“M E O K”
Beberapa waktu lalu,
saya sempat melihat di kaca belakang angkot K-02 (Pondok Gede—Terminal Bekasi)
ada tulisan “MEOK” yang buat saya tulisan tersebut tidak asing lagi karena
tulisan yang sama di tahun-tahun 70-an pernah saya jumpai di Jembatan
Merah,Tebet, Jakarta Selatan. Bagi saya yang waktu itu masih bersekolah di SLA
ada sesuatu yang asing dengan tulisan itu. Saya sempat bertanya pada beberapa
teman atau orang-orang yang lebih tua. Ternyata mereka tidak tahu apa yang
dimaksud dengan “MEOK”. Saya juga sempat buka di Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh P.W.J.
Poerwadarminta, ternyata jawabannya nihil alias tidak ada. Tulisan itu baru
saya dapati ketika suatu saat di salah satu majalah terbitan Pusat Bahasa
memuat tulisan tentang grafiti, yaitu corat-coret remaja di tembok atau di
tempat-tempat terbuka umum yang terkadang disertai dengan gambar-gambar atau
simbol-simbol yang menunjukkan jati diri mereka, ternyata kata tersebut
merupakan sebuah akronim. Kata “MEOK” itu sendiri jika ditulis lengkap akan
berbunyi `Makan Enak Ogah Kerja`.
Penulis grafiti “MEOK”
saya kurang tahu apakah mereka termasuk dalam komunitas orang-orang yang
tergolong “MEOK” atau yang berempati pada “MEOK” atau yang tidak suka kehadiran
“MEOK”. Mungkin-mungkin saja penulis grafiti “MEOK” sudah tidak ada atau
seandainya adapun usianya sudah lanjut (manula). Mudah-mudahan saja seandainya
mereka sudah tua bukan lagi tergolong manusia “MEOK” karena akronim itu
mencerminkan manusia yang cenderung malas mencari nafkah. Manusia yang ada
kecenderungan mau hidup enak tanpa ada cucuran keringat. Manusia yang tentu
saja tidak punya kemandirian. Manusia seperti ini boleh juga tergolong manusia
yang `hedonis`. Mereka bisa juga dimasukkan sebagai penganut paham `hedonisme`.
Kata `hedonis` menurut
A.Mangunhardjana (Isme-Isme dari A sampai
Z, 1997:90-92) berasal dari kata `hedone` yang berarti `kenikmatan`. Semua
bentuk kenikmatan yang dilakukan manusia secara pribadi, baik kenikmatan
indriawi bagi orang-orang yang sensual, kenikmatan intelektual bagi para
ilmuwan, maupun kenikmatan estetis bagi pencinta materi (kebendaan) disebut
`hedonis`. Karena kenikmatan tersebut lebih bersifat pribadi, kenikmatan di
sini menjadi perkara subjektif. Jadi, dalam hal ini orang-orang yang merasakan
kenikmatan etis, moral, religius mereka tergolong `hedonis`. Namun, dalam
kenyataannya kata tersebut mengalami penyempitan makna. Kata `hedonis` saat ini
menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan sikap konsumeristis. Dengan kata
lain kata `hedonis` selalu dikaitkan dengan budaya konsumtif. Manusia atau
masyarakat yang menganut paham ini biasa disebut `konsumerisme` atau di
kalangan masyarakat lebih dikenal dengan sebutan `matre` (maksudnya
materialistis). Sedangkan kata `konsumerisme` diartikan sebagai sikap hidup
yang lebih mau menikmati daripada menahan, mengkonsumsi daripada memproduksi.
Dengan demikian, orang yang `hedonis` karena sudah dipastikan disertai dengan
pendekatan sikap `konsumeristis` lebih suka mendapat daripada memberi atau
membeli daripada memproduksi/membuat sendiri.
Orang `hedonis` atau
“MEOK” adalah orang yang lebih mengedepankan tangan di bawah daripada tangan di
atas. Tipe peminta-minta karena tuntutan konsumeristis daripada orang yang
tergolong pemurah karena suka memberi. Tipe manusia seperti ini adalah tipe
yang tidak mau susah. Kalau perlu menghindari kesusahan atau penderitaan
sekalipun karena hidup ini harus diisi dengan kesenangan dan kenikmatan bukan
kesusahan dan penderitaan. Tipe manusia seperti ini adalah tipe orang yang
tidak bisa memberi manfaat buat orang lain. Sebaliknya, dia menjadi jenis
manusia yang selalu memanfaatkan kebaikan orang lain. Karena tidak bisa memberi
manfaat buat orang lain, orang “MEOK” tidak memiliki rasa peduli. Ia lebih
mementingkan diri sendiri. Ia tidak mau tahu kalau ada orang di sekitarnya
meminta uluran tangan atau belas kasihannya. Ia cenderung bikin orang susah.
Jadi, orang “MEOK” merupakan orang bermasalah yang bisa dimasukkan ke dalam
kelompok orang-orang berpenyakit sosial.
Orang “MEOK” karena ada
kecenderungan untuk memperoleh sesuatu tanpa kerja keras, ia akan melakukan
segala cara untuk mendapatkan kenikmatan sesaat. Di bidang politik orang-orang
“MEOK” akan mempraktekkan cara-cara Nicolo Machiavelli untuk mendapatkan kekuasaan.
Salah satu cara ajaran Nicolo Machiavelli yang dinilai tidak bermoral adalah
untuk mendapatkan kekuasaan seseorang bisa melakukan apa saja, termasuk ke
dalamnya melakukan cara-cara baik halus maupun kasar. Kalau perlu untuk
mendapatkan kekuasaan sah-sah saja orang tersebut membunuh lawan politiknya.
Kalau di negara ini, misalnya, dari pemilu ke pemilu atau pilkada ke pilkada
selalu ada saja keributan, pasti faktor penyebabnya lebih disulut orang-orang
yang tidak puas dengan hasil pemilu atau pilkada karena dianggap ada
kecurangan. Unsur kecurangan tersebut jika ditelusuri lebih jauh lagi faktor
penyebabnya karena masih dipraktekkannya cara-cara ala Nicolo Machiavelli,
yaitu melakukan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Itu baru di bidang politik.
Bagaimana di bidang-bidang lainnnya?
Kalau
mau ditelisik demikian banyak di luar politik bidang-bidang kehidupan yang
dilakukan orang-orang “MEOK” untuk memperoleh kenikmatan dunia dengan cara-cara
yang ilegal. Meskipun demikian, kita tidak boleh terpesona bahwa hidup itu
indah sehingga harus selalu indah. Atau
hidup itu nikmat sehingga kita harus hidup dalam suasana kenikmatan. Kalau sudah demikian falsafah hidup kita,
kita tergolong orang yang mendukung hedonisme.
Hedonisme harus kita hindari karena hedonisme menjadikan kita sebagai
hamba konsumerisme. Dengan kata lain,
hedonisme menjadikan kita manusia yang kontraproduktif. Orang yang hedonis atau
“MEOK” dari segi perilakunya sama dengan orang-orang yang ingkar pada Tuhannya
(kafir) yang menikmati kesenangan dunia dan mereka makan seperti layaknya hewan
makan (Surat Muhammad : 12).
Orang
“MEOK” yang pasti tidak punya kepribadian atau integritas diri. Dalam bahasa
Anis Mata, orang yang tidak punya afiliasi, yaitu orang yang dalam bahasa
agamanya, tidak punya komitmen aqidah, ibadah, dan akhlak. Karena itu, orang
“MEOK” jangan diharapkan bisa berpartisipasi. Apalagi untuk memberikan
kontribusi rasa-rasanya tidak mungkinlah. Oleh karena itu, kita perlu
menghindar dari penyakit “MEOK”. Bagaimana untuk menghindari penyakit tersebut?
Kalau mengacu pada tulisan Anis Mata dalam Delapan
Mata Air Kecemerlangan, lakukan tiga tangga kehidupan, yaitu afiliasi,
partisipasi, dan kontribusi. Dengan cara demikian, diharapkan kita bisa menjadi
model manusia Muslim yang ideal sehingga terhindar dari perilaku hidup yang
hedonis atau “MEOK”. Untuk mengetahui
lebih jauh tentang deskripsi ketiga langkah itu (afiliasi, partisipasi, dan
kontribusi) bisa kita pelajari pada buku Anis Mata tersebut. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar