AKHLAKNYA? “VERY GOOD!!!”
Rasulullah SAW kalau
ditanya soal akhlak, Aisyah RA mengatakan bahwa akhlak beliau itu adalah
Al-Qur`an. Tentang karakternya bisa dijumpai dalam Surat Al-Mukminun :1-11,
yaitu:
1. orang
yang khusyuk dalam sholatnya;
2. orang
yang menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak berguna;
3. orang
yang menunaikan zakat;
4. orang
yang menjaga kehormatannya;
5. orang
yang memelihara amanat-amanat dan janjinya;
6. orang
yang memelihara sholatnya.
Apakah masih dianggap kurang?
Silakan buka Surat Bani Israil: 23-37, yang isinya di antaranya tentang:
1. orang
yang tidak berbuat syirik (bersih akidahnya);
2. orang
yang rendah hati pada kedua orang tuanya dan bersikap baik kepada keduanya;
3. orang
yang kerap kali mendo`akan kedua orang tuanya;
4. orang
yang memenuhi hak kerabatnya;
5. orang
yang peduli pada kaum dhuafa dan orang yang dalam perjalanan (fisabilillah);
6. orang
yang hemat sehingga tidak boros karena boros temannya setan;
7. orang
yang ucapannya lemah lembut walaupun terhadap musuh (yang suka mengejek);
8. orang yang ringan tangan (pemurah) tetapi juga
tidak berlebihan;
9. orang
yang tidak membunuh anak-anaknya karena takut miskin;
10. orang
yang tidak mendekati zina;
11. orang
yang tidak membunuh orang yang diharamkan Allah membunuhnya;
12. orang
yang tidak mau mendekati harta anak yatim;
13. orang
yang jujur ketika berbisnis;
14. orang
yang tidak ikut-ikutan (jumud) karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani
semuanya akan dipertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT; dan
15. orang
yang jauh dari kesombongan/keangkuhan.
Kalau masih dianggap
kurang, bisa dicari di banyak ayat dan hadits tentang akhlak Rasulullah SAW karena
beliau seperti nabi-nabi yang lain yang disucikan Allah dengan
menganugerahkannya akhlak yang baik
sebagaimana tercantum dalam Surat As-Shad: 46. Sangatlah pantas apabila beliau
diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Berbicara tentang
akhlak Rasulullah SAW yang patut dijadikan contoh teladan buat umatnya tidak
akan ada habis-habisnya. Cukuplah bagi umatnya untuk menjadikan beliau sebagai
contoh teladan yang patut ditiru. Kalau
pada saat ini banyak orang yang mencibir, bahkan ada kesan menyudutkan umat
Islam, perlu dikaji lebih mendalam karena boleh jadi ada hal-hal yang menyimpang
umat ini dalam berperilaku. Indikasinya mudah ditemui di antaranya dalam
berbisnis ada kecenderungan seorang pebisnis Muslim dengan sengaja melakukan
penipuan, mungkin mencuri timbangan/takaran, mencampuradukkan barang yang bagus
dengan yang jelek, menyimpan barang-barang yang dibutuhkan orang jika nanti
suatu saat barang-barang itu langka di pasaran menjualnya dengan harga seenak
perutnya, dan berbagai macam cara yang ilegal dengan tujuan semata-mata mencari
keuntungan sebesar-besarnya. Dengan demikian, para pedagang Muslim telah
terpengaruh oleh gaya kapitalis dalam berbisnis. Memang, gaya kapitalis yang
telah mengglobal menjadi sebuah fenomena khusus di dunia bisnis sehingga
pebisnis-pebisnis Muslim pun banyak terimplikasi oleh perilaku buruk gaya
kapitalis.
Misi dakwah Islam pun
yang ingin bermaksud menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil a`alamin terkena imbasnya dari perilaku buruk pebisnis
Muslim. Bukan hanya mereka, para mubaligh
atau ulama pun banyak yang menjadikan dunia dakwah sebagai ladang menuai rupiah
atau menjadi lahan mencari nafkah. Tidak sedikit di antara mereka yang hidup
dengan bergelimpangan harta. Kalau perlu, mereka juga melengkapinya sebagai
sunah Rasul untuk beristri lebih dari satu (poligami). Sepanjang mereka masih
sanggup dan bersikap adil dalam berumah tangga (terutama yang berpoligami)
tidak menjadi masalah. Tetapi, kalau gaya hidup mereka seperti selebritis yang
suka kawin-cerai menjadi sebuah contoh yang buruk. Jangan-jangan mereka
berpoligami sebagai cara untuk menyalurkan syahwat belaka? Mereka tidak
menyadari bahwa ulama itu pewaris nabi. Jadi, perilaku mereka harus mengikuti
nabi SAW. Di saat mereka berhubungan dengan Allah (hablum minaallah) harus benar-benar mengikuti sunah Rasul. Begitu
pun dalam berhubungan dengan sesama manusia (hablum minanaas) harus bisa ditunjukkan pada umatnya bahwa mereka
adalah pewaris nabi SAW.
Salah satu keberhasilan
dakwah Islam yang diemban oleh para sahabat, tabi`in, dan ulama-ulama salaf
lebih banyak terletak pada penunjukkan akhlak yang baik. Bukan terletak pada kepiawaiannya dalam mengutip
ayat-ayat Al-Qur`an dan hadits di luar kepala. Orang-orang alim yang pandai
menyampaikan ayat-ayat Allah atau hadits-hadits yang sudah demikian `klotokan`
mengkaji berbanyak-banyak kitab tafsir, hadits, atau fiqih tidak akan ada
gunanya kalau melakukan distorsi dalam berdakwah. Semua yang dikerjakan para mubaligh sekalipun di luar ceramah,
pengajian, atau khutbah sebenarnya bernilai dakwah. Kehidupan di rumah
tangganya juga merupakan dakwah karena tidak sedikit orang yang mengkritisi perilaku para mubaligh, ulama, ajengan, atau
ustadz/ustadzah manakala didapati mereka ternyata tidak bisa menunjukkan cara
berumah tangga yang baik atau cara berhubungan dengan lawan jenis yang bukan mahrom-nya. Mereka harus sadar bahwa
perilaku mereka menjadi panutan bagi jamaahnya. Bisa disimpulkan, apabila
didapati banyak jamaah yang menyimpang perilakunya boleh jadi karena mereka
meng-copy paste dari para da`inya
yang sering mereka lihat di luar kegiatan aktivitas pengajian, ceramah, atau
khutbah sang da`i.
Orang yang `G Syirik`,
`G O`on`, dan `beribadah dengan baik dan benar` Insya Allah berakhlak baik.
Akhlak itu merupakan cermin dari akidah. Jadi, orang yang akhlaknya buruk
mencerminkan akidahnya buruk atau dia tergolong orang yang tidak selamat dari
`G syirik`. Bisa juga diteruskan dengan ibadahnya. Jangan-jangan selama ini
ibadahnya tidak memenuhi kriteria baik dan benar? Dalam beribadah boleh jadi ada niatan-niatan
lain. Maksudnya, tidak disertai dengan niat yang ikhlas karena Allah. Bisa juga
aktivitas ibadahnya tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Pokoknya, apa
saja yang disampaikan oleh sang ustadz/ guru agama walaupun perintahnya tidak
jelas dan haditsnya tergolong dhoif
ditelan mentah-mentah karena yang penting mengejar pahala dalam beribadah. Sebaliknya,
orang yang akhlaknya baik berarti dia itu tergolong orang yang `G Syirik`, `G
O`on`, dan `beribadah dengan baik dan benar`. Hal ini dibuktikan dengan hadits
Nabi yang menyatakan bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya (`G
Syirik`) adalah orang yang paling baik
akhlaknya (HR. Tirmidzi). Insya Allah
orang-orang seperti ini yang dibutuhkan umat Islam untuk menyampaikan misi
dakwah Islam sebagai rahmatan lil `alamin. Waallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar