“FISIKNYA O.K.”
Ada orang yang
mengatakan (bahkan ini sudah menjadi jargon) mensano in corpore sano `dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang
kuat`. Ternyata, jargon itu terpatahkan ketika didapati banyak olahragawan yang
frustrasi, yang menjadi pecandu obat bius, yang tidak sedikit mengakhiri
hidupnya bunuh diri, dan banyak juga di antara mereka yang berperilaku
aneh-aneh dengan gaya hidup yang konsumtif dan menyimpang. Singkatnya, fisik mereka yang kuat ternyata
tidak disertai dengan jiwa yang sehat. Kalau begitu, jargon itu harus diganti
dengan dalam jiwa yang sehat terdapat (Insya
Allah) fisik yang kuat. Bagaimana?
Pengalaman mengajarkan
bahwa memang orang yang jiwanya sehat, fisiknya Insya Allah juga sehat Hal ini bisa dibuktikan dalam dunia
kedokteran orang-orang yang menderita penyakit dalam lebih disebabkan oleh
faktor kejiwaan di luar kebiasaan mengkonsumsi makanan yang berlebihan. Boleh
jadi orang yang makan berlebihan disebabkan oleh faktor kejiwaan atau tidak
bisa mengendalikan diri ketika berhadapan dengan makanan. Orang yang tidak bisa
mengendalikan diri lebih disebabkan oleh tidak adanya ketenangan hatinya.
Karena itu, sesuai dengan bunyi hadits bahwa di dalam tubuh manusia ada
segumpal daging, manakala segumpal daging itu sehat, sehat pula seluruh
tubuhnya. Segumpal daging itu adalah hati. Hati bisa sehat manakala diisi
dengan banyak dzikir, do`a, atau beribadah pada Allah SWT. Bukankah juga telah
diingatkan oleh Allah bahwa orang-orang yang tenang hatinya karena dzikir pada
Allah (Surat Ar-Ra`ad: 28). Jika memang demikian, orang yang hatinya tenang,
jiwanya pasti tenang, dan fisiknya Insya
Allah tidak akan mengalami gangguan.
Pertanyaannya, apakah cukup fisik itu dengan menjaga ketenangan hati atau jiwa?
Jelas tidak cukup. Untuk itu, harus disertai dengan yang lain, yaitu melalui
pemenuhan kebutuhan fisik berupa makanan/minuman dan olah raga.
Pemenuhan kebutuhan
fisik dengan makanan dan minuman jelas suatu kemustian. Tetapi, yang harus
dijaga makanan dan minuman yang masuk ke tubuh harus halal, baik halal
dikonsumsi maupun halal cara memperolehnya.
Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk mengkonsumsi makanan yang
halal (Surat Al-Baqarah: 160 dan Al-Maidah:
88). Boleh jadi yang dikonsumsi oleh tubuh telah sesuai dengan ketentuan
syari`at tetapi diperoleh dengan cara yang haram sehingga makanan dan minuman
yang masuk ke dalam tubuhnya haram. Kalau yang dikonsumsi sudah berbau haram,
tidak mustahil perilakunya juga buruk. Boleh jadi juga akan berpengaruh pada pertumbuhan
fisiknya. Karena itu, Allah SWT telah memperingatkan orang-orang beriman agar
memperhatikan yang dimakan/diminumnya (Surat Abasa: 24). Sesuatu yang telah
Allah peringatkan seharusnya ditaati karena sudah bisa dipastikan ada
hikmahnya. Sebagai tambahan, perlu juga ditekankan di sini, agar mengatur
waktu-waktu makan, tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan berlemak atau
garam, atau gula, tidak makan kekenyangan, dan tidak berlebihan mengkonsumsi
minuman yang diduga memberikan zat adaptif (kekuatan) seperti kopi, teh, dan
sejenisnya.
Selain makanan juga
perlu olah raga yang cukup dan disesuaikan dengan usia. Kalau memang ada olah
raga khusus yang sering dilakukan seperti bulu tangkis, futsal, atau berenang usahakan agar olah raga tersebut bisa
dilanjutkan secara rutin. Bagi orang-orang yang telah memasuki usia lanjut olah
raga untuk memelihara agar jantung tetap sehat (senam jantung) bisa dilakukan
secara rutin. Usahakan kalau bisa berolah raga secara rutin setiap hari
setengah jam. Selain olah raga, dianjurkan juga agar membiasakan diri untuk
berpuasa satu hari setiap pekan atau tiga hari setiap bulan. Bahkan, tidak ada
salahnya secara rutin setiap enam bulan sekali melakukan general check up agar
bisa dideteksi sedini mungkin adanya penyakit dalam tubuh sehingga bisa
dilakukan pencegahan. Sering terjadi seseorang masuk rumah sakit ketika
penyakit yang diderita sudah tergolong akut atau parah. Jadi, menjaga kesehatan
merupakan sebuah kewajiban yang harus diemban oleh setiap Muslim yang beriman.
Rasulullah SAW sebagai
suri bagi teladan umat Islam telah memberi contoh kepada umatnya tentang
menjaga kesehatan fisik. Beliau di masa hidupnya yang tergambar dalam shiroh nabawiyah mengajak pada umat
Islam untuk memelihara keseimbangan, yaitu faktor fisik, akal, dan hati. Dalam
masalah fisik salah satu ajaran beliau pada umat ini, yaitu ketika beliau bisa
mengalahkan seorang pegulat. Berarti beliau punya fisik yang demikian kuat.
Dalam masalah mengkonsumsi makanan secara sederhana beliau menyampaikan agar
makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Beliau juga mengajarkan umat
ini untuk kerap dekat pada Allah dengan berpuasa sunah, memperbanyak dzikir dan
do`a, serta membiasakan sholat qiyamul
lail dan dhuha. Sekarang tinggal
umat ini, apakah mau melaksanakan ajaran beliau atau tidak? Insya Allah, kalau
yang telah dianjurkan (bahkan dalam beberapa hal diperintahkan) dilaksanakan,
umat Islam akan benar-benar hidupnya sehat dan jauh dari penyakit. Tetapi,
kalau ada kecenderungan untuk mengabaikannya, tentu saja umat Islam akan
terkena dampak dari pengabaian tersebut. Wallahu
a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar