Minggu, 01 Desember 2013

Artikel Agama (12)

“BERIBADAH DENGAN BAIK DAN BENAR”


Bukan hanya `berbahasa Indonesia dengan baik dan benar` dalam beribadah pada Allah SWT juga harus `beribadah dengan baik dan benar`. Pernyataan itu berasal dari dua frase, yaitu `beribadah dengan baik` dan `beribadah dengan benar`. `Beribadah dengan baik` berarti dalam beribadah harus disertai keikhlasan. Untuk itu, setiap insan harus menyadari bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya (Surat Adz-Zariyat: 56). Berkaitan dengan pernyataan `beribadah dengan baik` dalam hal ini ketika seseorang beribadah harus menyadari bahwa seluruh aspek kehidupannya diniatkan semata untuk ibadah pada Allah. Tidak boleh ada niatan-niatan yang lain. Dia harus ikhlas beribadah sehingga tidak boleh ada unsur-unsur riya` agar semua orang tahu bahwa dia ahli ibadah. Tidak boleh ada unsur takabur agar dirinya dipandang paling suci karena ahli ibadah. Singkatnya, tidak boleh tercampur dalam ibadah pada Allah SWT unsur-unsur penyakit hati yang cenderung pada kesyirikan. Dengan demikian orang yang `beribadah dengan baik` adalah orang yang tergolong `G Syirik`.
Orang yang `G syirik` Insya Allah ketika dia beribadah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama Allah (Surat Al-Bayyinah: 5). Orang yang `G syirik` orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak ada sedikitpun keraguan (Surat Al-Hujurat: 15). Orang yang `G syirik` karena tergolong orang yang ikhlas, apabila Allah SWT dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan tidak ada pilihan kecuali mentaatinya (Surat Al-Ahzab: 36). Orang yang `G syirik` jika disebut asma Allah gemetarlah hatinya. Bahkan, jika dibacakan ayat-ayat Allah bertambah imannya (Surat Al-Anfal: 2).  Karena itu, orang yang `G syirik`adalah orang yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezekinya (Surat Al-Anfal: 3).  Orang  yang `G syirik` adalah orang yang bisa melaksanakan ibadah dengan baik.

`Beribadah dengan benar` artinya dalam beribadah seseorang harus sesuai dengan syari`at. Dengan kata lain, dia harus beribadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW dalam sunahnya yang suci yang terdapat dalam shiroh Rasulullah. Jadi, dalam hal ini ketika seorang hamba Allah ingin menunaikan ibadah dia harus cara-caranya. Dalam fiqih, misalnya, jika orang mau sholat harus diawali dengan bersuci, dia harus tahu cara bersuci. Begitu juga dengan ibadah-ibadah lainnya karena Allah SWT telah memerintahkan kepada semua orang yang beriman bahwa apa saja yang diperintahkan Rasulullah harus ditaati (Surat Al-Hasyr: 7). Untuk itu, ketika seorang hamba Allah mau melaksanakan ibadah dia harus belajar dulu. Di sini dibutuhkan orang yang punya intelektual memadai alias `G O`ON`. Orang yang `G O`ON` bisa dilihat indikatornya, yaitu dalam beribadah dia tidak mau ikut-ikutan. Orang yang `G O`ON`karena dia belajar Insya Allah tidak ada niatan di hatinya untuk mengubah atau mengganti cara-cara ibadah sesuai dengan kehendak hatinya (naudzubillah min dzaalik).  Orang yang `G O`ON` tidak mau meneliti rahasia-rahasia ibadah atau menyamakan ibadah dengan adat setempat karena dia menyadari yang namanya adat pasti bisa berubah. Aturan beribadah pada Allah SWT tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Kalau ada orang yang intelektualnya dianggap memadai tetapi lebih mengedepankan adat dari ibadah, maka orang tersebut tergolong `O`ON`. Biar dia dianggap brilliant, smart, cerdas, punya otak cemerlang tidak artinya sama sekali di hadapan Allah kalau berani-beraninya mengedepankan adat daripada ibadah.


`Beribadah dengan baik dan benar` membutuhkan orang-orang yang tergolong `G syirik` dan `G O`ON`. `Beribadah dengan baik dan benar` membutuhkan niat yang ikhlas, hati yang bersih, yang menempatkan Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya. Hanya orang yang `G syirik` yang bisa melaksanakannya karena orang yang `G syirik` memiliki itu semua. Sementara itu, orang yang `G O`ON` ketika akan menjalankan ibadah pada Allah SWT diawali dengan belajar sehingga dia tahu segala persyaratannya, cara-caranya, dan bacaan-bacaannya. Orang yang `G O`ON` dalam beribadah pada  Allah tidak ikut-ikutan karena dia sadar bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT (Surat Bani Israil: 36). Kalau di tengah-tengah umat saat ini banyak yang dalam beribadah cenderung tidak serius, ini menunjukkan umat kita ini banyak yang syirik dan o`on. Begitu juga, kalau para ulama melakukan pembiaran terhadap orang-orang yang syirik dan o`on, bahkan mereka menyombongkan diri, Allah SWT menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih (Surat An-Nisa: 173). Mudah-mudahan hamba-hamba Allah yang `G syirik` dan `G O`ON` terjauhkan dari siksa Allah karena telah `beribadah dengan baik dan benar`. Wallahu a`lam bissawab.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...