Bahan Pendidikan Politik
ANALISIS
GERAKAN MAHASISWA INDONESIA
DARI ORDE BARU SAMPAI REFORMASI
Subagio S.Waluyo
1.0 PENGANTAR
·
Dalam rangka mencari dan menegakkan
“kebenaran,” mahasiswa di mana pun ia berada selalu melakukan hal yang sama,
yaitu melalui gerakan. Gerakan
mahasiswa, baik gerakan yang tertib maupun yang penuh huru-hara, selalu
mengundang kehati-hatian, kecurigaan, dan kewaspadaan pihak-pihak tertentu
(terutama pihak-pihak yang tidak menyukai gerakan mereka).
·
Gerakan mahasiswa mulai diperhitungkan
setelah mereka berhasil menumbangkan Rezim
Orde Lama (1966) dan meletusnya Peristiwa
Malari (1974) yang banyak menelan korban, baik mahasiswa, pengu-asa, maupun
masyarakat banyak. Setelah itu gerakan
mahasiswa yang berupa demonstrasi meskipun masih ada, namun tidak sebesar kedua
peristiwa tersebut.
·
Kondisi kampus yang kerap kali bergolak
oleh demonstrasi mahasiswa mengundang pihak penguasa untuk menertibkan dan
menormalisasi-kannya. Kebijakan
pemerintah ini yang kemudian dikenal dengan Normalisasi
Kehidupan Kampus (NKK). Bersamaan
dengan diberlaku-kannya NKK lembaga-lembaga kemahasiswaan, seperti Dewan Maha-siswa (DM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM)
dibeku-kan yang kemudian diganti dengan Badan
Koordinasi Kemahasiswaan (BKK).
Kehadiran NKK/BKK di kampus-kampus tentu saja mengun-dang maraknya berbagai demonstrasi di kota-kota yang
memiliki per-guruan tinggi karena NKK/BKK dianggap sebagai sistem yang
mema-tikan gerakan mahasiswa.
·
Sejak diterapkannya NKK/BKK di
kampus-kampus, gerakan maha-siswa mengalami stagnasi. Kampus tidak lagi dijadikan sebagai lem-baga
yang mendidik mahasiswa peka terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka telah menjadi cendikiawan muda yang
apolitis karena tindakan depolitisasi penguasa yang berlebihan terhadap para
intelektual muda itu. Seandainya di
masa-masa itu ada gerakan mahasiswa, gerakan itu lebih bersifat sektoral,
seperti unjuk rasa mahasiswa terhadap kasus Kedung
Ombo. Sebagai kompensasi dari kekecewaanya, mahasiswa-mahasiswa yang
kritis, yang masih terpelihara idealismenya, memasuki berbagai aktivitas yang
berada di luar kampus (eksternal), seperti Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM) atau Kelompok-kelompok Studi Mahasiswa (KSM). Di kemudian hari LSM/KSM yang menjamur di
masa-masa tersebut banyak berperan dalam melakukan gerakan keprihatinan.
·
Memasuki era `90-an ada titik cerah
dengan bergolaknya kembali gerakan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Secara simultan terjadi berbagai aksi keprihatinan
yang dilakukan oleh para mahasiswa.
Aksi-aksi yang dilakukan saat ini tidak lagi bersifat sektoral,
melainkan sudah universal, di antaranya tentang reformasi di segala bidang
(ter-utama reformasi ekonomi dan politik).
Yang menarik dari gerakan mahasiswa saat ini adalah keterlibatan
beberapa petinggi kampus dan pengajar.
Adakah ini suatu pertanda akan kembalinya mahasiswa sebagai moral force dan social change setelah sekian lama mereka dininakbobokan oleh
penguasa yang menghendaki status quo?
Apakah menara gading itu telah mencair
setelah sekian lama berdiri dengan angkuhnya? Apakah sejarah akan berulang
kembali sebagaimana Rezim Soekarno
dulu ditumbangkan? Wallahu`alam bissawab.
2.0 TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
·
Peserta memahami sejarah, faktor
pendukung, dan karakteristik gerakan mahasiswa dari Orde Baru sampai dengan
Reformasi.
3.0 TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
·
Menguraikan sejarah gerakan mahasiswa
dari Orde Baru sampai dengan Reformasi.
