Minggu, 01 Desember 2013

Artikel Agama (13)

“FISIKNYA O.K.”



Ada orang yang mengatakan (bahkan ini sudah menjadi jargon) mensano in corpore sano `dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat`. Ternyata, jargon itu terpatahkan ketika didapati banyak olahragawan yang frustrasi, yang menjadi pecandu obat bius, yang tidak sedikit mengakhiri hidupnya bunuh diri, dan banyak juga di antara mereka yang berperilaku aneh-aneh dengan gaya hidup yang konsumtif dan menyimpang.  Singkatnya, fisik mereka yang kuat ternyata tidak disertai dengan jiwa yang sehat. Kalau begitu, jargon itu harus diganti dengan dalam jiwa yang sehat terdapat (Insya Allah) fisik yang kuat. Bagaimana?
Pengalaman mengajarkan bahwa memang orang yang jiwanya sehat, fisiknya Insya Allah juga sehat Hal ini bisa dibuktikan dalam dunia kedokteran orang-orang yang menderita penyakit dalam lebih disebabkan oleh faktor kejiwaan di luar kebiasaan mengkonsumsi makanan yang berlebihan. Boleh jadi orang yang makan berlebihan disebabkan oleh faktor kejiwaan atau tidak bisa mengendalikan diri ketika berhadapan dengan makanan. Orang yang tidak bisa mengendalikan diri lebih disebabkan oleh tidak adanya ketenangan hatinya. Karena itu, sesuai dengan bunyi hadits bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, manakala segumpal daging itu sehat, sehat pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu adalah hati. Hati bisa sehat manakala diisi dengan banyak dzikir, do`a, atau beribadah pada Allah SWT. Bukankah juga telah diingatkan oleh Allah bahwa orang-orang yang tenang hatinya karena dzikir pada Allah (Surat Ar-Ra`ad: 28). Jika memang demikian, orang yang hatinya tenang, jiwanya pasti tenang, dan fisiknya Insya Allah tidak akan mengalami gangguan. Pertanyaannya, apakah cukup fisik itu dengan menjaga ketenangan hati atau jiwa? Jelas tidak cukup. Untuk itu, harus disertai dengan yang lain, yaitu melalui pemenuhan kebutuhan fisik berupa makanan/minuman dan olah raga.  

Pemenuhan kebutuhan fisik dengan makanan dan minuman jelas suatu kemustian. Tetapi, yang harus dijaga makanan dan minuman yang masuk ke tubuh harus halal, baik halal dikonsumsi maupun halal cara memperolehnya.  Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk mengkonsumsi makanan yang halal (Surat  Al-Baqarah: 160 dan Al-Maidah: 88). Boleh jadi yang dikonsumsi oleh tubuh telah sesuai dengan ketentuan syari`at tetapi diperoleh dengan cara yang haram sehingga makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya haram. Kalau yang dikonsumsi sudah berbau haram, tidak mustahil perilakunya juga buruk. Boleh jadi juga akan berpengaruh pada pertumbuhan fisiknya. Karena itu, Allah SWT telah memperingatkan orang-orang beriman agar memperhatikan yang dimakan/diminumnya (Surat Abasa: 24). Sesuatu yang telah Allah peringatkan seharusnya ditaati karena sudah bisa dipastikan ada hikmahnya. Sebagai tambahan, perlu juga ditekankan di sini, agar mengatur waktu-waktu makan, tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan berlemak atau garam, atau gula, tidak makan kekenyangan, dan tidak berlebihan mengkonsumsi minuman yang diduga memberikan zat adaptif (kekuatan) seperti kopi, teh, dan sejenisnya.

Selain makanan juga perlu olah raga yang cukup dan disesuaikan dengan usia. Kalau memang ada olah raga khusus yang sering dilakukan seperti bulu tangkis, futsal, atau berenang usahakan agar olah raga tersebut bisa dilanjutkan secara rutin. Bagi orang-orang yang telah memasuki usia lanjut olah raga untuk memelihara agar jantung tetap sehat (senam jantung) bisa dilakukan secara rutin. Usahakan kalau bisa berolah raga secara rutin setiap hari setengah jam. Selain olah raga, dianjurkan juga agar membiasakan diri untuk berpuasa satu hari setiap pekan atau tiga hari setiap bulan. Bahkan, tidak ada salahnya secara rutin setiap enam bulan sekali melakukan general check up agar bisa dideteksi sedini mungkin adanya penyakit dalam tubuh sehingga bisa dilakukan pencegahan. Sering terjadi seseorang masuk rumah sakit ketika penyakit yang diderita sudah tergolong akut atau parah. Jadi, menjaga kesehatan merupakan sebuah kewajiban yang harus diemban oleh setiap Muslim yang beriman.


Rasulullah SAW sebagai suri bagi teladan umat Islam telah memberi contoh kepada umatnya tentang menjaga kesehatan fisik. Beliau di masa hidupnya yang tergambar dalam shiroh nabawiyah mengajak pada umat Islam untuk memelihara keseimbangan, yaitu faktor fisik, akal, dan hati. Dalam masalah fisik salah satu ajaran beliau pada umat ini, yaitu ketika beliau bisa mengalahkan seorang pegulat. Berarti beliau punya fisik yang demikian kuat. Dalam masalah mengkonsumsi makanan secara sederhana beliau menyampaikan agar makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Beliau juga mengajarkan umat ini untuk kerap dekat pada Allah dengan berpuasa sunah, memperbanyak dzikir dan do`a, serta membiasakan sholat qiyamul lail dan dhuha. Sekarang tinggal umat ini, apakah mau melaksanakan ajaran beliau atau tidak? Insya Allah, kalau yang telah dianjurkan (bahkan dalam beberapa hal diperintahkan) dilaksanakan, umat Islam akan benar-benar hidupnya sehat dan jauh dari penyakit. Tetapi, kalau ada kecenderungan untuk mengabaikannya, tentu saja umat Islam akan terkena dampak dari pengabaian tersebut. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...