HINDARILAH
DEBAT
Kita sering di berbagai
pertemuan yang diadakan oleh ormas-ormas atau parpol-parpol entah itu yang
berupa musyawarah kerja, muktamar, kongres, dan kegiatan sejenisnya yang selalu
berakhir dengan perseteruan. Kadang-kadang perseteruan itu berakhir dengan
perpecahan di antara aktivis-aktivis ormas atau parpolnya. Bahkan, tidak
mustahil perpecahan itu berakibat lebih jauh adanya konflik horisontal yang
berkepanjangan. Perpecahan tersebut bukan saja terjadi pada ormas/parpol umum,
tetapi juga tidak sedikit pada ormas-ormas/parpol-parpol Islam. Sejarah
mencatat perpecahan di tubuh partai Islam di masa lalu lebih disebabkan oleh
perbedaan pandangan yang tidak bersifat substansial. Boleh dikatakan, dalam
bahasa agama, lebih mengarah pada furu`iyah
ubudiyah (masalah-masalah cabang dalam ibadah). Bisa diambil contoh di sini
seperti penggunaan usoli ketika niat
ingin sholat atau qunut ketika sholat
subuh. Boleh jadi di masa lalu seorang kiai dari kalangan moderat ketika tidak
memakai sarung dan kopiah di saat rapat-rapat partai dan sebaliknya memakai
dasi dan jas bisa jadi masalah. Bahkan, lebih ekstrim lagi ketika sholat tidak
bersarung dan berkopiah bisa dimasalahkan. Di kalangan Islam moderat menilai
orang-orang yang bersarung dan berkopiah sebagai kalangan Islam tradisional
atau kampungan atau terbelakang sehingga sangat mungkin menyulut perdebatan
yang berakhir dengan perpecahan.





