“IDE—AKTIVITAS—PRODUK—IDE”
Tidak ada orang yang memungkiri bahwa manusia hidup pasti punya masalah. Hanya ada orang yang bisa memecahkan masalah. Ada juga yang masalahnya tidak terselesaikan yang akhirnya terjadi penumpukan masalah. Tapi, coba dipikir, mengapa timbul masalah? Masalah timbul karena antara ide dan fakta terjadi ketidaksinambungan yang jika dibuat dalam bentuk simbol seperti ini:≠ . Kalau simbolnya seperti ini : ═ berarti ada kesinambungan antara ide dan fakta sehingga tidak timbul masalah. Tetapi, lain lagi kalau begini : ≠ berarti tidak ada kesinambungan ide dengan fakta sehingga timbul masalah. Bagaimana caranya memecahkan masalah? Munculkan ide baru. Itu jawabannya. Apakah cukup sampai di situ? Harus diteruskan ide itu dengan aktivitas. Nanti dari aktivitas akan memperoleh produk. Produk yang diperoleh beberapa waktu kemudian akan menimbulkan masalah baru sehingga perlu adanya ide baru. Begitulah seterusnya wujud sebuah kebudayaan yang jika disingkat menjadi judul tulisan ini “Ide—Aktivitas—Produk—Ide” . Agar lebih mudah lagi disingkat saja lagi menjadi “IAPI”.
***
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dalam hidupnya selalu berkelindan dengan masalah juga diberi kemampuan untuk memecahkan masalah. Manusia bisa memecahkan masalah karena manusia diberikan kelebihan oleh Tuhan dibandingkan makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Salah satu kelebihan manusia terletak pada kemampuan otaknya untuk memecahkan beragam permasalahan hidupnya. Melalui otaknya sebagai sarana kemampuan berpikir, manusia mampu mewujudkan segala macam keinginannya. Keinginan manusia untuk bisa memberikan manfaat baik bagi dirinya maupun orang lain dapat diwujudkan oleh kemampuan berpikirnya. Keinginan manusia untuk bisa menghancurkan dirinya dan juga sesama manusia (karena manusia juga tidak lepas dari hawa nafsu yang mengarah pada hal-hal yang negatif) dapat diwujudkan oleh kemampuan berpikirnya. Jadi, ada dua bagian besar keinginan manusia, yaitu keinginan untuk memberikan manfaat bagi dirinya dan sesama manusia dan keinginan untuk menghancurkan dirinya dan sesama manusia. Keinginan yang pertama berangkat dari ide-ide briliant, ide-ide cemerlang, atau ide-ide smart. Sedangkan keinginan kedua berangkat dari ide-ide gila atau senewen. Pada tulisan ini yang difokuskan hanya keinginan manusia yang berangkat dari ide briliant, cemerlang, atau smart.
***
Ide-ide manusia yang brilliant, cemerlang, atau smart terbukti memang memberikan banyak manfaat bagi sesama manusia. Di satu sisi memang demikian. Di bidang kesehatan, misalnya, melalui berbagai riset ditemukan obat-obatan dan alat-alat kedokteran yang menyehatkan (bukan hanya menyembuhkan) sekian ratus juta orang yang sakit atau terluka. Di bidang informatika dan komunikasi dunia ini seakan-akan semakin sempit karena dengan mudah orang berkomunikasi melalui bukan hanya telpon, tetapi juga telpon seluler (ponsel), internet, dan alat-alat informatika dan komunikasi lainnya. Di bidang transportasi orang tinggal pilih jenis angkutan yang mau digunakan. Mereka yang berkantong tebal bisa menggunakan kendaraan pribadi yang mewah dengan perlengkapan asesoris yang aduhai. Kalau ingin bepergian jarak jauh dan harus menyeberangi pulau atau harus bepergian antarbenua dan negara bisa menggunakan pesawat pribadi atau maskapai penerbangan baik dalam maupun luar negeri.
***
Di bidang properti orang tinggal pilih dimana dia mau tinggal. Di pusat-pusat keramaian kota dengan harga tanah yang selangit atau di flat-flat pencakar langit dengan harga yang juga selangit. Atau boleh juga jauh dari keramaian kota mendekati perkampungan dengan udara sejuk tanpa AC karena ingin mewujudkan kehidupan yang go green atau back to nature. Di bidang kuliner orang tinggal pilih makanan apa saja yang dia maui. Ada makanan khas dalam negeri dengan ciri kedaerahan yang kental yang mudah didapat di setiap penjuru kota-kota besar di Indonesia. Boleh juga mencicipi makanan Eropa, Cina, Jepang, Timur Tengah, atau India sekalipun. Atau boleh juga mencicipi produk makanan blasteran makanan daerah campur Eropa, daerah campur Jepang, dan sebagainya (kalau memang ada itu jenis makanan blasteran). Mau makanan fastfood seperti KFC biar dibilang America minded juga ada. Atau fastfood asli Indonesia seperti Ayam Goreng Lepaaas dengan rasa sambelnya yang khas. Ibu-ibu rumah tangga yang hobi memasak tidak perlu beli buku-buku atau majalah-majalah yang memuat menu-menu makanan. Cukup buka hp Android atau BlackBerry (BB) bahkan kalau perlu notebook atau tablet di dapur lewat Paman Google sudah terjawab. Tinggal pilih saja mau jenis makanan apa yang dimasak.
***
Dengan teknologi maju dunia di depan mata manusia. Dunia hanya tinggal klik dengan mouse atau biarkan jari-jemari menyentuh layar monitor hp atau tablet. Biarkan crusor dari mouse notebook atau laptop atau jari-jemari menyentuh hp atau tablet dengan sekian banyak pilihan icon yang siap dibuka atau dikunjungi. Hidup bagi manusia modern terasa lebih mudah dan lebih menghemat waktu. Bahkan, boleh jadi, lebih murah. Kenapa? Manusia yang tidak gagap teknologi (gatek) tidak akan lagi direpotkan dengan harus keluar rumah sekedar menyampaikan kabar, mengirim surat/undangan (termasuk makalah, naskah tulisan, dan segala macam bentuk tulisan), mentransfer uang, atau memesan tiket bus, pesawat, atau kereta api atau booking kamar hotel atau memesan biro perjalanan/travel yang siap mengurus vakansi liburannya karena semua bisa dilakukan cukup di depan laptop, notebook, tablet atau cukup dengan hp android atau BB. Dengan demikian, manusia modern cenderung malas karena dimanjakan oleh teknologi yang banyak membantu kebutuhannya. Manusia modern walaupun berbiaya murah karena menggunakan teknologi maju perlu juga diingat, mereka cenderung boros karena sering kepincut dengan produk-produk yang lebih baru dan sering mengundang orang untuk memilikinya. Mereka pada akhirnya karena sering tidak mau tertinggal atau malu disebut gatek menjadi hamba-hamba budaya konsumtif yang sekarang memang telah menjadi fenomena tersendiri di kalangan masyarakat perkotaan.
***
Apakah semua kemajuan teknologi yang sekarang dinikmati oleh sekian ratus juta bahkan milyaran umat manusia itu dengan mudah diciptakan? Tentu saja tidak. Semua itu butuh waktu dan pengorbanan ilmuwan si penemu atau pengembang sains dan teknologi (sainstek). Para ilmuwan saintek benar-benar berjibaku untuk menemukan dan mengembangkan hasil-hasil temuannya. Mereka mengorbankan waktunya berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun menemukan sebuah alat yang kelak berguna bagi kemaslahatan manusia. Mereka menemukan masalah tentang kehidupan manusia di masanya waktu itu yang memproduk sandang, pangan, dan papan yang memerlukan waktu begitu panjang. Dari masalah yang mereka hadapi muncul ide untuk menemukan alat agar semua masalah yang berkaitan dengan hidup manusia terbantukan. Akhirnya, kerja keras mereka yang berangkat dari ide yang benar-benar smart ditemukan alat yang pada saat itu dianggap banyak menolong manusia meskipun sesuai dengan perkembangan zaman alat yang mereka temukan beberapa masa kemudian dianggap terbelakang karena banyak kelemahannya (bisa jadi kalau menurut orang sekarang `lemot`).
