Rabu, 11 Desember 2013

Artikel Agama (15)


HIDUPNYA BERMANFAAT



Hidup itu memang singkat. Singkatnya hidup ini harus bisa dimanfaatkan oleh manusia. Ada manusia umurnya panjang, tapi sepanjang hidupnya manusia itu bikin susah makhluk Allah (bukan hanya manusia yang dibikin susah, binatang juga dibikin susah). Ini tergolong manusia celaka karena sepanjang hidupnya menyia-nyiakan kesempatan hidup. Ada manusia yang singkat hidupnya, tapi usia yang singkat itu bermanfaat sepanjang hidupnya. Nah, manusia jenis inilah yang memang dibutuhkan dunia. Anehnya, manusia jenis ini demikian langka. Dengan demikian, sebagian besar manusia walapun umurnya panjang, kehadirannya di dunia `g ngepek`, `g ngaruh` untuk kemaslahatan manusia.

Manusia yang cinta pada kebaikan manusia lain pasti manusia jenis ini kehadirannya di muka bumi bermanfaat. Justru, manusia yang benci pada kebaikan manusia lain pasti manusia jenis ini kehadirannya di muka bumi tidak bermanfaat. Begitu pernyataan yang perlu diajukan di sini. Sederhana bukan pernyataan tersebut? Tapi, coba direnungkan. Apa yang dilakukan manusia yang cinta pada kebaikan? Pasti dia akan melakukan kebaikan di sepanjang hidupnya. Kebaikan yang dilakukannya berangkat dari mengimani firman Allah (dibuktikan dengan perbuatan) yang terdapat dalam Surat Al-Hajj:77, yaitu perintah untuk rukuk, sujud, menyembah Allah, dan berbuat kebaikan. Manusia jenis ini juga takut dimasukkan ke dalam neraka Wail karena penghuninya adalah orang-orang yang lalai dalam sholatnya dan enggan memberikan bantuan (Surat Al-Maun: 4—7). Manusia seperti ini juga tidak mau mendzalimi saudaranya sesama Muslim. Dia akan penuhi hajat saudaranya. Dia akan menghilangkan kesulitan saudaranya seiman. Bahkan, dia akan menutupi aib saudaranya (HR Bukhari dan Muslim).

Manusia Muslim seperti ini bisa bersikap demikian dimulai dari proses sebuah pembelajaran. Dia belajar dari banyak bunyi ayat yang memerintahkan untuk mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Dia benar-benar belajar menegakkan (bukan hanya melaksanakan) sholat. Dia belajar melakukan pengorbanan dengan mengeluarkan sebagian dari hartanya (menunaikan zakat). Dari sholat yang ditegakkan dan zakat yang dikorbankan, dia belajar menjadi seorang Muslim yang beriman dan mengerjakan kebajikan (Surat Al-Bayyinah: 7). Dari pembelajaran seperti itu akan menghasilkan manusia yang bermafaat bagi orang lain. Jadi, setiap hamba Allah yang beriman sudah selayaknya dalam hidupnya yang demikian singkat itu melakukan aktivitas kebaikan.      

Pada saat umat Islam di berbagai negara Muslim yang kondisinya tidak lebih baik dibandingkan dengan umat-umat di luar Islam, sangat dibutuhkan kehadiran manusia Muslim yang hidupnya bisa memberikan manfaat buat manusia lain. Apakah untuk itu dibutuhkan dana atau harus keluar uang? Tidak juga harus keluar uang. Menyebarkan sapa, senyum, dan salam bukankah tidak harus keluar uang? Bukankah itu semua merupakan sedekah? Kalau semua itu merupakan sedekah, bukankah itu bermanfaat buat orang lain? Buat hamba Allah yang diberikan kekayaan, tanda syukur dia pada Allah adalah mengeluarkan sebagian kekayaannya pada sesama Muslim. Bentuk aktivitasnya bukan seperti praktek-praktek Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau mengumpulkan ribuan rakyat di suatu tempat kemudian mereka diberikan amplop. Hanya untuk memperoleh uang sebesar Rp50.000,00 atau Rp100.000,00 masyarakat miskin harus berdesak-desakan di bawah terik matahari sampai `kelenger`. Mereka disorot media cetak dan elektronik (memang ada kesengajaan dari `sang dermawan` agar semakin terpandang). Gambaran kemiskinan umat Islam ditayangkan secara luas dan dijadikan panggung tontonan di hadapan ratusan juta pemirsa. Jelas, `sang dermawan` yang masih mempraktekkan cara-cara seperti ini belum menjadi hamba Allah yang bermanfaat bagi orang lain. Hamba Allah yang bermanfaat bagi orang lain di saat membantu sesama Muslim tidak akan ada keinginan untuk dipandang sebagai seorang dermawan (naudzubillahi min dzalik). Dia juga ketika memberikan bantuan tidak akan membuat orang lain jadi korban. Orang-orang seperti ini dalam memberikan bantuan benar-benar mukhlis karena dia hanya mengharapkan ridho Allah bukan semata-mata pahala atau ganjaran dari Allah SWT.

Menjadi hamba Allah yang bermanfaat buat orang lain Insya Allah bisa mewujudkan khoiroh ummat (umat yang terbaik) sebagaimana diisyaratkan dalam Surat Ali Imran: 110 bahwa khoiroh ummat bisa terwujud manakala ada aktivitas dakwah yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Aktivitas seperti itu merupakan bukti bahwa seorang hamba Allah dalam hidupnya harus bermanfaat buat orang lain. Insya Allah, hamba Allah yang mukhlish pasti diberikan kemudahan untuk melaksanakannya. Wallahu `alam bissawab.     


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...