Rabu, 09 Oktober 2013

Kebahasaan dan Kesastraan (10)

LEWAT PUISI AMIR HAMZAH BICARA 
TENTANG CINTA PADA TUHAN



Padamu Jua
                    Amir Hamzah
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Mati hari – bukan kawanku …

                             (Nyanyi Sunyi, 1959:5)

            Puisi di atas menggambarkan betapa manusia pada akhirnya harus kembali kepada Tuhannya karena hanya Tuhan yang memberi kedamaian dan kebahagiaan. Manusia yang mencari selain Tuhan ia tidak akan memperoleh cahaya.  Dengan kata lain, ia akan memperoleh kegelapan seperti orang buta yang meraba-raba mencari benda-benda di sekitarnya.  Karena itu, cahaya Tuhan demikian berharga buat manusia dia diibaratkan sebagai:


Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap       
Jadi, cahaya Tuhanlah yang  membuat manusia rindu untuk kembali kepada-Nya.
            Sebuah pengakuan memang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk menyatakan kelemahannya.  Namun, manusia yang ingin menyampaikan pengakuannya tidak bisa langsung berjumpa dengan Tuhan meskipun pada akhirnya ia akan rindu ingin bertemu dengan Tuhan. Ia rindu akan rasa dan rupa Tuhan.  Kerinduan ini sebenarnya merupakan hal yang wajar saja seperti Nabi Musa yang dituntut oleh umatnya (bangsa Yahudi) agar dipertemukan dengan Tuhannya.  Manusia merindukan Tuhan dalam bentuk aslinya karena Tuhan memang tidak akan memperlihatkannya pada manusia.  Kalau Ia menampakkan-nya berarti Tuhan memiliki sifat-sifat kelemahan.  Untuk itu cukup dengan firman-firman-Nya yang wajib diimani oleh manusia.  Biar saja manusia merasa rindu akan rasa dan rupa Tuhan.  Kalau ia ingin berdialog dengan Tuhannya, cukup dengan berdialog lewat firman-firman-Nya:
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

            Apakah dengan demikian Tuhan memiliki kecemburuan pada manusia karena Tuhan seolah-olah merahasiakan keberadaannya?  Kalau sifat itu terjadi pada Tuhan, sama saja Tuhan itu manusia.  Kalau Tuhan sama dengan manusia, berarti Tuhan juga punya banyak kelemahan.  Mustahil kalau Tuhan yang Maha segala-galanya memiliki kelemahan.  Untuk itu, kita tidak bisa menerima bait berikut ini.
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Kita tidak bisa menerima kalau Tuhan dipersonifikasikan sedemikian rupa karena mana mungkin Tuhan punya sifat cemburu?  Kalau Tuhan cemburu, berarti Tuhan juga memiliki sifat iri/dengki.  Kalau sifat itu terjadi pada Tuhan, apakah tidak mustahil tidak ada bedanya Tuhan dengan manusia? Apakah Tuhan juga ganas?  Kalau Tuhan ganas, perlu kita pertanyakan: di mana sifat rahman dan rahim-Nya? Seandainya, ada orang yang mengatakan bahwa ia orang yang paling menderita karena hukuman Tuhan, perlu dipertanyakan bukankah sebaliknya bahwa bencana apapun yang diderita manusia lebih merupakan pekerjaan manusia juga? Rusaknya alam sekitar kita (lingkungan hidup) bukankah karena ulah manusia?  Kalau memang itu semua merupakan ulah manusia, mengapa Tuhan disalahkan sehingga dengan demikian mudah mengatakan bahwa Tuhan itu ganas seperti yang tercantum pada bait puisi di atas?    
Kita juga tidak bisa menerima kalau Tuhan seperti seekor kucing yang mempermainkan buruannya.  Pada bait puisi di atas misalnya tercantum di sana Mangsa aku dalam cakarmu/Bertukar tangkap dengan lepas.  Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa Tuhan mempermainkan manusia, yang karena cemburu dan ganasnya, menjadikan manusia sebagai buruan yang demikian mudah untuk dipermainkan.  Sekali lagi, ini merupakan salah satu kelemahan Amir Hamzah selaku penulis puisi yang membuat permisalan seperti itu.
Selain itu, kita juga menemukan pada bait berikut yang menunjukkan kelemahan Tuhan.
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kelemahan Tuhan tercermin dari baris terakhir, yaitu Serupa dara di balik tirai yang artinya Tuhan dipersonifikasikan sebagai manusia yang mengintip-intip pekerjaan manusia.  Mengapa Tuhan harus berperilaku demikian?  Bukankah Ia Maha Melihat dan Maha Mendengar?  Kalau Ia harus mengintip-intip untuk mengetahui apa saja yang dilakukan manusia, berarti Ia memiliki kelemahan.  Atau pekerjaan mengintip itu merupakan kompensasi dari cemburunya Tuhan melihat perilaku hamba-Nya sebagaimana tercantum pada bait sebelumnya?  Kalau itu yang terjadi, jelas kita tidak bisa menerimanya karena Tuhan mustahil punya sifat cemburu.  Dengan demikian, dua bait pada puisi tersebut harus kita kritisi karena Tuhan tidak bisa dipersonifikasikan seperti itu.
            Bait terakhir pada puisi “Padamu Jua”  yang berbunyi:
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Mati hari – bukan kawanku


mengingatkan kita pada puisi Chairil Anwar yang pernah kita kutip pada Bab I (Pendahuluan), yaitu: 

Tuhanku
di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

                        (DOA)

yang mengisyaratkan bahwa manusia pada akhirnya memang harus kembali pada Tuhannya. Ia harus kembali kepada Tuhannya karena hasil pengembaraan- nya selama ini tidak banyak membawa hasil.  Di sisi lain, manusia memang bisa memperoleh apa saja yang ia inginkan di dunia ini yang semata-mata untuk memuaskan batinnya.  Tetapi, pada akhirnya ia mengalami kesunyian hidup. Baik, Amir Hamzah maupun Chairil Anwar, bahkan semua manusia, sepakat bahwa kesunyian hidup ini hanya bisa diisi dengan mengembalikan semua itu pada Tuhan.  Ini merupakan salah satu bukti betapa manusia sangat bergantung pada Tuhan di manapun ia berada. 

            Secara keseluruhan puisi tersebut mencerminkan betapa indahnya ide/ konsep yang ingin disampaikan Amir Hamzah meskipun di sana-sini kita masih banyak melihat betapa lemahnya penyair menggambarkan sifat-sifat Tuhan.  Penyair ingin menyampaikan bahwa (1) manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan biar bagaimanapun memerlukan kehadiran Tuhan dan (2) manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab di manapun manusia itu berada pada akhirnya ia akan kembali pada Tuhan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...