***
Mereka yang berjasa menemukan alat yang berguna untuk kemaslahatan manusia tidak berhenti sampai di situ. Mereka juga terus melakukan inovasi-inovasi terhadap alat-alat yang ditemukan. Upaya-upaya mereka diteruskan generasi-generasi sesudahnya dengan sarana dan prasarana yang lebih baik dan produk-produk yang dihasilkan juga sudah lebih maju dari yang terdahulu. Begitu seterusnya dari generasi ke generasi selalu ada orang yang fokus untuk mengembangkan sainstek yang hasilnya sekarang bisa dinikmati oleh milyaran umat manusia di dunia. Milyaran umat manusia yang sudah sangat bergantung dengan teknologi maju akhirnya menjadi manusia-manusia hamba teknologi yang sudah kecanduan pada penggunaan sarana-sarana teknologi maju (sekarang memasuki era teknologi digital).
***
Semua yang dilakukan ilmuwan yang bergelut di bidang saintek menggunakan pola “IAPI”. Mereka memulainya dari masalah yang kemudian memunculkan ide. Ide untuk memecahkan masalah diteruskan dengan kerja atau aktivitas. Ketika beraktivitas, mereka juga tidak lepas dari kerja-kerja riset. Berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun mereka mengadakan riset di lab-lab yang akhirnya mereka memproduk teknologi baru atau terbarukan. Jadi, kerja-kerja mereka tidak lepas dari sekian kali mengadakan riset sehingga menghasilkan temuan yang siap pakai. Hasil temuan tersebut dengan berjalannya waktu juga tidak lepas dari evaluasi. Temuan-temuan mereka setelah digunakan umat manusia diaudit. Boleh jadi setiap temuan itu akan memunculkan berbagai pertanyaan kritis, misalnya, di antaranya apakah temuan tersebut setelah digunakan sekian lama masih efisien dan efektif penggunaannya? Boleh juga memunculkan pertanyaan: apakah ada efek samping dari hasil temuan tersebut? Apakah hasil temuan tersebut ramah lingkungan? Bahkan, kalau ada yang sedikit `nyeleneh`, apakah produk tersebut masuk kategori produk gagal mengingat setelah digunakan masyarakat banyak mengundang keluhan. Semua pertanyaan itu lebih merupakan evaluasi agar sang ilmuwan lebih giat lagi memunculkan ide-ide smart yang memproduk temuan-temuan di bidang sainstek yang jauh lebih baik. Harus diingat, semua hal yang mengundang tanya lebih merupakan bukti bahwa masih ada masalah yang memerlukan cara untuk memecahkan masalah sehingga memunculkan ide-ide baru. Ide-ide baru itu tidak disimpan sebagai arsip tetapi diimplementasikan dalam bentuk aktivitas sehingga pada akhirnya menghasilkan produk-produk inovatif yang siap pakai.
***
Jerih payah sang ilmuwan sainstek semata-mata dilakukan untuk mewujudkan sebuah kerja kebudayaan. Melalui “IAPI” mereka memasuki ruang wujud kebudayaan. Manusia perlu memahami bahwa dalam merealisasikan wujud kebudayaan mau tidak mau manusia harus memasuki siklus yang bernama “IAPI”. Tanpa memasuki siklus “IAPI” manusia tidak akan menemukan karya-karya inovatif. Tanpa memasuki siklus “IAPI” manusia tidak akan bisa memecahkan permasalahannya sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar