EBIET MENGAJAK KITA MENCINTAI ALLAH
Manusia pada
dasarnya adalah makhluk yang ber-Tuhan.
Karena manusia makhluk yang ber-Tuhan (beragama maksudnya), tentu saja
di dalam hati nuraninya yang bersih pasti mengakui adanya Yang Maha Esa, Maha
Kuasa, Maha Melihat, Maha Mendengar,
Maha Penyayang, dan Maha Pengasih. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki Tuhan
dengan sebutan kata `Maha` di depannya merupakan wujud pengakuan kita kepada
Sang Khalik. Pengakuan ini pun
seharusnya diwujudkan sebagai landasan pada saat kita mencintai siapapun. Artinya, kita harus menjadikan bahwa karena
hanya Allah kita mencintai siapapun.
Cinta
terhadap Allah harus menjadi landasan cinta manusia kepada siapapun. Entah
cinta pada Nabi dan Rosul-Nya, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada
makhluk-makhluk lainnya sesama ciptaan Tuhan.
Jika kita mencintai sesama kita karena Allah, kita akan terhindar dari
hal-hal yang berbau syirik. Sebagai contoh, orang yang mencintai isterinya
karena Allah akan terhindar dari cinta karena kecantikan, kecerdasan,
keturunan, atau kekayaan karena semua itu akan musnah. Yang abadi hanya keimanan. Jadi, kita mencintai sesama kita (orang tua
kita, isteri/suami kita, atau makhluk sesama ciptaan Tuhan) harus dilandasi
iman (karena Allah semata). Dengan kata
lain, cinta yang dilandasi iman adalah cinta yang abadi.
Cinta
yang abadi, yang datangnya karena Allah, akan menghasilkan kerinduan. Kerinduan yang tidak bisa lagi dipendam. Begitu indahnya gambaran kerinduan Ebiet
G.Ade ketika melantunkan Hidupku Milikmu
seperti terlihat pada untaian lagu di
bawah ini.
Hidupku Milikmu
Ebiet G.Ade
Ketika aku mencari cahayaMu
Menerobos lewat celah dedaunan
Bersilangan semburatmu dalam kabut
Aku terpaku aku terpana
Aku turut didalam
Nyanyian burung-burung
Gemuruh didadaku
Sirna bersama keheningan rimba raya
Ketika aku mendengar suaraMu
Bergema diruang dalam jiwa
Mengalir sampai keujung jemari
Aku mengepal aku tengah
Rindu yang aku simpan
Membawa aku terbang
Menjemput bayang-bayang
Senyap ditelan keheningan rimba raya
Apapun tlah aku coba
Dan tak henti bertanya
Setiap sudut setiap waktu
Tak surut ku mencari
Kemana
Dimana
Aku lepas dahaga
Kepada siapa
Aku rebah bersandar
Tak mungkin kubuang
Rindu semakin dalam bergayut
Hidupku memang milikMu
Hanya untukMu
Bisakah
dibayangkan kerinduan seperti apa yang dilantunkan Ebiet melalui bait-bait
puisinya di atas. Di bait pertama saja kita akan terpesona oleh ungkapannya
ketika di keheningan rimba raya menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan yang
diungkapkan dengan kata-katanya “Ketika
ku mencari cahayaMu/Menerobos lewat celah dedaunan/Bersilangan semburatMu dalam
kabut/Aku terpaku aku terpana/Aku larut didalam/Nyanyian burung-burung/Gemuruh
didadaku/Sirna bersama keheningan rimba raya”.
Hanya dengan melihat keindahan ciptaan-Nya di pagi hari kita tidak
akan habis-habisnya mengungkapkan betapa indahnya ciptaan Tuhan. Selain itu, suara-suara satwa di rimba raya,
yang juga ciptaan-Nya, di pagi hari membuat dada ini bergemuruh yang tak
habis-habisnya menyebut Maha Suci-Nya Allah.
Itu baru ciptaan Tuhan yang
tertangkap oleh panca indera. Bagaimana
dengan ciptaan Tuhan yang tersirat, yang hanya muncul dalam dada kita? Ebiet menggambarkan suara Tuhan yang
didengarnya, yang bergema di jiwanya akan terasa sampai ke ujung jemari
sehingga ia mengepalkan jari jemarinya
dan menengadahkan kepalanya, dan ia terlena terbawa mimpi.
Ketika
aku mendengar suaraMu
Bergema
diruang dalam jiwa
Mengalir
sampai keujung jemari
Aku
mengepal aku tengadah
Rindu
yang aku simpan
Membawa
aku terbang
Menjemput
bayang bayang
Senyap
ditelan keheningan rimba raya.
Mengingat
kebesaran Tuhan lewat ciptaan-Nya menjadikan seseorang penasaran untuk mencari
jawaban semua itu. Ia akan berupaya
mencari dan mencari untuk menemukan jawaban meskipun dalam pencariannya secara
fisik ia tidak akan bertemu:
Apapun tlah aku coba
Dan tak henti bertanya
Setiap sudut setiap waktu
Tak surut ku mencari
Pencarian itu akan
menimbulkan rasa haus, rasa dahaga karena cintanya pada Tuhan. Manakala kerinduan itu sudah semakin memuncak
kepada siapa ia akan mengadukan kerinduan itu?
Kerinduan itu sendiri tidak akan mungkin dibuang begitu saja karena ia
sudah semakin menguat meski pada akhirnya ia merasa bahwa hidupnya hanya
milik-Nya:
Kemana
Dimana
Aku
lepas dahaga
Kepada
siapa
Aku
rebah bersandar
Tak
mungkin kubuang
Rindu
semakin dalam bergayut
Hidupku
memang milikMu
Hanya
untukMu
Begitulah gambaran
orang yang benar-benar telah jatuh cinta pada Tuhannya. Ia tak akan mungkin merasa ragu karena jalan
hidupnya telah banyak memberikan jawaban bahwa hanya pada Tuhan ia melepaskan
dahaganya. Hanya pada Tuhan ia bisa merebahkan dirinya di saat-saat ia telah
lelah mencari nilai-nilai kehidupan.
Hanya kepada Tuhan pula ia melepaskan kerinduannya karena kepada Sang Khalik ia bersumnpah: Hidupku memang milikMu/Hanya untukMu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar