LEWAT PUISI AMIR HAMZAH BICARA
TENTANG CINTA PADA TUHAN
Padamu Jua
Amir Hamzah
Habis
kikis
Segala
cintaku hilang terbang
Pulang
kembali aku padamu
Seperti
dahulu
Kaulah
kandil kemerlap
Pelita
jendela di malam gelap
Melambai
pulang perlahan
Sabar
setia selalu
Satu
kekasihku
Aku
manusia
Rindu
rasa
Rindu
rupa
Di
mana engkau
Rupa
tiada
Suara
sayup
Hanya
kata merangkai hati
Engkau
cemburu
Engkau
ganas
Mangsa
aku dalam cakarmu
Bertukar
tangkap dengan lepas
Nanar
aku, gila sasar
Sayang
berulang padamu jua
Engkau
pelik menarik ingin
Serupa
dara di balik tirai
Kasihmu
sunyi
Menunggu
seorang diri
Lalu
waktu – bukan giliranku
Mati
hari – bukan kawanku …
(Nyanyi Sunyi, 1959:5)
Puisi di atas menggambarkan betapa
manusia pada akhirnya harus kembali kepada Tuhannya karena hanya Tuhan yang
memberi kedamaian dan kebahagiaan. Manusia yang mencari selain Tuhan ia tidak
akan memperoleh cahaya. Dengan kata
lain, ia akan memperoleh kegelapan seperti orang buta yang meraba-raba mencari
benda-benda di sekitarnya. Karena itu,
cahaya Tuhan demikian berharga buat manusia dia diibaratkan sebagai:
Kaulah
kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Jadi,
cahaya Tuhanlah yang membuat manusia
rindu untuk kembali kepada-Nya.
Sebuah pengakuan memang sangat
dibutuhkan oleh manusia untuk menyatakan kelemahannya. Namun, manusia yang ingin menyampaikan
pengakuannya tidak bisa langsung berjumpa dengan Tuhan meskipun pada akhirnya
ia akan rindu ingin bertemu dengan Tuhan. Ia rindu akan rasa dan rupa
Tuhan. Kerinduan ini sebenarnya
merupakan hal yang wajar saja seperti Nabi Musa yang dituntut oleh umatnya
(bangsa Yahudi) agar dipertemukan dengan Tuhannya. Manusia merindukan Tuhan dalam bentuk aslinya
karena Tuhan memang tidak akan memperlihatkannya pada manusia. Kalau Ia menampakkan-nya berarti Tuhan
memiliki sifat-sifat kelemahan. Untuk
itu cukup dengan firman-firman-Nya yang wajib diimani oleh manusia. Biar saja manusia merasa rindu akan rasa dan
rupa Tuhan. Kalau ia ingin berdialog
dengan Tuhannya, cukup dengan berdialog lewat firman-firman-Nya:
Satu
kekasihku
Aku
manusia
Rindu
rasa
Rindu
rupa
Di
mana engkau
Rupa
tiada
Suara
sayup
Hanya
kata merangkai hati
Apakah dengan demikian Tuhan
memiliki kecemburuan pada manusia karena Tuhan seolah-olah merahasiakan
keberadaannya? Kalau sifat itu terjadi
pada Tuhan, sama saja Tuhan itu manusia.
Kalau Tuhan sama dengan manusia, berarti Tuhan juga punya banyak
kelemahan. Mustahil kalau Tuhan yang
Maha segala-galanya memiliki kelemahan.
Untuk itu, kita tidak bisa menerima bait berikut ini.
Engkau
cemburu
Engkau
ganas
Mangsa
aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Kita
tidak bisa menerima kalau Tuhan dipersonifikasikan sedemikian rupa karena mana
mungkin Tuhan punya sifat cemburu? Kalau
Tuhan cemburu, berarti Tuhan juga memiliki sifat iri/dengki. Kalau sifat itu terjadi pada Tuhan, apakah
tidak mustahil tidak ada bedanya Tuhan dengan manusia? Apakah Tuhan juga
ganas? Kalau Tuhan ganas, perlu kita
pertanyakan: di mana sifat rahman dan rahim-Nya? Seandainya, ada orang yang
mengatakan bahwa ia orang yang paling menderita karena hukuman Tuhan, perlu
dipertanyakan bukankah sebaliknya bahwa bencana apapun yang diderita manusia
lebih merupakan pekerjaan manusia juga? Rusaknya alam sekitar kita (lingkungan
hidup) bukankah karena ulah manusia?
Kalau memang itu semua merupakan ulah manusia, mengapa Tuhan disalahkan
sehingga dengan demikian mudah mengatakan bahwa Tuhan itu ganas seperti yang
tercantum pada bait puisi di atas?
Kita
juga tidak bisa menerima kalau Tuhan seperti seekor kucing yang mempermainkan
buruannya. Pada bait puisi di atas
misalnya tercantum di sana Mangsa aku
dalam cakarmu/Bertukar tangkap dengan lepas. Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa Tuhan
mempermainkan manusia, yang karena cemburu dan ganasnya, menjadikan manusia
sebagai buruan yang demikian mudah untuk dipermainkan. Sekali lagi, ini merupakan salah satu
kelemahan Amir Hamzah selaku penulis puisi yang membuat permisalan seperti itu.
Selain
itu, kita juga menemukan pada bait berikut yang menunjukkan kelemahan Tuhan.
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai
Kelemahan
Tuhan tercermin dari baris terakhir, yaitu Serupa
dara di balik tirai yang artinya Tuhan dipersonifikasikan sebagai manusia
yang mengintip-intip pekerjaan manusia.
Mengapa Tuhan harus berperilaku demikian? Bukankah Ia Maha Melihat dan Maha Mendengar? Kalau Ia harus mengintip-intip untuk
mengetahui apa saja yang dilakukan manusia, berarti Ia memiliki kelemahan. Atau pekerjaan mengintip itu merupakan
kompensasi dari cemburunya Tuhan melihat perilaku hamba-Nya sebagaimana
tercantum pada bait sebelumnya? Kalau
itu yang terjadi, jelas kita tidak bisa menerimanya karena Tuhan mustahil punya
sifat cemburu. Dengan demikian, dua bait
pada puisi tersebut harus kita kritisi karena Tuhan tidak bisa
dipersonifikasikan seperti itu.
Bait terakhir pada puisi “Padamu
Jua” yang berbunyi:
Kasihmu
sunyi
Menunggu
seorang diri
Lalu
waktu – bukan giliranku
Mati
hari – bukan kawanku
mengingatkan
kita pada puisi Chairil Anwar yang pernah kita kutip pada Bab I (Pendahuluan),
yaitu:
Tuhanku
di
pintu-Mu aku mengetuk
Aku
tidak bisa berpaling
(DOA)
yang
mengisyaratkan bahwa manusia pada akhirnya memang harus kembali pada Tuhannya.
Ia harus kembali kepada Tuhannya karena hasil pengembaraan- nya selama ini
tidak banyak membawa hasil. Di sisi
lain, manusia memang bisa memperoleh apa saja yang ia inginkan di dunia ini
yang semata-mata untuk memuaskan batinnya.
Tetapi, pada akhirnya ia mengalami kesunyian hidup. Baik, Amir Hamzah
maupun Chairil Anwar, bahkan semua manusia, sepakat bahwa kesunyian hidup ini
hanya bisa diisi dengan mengembalikan semua itu pada Tuhan. Ini merupakan salah satu bukti betapa manusia
sangat bergantung pada Tuhan di manapun ia berada.
Secara keseluruhan puisi tersebut
mencerminkan betapa indahnya ide/ konsep yang ingin disampaikan Amir Hamzah
meskipun di sana-sini kita masih banyak melihat betapa lemahnya penyair
menggambarkan sifat-sifat Tuhan. Penyair
ingin menyampaikan bahwa (1) manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan biar
bagaimanapun memerlukan kehadiran Tuhan dan (2) manusia sebagai makhluk yang
bertanggung jawab di manapun manusia itu berada pada akhirnya ia akan kembali
pada Tuhan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar