Rabu, 04 Desember 2013

Artikel Agama (14)

AKHLAKNYA? “VERY GOOD!!!”

Rasulullah SAW kalau ditanya soal akhlak, Aisyah RA mengatakan bahwa akhlak beliau itu adalah Al-Qur`an. Tentang karakternya bisa dijumpai dalam Surat Al-Mukminun :1-11, yaitu:
1.      orang yang khusyuk dalam sholatnya;
2.      orang yang menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna;
3.      orang yang menunaikan zakat;
4.      orang yang menjaga kehormatannya;
5.      orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya;
6.      orang yang memelihara sholatnya.

Apakah masih dianggap kurang? Silakan buka Surat Bani Israil: 23-37, yang isinya di antaranya tentang:
1.      orang yang tidak berbuat syirik (bersih akidahnya);
2.      orang yang rendah hati pada kedua orang tuanya dan bersikap baik kepada keduanya;
3.      orang yang kerap kali mendo`akan kedua orang tuanya;
4.      orang yang memenuhi hak kerabatnya;
5.      orang yang peduli pada kaum dhuafa dan orang yang dalam perjalanan (fisabilillah);
6.      orang yang hemat sehingga tidak boros karena boros temannya setan;
7.      orang yang ucapannya lemah lembut walaupun terhadap musuh (yang suka mengejek);
8.       orang yang ringan tangan (pemurah) tetapi juga tidak berlebihan;
9.      orang yang tidak membunuh anak-anaknya karena takut miskin;
10.  orang yang tidak mendekati zina;
11.  orang yang tidak membunuh orang yang diharamkan Allah membunuhnya;
12.  orang yang tidak mau mendekati harta anak yatim;
13.  orang yang jujur ketika berbisnis;
14.  orang yang tidak ikut-ikutan (jumud) karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani semuanya akan dipertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT; dan
15.  orang yang jauh  dari kesombongan/keangkuhan.
Kalau masih dianggap kurang, bisa dicari di banyak ayat dan hadits tentang akhlak Rasulullah SAW karena beliau seperti nabi-nabi yang lain yang disucikan Allah dengan menganugerahkannya  akhlak yang baik sebagaimana tercantum dalam Surat As-Shad: 46. Sangatlah pantas apabila beliau diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Berbicara tentang akhlak Rasulullah SAW yang patut dijadikan contoh teladan buat umatnya tidak akan ada habis-habisnya. Cukuplah bagi umatnya untuk menjadikan beliau sebagai contoh teladan yang  patut ditiru. Kalau pada saat ini banyak orang yang mencibir, bahkan ada kesan menyudutkan umat Islam, perlu dikaji lebih mendalam karena boleh jadi ada hal-hal yang menyimpang umat ini dalam berperilaku. Indikasinya mudah ditemui di antaranya dalam berbisnis ada kecenderungan seorang pebisnis Muslim dengan sengaja melakukan penipuan, mungkin mencuri timbangan/takaran, mencampuradukkan barang yang bagus dengan yang jelek, menyimpan barang-barang yang dibutuhkan orang jika nanti suatu saat barang-barang itu langka di pasaran menjualnya dengan harga seenak perutnya, dan berbagai macam cara yang ilegal dengan tujuan semata-mata mencari keuntungan sebesar-besarnya. Dengan demikian, para pedagang Muslim telah terpengaruh oleh gaya kapitalis dalam berbisnis. Memang, gaya kapitalis yang telah mengglobal menjadi sebuah fenomena khusus di dunia bisnis sehingga pebisnis-pebisnis Muslim pun banyak terimplikasi oleh perilaku buruk gaya kapitalis.

Misi dakwah Islam pun yang ingin bermaksud menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil a`alamin terkena imbasnya dari perilaku buruk pebisnis Muslim. Bukan hanya mereka, para mubaligh atau ulama pun banyak yang menjadikan dunia dakwah sebagai ladang menuai rupiah atau menjadi lahan mencari nafkah. Tidak sedikit di antara mereka yang hidup dengan bergelimpangan harta. Kalau perlu, mereka juga melengkapinya sebagai sunah Rasul untuk beristri lebih dari satu (poligami). Sepanjang mereka masih sanggup dan bersikap adil dalam berumah tangga (terutama yang berpoligami) tidak menjadi masalah. Tetapi, kalau gaya hidup mereka seperti selebritis yang suka kawin-cerai menjadi sebuah contoh yang buruk. Jangan-jangan mereka berpoligami sebagai cara untuk menyalurkan syahwat belaka? Mereka tidak menyadari bahwa ulama itu pewaris nabi. Jadi, perilaku mereka harus mengikuti nabi SAW. Di saat mereka berhubungan dengan Allah (hablum minaallah) harus benar-benar mengikuti sunah Rasul. Begitu pun dalam berhubungan dengan sesama manusia (hablum minanaas) harus bisa ditunjukkan pada umatnya bahwa mereka adalah pewaris nabi SAW.

Salah satu keberhasilan dakwah Islam yang diemban oleh para sahabat, tabi`in, dan ulama-ulama salaf lebih banyak terletak pada penunjukkan akhlak yang baik. Bukan  terletak pada kepiawaiannya dalam mengutip ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits di luar kepala. Orang-orang alim yang pandai menyampaikan ayat-ayat Allah atau hadits-hadits yang sudah demikian `klotokan` mengkaji berbanyak-banyak kitab tafsir, hadits, atau fiqih tidak akan ada gunanya kalau melakukan distorsi dalam berdakwah. Semua yang dikerjakan para mubaligh sekalipun di luar ceramah, pengajian, atau khutbah sebenarnya bernilai dakwah. Kehidupan di rumah tangganya juga merupakan dakwah karena tidak sedikit  orang yang mengkritisi perilaku para mubaligh, ulama, ajengan, atau ustadz/ustadzah manakala didapati mereka ternyata tidak bisa menunjukkan cara berumah tangga yang baik atau cara berhubungan dengan lawan jenis yang bukan mahrom-nya. Mereka harus sadar bahwa perilaku mereka menjadi panutan bagi jamaahnya. Bisa disimpulkan, apabila didapati banyak jamaah yang menyimpang perilakunya boleh jadi karena mereka meng-copy paste dari para da`inya yang sering mereka lihat di luar kegiatan aktivitas pengajian, ceramah, atau khutbah sang da`i.  

Orang yang `G Syirik`, `G O`on`, dan `beribadah dengan baik dan benar` Insya Allah berakhlak baik. Akhlak itu merupakan cermin dari akidah. Jadi, orang yang akhlaknya buruk mencerminkan akidahnya buruk atau dia tergolong orang yang tidak selamat dari `G syirik`. Bisa juga diteruskan dengan ibadahnya. Jangan-jangan selama ini ibadahnya tidak memenuhi kriteria baik dan benar?  Dalam beribadah boleh jadi ada niatan-niatan lain. Maksudnya, tidak disertai dengan niat yang ikhlas karena Allah. Bisa juga aktivitas ibadahnya tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Pokoknya, apa saja yang disampaikan oleh sang ustadz/ guru agama walaupun perintahnya tidak jelas dan haditsnya tergolong dhoif ditelan mentah-mentah karena yang penting mengejar pahala dalam beribadah. Sebaliknya, orang yang akhlaknya baik berarti dia itu tergolong orang yang `G Syirik`, `G O`on`, dan `beribadah dengan baik dan benar`. Hal ini dibuktikan dengan hadits Nabi yang menyatakan bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya (`G Syirik`) adalah orang  yang paling baik akhlaknya (HR. Tirmidzi).  Insya Allah orang-orang seperti ini yang dibutuhkan umat Islam untuk menyampaikan misi dakwah Islam sebagai rahmatan lil `alamin. Waallahu a`lam bissawab.   

                                                                                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...