Rabu, 09 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (09)

EBIET MENGAJAK KITA MENCINTAI ALLAH


Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang ber-Tuhan.  Karena manusia makhluk yang ber-Tuhan (beragama maksudnya), tentu saja di dalam hati nuraninya yang bersih pasti mengakui adanya Yang Maha Esa, Maha Kuasa,  Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki Tuhan dengan sebutan kata `Maha` di depannya merupakan wujud pengakuan kita kepada Sang Khalik.  Pengakuan ini pun seharusnya diwujudkan sebagai landasan pada saat kita mencintai siapapun.  Artinya, kita harus menjadikan bahwa karena hanya Allah kita mencintai siapapun.

Cinta terhadap Allah harus menjadi landasan cinta manusia kepada siapapun. Entah cinta pada Nabi dan Rosul-Nya, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada makhluk-makhluk lainnya sesama ciptaan Tuhan.  Jika kita mencintai sesama kita karena Allah, kita akan terhindar dari hal-hal yang berbau syirik. Sebagai contoh, orang yang mencintai isterinya karena Allah akan terhindar dari cinta karena kecantikan, kecerdasan, keturunan, atau kekayaan karena semua itu akan musnah.  Yang abadi hanya keimanan.  Jadi, kita mencintai sesama kita (orang tua kita, isteri/suami kita, atau makhluk sesama ciptaan Tuhan) harus dilandasi iman (karena Allah semata).  Dengan kata lain, cinta yang dilandasi iman adalah cinta yang abadi.
Cinta yang abadi, yang datangnya karena Allah, akan menghasilkan kerinduan.  Kerinduan yang tidak bisa lagi dipendam.  Begitu indahnya gambaran kerinduan Ebiet G.Ade ketika melantunkan Hidupku Milikmu seperti terlihat pada  untaian lagu di bawah ini.
Hidupku Milikmu
                              Ebiet G.Ade
Ketika aku mencari cahayaMu
Menerobos lewat celah dedaunan
Bersilangan semburatmu dalam kabut
Aku terpaku aku terpana
Aku turut didalam
Nyanyian burung-burung
Gemuruh didadaku
Sirna bersama keheningan rimba raya

Ketika aku mendengar suaraMu
Bergema diruang dalam jiwa
Mengalir sampai keujung jemari
Aku mengepal aku tengah
Rindu yang aku simpan
Membawa aku terbang
Menjemput bayang-bayang
Senyap ditelan keheningan rimba raya

Apapun tlah aku coba
Dan tak henti bertanya
Setiap sudut setiap waktu
Tak surut ku mencari


Kemana
Dimana
Aku lepas dahaga
Kepada siapa
Aku rebah bersandar
Tak mungkin kubuang
Rindu semakin dalam bergayut
Hidupku memang milikMu
Hanya untukMu  
           
Bisakah dibayangkan kerinduan seperti apa yang dilantunkan Ebiet melalui bait-bait puisinya di atas. Di bait pertama saja kita akan terpesona oleh ungkapannya ketika di keheningan rimba raya menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan yang diungkapkan dengan kata-katanya “Ketika ku mencari cahayaMu/Menerobos lewat celah dedaunan/Bersilangan semburatMu dalam kabut/Aku terpaku aku terpana/Aku larut didalam/Nyanyian burung-burung/Gemuruh didadaku/Sirna bersama keheningan rimba raya”.  Hanya dengan melihat keindahan ciptaan-Nya di pagi hari kita tidak akan habis-habisnya mengungkapkan betapa indahnya ciptaan Tuhan.  Selain itu, suara-suara satwa di rimba raya, yang juga ciptaan-Nya, di pagi hari membuat dada ini bergemuruh yang tak habis-habisnya menyebut Maha Suci-Nya Allah.
            Itu baru ciptaan Tuhan yang tertangkap oleh panca indera.  Bagaimana dengan ciptaan Tuhan yang tersirat, yang hanya muncul dalam dada kita?  Ebiet menggambarkan suara Tuhan yang didengarnya, yang bergema di jiwanya akan terasa sampai ke ujung jemari sehingga ia  mengepalkan jari jemarinya dan menengadahkan kepalanya, dan ia terlena terbawa mimpi.
Ketika aku mendengar suaraMu
Bergema diruang dalam jiwa
Mengalir sampai keujung jemari
Aku mengepal aku tengadah
Rindu yang aku simpan
Membawa aku terbang
Menjemput bayang bayang
Senyap ditelan keheningan rimba raya.       

Mengingat kebesaran Tuhan lewat ciptaan-Nya menjadikan seseorang penasaran untuk mencari jawaban semua itu.  Ia akan berupaya mencari dan mencari untuk menemukan jawaban meskipun dalam pencariannya secara fisik ia tidak akan bertemu:
Apapun tlah aku coba
Dan tak henti bertanya
Setiap sudut setiap waktu
Tak surut ku mencari

Pencarian itu akan menimbulkan rasa haus, rasa dahaga karena cintanya pada Tuhan.  Manakala kerinduan itu sudah semakin memuncak kepada siapa ia akan mengadukan kerinduan itu?  Kerinduan itu sendiri tidak akan mungkin dibuang begitu saja karena ia sudah semakin menguat meski pada akhirnya ia merasa bahwa hidupnya hanya milik-Nya:
Kemana
Dimana
Aku lepas dahaga
Kepada siapa
Aku rebah bersandar
Tak mungkin kubuang
Rindu semakin dalam bergayut
Hidupku memang milikMu
Hanya untukMu 

Begitulah gambaran orang yang benar-benar telah jatuh cinta pada Tuhannya.  Ia tak akan mungkin merasa ragu karena jalan hidupnya telah banyak memberikan jawaban bahwa hanya pada Tuhan ia melepaskan dahaganya. Hanya pada Tuhan ia bisa merebahkan dirinya di saat-saat ia telah lelah mencari nilai-nilai kehidupan.  Hanya kepada Tuhan pula ia melepaskan kerinduannya karena  kepada Sang Khalik ia bersumnpah: Hidupku memang milikMu/Hanya untukMu.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...