·
Menelusuri perkembangan sejarah gerakan
mahasiswa dari Orde Baru sampai dengan Reformasi.
·
Menganalisis faktor pendukung gerakan
mahasiswa di setiap angkat-an (`66, `74, `78, dan `80-an).
·
Membedakan faktor pendukung gerakan
mahasiswa di setiap angkatan
·
Menganalisis karakteristik gerakan
mahasiswa di setiap angkatan.
·
Membedakan karakteristik gerakan
mahasiswa di setiap angkatan.
·
Mengelompokkan karakteristik gerakan
mahasiswa di setiap angkatan.
berdasarkan tempat terjadinya
gerakan tersebut.
·
Mendiskusikan yang menjadi faktor
pendukung gerakan mahasiswa yang menuntut adanya reformasi di negara ini.
·
Mendiskusikan karakteristik pendukung
gerakan mahasiswa yang menuntut
reformasi.
·
Membuat prediksi seandainya gerakan
mahasiswa yang menuntut reformasi mengalami kegagalan.
·
Membuat prediksi seandainya gerakan
mahasiswa yang menuntut reformasi memperoleh keberhasilan.
4.0 URAIAN MATERI
Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia dari
Orde Baru sampai Reformasi:
·
SelamaIndonesia
merdeka baru pertama kali gerakan mahasiswa Indonesia memperoleh keberhasilan,
yaitu yang terjadi pada tahun 1966. Pada
waktu itu gerakan mahasiswa Indonesia
berhasil menum-bangkan Rezim Orde Lama di bawah pemerintahan Soekarno yang pada waktu itu menurut penilaian mereka telah
jauh menyimpang dari Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Mereka dalam berbagai aksinya mengajukan tiga
tuntutan yang kemudian dikenal dengan Tritura,
yaitu (1) Bubarkan PKI; (2) Retool Kabinet; dan (3) Turunkan harga.
Keberhasilan gerakan mereka terbukti dengan bergantinya tampuk
pemerintahan dari Soekarno kepada Soeharto.
Selama
· Setelah Rezim Orde Lama tumbang bukan
berarti berhenti pula aksi-aksi mahasiswa, justeru mulai saat itu sampai tahun
1974 berbagai demonstrasi marak di mana-mana.
Secara simultan kota-kota yang memiliki perguruan tinggi mengadakan aksi
serupa karena masa itu adalah masa pembentukan dan konsolidasi terhadap Orde
Baru. Memang dengan lahirnya Orde Baru
terjadi suatu perubahan orientasi yang luar biasa di berbagai bidang, baik
bidang idiologi, politik, eko-nomi, sosial, maupun budaya, namun timbul
berbagai masalah baru yang memprihatinkan, seperti merajalelanya korupsi dan
hasil pem-bangunan yang hanya bisa dinikmati oleh lapisan kecil
masyarakat. Untuk itu, muncullah kembali
berbagai gerakan mahasiswa yang men-capai puncaknya ketika meletusnya Peristiwa Malari pada tahun 1974.
·
Kurun waktu selama 1974--1978 kampus-kampus di Indonesia tidak sepi dari demontrasi mahasiswa. Boleh dikatakan `tiada hari tanpa de-monstrasi` karena terlampau seringnya demonstrasi (meskipun disinyalir oleh salah seorang pejabat negara pada waktu itu bahwa kehidupan kampus menjadi apatis). Yang mengherankan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada waktu itu, dr. Syarief Thayeb, menerapkan SK 028 sebagai “tempurung” untuk mengurung gerakan mahasiswa agar ge-rakan mahasiswa berkisar di seputar kampus saja, tetapi SK 028 tersebut dijawab oleh mahasiswa dengan melakukan aksi turun ke jalan. Pada akhirnya, untuk menghentikan berbagai gerakan maha-siswa itu, pemerintah melalui ABRI terpaksa melakukan tindakan keke-rasan dengan menyerbu kampus-kampus yang diduga selama ini merupakan pusat-pusat gerakan kemahasiswaan. Dengan cara yang tidak manusiawi mereka masuk kampus dan menangkapi pimpinan-pimpinan mahasiswa yang ditengarai sebagai pimpinan gerakan maha-siswa. Menteri P dan K dalam salah satu pernyataannya mengatakan ada sekitar tujuh puluh pimpinan mahasiswa yang terpaksa dimeja-hijaukan. Setelah penyerbuan dan penangkapan besar-besaran terse-but gerakan-gerakan mahasiswa mengalami kelesuan yang kemudian berakhir dengan pemberangusan DM/MPM di setiap perguruan dan sebagai gantinya pemerintah memberlakukan NKK/BKK.
