“BERIBADAH
DENGAN BAIK DAN BENAR”
Bukan hanya `berbahasa
Indonesia dengan baik dan benar` dalam beribadah pada Allah SWT juga harus
`beribadah dengan baik dan benar`. Pernyataan itu berasal dari dua frase, yaitu
`beribadah dengan baik` dan `beribadah dengan benar`. `Beribadah dengan baik`
berarti dalam beribadah harus disertai keikhlasan. Untuk itu, setiap insan
harus menyadari bahwa Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah
kepada-Nya (Surat Adz-Zariyat: 56). Berkaitan dengan pernyataan `beribadah
dengan baik` dalam hal ini ketika seseorang beribadah harus menyadari bahwa
seluruh aspek kehidupannya diniatkan semata untuk ibadah pada Allah. Tidak
boleh ada niatan-niatan yang lain. Dia harus ikhlas beribadah sehingga tidak
boleh ada unsur-unsur riya` agar
semua orang tahu bahwa dia ahli ibadah. Tidak boleh ada unsur takabur agar dirinya dipandang paling
suci karena ahli ibadah. Singkatnya, tidak boleh tercampur dalam ibadah pada
Allah SWT unsur-unsur penyakit hati yang cenderung pada kesyirikan. Dengan
demikian orang yang `beribadah dengan baik` adalah orang yang tergolong `G
Syirik`.
Orang yang `G syirik`
Insya Allah ketika dia beribadah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena
menjalankan agama Allah (Surat Al-Bayyinah: 5). Orang yang `G syirik` orang
yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak ada sedikitpun
keraguan (Surat Al-Hujurat: 15). Orang yang `G syirik` karena tergolong orang
yang ikhlas, apabila Allah SWT dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan
tidak ada pilihan kecuali mentaatinya (Surat Al-Ahzab: 36). Orang yang `G
syirik` jika disebut asma Allah gemetarlah hatinya. Bahkan, jika dibacakan
ayat-ayat Allah bertambah imannya (Surat Al-Anfal: 2). Karena itu, orang yang `G syirik`adalah orang
yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezekinya (Surat Al-Anfal:
3). Orang yang `G syirik` adalah orang yang bisa
melaksanakan ibadah dengan baik.
`Beribadah dengan
benar` artinya dalam beribadah seseorang harus sesuai dengan syari`at. Dengan kata
lain, dia harus beribadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW dalam sunahnya
yang suci yang terdapat dalam shiroh Rasulullah. Jadi, dalam hal ini ketika
seorang hamba Allah ingin menunaikan ibadah dia harus cara-caranya. Dalam
fiqih, misalnya, jika orang mau sholat harus diawali dengan bersuci, dia harus tahu
cara bersuci. Begitu juga dengan ibadah-ibadah lainnya karena Allah SWT telah
memerintahkan kepada semua orang yang beriman bahwa apa saja yang diperintahkan
Rasulullah harus ditaati (Surat Al-Hasyr: 7). Untuk itu, ketika seorang hamba
Allah mau melaksanakan ibadah dia harus belajar dulu. Di sini dibutuhkan orang
yang punya intelektual memadai alias `G O`ON`. Orang yang `G O`ON` bisa dilihat
indikatornya, yaitu dalam beribadah dia tidak mau ikut-ikutan. Orang yang `G
O`ON`karena dia belajar Insya Allah tidak ada niatan di hatinya untuk mengubah
atau mengganti cara-cara ibadah sesuai dengan kehendak hatinya (naudzubillah min dzaalik). Orang yang `G O`ON` tidak mau meneliti
rahasia-rahasia ibadah atau menyamakan ibadah dengan adat setempat karena dia
menyadari yang namanya adat pasti bisa berubah. Aturan beribadah pada Allah SWT
tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Kalau ada orang yang intelektualnya
dianggap memadai tetapi lebih mengedepankan adat dari ibadah, maka orang
tersebut tergolong `O`ON`. Biar dia dianggap brilliant, smart, cerdas,
punya otak cemerlang tidak artinya sama sekali di hadapan Allah kalau
berani-beraninya mengedepankan adat daripada ibadah.
`Beribadah dengan baik
dan benar` membutuhkan orang-orang yang tergolong `G syirik` dan `G O`ON`.
`Beribadah dengan baik dan benar` membutuhkan niat yang ikhlas, hati yang
bersih, yang menempatkan Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya. Hanya
orang yang `G syirik` yang bisa melaksanakannya karena orang yang `G syirik`
memiliki itu semua. Sementara itu, orang yang `G O`ON` ketika akan menjalankan
ibadah pada Allah SWT diawali dengan belajar sehingga dia tahu segala
persyaratannya, cara-caranya, dan bacaan-bacaannya. Orang yang `G O`ON` dalam
beribadah pada Allah tidak ikut-ikutan
karena dia sadar bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta
pertanggungjawaban oleh Allah SWT (Surat Bani Israil: 36). Kalau di
tengah-tengah umat saat ini banyak yang dalam beribadah cenderung tidak serius,
ini menunjukkan umat kita ini banyak yang syirik dan o`on. Begitu juga, kalau
para ulama melakukan pembiaran terhadap orang-orang yang syirik dan o`on, bahkan
mereka menyombongkan diri, Allah SWT menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih
(Surat An-Nisa: 173). Mudah-mudahan hamba-hamba Allah yang `G syirik` dan `G
O`ON` terjauhkan dari siksa Allah karena telah `beribadah dengan baik dan
benar`. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar