Pembangunan
Berkelanjutan?...Gagal!...Gagal! (3)
Subagio S. Waluyo
PB
membutuhkan pengawasan. Pelaksanaan Pengawasan dilakukan bukan hanya oleh para
birokrat. `Orang-orang pintar` dari PT
juga bisa dilibatkan dalam pengawasan pelaksanaan PB. Bentuk pengawasan dari `orang-orang
pintar` atau `makhluk akademis` itu berupa kerja-kerja P3M. Jadi, sah-sah saja
penelitian yang dilakukan calon sarjana (S1) walaupun hanya sebuah skripsi yang
penelitiannya tentang pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan di sebuah
tempat yang di peta tidak ada (karena tempat itu benar-benar pelosok hutan)
didiskusikan. Kemudian, ditindaklanjuti dalam bentuk kerja-kerja
pengabdian masyarakat. Salah satu bentuk
kegiatan yang konkrit membuat program kerja desa binaan di desa pelosok hutan
itu. Ini pekerjaan menarik `kan? Kita yakin, kalau dosen-dosennya masih
tergolong orang-orang yang sadar dan mau terlibat plus tidak mata duitan (`ngga
matre`), pasti menyambutnya dengan antusias.
`Orang-orang pintar` dari kampus sudah mau terlibat. Mereka ikut benahi desa terpelosok yang tidak ada di peta. Bahkan, bukan cuma dosen dan mahasiswa, pegawai-pegawainya sampai OB/Cleaning Service pun mau terlibat. Bagaimana dengan para birokrat yang sekarang berganti baju dari `abdi negara` ke `abdi rakyat`? Seharusnya, mereka juga mau dan kalau perlu pakai malu. Lho, kok pakai malu? Lha, iya, mereka harus malu. `Kan yang seharusnya menjadi pekerjaan mereka untuk membangun, membina, dan mengayomi warga desa para birokrat? Mengapa sekarang `orang-orang pintar` dari PT yang sampai-sampai OB juga ikut turun? Jadi kalau masih ada aparat setempat di desa itu, kalau perlu di level kecamatan bahkan di level kabupaten/kota sekalipun tidak mau terlibat (malah kadang-kadang `nggerecokin`) karena merasa masih menjadi `abdi negara`, disomasi saja. Sekarang `kan sudah bukan zamannya lagi aparat birokrasi mau sok jadi penguasa atau raja. Mereka itu bukan lagi orang yang harus kita layani. Justru, merekalah yang sekarang berkewajiban melayani masyarakat.
Petinggi-petinggi di daerah sebagai aparat birokrasi setidak-tidaknya wajib bersyukur
karena masih ada `orang-orang pintar` dari PT yang peka, yang masih punya
kepeduliaan terhadap pembangunan di daerahnya. `Orang-orang pintar` dari PT ini
tanpa pamrih secara tidak langsung telah melaksanakan amanat yang terdapat
dalam Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Bab I,
Ketentuan Umum, Pasal I, Nomor 41, yaitu:
“Partisipasi
Masyarakat adalah peran serta warga masyarakat untuk menyalurkan aspirasi,
pemikiran, dan kepentingannya dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah”.
Walaupun
isinya lebih merupakan penjelasan dari
partisipasi masyarakat, di balik
pernyataan itu ada hak bagi setiap warga masyarakat baik diminta maupun tidak
diminta untuk menyalurkan aspirasinya, pemikirannya, dan kepentingannya dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah. `Orang-orang pintar` dari PT sebagai warga
masyarakat sah-sah saja kalau mau melakukan yang terbaik demi ikut serta memajukan warga desa berikut
perangkat-perangkat desanya. Kehadiran `orang-orang pintar` dari PT sudah
selayaknya diterima dengan tangan terbuka. Kalau perlu, semua pejabat birokrat
dari tingkat desa/kelurahan sampai bupati/walikota mau berempati. Mereka
intinya jangan bikin susah orang yang mau membantu wilayah kerjanya.
Masyarakat akademis sudah mau terlibat. Aparat birokrat yang berbaju `abdi rakyat` juga sudah mau terlibat. Kemudian, pihak swasta melalui pendekatan bupati/walikotanya juga mau terlibat. LSM-LSM baik plat hitam maupun plat merah juga mau terlibat. Kalau perlu ormas-ormas besar juga mau terlibat. Apakah masih ada kemungkinan PB tidak terlaksana dengan baik? Jangan usah kuatir `kan ada `orang-orang pintar` dari PT. Coba saja mereka diminta mengadakan penelitian. Nanti dari sana Insya Allah ditemukan penyakitnya. Kalau sudah ditemukan, kaji lagi melalui prosedur-prosedur ilmiah yang biasa dipakai di kalangan para akademisi. Jangan diserahkan pada pihak lain. Cukup lewat kerja-kerja akademis.
Sebuah program yang digarap bersama-sama kalau diawali dengan adanya kesamaan niat dan pemikiran tidak akan terjadi bentrokan. Sudah banyak terbukti di beberapa tempat di negara ini ketika sebuah PT bisa bersinergi dengan masyarakat setempat yang juga didukung oleh pihak pemerintah daerah setempat bisa berjalan dengan sukses. Kunci kesuksesan sebuah program bukan terletak pada dana yang besar atau sarana yang memadai atau banyaknya keterlibatan `orang-orang pintar` tetapi pada sikap untuk menjauhi rasa ego. Egoisme terkadang (bahkan juga seringkali) muncul di saat-saat kita ingin melakukan yang terbaik. `Orang-orang pintar` dari PT jangan karena merasa dari golongan elit tidak mau menerima saran dari warga desa (golongan `wong cilik`). Ingat, orang desa yang `wong cilik` itu yang lebih tahu tentang desanya dan kebutuhannya. Silakan saja `orang-orang elit` dari PT mau menerapkan konsep-konsepnya atau teori-teorinya tapi perlu dipikirkan `apakah konsep atau teorinya bisa diterapkan di desa tempat mereka melakukan kerja P3M`? Jadi, `orang-orang pintar` dari PT harus bisa mengalahkan egonya. Suatu saat kalau `wong cilik` itu ternyata memang salah `orang-orang pintar` dari PT juga jangan bersikap merasa `sok menang` karena dalam kerja-kerja P3M tidak ada rivalitas. Yang harus dibangun adalah kebersamaan.
`Orang-orang
pintar` dari PT jangan mentang-mentang sudah tahu bahwa penyelenggaraan
pemerintahan daerah melibatkan partisipasi masyarakat karena sudah didukung
oleh bunyi UU di atas lantas saja
`selonong boy`. Ingat, `orang-orang pintar` dari PT itu mau melakukan
kerja-kerja P3M di daerah. Setiap daerah ada `petinggi-petinggi`-nya. Jadi, `orang-orang
pintar` harus mengikuti aturan yang ada. Kalau mau melakukan P3M dengan hasil
yang memuaskan semua pihak, ya memang harus demikian. Bukan hanya di daerah, di
setiap tempat sekalipun di luar negeri atau dalam skala yang lebih besar lagi,
internasional, memang harus demikian. Mudah-mudahan saja `orang-orang pintar`
dari PT mau terjun dari menara gading sehingga tidak `ngotot` untuk berpegang
teguh dengan teori-teori atau konsep-konsep yang dianutnya. Wallahu a`lam bissawab.
(bersambung)
(bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar