Minggu, 01 Desember 2013

Artikel Agama (12)

“BERIBADAH DENGAN BAIK DAN BENAR”


Bukan hanya `berbahasa Indonesia dengan baik dan benar` dalam beribadah pada Allah SWT juga harus `beribadah dengan baik dan benar`. Pernyataan itu berasal dari dua frase, yaitu `beribadah dengan baik` dan `beribadah dengan benar`. `Beribadah dengan baik` berarti dalam beribadah harus disertai keikhlasan. Untuk itu, setiap insan harus menyadari bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya (Surat Adz-Zariyat: 56). Berkaitan dengan pernyataan `beribadah dengan baik` dalam hal ini ketika seseorang beribadah harus menyadari bahwa seluruh aspek kehidupannya diniatkan semata untuk ibadah pada Allah. Tidak boleh ada niatan-niatan yang lain. Dia harus ikhlas beribadah sehingga tidak boleh ada unsur-unsur riya` agar semua orang tahu bahwa dia ahli ibadah. Tidak boleh ada unsur takabur agar dirinya dipandang paling suci karena ahli ibadah. Singkatnya, tidak boleh tercampur dalam ibadah pada Allah SWT unsur-unsur penyakit hati yang cenderung pada kesyirikan. Dengan demikian orang yang `beribadah dengan baik` adalah orang yang tergolong `G Syirik`.

Sabtu, 30 November 2013

Artikel Agama (11)

HINDARILAH DEBAT


Kita sering di berbagai pertemuan yang diadakan oleh ormas-ormas atau parpol-parpol entah itu yang berupa musyawarah kerja, muktamar, kongres, dan kegiatan sejenisnya yang selalu berakhir dengan perseteruan. Kadang-kadang perseteruan itu berakhir dengan perpecahan di antara aktivis-aktivis ormas atau parpolnya. Bahkan, tidak mustahil perpecahan itu berakibat lebih jauh adanya konflik horisontal yang berkepanjangan. Perpecahan tersebut bukan saja terjadi pada ormas/parpol umum, tetapi juga tidak sedikit pada ormas-ormas/parpol-parpol Islam. Sejarah mencatat perpecahan di tubuh partai Islam di masa lalu lebih disebabkan oleh perbedaan pandangan yang tidak bersifat substansial. Boleh dikatakan, dalam bahasa agama, lebih mengarah pada furu`iyah ubudiyah (masalah-masalah cabang dalam ibadah). Bisa diambil contoh di sini seperti penggunaan usoli ketika niat ingin sholat atau qunut ketika sholat subuh. Boleh jadi di masa lalu seorang kiai dari kalangan moderat ketika tidak memakai sarung dan kopiah di saat rapat-rapat partai dan sebaliknya memakai dasi dan jas bisa jadi masalah. Bahkan, lebih ekstrim lagi ketika sholat tidak bersarung dan berkopiah bisa dimasalahkan. Di kalangan Islam moderat menilai orang-orang yang bersarung dan berkopiah sebagai kalangan Islam tradisional atau kampungan atau terbelakang sehingga sangat mungkin menyulut perdebatan yang berakhir dengan perpecahan.  

Kamis, 28 November 2013

Artikel Administrasi Publik (05)

“PERUBAHAN DAN PERBAIKAN”


I
Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, adakah perubahan dari diri kita? Jawabannya pasti ada. Tetapi, adakah perbaikan?  Perbaikan masih bersifat umum sehingga akan memunculkan pertanyaan: perbaikan apa? Perbaikan perilaku? Perbaikan kompetensi? Ataukah yang sering orang bicarakan, perbaikan nasib? Untuk masalah perbaikan memang agak sulit menjawabnya. Untuk perbaikan perilaku hanya orang yang sering mengintrospeksi diri yang tahu. Sedangkan perbaikan kompetensi hanya orang yang sedikit angkuh yang mengaku bahwa dirinya punya perbaikan kompetensi (walaupun terkadang dibutuhkan ketika seseorang ditanya kompetensinya). Tetapi, perbaikan nasib? Orang yang sebenarnya sudah baik nasibnya sering harus berbohong pada diri sendiri bahwa nasibnya belum ada perbaikan.  Boleh jadi orang tersebut tidak berbohong karena dia punya ukuran dan indikator tentang perbaikan nasib. Semua perbaikan sudah pasti ada ukurannya dan indikatornya. Karena itu, perilaku, kompetensi, dan/atau nasib masing-masing baru bisa dikatakan ada perbaikan jika bisa ditunjukkan ukuran dan indikatornya.

Senin, 25 November 2013

All You Need is Love (07)

REGULASI DIRI (3)

Tahapan kedua dalam regulasi diri adalah penilaian, yaitu membandingkan apa yang dilihat pada diri dan perilaku dengan standar ukuran tertentu. Untuk bisa membandingkan baik diri maupun perilaku apakah diri dan perilakunya dinilai baik atau tidak seseorang harus mengetahui terlebih dahulu standar ukurannya. Standar ukuran yang berkenaan dengan diri dan perilaku yang berlaku umum untuk semua umat manusia tentu saja harus berlandaskan pada nilai-nilai yang terdapat pada agama. Sebagai seorang Muslim tentu saja nilai-nilai agama yang berlaku adalah nilai-nilai Islam. Nilai-nilai Islam yang berkenaan dengan diri dan perilaku kita namakan sebagai akhlak Islami. Implementasi dari akhlak Islami bisa dilihat langsung pada diri dan perilaku Rasulullah SAW sebagai contoh teladan bagi umat Islam.

Kamis, 21 November 2013

All You Need is Love (06)

“IDE—AKTIVITAS—PRODUK—IDE”




Tidak ada orang yang memungkiri bahwa manusia hidup pasti punya masalah. Hanya ada orang yang bisa memecahkan masalah. Ada  juga yang masalahnya tidak terselesaikan yang akhirnya terjadi penumpukan masalah. Tapi, coba dipikir, mengapa timbul masalah? Masalah timbul karena antara ide dan fakta terjadi ketidaksinambungan yang jika dibuat dalam bentuk simbol seperti ini:≠ . Kalau simbolnya seperti ini :  ═ berarti ada kesinambungan antara ide dan fakta sehingga tidak timbul masalah. Tetapi, lain lagi kalau begini :  ≠  berarti tidak ada kesinambungan ide dengan fakta sehingga timbul masalah. Bagaimana caranya memecahkan masalah? Munculkan ide baru. Itu jawabannya. Apakah cukup sampai di situ? Harus diteruskan ide itu dengan aktivitas. Nanti dari aktivitas akan memperoleh produk. Produk yang diperoleh beberapa waktu kemudian akan menimbulkan masalah baru sehingga perlu adanya ide baru. Begitulah seterusnya wujud sebuah kebudayaan yang jika disingkat menjadi judul tulisan ini “Ide—Aktivitas—Produk—Ide” . Agar lebih mudah lagi disingkat saja lagi menjadi “IAPI”.

Senin, 18 November 2013

All You Need Is Love (05)

“M E O K”



Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat di kaca belakang angkot K-02 (Pondok Gede—Terminal Bekasi) ada tulisan “MEOK” yang buat saya tulisan tersebut tidak asing lagi karena tulisan yang sama di tahun-tahun 70-an pernah saya jumpai di Jembatan Merah,Tebet, Jakarta Selatan. Bagi saya yang waktu itu masih bersekolah di SLA ada sesuatu yang asing dengan tulisan itu. Saya sempat bertanya pada beberapa teman atau orang-orang yang lebih tua. Ternyata mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan “MEOK”. Saya juga sempat buka di Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh P.W.J. Poerwadarminta, ternyata jawabannya nihil alias tidak ada. Tulisan itu baru saya dapati ketika suatu saat di salah satu majalah terbitan Pusat Bahasa memuat tulisan tentang grafiti, yaitu corat-coret remaja di tembok atau di tempat-tempat terbuka umum yang terkadang disertai dengan gambar-gambar atau simbol-simbol yang menunjukkan jati diri mereka, ternyata kata tersebut merupakan sebuah akronim. Kata “MEOK” itu sendiri jika ditulis lengkap akan berbunyi `Makan Enak Ogah Kerja`.

Kamis, 14 November 2013

Artikel Administrasi Publik (04)



MENGANATOMI TUBUH LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT
(SEBUAH PEMIKIRAN UNTUK MENGENAL LEBIH JAUH APA, SIAPA, MENGAPA, BILAMANA, DAN BAGAIMANA AKTIVITASNYA SAAT INI)

Pendahuluan

Lembaga Swadaya Masyarakat (untuk selanjutnya kita singkat saja dengan LSM) sebagai sebuah lembaga yang kehadirannya banyak membantu program pemerintah di bidang pemberdayaan swadaya masyarakat beberapa tahun lalu cukup ramai dibicarakan.  Pada waktu itu LSM ramai dibicarakan mengingat lembaga ini di masa-masa akhir Pemerintahan Orde Baru banyak membuat PR pemerintah pada waktu itu.  Mengapa LSM yang kehadirannya pertama kali banyak membantu pemerintah bisa berbalik menjadi PR bagi pemerintah?  Salah satu dugaan yang muncul pada waktu itu karena LSM telah memasuki wilayah politik yang justeru Pemerintah Orde Baru pada waktu itu sangat kritis terhadap segala hal yang berbau politik (Republika, 19 Juni 1995).  Tetapi, itu baru dugaan.  Tentang kebenarannya perlu diteliti lebih jauh.

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...