Kurun waktu selama 1974--1978 kampus-kampus di Indonesia tidak sepi dari demontrasi mahasiswa. Boleh dikatakan `tiada hari tanpa de-monstrasi` karena terlampau seringnya demonstrasi (meskipun disinyalir oleh salah seorang pejabat negara pada waktu itu bahwa kehidupan kampus menjadi apatis). Yang mengherankan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada waktu itu, dr. Syarief Thayeb, menerapkan SK 028 sebagai “tempurung” untuk mengurung gerakan mahasiswa agar ge-rakan mahasiswa berkisar di seputar kampus saja, tetapi SK 028 tersebut dijawab oleh mahasiswa dengan melakukan aksi turun ke jalan. Pada akhirnya, untuk menghentikan berbagai gerakan maha-siswa itu, pemerintah melalui ABRI terpaksa melakukan tindakan keke-rasan dengan menyerbu kampus-kampus yang diduga selama ini merupakan pusat-pusat gerakan kemahasiswaan. Dengan cara yang tidak manusiawi mereka masuk kampus dan menangkapi pimpinan-pimpinan mahasiswa yang ditengarai sebagai pimpinan gerakan maha-siswa. Menteri P dan K dalam salah satu pernyataannya mengatakan ada sekitar tujuh puluh pimpinan mahasiswa yang terpaksa dimeja-hijaukan. Setelah penyerbuan dan penangkapan besar-besaran terse-but gerakan-gerakan mahasiswa mengalami kelesuan yang kemudian berakhir dengan pemberangusan DM/MPM di setiap perguruan dan sebagai gantinya pemerintah memberlakukan NKK/BKK.
·
Memasuki era `80-an bukan berarti kampus benar-benar mati dari aksi-aksi unjuk rasa meskipun pada waktu itu pemerintah demikian ketatnya mengontrol aktivitas mahasiswa di kampus-kampus. Berbagai aksi atau unjuk rasa keprihatinan memang masih ada, tetapi tidak bersifat simultan. Artinya, hanya beberapa kampus yang masih aktif melaku-kannya. Seandainya ada unjuk rasa, bentuk kegiatannya tidak sebesar sebelum masa itu karena mahasiswa yang kritis dan masih memiliki idealis lebih memilih aktif di luar kampus, baik ke Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun ke Kelompok-kelompok Studi Mahasiswa (KSM). LSM-LSM yang mereka masuki terbagi dalam dua golongan, yaitu LSM bermasalah dan LSM tidak bermasalah. LSM yang bermasalah inilah yang di kemudian hari banyak membuat “PR” pemerintah karena terlampau seringnya mereka menjadi inspirator dan motivator beberapa aksi yang dilakukan, baik oleh mahasiswa maupun bukan mahasiswa (aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para buruh misalnya). Puncaknya terjadi ketika pada tanggal 27 Juli 1996 di Jakarta, mereka (para mahasiswa aktifis LSM dan masyarakat umum simpatisan PDI Pro-Mega) melakukan unjuk rasa yang berakhir dengan keonaran. Peristiwa tersebut dikenal kemudian dengan Peristiwa 27 Juli.
Memasuki era `80-an bukan berarti kampus benar-benar mati dari aksi-aksi unjuk rasa meskipun pada waktu itu pemerintah demikian ketatnya mengontrol aktivitas mahasiswa di kampus-kampus. Berbagai aksi atau unjuk rasa keprihatinan memang masih ada, tetapi tidak bersifat simultan. Artinya, hanya beberapa kampus yang masih aktif melaku-kannya. Seandainya ada unjuk rasa, bentuk kegiatannya tidak sebesar sebelum masa itu karena mahasiswa yang kritis dan masih memiliki idealis lebih memilih aktif di luar kampus, baik ke Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun ke Kelompok-kelompok Studi Mahasiswa (KSM). LSM-LSM yang mereka masuki terbagi dalam dua golongan, yaitu LSM bermasalah dan LSM tidak bermasalah. LSM yang bermasalah inilah yang di kemudian hari banyak membuat “PR” pemerintah karena terlampau seringnya mereka menjadi inspirator dan motivator beberapa aksi yang dilakukan, baik oleh mahasiswa maupun bukan mahasiswa (aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para buruh misalnya). Puncaknya terjadi ketika pada tanggal 27 Juli 1996 di Jakarta, mereka (para mahasiswa aktifis LSM dan masyarakat umum simpatisan PDI Pro-Mega) melakukan unjuk rasa yang berakhir dengan keonaran. Peristiwa tersebut dikenal kemudian dengan Peristiwa 27 Juli.
·
Memasuki tahun 1990 ada angin segar
yang berhembus dari Kepmen 0457/1990,
yaitu tidak diberlakukannya lagi konsep NKK/BKK sebagai gantinya dibentuklah
Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) yang kedudukannya sama dengan DM
(sebelum NKK/BKK). Meskipun pemerintah
sudah “berbaik hati” dengan memberlakukan kepmen ter-sebut, masih banyak juga
perguruan tinggi yang masih mencurigainya karena keberadaan SMPT, menurut
mereka, menjadi instrumen dari meanstream
jargon
Faktor-faktor pendukung gerakan
mahasiswa Indonesia
·
Angkatan `66:
1.
kelompok militer yang berkuasa pada
waktu itu menganggap mahasiswa sebagai partnership
sehingga mereka memberikan kesempatan kepada kesatuan-kesatuan aksi yang pada
waktu itu banyak bermunculan (KAMI, KAPPI, KASI, dan sebagainya);
2.
berbagai ormas besar, baik yang dari
ormas-ormas Islam, se-perti NU, Muhammadiyah, HMI,dan PII,non-Islam,seperti
PMKRI dan GMKI, maupun yang nasionalis seperti Imada dan SOMAL;
3.
dukungan dari beberapa pengajar di
perguruan tinggi yang dalam kuliah-kuliahnya mengecam pemerintahan Soekarno;
dan
4. situasi dan kondisinya pada waktu itu
sangat mendukung, yaitu membumbungnya harga-harga sehingga banyak kebutuhan
po-kok yang tidak terjangkau oleh rakyat banyak (inflansi sampai 600%), trauma Peristiwa Pemberontakan G30S/PKI yang
mele-tus pada tanggal 30 September 1965 di Jakarta (Gestapu PKI) masih melekat di benak rakyat, dan ditambah lagi
dengan sikap arogannya Presiden Soekarno yang mengangkat sampai 100 orang
menteri sehingga kondisi demikian dimanfaatkan
oleh para mahasiswa dan elit militer saat itu dengan slogannya: “tiga
tuntutan rakyat” atau Tritura.
·
Angkatan `74:
1. gerakan mahasiswa tidak seperti
Angkatan `66 yang memper-oleh dukungan dari elit militer, kali ini meskipun telah
terjadi perang bintang (Soemitro versus Ali Moertopo) ternyata sebagi-an besar
kalangan ABRI lebih memihak pada kepemimpinan Presiden Soeharto;
2.
kehadiran surat kabar yang dibidani
oleh aktivis KAMI (Rahman Tolleng cs.) seperti Mahasiswa Indonesia banyak memberikan dukungan, baik dari segi
moral maupun materi karena tidak sedikit dana untuk melakukan berbagai aksi
dibiayai oleh surat kabar tersebut;
3. banyaknya surat
kabar dan majalah yang dibredel oleh pemerin-tah merupakan pemihakan pihak pers
terhadap gerakan maha-siswa waktu itu (termasuk surat kabar Mahasiswa Indonesia yang saat itu sedang jaya-jayanya); dan
4. maraknya demonstrasi yang dilakukan
ummat Islam (terutama yang menyangkut masalah Undang-Undang Perkawinan) mem-berikan daya dorong tersendiri bagi
mahasiswa Muslim untuk melakukan unjuk rasa.
·
Angkatan `78:
1.
gerakan mahasiswa pada tahun 1978
merupakan kekuatan yang mandiri, yang tidak memberi kesempatan beraliansi
dengan kekuatan masyarakat luar, khususnya elit militer;
2.
seandainya ada dukungan, dukungan
tersebut lebih bersifat per-nyataan-pernyataan saja yang sifatnya tendensius
yang pada akhirnya para jenderal, seperti AH Nasution, HR Dharsono, Ali
Sadikin, dan Kemal Idris terkena dampaknya (dari kalangan elit militer). Sedangkan dukungan yang datanganya dari
kalangan cendikiawan dan budayawan hanya empat belas orang, seperti Mochtar
Lubis, WS Rendra, Ismail Suny, dan Adnan Buyung Nasution;
3.
meskipun tidak ada dukungan dari elit
militer, beberapa ormas Islam yang ada pada waktu itu secara tidak langsung
turut memberi dukungan terutama pada para mahasiswa Islam yang sama-sama tidak
setuju dengan masuknya Aliran Kepercayaan ke dalam GBHN; dan
4. NKK/BKK memang pada akhirnya dengan
sangat terpaksa dite-rapkan juga, namun bukan berarti hal itu tidak mendapat
perha-tian dari anggota-anggota fraksi yang ada di DPR sebagai con-toh di sini
upaya anggota DPR dari Fraksi PDI yang meminta pencabutan SK Mendikbud tentang pelaksanaan NKK/BKK.
·
Angkatan `80-an:
1. mahasiswa-mahasiswa yang banyak
melakukan aktivitas di ber-bagai LSM/KSM banyak mendapat dukungan dari tempat
mere-ka aktif selama ini, bahkan karena demikian rapinya jaringan kerja LSM/KSM
tersebut mereka juga mendapat dukungan
dari LSM/KSM, baik yang ada di dalam maupun di luar negeri;
2. beberapa aktivis `66 yang masih
terpelihara idealisnya (seperti Arief Budiman) banyak mendukung gerakan mereka
di kampus-kampus meskipun gerakan mereka lebih bersifat sektoral;
3. selain aktivis `66 juga masih banyak
juga pendukung dari luar kampus, terutama dari pimpinan ormas yang banyak
memberi-kan inspirasi dan motivasi pada aktivis kampus (dari Muhamma-diyah:
Amien Rais dan dari NU: Abdurrachman Wahid);
4. sikap pemerintah yang terlampau curiga
terhadap ummat Islam dengan membatasi
ruang gerak ormas-ormas Islam (salah satu di antaranya pemaksaan terhadap
ormas-ormas Islam untuk menerima Azas Tunggal), bahkan yang lebih menyakitkan
lagi meletusnya Peristiwa Tanjung Priok
(1984) secara tidak lang-sung menumbuhkan kesadaran baru buat generasi muda
Islam bahwa masih adanya ancaman dari pihak luar yang memang tidak suka dengan
eksistensi umat Islam di negara ini; dan
5.
berbagai peristiwa yang menimpa masyarakat kecil, seperti
penggusuran rumah-rumah penduduk dan pem-PHK-an buruh-buruh pabrik merupakan
dukungan tersendiri bagi gerakan mahasiswa pada waktu itu.
Karakteristik gerakan mahasiswa Indonesia
·
Angkatan `66:
1.
memiliki konstelasi politik dan partnership yang kental dengan kalangan
elit militer karena ABRI pada waktu itu bertentangan keras dengan PKI dalam
merebut kekuasaan negeri ini; dan
2. gerakan mahasiswa pada waktu itu lebih
merupakan kepanjang-an dari suatu konflik yang sebelumnya telah terjadi, yaitu
ber-sumber dari pertentangan ideologi di tubuh ABRI yang pada akhirnya menyeret
mahasiswa ikut terlibat dalam gerakan.
·
Angkatan `74:
1.
banyak aktivis `66 yang direkrut oleh
Pemerintahan Orde Baru, baik yang direkrut ke lembaga eksekutif maupun
legislatif (waktu itu DPRGR) yang justeru memperlemah kedudukan aktivis gerakan
mahasiswa selanjutnya karena mereka yang direkrut seolah-olah telah tidak mau
tahu dengan perkembangan terakhir yang ada di sekitarnya;
2. adanya perasaan di kalangan aktivis
atau pemimpin gerakan bahwa mereka sama dengan angkatan yang terdahulu,
maksud-nya Angkatan `66, sehingga mereka yang terinspirasi fenomena Angkatan `66 merasa sanggup untuk
melakukan aksinya;
3. selama melakukan aksinya mereka tidak menyadari bahwa ak-sinya
ditunggangi pihak lain (sebagai bukti ketika Hariman Siregar memerintahkan
massanya untuk bergerak ke Halim ter-nyata massa GUPPI, tukang-tukang becak, dan
preman-preman Kramat atas suruhan OPSUS justeru ke arah Senen); dan
4. di dalam tubuh kepemimpinan mahasiswa
sendiri ada friksi-friksi yang memang sengaja dibentuk oleh pihak penguasa yang
tujuannya untuk menghancurkan lembaga kemahasiswaan dari dalam (kasus
terbentuknya Kelompok 10 yang
dimotori oleh sepuluh orang fungsionaris DMUI).
·
Angkatan `78:
1.
sangat sarat dengan bobot politik
karena memberikan koreksi menyeluruh terhadap jalannya Orde Baru;
2. Gerakan massa yang secara potensial “mengancam”
keduduk-an kepemimpinan Orde Baru karena mempersoalkan pertang-gungjawaban
kepemimpinan nasional; dan
3.
sikap pimpinan mahasiswa yang tidak mau
beraliansi dengan ormas-ormas Islam dalam melakukan aksi-aksinya merupakan
sikap yang keliru karena dalam waktu bersamaan ormas-ormas Islam juga memiliki
kepentingan yang sama, di antaranya menolak masuknya Aliran Kepercayaan ke
dalam GBHN (mereka lebih percaya pada para cendikiawan atau budayawan yang
menyuarakan aspirasi mereka).
·
Angkatan `80-an:
1. akibat dari depolitisasi pihak penguasa
terhadap mahasiswa menjadikan mahasiswa apolitis sehingga mereka hanya
berke-inginan menyelesaikan kuliah tepat waktu dan memperoleh hidup yang serba
berkecukupan (kemapanan);
2.
langkanya mahasiswa yang idealis dan
kritis sehingga kebebas-an mimbar tidak berfungsi lagi karena mereka yang
idealis dan kritis lebih memilih aktif di luar (LSM/KSM) daripada di kampus;
3. menggejalanya kehidupan kampus yang
serba kebarat-baratan, seperti hedonisme, serba permisif, dan merajalelanya
seks be-bas di kalangan sivitas akademika sehingga wajarlah kalau kehidupan
mereka berkisar di antara buku, pesta, dan cinta; dan
4. yang sangat menggembirakan, ini di luar
kehendak manusia, dengan adanya NKK/BKK ternyata tumbuh dengan pesat aktivi-tas
Lembaga Dakwah Kampus (LDK) sehingga dalam waktu yang relatif cepat banyaknya
wanita berjilbab dan mahasiswa Muslim yang tidak sungkan-sungkan
menunjukkan ke-Islaman-nya (buat
angkatan terdahulu sangatlah musykil kalau ada mahasiswa yang minta izin untuk
sekedar sholat saja).
5.0 DISKUSI
Peserta
dibagi empat kelompok. Setiap kelompok
membahas satu masa-lah untuk didiskusikan selama lebih kurang 30 menit. Hasil
diskusi tersebut dipresentasikan oleh setiap kelompok (setiap kelompok diberi
waktu untuk mempresentasikan hasil diskusinya selama lebih kurang 10 menit).
Adapun
masalah yang didiskusikan adalah:
·
faktor pendukung gerakan mahasiswa yang
mendukung reformasi di negara ini;
·
karakteristik pendukung gerakan
mahasiswa yang menuntut adanya reformasi;
· memprediksikan yang akan terjadi
seandainya gerakan mahasiswa saat ini mengalami kegagalan; dan
· memprediksikan yang akan terjadi
seandainya gerakan mahasiswa memperoleh keberhasilan.
6.0 BACAAN ANJURAN
Arbi Sanit. Sistem
Politik Indonesia Kestabilan Peta Kekuatan Politik dan Pembangunan. Jakarta :
PT Raja Grafindo Persada, 1981.
Budi Santoso dan A. Made Tony
Supriatma. ABRI Siasat Kebudayaan
1945-1995. Yogyakarta : Penerbit Kanisius,
1995.
Denny J.A., Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an. Jakarta : Penerbit Miswar, 1990.
Denny J.A.(ed.). Kesaksian Kaum Muda. Jakarta : Yayasan Studi Indone-sia, 1988.
Denny J.A. (ed.). Menegakkan
Demokrasi. Jakarta :
Yayasan Studi Indonesia ,
1989.
Easton, David. Kerangka
Kerja Analisa Sistem Politik. Jakarta : Bina Aksara,
1984.
Farchan Bulkin (Pengantar). Analisa
Kekuatan Politik di Indonesia. Jakarta : LP3ES, 1985.
Fauzie Ridjal dan M. Rusli Karim (ed.) Dinamika
Budaya dan Politik dalam Pembangunan.
Yogyakarta : PT Tiara Wacana Yogya, 1991.
Freire, Paulo. Pendidikan
Kaum Tertindas. Jakarta : LP3ES, 1985.
Hariyadhie. Perspektif
Gerakan Mahasiswa 1978. Jakarta : PT Golden
Terayon Press, 1997.
Heru Cahyono. Pangkopkamtib
Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974. Jakarta :
Pustaka Sinar Harapan, 1998.
Ibnu Hammad (ed.) Membangun
Kemandirian Indonesia
dari Peng-galian Nilai Menuju Penataan Kelembagaan. Jakarta : Forum
Dialog Indonesia ,
1995.
Icksan, M. Achmad. Mahasiswa
dan Kebebasan Akademik. Malang : YP2LPM, 1985.
Imron Nasri. Mahasiswa
dan Masa Depan Politik Indonesia.
Yogya-karta: Pustaka Pelajar, 1993.
Muhammad Amien Rais. Demokrasi dan Proses Politik. Jakarta : LP3ES, 1986.
Muhammad Rusli Karim. Peranan
ABRI dalam Politik. Jakarta :
CV Mas-agung, 1989.
Raillon, Francois. Politik
dan Ideologi Mahasiswa Indonesia. Jakarta : LP3ES, 1985.
Ridwan Saidi. Mahasiswa
dan Lingkaran Politik. Jakarta : LPMI, 1989.
Riza Noer Afni. Demokrasi
Indonesia
Kontemporer. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1996.
Sarlito Wirawan Sarwono. Perbedaan
antara Pemimpin dan Aktivis dalam Gerakan Protes Mahasiswa. Jakarta :
Bulan Bintang, 1978.
Shils, Edward. Etika
Akademis. Jakarta :
Yayasan Obor Indonesia ,
1993.
Siregar, Amir Effendi. Pers
Mahasiswa Indonesia
Patah Tumbuh Hilang Berganti. Jakarta : PT Karya
Unipress, 1983.
Sjahrir. Ekonomi Politik Kebutuhan Pokok Sebuah Tinjauan Pros-pektif. Jakarta :
LP3ES, 1986.
Soedjatmoko. Dimensi Manusia dalam Pembangunan.
Jakarta :
LP3ES, 1983.
Soedjatmoko. Etika
Pembebasan. Jakarta : LP3ES, 1984.
Soe Hok Gie. Catatan
Seorang Demonstran. Jakarta : LP3ES, 1983.
Tanja, Victor. Himpunan
Mahasiswa Islam Sejarah dan Kedudukan-nya di Tengah Gerakan Muslim Pembaharu di
Indonesia. Jakarta : Penerbit Sinar Harapan, 1982.
Tanter, Richard dan Kenneth Young. Politik
Kelas Menengah Indonesia Jakarta :
LP3ES, 1993.
Wiratmo Soekito (Pengantar).Cendekiawan dan Politik. Jakarta : LP3ES, 1983.
Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim (ed.). Bahasa
dan Kekuasaan Politik Wacana di Panggung
Orde Baru. Bandung : Penerbit Mizan, 1996.
(Subagio
S. Waluyo)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar