HIDUPNYA BERMANFAAT
Hidup itu memang singkat. Singkatnya hidup ini harus
bisa dimanfaatkan oleh manusia. Ada manusia umurnya panjang, tapi sepanjang
hidupnya manusia itu bikin susah makhluk Allah (bukan hanya manusia yang
dibikin susah, binatang juga dibikin susah). Ini tergolong manusia celaka
karena sepanjang hidupnya menyia-nyiakan kesempatan hidup. Ada manusia yang
singkat hidupnya, tapi usia yang singkat itu bermanfaat sepanjang hidupnya.
Nah, manusia jenis inilah yang memang dibutuhkan dunia. Anehnya, manusia jenis
ini demikian langka. Dengan demikian, sebagian besar manusia walapun umurnya
panjang, kehadirannya di dunia `g ngepek`, `g ngaruh` untuk kemaslahatan
manusia.
Manusia yang cinta pada kebaikan manusia lain pasti
manusia jenis ini kehadirannya di muka bumi bermanfaat. Justru, manusia yang
benci pada kebaikan manusia lain pasti manusia jenis ini kehadirannya di muka
bumi tidak bermanfaat. Begitu pernyataan yang perlu diajukan di sini. Sederhana
bukan pernyataan tersebut? Tapi, coba direnungkan. Apa yang dilakukan manusia
yang cinta pada kebaikan? Pasti dia akan melakukan kebaikan di sepanjang
hidupnya. Kebaikan yang dilakukannya berangkat dari mengimani firman Allah
(dibuktikan dengan perbuatan) yang terdapat dalam Surat Al-Hajj:77, yaitu
perintah untuk rukuk, sujud, menyembah Allah, dan berbuat kebaikan. Manusia
jenis ini juga takut dimasukkan ke dalam neraka Wail karena penghuninya adalah orang-orang yang lalai dalam
sholatnya dan enggan memberikan bantuan (Surat Al-Maun: 4—7). Manusia seperti
ini juga tidak mau mendzalimi saudaranya sesama Muslim. Dia akan penuhi hajat
saudaranya. Dia akan menghilangkan kesulitan saudaranya seiman. Bahkan, dia
akan menutupi aib saudaranya (HR Bukhari dan Muslim).
Manusia Muslim seperti ini bisa bersikap demikian
dimulai dari proses sebuah pembelajaran. Dia belajar dari banyak bunyi ayat
yang memerintahkan untuk mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Dia
benar-benar belajar menegakkan (bukan hanya melaksanakan) sholat. Dia belajar
melakukan pengorbanan dengan mengeluarkan sebagian dari hartanya (menunaikan
zakat). Dari sholat yang ditegakkan dan zakat yang dikorbankan, dia belajar
menjadi seorang Muslim yang beriman dan mengerjakan kebajikan (Surat
Al-Bayyinah: 7). Dari pembelajaran seperti itu akan menghasilkan manusia yang
bermafaat bagi orang lain. Jadi, setiap hamba Allah yang beriman sudah
selayaknya dalam hidupnya yang demikian singkat itu melakukan aktivitas
kebaikan.
Pada saat umat Islam di berbagai negara Muslim yang
kondisinya tidak lebih baik dibandingkan dengan umat-umat di luar Islam, sangat
dibutuhkan kehadiran manusia Muslim yang hidupnya bisa memberikan manfaat buat
manusia lain. Apakah untuk itu dibutuhkan dana atau harus keluar uang? Tidak
juga harus keluar uang. Menyebarkan sapa, senyum, dan salam bukankah tidak
harus keluar uang? Bukankah itu semua merupakan sedekah? Kalau semua itu
merupakan sedekah, bukankah itu bermanfaat buat orang lain? Buat hamba Allah
yang diberikan kekayaan, tanda syukur dia pada Allah adalah mengeluarkan
sebagian kekayaannya pada sesama Muslim. Bentuk aktivitasnya bukan seperti
praktek-praktek Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau mengumpulkan ribuan rakyat di
suatu tempat kemudian mereka diberikan amplop. Hanya untuk memperoleh uang
sebesar Rp50.000,00 atau Rp100.000,00 masyarakat miskin harus berdesak-desakan
di bawah terik matahari sampai `kelenger`. Mereka disorot media cetak dan
elektronik (memang ada kesengajaan dari `sang dermawan` agar semakin
terpandang). Gambaran kemiskinan umat Islam ditayangkan secara luas dan
dijadikan panggung tontonan di hadapan ratusan juta pemirsa. Jelas, `sang
dermawan` yang masih mempraktekkan cara-cara seperti ini belum menjadi hamba
Allah yang bermanfaat bagi orang lain. Hamba Allah yang bermanfaat bagi orang
lain di saat membantu sesama Muslim tidak akan ada keinginan untuk dipandang
sebagai seorang dermawan (naudzubillahi
min dzalik). Dia juga ketika memberikan bantuan tidak akan membuat orang
lain jadi korban. Orang-orang seperti ini dalam memberikan bantuan benar-benar mukhlis karena dia hanya mengharapkan
ridho Allah bukan semata-mata pahala atau ganjaran dari Allah SWT.
Menjadi hamba Allah yang bermanfaat buat orang lain
Insya Allah bisa mewujudkan khoiroh ummat
(umat yang terbaik) sebagaimana diisyaratkan dalam Surat Ali Imran: 110 bahwa khoiroh ummat bisa terwujud manakala ada
aktivitas dakwah yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Aktivitas seperti itu merupakan bukti bahwa seorang hamba Allah dalam hidupnya
harus bermanfaat buat orang lain. Insya Allah, hamba Allah yang mukhlish pasti diberikan kemudahan untuk
melaksanakannya. Wallahu `alam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar