Senin, 25 November 2013

All You Need is Love (07)

REGULASI DIRI (3)

Tahapan kedua dalam regulasi diri adalah penilaian, yaitu membandingkan apa yang dilihat pada diri dan perilaku dengan standar ukuran tertentu. Untuk bisa membandingkan baik diri maupun perilaku apakah diri dan perilakunya dinilai baik atau tidak seseorang harus mengetahui terlebih dahulu standar ukurannya. Standar ukuran yang berkenaan dengan diri dan perilaku yang berlaku umum untuk semua umat manusia tentu saja harus berlandaskan pada nilai-nilai yang terdapat pada agama. Sebagai seorang Muslim tentu saja nilai-nilai agama yang berlaku adalah nilai-nilai Islam. Nilai-nilai Islam yang berkenaan dengan diri dan perilaku kita namakan sebagai akhlak Islami. Implementasi dari akhlak Islami bisa dilihat langsung pada diri dan perilaku Rasulullah SAW sebagai contoh teladan bagi umat Islam.

Seperti kita ketahui bahwa seseorang yang melakukan regulasi diri akan melakukan proses yang mengaktivitasi pemikiran, perilaku, dan perasaan yang terus menerus dalam upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk bisa melakukan aktivitas yang meliputi pemikiran, perilaku, dan perasaan yang terus menerus, seorang Muslim harus melihat pada diri Rasulullah SAW sebagai suri teladan kita. Mengapa kita menjadikan Beliau sebagai suri teladan kita? Karena Beliau sebagai Nabi penutup diutus Allah untuk seluruh umat manusia (Surat An-Nisa:79). Bukankah Rasulullah SAW telah dinobatkan Allah SWT sebagai seorang hamba yang berakhlak sangat mulia atau berbudi pekerti luhur (Surat Al-Qolam: 4)? Selain itu, misi utama Beliau diutus ke muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan perilaku manusia sehingga sangat layak kalau kehadiran Beliau memberikan rahmat bagi seluruh isi alam ini (Surat Al-Anbiya:107).
Berkaitan erat dengan masalah penilaian yang standar ukurannya berlandaskan pada akhlak Islami, tulisan ini menjadikan buku Ustadz Yunahar Ilyas, yaitu Kuliah Akhlaq (terutama di Bab IV: Akhlaq Pribadi, halaman 81—145) sebagai rujukannya. Buku Ustadz Yunahar dijadikan sebagai rujukan mengingat di buku tersebut di Bab IV secara khusus tentang akhlak pribadi dapat dijadikan bahan masukan untuk mengadakan penilaian. Untuk itu, yang dijadikan sebagai standar ukuran mengadakan penilaian di antaranya mencakup shidiq, amanah, isitqomah, iffah, mujahadah, syaja`ah, tawadhu`, al-haya`, ash-shabr, dan al-`afwu. Berikut ini akan diuraikan satu persatu butir-butir tersebut.
I
Pertama-tama yang harus dimiliki seorang Muslim adalah shidiq (ash-shidqu), artinya benar atau jujur. Benar dalam hal ini mencakup benar hati, perkataan, dan perbuatan. Ketiganya harus bersinergi. Perkataan dan perbuatan seorang Muslim harus sama karena Allah SWT membenci orang yang berbeda perkataan dan perbuatannya (Surat As-Shaf : 2—3). Untuk bisa memiliki kesamaan perkataan dan perbuatan harus dimulai dari kebenaran hati. Untuk itu hati seorang Muslim harus dihiasi dengan iman kepada Allah SWT. Dia harus bersih dari segala penyakit hati. Sebagai tambahan, ada lima macam kebenaran yang harus ada pada seorang Muslim, yaitu benar perkataan, pergaulan, kemauan, janji, dan kenyataan. Dengan berpegang teguh pada lima kebenaran tersebut seorang Muslim diharapkan dapat terhindar dari segala macam bentuk kebohongan yang menjadi lawan dari kebenaran.
II
Standar ukuran bagi seseorang untuk menilai diri dan perilakunya juga mencakup masalah amanah (dipercaya). Sifat amanah menjadi sesuatu yang mahal di tengah-tengah kehidupan manusia saat ini karena begitu banyak orang yang tidak bisa menjaga amanah. Padahal seperti telah kita ketahui, salah satu bentuk kesempurnaan keimanan seseorang terletak pada seberapa jauh orang tersebut bisa menjaga amanah-nya (HR Ahmad). Dalam hal ini amanah walaupun diartikan sebagai dipercaya, mencakup banyak hal, yaitu menunaikan kewajiban dengan baik, memelihara semua nikmat yang diberikan Allah SWT, menyimpan rahasia orang, menjaga kehormatan orang lain, menjaga dirinya sendiri, dan termasuk juga di sini tidak menyalahgunakan jabatan. Kalau ada orang yang tidak melaksanakan baik salah satu maupun seluruh cakupan tersebut, orang tersebut bisa disebut sebagai khianat. Allah SWT melarang keras orang-orang yang beriman berkhianat, baik berkhianat pada Allah dan Rasul-Nya maupun mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadanya (Surat Al-Anfal: 27). Untuk terhindar dari penyakit khianat, kita harus membiasakan diri berdo`a pada Allah SWT sebagaimana Rasulullah SAW berdo`a “Ya Allah …..aku mohon perlindungan-Mu dari khianat karena khianat adalah kawan dekat yang paling buruk”.
III
Istiqomah dalam KBBI (1999: 390) ditulis `istikamah` yang artinya sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Dikaitkan dengan masalah akhlak Islami, istiqomah ialah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan ke-Islam-an walaupun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Berkaitan dengan definisi tersebut, seseorang yang istiqomah akan mempertahankan hal-hal yang berhubungan dengan kesempurnaan keimanannya, yaitu hati, lisan, dan amal perbuatan. Tentu saja untuk menjaga ketiga hal tersebut tidak mudah. Orang yang istiqomah akan diuji dengan ujian keimanan. Allah SWT sendiri telah memberikan isyarat bahwa setiap orang yang beriman tidak cukup mengaku dirinya beriman sebelum mereka diuji (Surat Al-Ankabut: 4). Ujian orang beriman bisa dalam bentuk ujian yang mengenakkan atau sebaliknya ujian yang tidak mengenakkan. Mungkin-mungkin saja ada orang yang lulus dari ujian yang tidak mengenakkan. Tetapi, tidak sedikit orang yang tidak lulus dari ujian yang mengenakkan. Meskipun demikian, bagi orang yang istiqomah, yang telah lulus dari berbagai ujian keimanan, mereka oleh Allah SWT akan dijauhkan dari rasa takut dan sedih (Surat Al-Fushilat: 30-32). Oleh karena itu, kita selayaknya menjadi hamba Allah yang tergolong istiqomah agar kita tidak takut menghadapi masa depan dan tidak sedih dengan yang telah terjadi pada masa lalu.
IV
Seseorang memiliki nilai kebaikan bukan terletak pada kekayaan, jabatan, atau kepangkatan, atau ketampanan (kecantikan) tetapi lebih disebabkan oleh kehormatan dirinya. Percuma saja ada orang yang telah memenuhi semua hal di atas kalau dia sebagai hamba Allah yang dhoif tidak bisa menjaga kehormatan dirinya. Untuk bisa menjaga kehormatannya dia harus bisa menjauhkan dirinya dari hal-hal baik yang diharamkan Allah maupun yang dihalalkan. Lho, kok yang halal juga masih perlu dijauhi. Ya, yang halal juga perlu dijauhi kalau diperkirakan nantinya akan bertentangan dengan kehormatan dirinya. Orang yang semacam ini bisa dimasukkan dalam kategori `iffah`. Iffah harus dimiliki oleh setiap pribadi Muslim karena orang yang iffah akan selain berusaha menjauhkan diri dari hal-hal yang negatif juga berusaha menjaga kesucian tubuh. Kalau di negara ini pejabat-pejabat publiknya memiliki iffah, Insya Allah negara ini akan terselamatkan dari korupsi dan sejenisnya. Tetapi, karena tidak ada iffah akhirnya sampai kapanpun negara ini harus berkelindan dengan korupsi dan konco-konconya. Sebagai tambahan, perlu juga ditekankan di sini, orang yang memiliki iffah akan berusaha menjaga kehormatannya dari perilaku menyimpang seperti seks bebas. Dengan demikian, iffah perlu dimiliki setiap pribadi Muslim agar terbebaskan dari masalah memakan harta orang lain (korupsi dan konco-konconya yang sejenis), perilaku menyimpang (seks bebas), dan segala macam bentuk ketidakjujuran.
V
Mujahadah atau segala upaya untuk mencurahkan perhatiannya agar terlepas dari segala macam yang menghambat untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Orang yang tergolong mujahadah pasti merasakan kedekatan Allah. Orang seperti ini dijamin akan jujur karena ada perasaan bahwa Allah selalu mengawasinya meskipun dia tidak melihat Allah. Orang seperti ini akan memperbanyak waktunya taqarrub illaallah. Hawa nafsunya yang kerap mengajak kepada hal-hal yang negatif akan dilawan. Padahal dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak orang kalah melawan hawa nafsu. Orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsunya sehingga dia berbalik menjadi orang dekat pada Allah disebut sebagai mujahid. Orang-orang yang tergolong mujahid Insya Allah akan ditunjukkan jalan kepadanya untuk mencapai tujuan sebagaimana telah Allah janjikan dalam Surat Al-Ankabut ayat 69. Untuk mencapai ke arah itu, secara teortitis orang harus melakukan sedikitnya lima hal, yaitu:
1. memahami hakikat jiwa dan pengaruhnya bagi kehidupan manusia;
2. menyadari jika hawa nafsu bisa dikelola dengan baik akan menjadi energi yang positif;
3. menyadari bahwa setan tidak akan pernah berhenti menjerumuskan umat manusia;
4. menyadari bahwa segala kenikmatan hidup dunia belum artinya jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat; dan
5. menyadari bahwa sebagian besar orang-orang kafir dan munafik tidak akan pernah berhenti memusuhi orang-orang beriman.
Selain itu, orang juga harus melakukan amalan-amalan tambahan secara rutin di luar amalan-amalan yang wajib. Terakhir, yang tidak kalah pentingnya, adalah melakukan jihad yang bisa dimulai dari jihad harta (materi), ilmu, tenaga, sampai nyawa.
VI
Syaja`ah atau berani adalah orang yang dalam melakukan tindakan berlandaskan kebenaran. Selain itu orang tersebut juga melakukannya dengan penuh pertimbangan. Orang yang berani tidak hanya ditentukan oleh fisik yang kuat tetapi juga kekuatan hati dan kebersihan jiwa. Karena itu, orang yang berani harus mampu mengendalikan dirinya di saat marah. Orang yang berani adalah orang yang menunjukkan keberaniannya ketika menghadapi musuh-musuh Allah. Orang yang berani juga harus berani menyatakan kebenarannya sekalipun di depan penguasa yang dhzolim. Di luar itu semua, orang yang berani adalah orang yang punya rasa takut pada Allah SWT. Di samping takut, dia juga lebih mencintai akhirat daripada dunia dan segala isinya. Karena cinta pada akhirat, orang yang berani bisa dipastikan tidak takut mati, tidak ada keraguan, tidak mengutamakan kekuatan materi, dan memiliki tingkat tawakal yang tinggi. Untuk itu, sangat layak syaja`ah sebagai salah satu standar ukuran penilaian bagi seseorang yang akan meregulasikan dirinya.
VII
Semakin hari semakin tampak di hadapan kita banyak orang yang sombong atau takabur. Mereka lupa bahwa sebagai makhluk ciptaan Allah manusia memiliki banyak kelemahan walaupun diberikan Allah banyak kelebihan dibandingkan makhluk-makhluk Allah lainnya. Mereka seharusnya sadar bahwa dalam menjalani kehidupan dunia yang sebentar ini sangat dibutukan sikap tawadhu` atau merendahkan hati. Sikap tawadhu` sebagaimana juga pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dicampakkan karena ketidaktahuan mereka akan pentingnya sikap itu dimiliki oleh umat manusia. Sikap tawadhu` jelas tidak akan merugikan baik dirinya maupun orang lain. Sebaliknya, sikap sombong, takabur, arogan bukan saja akan merugikan dirinya tapi juga orang lain. Kesombongan atau ketakaburan seseorang akan berakibat pada kerugian orang lain. Hal ini bisa dibuktikan dengan sikap arogan bangsa-bangsa besar yang menekan bangsa-bangsa kecil. Perang Vietnam, misalnya, orang-orang Vietcong yang di mata bangsa Amerika dianggap kecil dan tidak berdaya ternyata bisa mengusir Amerika dari Vietnam. Begitu juga pandangan meremehkan dari Uni Soviet terhadap Afghanistan yang dengan seenak perutnya menginvasi Afghanistan. Dengan bermodalkan senjata seadanya, bangsa Afghanistan yang dianggap kecil itu ternyata bisa mengalahkan hegemoni Uni Soviet. Bahkan, negara terbesar yang luasnya meliputi sebagian besar Eropa dan sebagian Asia itu tercabik-cabik karena beberapa negara bagian melepaskan diri dari Uni Soviet. Jadi, kita harus memiliki sikap tawadhu` agar kita terselamatkan dari murka Allah yang boleh jadi akan menimpa bukan hanya orang-orang yang berlumuran dengan dosa tetapi juga orang-orang beriman.
VIII
Seorang Muslim yang baik adalah seorang yang memiliki rasa malu (al-haya`). Atau orang yang memiliki sifat/perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang dinilai rendah atau negatif. Orang yang punya rasa malu apabila melakukan kesalahan dia akan terlihat gugup karena tidak tenang jiwanya. Sifat malu pada seseorang ada tiga jenis, yaitu malu pada Allah SWT, malu kepada diri sendiri, dan malu pada orang lain. Malu pada Allah biasanya terjadi pada hamba-hamba Allah yang shaleh. Mereka akan merasa malu manakala tidak mengerjakan perintah-perintah Allah. Bahkan, ada yang lebih jauh dari itu, mereka merasa malu manakala pada hari ini demikian sedikit ibadah sunnahnya dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kalau orang sudah merasa malu pada Allah, praktis dia juga malu pada diri sendiri. Dia akan merasa malu jika dirinya banyak melakukan kesalahan walaupun terhadap diri sendiri seperti memanjakan dirinya di hari libur dengan mengulur-ulur waktu sholat atau mengurangi tilawah Qur`an-nya. Orang yang malu pada diri sendiri mau tidak mau juga merasa malu jika melakukan kesalahan pada orang lain. Jadi, ada kaitan yang sangat erat antara malu pada Allah, malu pada diri sendiri, dan malu pada orang lain. Beginilah cara Allah mentarbiyyah seorang Muslim melalui rasa malu karena antara malu dan iman juga ada hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Seorang beriman pasti punya rasa malu. Orang yang punya rasa malu (pada Allah, diri sendiri, dan orang lain) pasti punya iman. Bukankah malu merupakan bagian dari iman?
IX
As-Shabr yang diindonesiakan menjadi sabar artinya menahan atau mengekang. Apa yang ditahan/dikekang? Yang ditahan adalah segala hal yang tidak disukai baik diri sendiri, orang lain, maupun Allah SWT. Sabar sendiri menurut Yusuf Qarhawi di buku Sabar dalam Al-Qur`an ada enam macam, yaitu:
1. sabar menerima cobaan hidup;
2. sabar dari keinginan hawa nafsu;
3. sabar dalam taat pada Allah SWT;
4. sabar dalam berdakwah;
5. sabar dalam perang; dan
6. sabar dalam pergaulan.
Perlu juga diketahui, sifat sabar dalam Islam menempati posisi yang demikian istimewa. Berkaitan dengan masalah ini, bisa dilihat dalam kisah-kisah para nabi bisa dijumpai sekian banyak nabi yang sabar menghadapi berbagai intimidasi orang-orang yang tidak suka dengan misi dakwahnya. Rasulullah SAW sendiri sebagai Nabi penutup demikian sabar menghadapi berbagai cercaan dan hinaan. Beliau tetap sabar menghadapi orang-orang yang tidak suka dengan dakwahnya. Bahkan, ketika beliau berhadapan dengan para sahabat yang kerap kali bertanya tentang segala hal atau memprotes tentang kebijakannya semuanya dihadapi dengan sabar. Hasilnya, semua yang Beliau lakukan ternyata membuahkan hasil. Dialog-dialog beliau dengan para sahabat menjadi stimulus atau merespons turunnya ayat-ayat Al-Qur`an atau menjadi hadits-hadits yang bisa dijadikan sebagai salah satu sumber hukum.
X
Butir terakhir dari sepuluh butir yang bisa dijadikan standar ukuran dalam melakukan penilaian adalah al-`afwu (pemaaf). Seorang Muslim yang beriman harus menjadi seorang yang pemaaf meskipun merealisasikan sifat pemaaf merupakan pekerjaan yang sangat berat. Sifat pemaaf merupakan salah satu manifestasi ketaqwaan seorang hamba Allah. Boleh juga dikatakan ukuran taqwa tidaknya seseorang bisa diukur dari sampai sejauhmana dia memiliki sifat pemaaf. Tentang sifat pemaaf ini telah dinyatakan Allah dalam Surat Ali Imran: 133-134 yang isinya di antaranya perintah kepada orang-orang berimana agar segera meminta ampunan Allah manakala melakukan kesalahan karena Allah telah menyediakan tempat yang demikian luas di surga. Di samping itu, orang-orang yang bertaqwa juga tidak memiliki sifat kikir karena kerap kali menafkahkan sebagian rizkinya dan mau memaafkan kesalahan orang lain. Dia tidak boleh memiliki rasa dendam pada orang lain. Bahkan, orang pemaaf akan berusaha menahan marahnya pada saat sebenarnya dia seharusnya marah. Subhanaallah, betapa indahnya Islam yang mengajarkan umat manusia untuk menjadi orang yang pemaaf.
XI
Sepuluh butir yang dijadikan referensi utama untuk memenuhi ukuran standar penilaian patut direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sepuluh butir itu jika memang bisa direalisasikan akan mengantarkan seseorang berperilaku mulia walaupun belum sampai semulia Rasulullah. Sepuluh butir itu cukup menjadikan anak bangsa ini lebih baik dari masa-masa sekarang atau sebelumnya seandainya mereka sadar dan mau menengok sebuah warisan yang telah Allah turunkan pada Rasulullah SAW, Nabi penutup yang memiliki akhlak demikian mulia. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...