya seperti
ayah kepada anak yang sedang merajuk.
“Srin, kuharap kamu mau
mengerti. Kasihani aku dan tolonglah aku
sekali ini saja. Bagaimana nanti bila
kamu tidak mau membantuku? Mau ya,
Srin?”
Srintil menggeliat bangkit. Dipandangnya Bajus sekilas dengan tatapan
luar biasa dingin. Turun dari tempat
tidur. Dirapikannya rambut yang tergerai
di bagian depan. Diambilnya tas tangan.
“Tunggu. Mau ke mana kamu?”
Tak sepatah kata pun menjawab
Srintil melangkah hendak ke luar. Bajus
bertin-dak menangkap tangan Srintil yang bersikeras hendak ke luar. Buat kali pertama Bajus berlaku kasar,
memaksa Srintil kembali duduk di tempat tidur.
“Kamu tetap menolak? Tidak bisa! Kamu orang Dukuh Paruk harus tahu
diri. Aku telah banyak membantumu. Aku telah banyak mengeluarkan uang untuk
kamu!”
Bajus berjalan berputar-putar sambil
tetap menjaga agar dirinya menjadi palang pintu. Srintil duduk kaku, tak bereaksi sedikit pun
terhadap kata-kata yang didengarnya.
Tiba-tiba Bajus menghentakkan kaki lalu melangkah ke ambang pintu. Sambil menutup pintu dari luar, Bajus berkata
dengan tekanan berat.
“Kamu orang Dukuh Paruk mesti ingat.
Kamu bekas PKI! Bila tidak mau menurut akan aku kembalikan kamu ke rumah
tahanan.Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?”
Pintu terbanting dan dikunci dari
luar.
Mengapa orang terlanjur percaya
bahwa pembunuhan ialah menghentikan fungsi ragawi sebagian atau keseluruhan
dengan satu dan lain senjata. Mengapa
orang terlanjur beranggapan kekejaman ialah tumpahnya darah dan lukanya bagian,
raga. Dengan demikian bajus misalnya gampang
sekali mengelak bila ada tuduhan dia baru saja melakukan kekejaman luar biasa
sekaligus pembunuhan. Dalam dua tiga
detik melalui beberapa kata dia telah berhasil sempurna membuat seorang manusia
kehilangan kemanusiaannya, bahkan tanpa Bajus sendiri melihatnya.
Satu detik setelah daun pintu
terbanting mulailah berlangsung proses lenyapnya akal budi dari totalitas
sebentuk pribadi. Godam pertama
mengguncangkan tiang kesadaran yang menopang akal budi Srintil, yakni ketika dia
mendapatkan kenyataan citanya menjadi istri Bajus adalah pundi-pundi
hampa. Srintil masih sempat merasakan
perih dan pahitnya guncangan ini. Deraan
kedua membuat tiang kesadarannya miring, tidak kuat menahan beban perintah
harus melakukan perjinahan; sejarah lamanya sendiri yang sudah ingin
ditinggalkan dengan suatu tekad membaja.
Kemudian tiang itu ambruk sama sekali ketika sebuah jari setajam mata
tombak menudinngnya sebagai PKI dan siap menyeretnya kembali ke rumah tahanan,
sebuah tempat yang boleh jadi bisa disebut
sebagai neraka dunia.
Sosok itu tentu masih bernama
Srintil atau ronggeng Dukuh Paruk. Tentu
pula dia masih akan disebut sebagai
manusia. Namun faktor yang membedakan
antara dirinya dengan segala jenis satwa – akal budi dan kesadarannya -- sudah gaib sedetik yang lalu. Srintil tidak tahu lagi apa pun dari segi
keberadaan dirinya. Dia tidak tahu lagi
dirinya yang kini tinggal menjadi monumen seonggok benda organik. Posisi tubuh serta semua anggota
badannya masih melukiskan orang
terkejut, sama seperti ketika Bajus membanting pintu. Wajahnya mati, mati. Matanya tidak berkedip, mulutnya
melongo. Roh kemanusiaan tidak tampak
lagi sedikit pun.
Hanya beberapa langkah di luar kamar
Bajus duduk gelisah. Pikirannya sama
sekali lepas dari keadaan di dalam kamar.
Dia tidak tahu ada kiamat kecil baru saja berlangsung tepat di balik
tembok di belakangnya. Yang
menggelisahkan Bajus adalah kenyataan bagaimanapun dia harus menghadapi Blengur. Sungguh tidak terbayangkan olehnya apa yang
bakal terjadi bila dia gagal menyuguhkan kesenangan kepada orang Jakarta itu.
(Ahmad Tohari, 1999: 198--201)
Petikan
teks di atas sebenarnya menampilkan dua orang yang sedang menderita. Bajus
sebagai seorang pengusaha yang ingin sukses dalam usahanya bermaksud memberikan `hadiah` kepada seorang
tamu dari Jakarta agar tamu tersebut mau memberikan salah satu proyeknya di
daerah. Hadiah tersebut berupa perempuan
cantik, Srintil, mantan penari ronggeng dari Dukuh Paruk, Banyumas. Ternyata, Srintil menolak kalau dirinya
dijadikan `hadiah` karena ia sudah berniat ingin menjadi perempuan baik-baik.
Ia ingin menutup masa lalunya yang kelabu.
Untuk itu, dengan tegas ia menolak berbuat zinah dengan tamu yang
disodorkan Bajus. Penolakan tersebut membuat Bajus marah sehingga mengeluarkan
kata-kata yang menyakitkan hati Srintil.
Srintil
yang kena damprat dan makian yang
menyakitkan itu, sangat terpukul jiwanya.
Ia kaget dan shock. Ia tidak mengira kalau diperlakukan secara kasar
oleh Bajus. Akibat dari perlakuan itu,
digambarkan … Wajahnya mati, mati. Matanya tidak berkedip, mulutnya
melongo. Roh kemanusiaan tidak tampak
lagi sedikit pun. Jadi, Srintil
benar-benar terpukul. Dengan kekasaran itu, ia benar-benar sangat
menderita. Penderitaan yang dialami
Srintil tidak separah Bajus. Kalau Bajus
dengan penolakan Srintil, boleh jadi salah satu proyeknya saja yang gagal di
daerah. Tidak demikian halnya dengan
Srintil. Srintil terpukul batinnya
karena disebut-sebut bekas PKI dan diancam untuk dipenjarakan.
Pada
kelanjutan kisah tersebut, ternyata penderitaan Bajus lebih bersifat sementara
karena `tamu` dari Jakarta itu pada akhirnya memaklumi keadaan Srintil dan
meluluskan permintaan Bajus.
“Masuklah, Jus,”ujar Blengur setelah mendengar pintu diketuk.
“Duduklah,” sambungnya.
Bajus tidak menyangka akan berhadapan dengan
kesantaian. Di sana Blengur duduk
merokok dan tenang. Sangat tenang. Tidak tergambar kehausan berahi. Matanya yang terkenal berwarna petualangan
kelihatan teduh.
“Jus, aku membuktikan sendiri katamu memang benar.”
“Kata yang mana, Pak?”
“Srintil itu.”
“Cantik dan lugu, kan?”
“Bukan itu maksudku.
Aku terkesan oleh citra pada wajahnya.Wajah perempuan jajanan yang sangat berhasrat menjadi ibu
rumah tangga. Jus!”
“Ya, Pak.”
“Memang kamu tahu siap aku.
Aku senang berpetualang. Tetapi,
entahlah. Aku tidak tega memakai
Srintil.”
“Pak?”
“Ya. Berilah dia kesempatan mencapai keinginannya menjadi
seorang ibu rumah tangga. Masih banyak perempuan lain yang dengan sukarela
menjadi obyek petualang- an. Jumlah mereka tak akan berkurang sekalipun Srintil
mengundurkan diri dari dunia lamanya.”
“Pak, lalu?”
“Ya. Antar dia pulang ke rumahnya malam ini juga. Ini uang
buat Srintil dan kata- kan sebagai hadiah dari aku.”
Mata Bajus menatap sebuah amplop menggembung yang disodorkan
oleh Blengur. Tangannya bergerak gamang.
“Ya, Pak, ya,” kata Bajus gugup. Amplop itu dimasukkan ke saku jaketnya. “Tetapi, Pak.”
“Apa?”
“Proyek. Ya, bagaimana dengan proyek itu?”
“Dasar recehan, kamu.
Tentu saja proyek itu tetap untukmu.
Sekarang sana keluar. Antar
Srintil pulang.”
(Ahmad
Tohari, 1999:202 – 203)
Jadi, yang menjadi
kekhawatiran Bajus tidak terjadi karena Blengur `sang tamu` dari Jakarta dari
awal pertemuannya dengan Srintil telah melihat bahwa Srintil bukan lagi sebagai
`perempuan` yang selama ini dibayangkan, yaitu `perempuan nakal. Dengan
demikian, sebenarnya penderitaan Bajus telah berakhir. Tetapi, bagaimana halnya
dengan Srintil setelah dimaki-maki Bajus dengan makian yang menyakitkan
hati? Kutipan kisah berikut ini
merupakan saksi bahwa ucapan yang menyakitkan lebih berbahaya daripada
pembunuhan fisik.
“Srin, ini uang banyak sekali dari
Pak Blengur buat kamu. Uang hadiah.
Bukan uang….”
Sunyi. Mencekam. Bulu kuduk merinding. Adakalanya orang menjadi sangat takut bila
tiba-tiba berhadapan dengan mayat. Dan
akan sekian kali lebih takut bila yang didepan mata adalah mayat hidup. Srintil terlihat masih dalam posisi yang
ganjil. Wajah mati. Mata ak berkedip dan mulut melongo. Bajus terhenyak ke belakang dan amplop yang
menggembung jatuh ke lantai. Gagap
dia. Sulit baginya menerima kenyataan
bahwa kemanusiaan kadang tidak lebih tebal dari kulit bawang. Srintil beberapa menit yang lalu masih
lengkap dengan pesona seorang perempuan muda yang cantik. Pesona yang bahkan
sesungguhnya menembus juga jantung Bajus yang impoten. Kini tak ada lagi pesona. Tidak juga kecantikan. Kemanusiaannya tinggal tersisa berupa sosok
dan nama. Selebihnya adalah citra
hewani. Citra makhluk tanpa akal
budi.
Bajus surut. Dan terus surut hingga punggungnya merapat ke
tembok. Semenit dua menit Bajus masih
belum berhasil menata perasaan dengan memahami kenyataan yang terpampang tepat
di depan mata. Dan sesaat ketegangan
akhirnya mereda Bajus menghubungkan keadaan Srintil sebelum dan sesudah dia terkunci
di kamar. Bajus mulai merasa dirinyalah
penyebab perubahan drastis pada diri Srintil.
Kesadaran Bajus perlahan-lahan
pulih. Pundaknya mengendur dan napasnya
normal. Matanya masih menatap boneka
hidup yang bernapas pendek-pendek.
Kemudian Bajus melangkah maju.
“Srin, kenapa kamu?”
Tak ada tanggapan, bahkan dalam sasmita yang paling samar
sekalipun. Dipungutnya amplop yang jatuh
lalu disodorkannya ke tangan Srintil yang mengambang di udara. Tetapi tangan itu tidak semili pun
bergeming. Bajus membungkuk ingin
melihat mata Srintil lebih jelas. Di
sana hanya ada lingkaran hitam tanpa ekspresi rasa dan cita, sebentuk kematian
dalam hidup. Kebimbangan kembali menyergap.
Bajus keluar hendak mencari seseorang, barangkali dia bisa membantu
mengurangi kebingungannya. Mungkin
Blengur. Namun l angkahnya terhenti di
teras vila. Bajus masuk lagi, berjalan
tak menentu. Tangannya merogoh saku
celana dan terpegang kunci kontak mobil.
Ya. Kini Bajus tahu secara pasti
apa yang sebaiknya dia lakukan, mengantar Srintil pulang ke Dukuh Paruk saat
itu juga.
“Srin, maafkan aku.
Maafkan aku, ya! Sekarang mari kita pulang.”
Srintil menoleh dengan gerakan linglung. Dan bukan mata Bajus yang ditolehnya
melainkan tubuh laki-laki itu. Matanya
tak bergulir, seakan sudah tersekap mati dalam kelopaknya. Dan meski terasa sebagai upaya
untung-untungan Bajus mem-bimbing tangan kiri Srintil. Hatinya lega ketika ternyata Srintil menurut. Srintil berjalan seperti tidak melihat apapun
meski kedua matanya terbuka lebar dan tidak berkedip. Bajus merasa seperti sedang menuntun orang
setengah lumpuh dan buta.
(Ahmad
Tohari,1999: 203 – 205)
Hikmah
apa yang bisa diambil dari kutipan-kutipan di atas? Dari kutipan-kutipan cerita
di atas, kita bisa mengambil hikmah bahwa:
·
setiap orang manakala memiliki kepentingan mendesak sering
menggunakan cara-cara yang tidak terpuji meskipun harus dengan mengorbankan
orang lain;
·
manakala kepentingannya terganggu (yang dikhawatirkan akan
hilangnya kesempatan) ia dengan
seenaknya menciptakan penderitaan pada orang lain tanpa memikirkan
kesudahannya;
·
kaum wanita sering diposisikan sebagai orang yang layak
disalahkan atau objek penderita yang salah satu wujudnya adalah dalam
bentuk pelecehan seksual; dan
·
kata `maaf` sering dijadikan sarana untuk melegitimasi
setiap perkataan atau perbuatan yang jelas-jelas akan membuat orang menderita
atau minimal menyinggung batin seseorang.
Dengan adanya
butir-butir hikmah di atas, selayaknya kita harus menghindari hal-hal yang
berakibat pada penderitaan orang lain. Kalau kita saja tidak mau disakiti maka
orang lain pun jangan kita sakiti. Untuk
itu, menghindari penderitaan pada diri kita harus dimulai dari menghindari
penderitaan pada orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar