HINDARILAH
DEBAT
Kita sering di berbagai
pertemuan yang diadakan oleh ormas-ormas atau parpol-parpol entah itu yang
berupa musyawarah kerja, muktamar, kongres, dan kegiatan sejenisnya yang selalu
berakhir dengan perseteruan. Kadang-kadang perseteruan itu berakhir dengan
perpecahan di antara aktivis-aktivis ormas atau parpolnya. Bahkan, tidak
mustahil perpecahan itu berakibat lebih jauh adanya konflik horisontal yang
berkepanjangan. Perpecahan tersebut bukan saja terjadi pada ormas/parpol umum,
tetapi juga tidak sedikit pada ormas-ormas/parpol-parpol Islam. Sejarah
mencatat perpecahan di tubuh partai Islam di masa lalu lebih disebabkan oleh
perbedaan pandangan yang tidak bersifat substansial. Boleh dikatakan, dalam
bahasa agama, lebih mengarah pada furu`iyah
ubudiyah (masalah-masalah cabang dalam ibadah). Bisa diambil contoh di sini
seperti penggunaan usoli ketika niat
ingin sholat atau qunut ketika sholat
subuh. Boleh jadi di masa lalu seorang kiai dari kalangan moderat ketika tidak
memakai sarung dan kopiah di saat rapat-rapat partai dan sebaliknya memakai
dasi dan jas bisa jadi masalah. Bahkan, lebih ekstrim lagi ketika sholat tidak
bersarung dan berkopiah bisa dimasalahkan. Di kalangan Islam moderat menilai
orang-orang yang bersarung dan berkopiah sebagai kalangan Islam tradisional
atau kampungan atau terbelakang sehingga sangat mungkin menyulut perdebatan
yang berakhir dengan perpecahan.
Kita tidak habis pikir mengapa ormas-ormas/parpol-parpol Islam yang diplatformnya dilandasi nilai-nilai Islam yang demikian luhur mengalami hal yang sama dengan ormas-ormas/parpol-parpol umum? Bukankah para aktivisnya adalah sesama Muslim yang diikat oleh tali ukhuwah yang dilandasi aqidah Islam yang bersih? Bukankah mereka juga diikat oleh kesamaan gerak dan tujuan dari tiap-tiap ormas/parpol tersebut? Bukankah mereka juga adalah para pemimpin yang telah malang-melintang di belantara kepemimpinan yang umumnya mereka telah ditempa oleh berbagai pelatihan kepemimpinan sehingga mereka menjadi pemimpin yang mapan dan mumpuni? Apakah tidak cukup pengalaman terbang di organisasi menempa dirinya semakin dewasa dan semakin bisa menerima perbedaan sehingga terhindar dari segala macam perpecahan? Atau mungkin ada faktor lain yang memang sengaja memprovokasi umat ini agar tidak pernah ada persatuan umat?
Kesamaan gerak dan
tujuan serta mapan dan mumpuni dalam kepemimpinan tidak menjamin kelanggengan
sebuah ormas/parpol. Kelanggengan dan keberhasilan sebuah ormas/parpol dalam
mencapai tujuan sebenarnya lebih disebabkan oleh kepribadian para aktivis
ormas/parpol tersebut. Dalam hal ini adalah kepribadian aktivis ormas/parpol
Islam yang meniru pribadi Rasulullah SAW. Dengan kata lain, Rasulullah SAW
harus dijadikan contoh teladan bagi setiap aktivis ormas/parpol Islam. Salah
satu pribadi Rasulullah SAW yang patut ditiru adalah kebiasaan Beliau yang
tidak mau berdebat dan berupaya menghindarinya. Beliau berpesan pada kita
melalui haditsnya:
Sesungguhnya yang menghancurkan umat-umat Islam
sebelummu adalah perdebatan. Tinggalkanlah bertengkar mulut sebab sedikit
sekali mendatangkan kebaikan. Tinggalkanlah perang mulut sebab orang yang
beriman tidak pantas berperang mulut.
Berangkat dari hadits
di atas, para aktivis ormas/parpol sudah selayaknya mengikuti pesan Beliau.
Pesan Beliau meskipun sederhana dalam pengungkapannya, tetapi memiliki nilai
yang tinggi dan dapat dibuktikan kebenarannya saat ini.
Pembuktian kebenaran
dapat kita lihat adanya perpecahan di antara para aktivis ormas/parpol Islam
yang berangkat dari perdebatan di antara mereka. Perdebatan dalam Islam bukan
dilarang, bahkan diperintahkan. Perdebatan yang diperintahkan adalah perdebatan
yang disertai dengan kasih sayang. Jadi, bukan sembarang perdebatan. Kita
mengenalnya sebagai musyawarah dan mufakat yang merupakan salah satu prinsip
ajaran Islam yang harus ditegakkan (Surat Ali Imran: 159). Cara-cara demokrasi
yang diterapkan dalam berorganisasi sebenarnya belum tentu cocok. Islam telah
menetapkan dalam bentuk musyawarah mufakat seperti yang dicontohkan Rasulullah
SAW. Kalau Rasulullah SAW sudah memberikan contoh baik seperti yang kita
ketahui melalui bacaan dalam shiroh nabawiyah maupun di masa para sahabat dan
tabi`in yang sudah terbukti kebenarannya, mengapa kita masih harus menggantinya
dengan konsep-konsep demokrasi ala barat yang cenderung menyulut cara-cara
perdebatan yang berakhir dengan perpecahan?
Budaya debat bukanlah
budaya Islam karena orang yang berdebat pasti dilandasi oleh hawa nafsu. Kita
tahu sendiri bagaimana jadinya kalau manusia dikuasai oleh hawa nafsu? Apabila
telah dikuasai oleh hawa nafsu, manusia tersebut telah dikuasai setan. Setan,
sesuai dengan wataknya, sudah tentu akan mengajak manusia untuk menyekutukan
Allah (Surat Al-An`am: 121). Agar kita terhindar dari perilaku menyekutukan Allah
atau kemusyrikan, marilah kita jauhi segala hal yang membuat kita dikuasai hawa
nafsu. Untuk itu, jalan yang terbaik adalah jauhi perbuatan yang diingini
setan. Jauhi keinginan hawa nafsu yang kerap mengajak kita kepada keburukan.
Jauhi segala macam perdebatan sebagaimana Rasulullah SAW memberikan ganjaran
pada orang yang meninggalkan perdebatan dalam hadits berikut ini.
Barangsiapa meninggalkan debat, sedangkan dia berada
dalam posisi yang salah, Allah akan membangunkan buatnya perumahan di tepi
surga. Barangsiapa meninggalkan debat, sedangkan dia dalam posisi yang benar, Allah akan membangunkan buatnya
perumahan di tengah surga. Dan barangsiapa berakhlak mulia, Allah akan
membangunkan buatnya perumahan di surga paling atas.
Sanggupkah kita
mentaati bunyi hadits di atas? Insya Allah sanggup kalau kita memang mengaku
orang yang beriman. Bagi orang yang beriman tidak ada kesulitan untuk mentaati
perintah Allah dan Rasul-Nya. Bagi orang beriman Allah dan Rasul-Nya di atas
segala-galanya. Semoga Allah SWT menempati kita sebagai hamba-hamba-Nya yang
tetap beriman. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar