Sabtu, 27 Agustus 2016

All You Need Is Love (23)

  Bahan Pendidikan Politik 



ANALISIS GERAKAN MAHASISWA INDONESIA

DARI ORDE BARU SAMPAI REFORMASI

Subagio S.Waluyo



1.0 PENGANTAR

Masalah mahasiswa adalah masalah yang tidak pernah akan selesai dan bosan-bosannya untuk dibicarakan.  Masalah yang satu ini sesuai dengan kepribadian mahasiswa sebagai pemuda belia yang penuh de-ngan idealisme, enerjik, stamina yang stabil, dan pikiran-pikiran yang cemerlang.  Karena mahasiswa memiliki itu semua, wajarlah jika maha-siswa adalah orang-orang muda yang mencari “kebenaran.”  Apabila “kebenaran” tidak diperoleh, sesuai dengan karakternya ia akan mela-kukan setiap hal yang menurutnya layak untuk dilakukan.


·         Dalam rangka mencari dan menegakkan “kebenaran,” mahasiswa di mana pun ia berada selalu melakukan hal yang sama, yaitu melalui gerakan.  Gerakan mahasiswa, baik gerakan yang tertib maupun yang penuh huru-hara, selalu mengundang kehati-hatian, kecurigaan, dan kewaspadaan pihak-pihak tertentu (terutama pihak-pihak yang tidak menyukai gerakan mereka).
·         Gerakan mahasiswa mulai diperhitungkan setelah mereka berhasil menumbangkan Rezim Orde Lama (1966) dan meletusnya Peristiwa Malari (1974) yang banyak menelan korban, baik mahasiswa, pengu-asa, maupun masyarakat banyak.  Setelah itu gerakan mahasiswa yang berupa demonstrasi meskipun masih ada, namun tidak sebesar kedua peristiwa tersebut.
·         Kondisi kampus yang kerap kali bergolak oleh demonstrasi mahasiswa mengundang pihak penguasa untuk menertibkan dan menormalisasi-kannya.  Kebijakan pemerintah ini yang kemudian dikenal dengan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK).  Bersamaan dengan diberlaku-kannya NKK lembaga-lembaga kemahasiswaan, seperti Dewan Maha-siswa (DM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) dibeku-kan yang kemudian diganti dengan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK).  Kehadiran NKK/BKK di kampus-kampus tentu saja mengun-dang maraknya  berbagai demonstrasi di kota-kota yang memiliki per-guruan tinggi karena NKK/BKK dianggap sebagai sistem yang mema-tikan gerakan mahasiswa.
·         Sejak diterapkannya NKK/BKK di kampus-kampus, gerakan maha-siswa mengalami stagnasi.  Kampus tidak lagi dijadikan sebagai lem-baga yang mendidik mahasiswa peka terhadap lingkungan sekitarnya.  Mereka telah menjadi cendikiawan muda yang apolitis karena tindakan depolitisasi penguasa yang berlebihan terhadap para intelektual muda itu.  Seandainya di masa-masa itu ada gerakan mahasiswa, gerakan itu lebih bersifat sektoral, seperti unjuk rasa mahasiswa terhadap kasus Kedung Ombo. Sebagai kompensasi dari kekecewaanya, mahasiswa-mahasiswa yang kritis, yang masih terpelihara idealismenya, memasuki berbagai aktivitas yang berada di luar kampus (eksternal), seperti Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Kelompok-kelompok Studi Mahasiswa (KSM).  Di kemudian hari LSM/KSM yang menjamur di masa-masa tersebut banyak berperan dalam melakukan gerakan keprihatinan.
·         Memasuki era `90-an ada titik cerah dengan bergolaknya kembali gerakan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.  Secara simultan terjadi berbagai aksi keprihatinan yang dilakukan oleh para mahasiswa.  Aksi-aksi yang dilakukan saat ini tidak lagi bersifat sektoral, melainkan sudah universal, di antaranya tentang reformasi di segala bidang (ter-utama reformasi ekonomi dan politik).  Yang menarik dari gerakan mahasiswa saat ini adalah keterlibatan beberapa petinggi kampus dan pengajar.  Adakah ini suatu pertanda akan kembalinya mahasiswa sebagai moral force dan social change setelah sekian lama mereka dininakbobokan oleh penguasa yang menghendaki status quo?  Apakah menara gading itu telah mencair setelah sekian lama berdiri dengan angkuhnya? Apakah sejarah akan berulang kembali sebagaimana Rezim Soekarno dulu ditumbangkan? Wallahu`alam bissawab. 
               
2.0 TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

·         Peserta memahami sejarah, faktor pendukung, dan karakteristik gerakan mahasiswa dari Orde Baru sampai dengan Reformasi.

3.0 TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

·         Menguraikan sejarah gerakan mahasiswa dari Orde Baru sampai dengan Reformasi.
·         Menelusuri perkembangan sejarah gerakan mahasiswa dari Orde Baru sampai dengan Reformasi.
·         Menganalisis faktor pendukung gerakan mahasiswa di setiap angkat-an (`66, `74, `78, dan `80-an).
·         Membedakan faktor pendukung gerakan mahasiswa di setiap angkatan
·         Menganalisis karakteristik gerakan mahasiswa di setiap angkatan.
·         Membedakan karakteristik gerakan mahasiswa di setiap angkatan.
·         Mengelompokkan karakteristik gerakan mahasiswa di setiap angkatan.  berdasarkan tempat terjadinya  gerakan tersebut.
·         Mendiskusikan yang menjadi faktor pendukung gerakan mahasiswa yang menuntut adanya reformasi di negara ini.
·         Mendiskusikan karakteristik pendukung gerakan mahasiswa yang menuntut  reformasi.
·         Membuat prediksi seandainya gerakan mahasiswa yang menuntut reformasi mengalami kegagalan.
·         Membuat prediksi seandainya gerakan mahasiswa yang menuntut reformasi memperoleh keberhasilan.

4.0 URAIAN MATERI

Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia dari Orde Baru sampai Reformasi:
·         
   Selama Indonesia merdeka baru pertama kali gerakan mahasiswa Indonesia memperoleh keberhasilan, yaitu yang terjadi pada tahun 1966.  Pada waktu itu gerakan mahasiswa Indonesia berhasil menum-bangkan Rezim Orde Lama di bawah pemerintahan Soekarno yang  pada waktu itu menurut penilaian mereka telah jauh menyimpang dari Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila.  Mereka dalam berbagai aksinya mengajukan tiga tuntutan yang kemudian dikenal dengan Tritura, yaitu (1) Bubarkan PKI; (2) Retool Kabinet; dan (3) Turunkan  harga.  Keberhasilan gerakan mereka terbukti dengan bergantinya tampuk pemerintahan dari Soekarno kepada Soeharto. 

·  Setelah Rezim Orde Lama tumbang bukan berarti berhenti pula aksi-aksi mahasiswa, justeru mulai saat itu sampai tahun 1974 berbagai demonstrasi marak di mana-mana.  Secara simultan kota-kota yang memiliki perguruan tinggi mengadakan aksi serupa karena masa itu adalah masa pembentukan dan konsolidasi terhadap Orde Baru.  Memang dengan lahirnya Orde Baru terjadi suatu perubahan orientasi yang luar biasa di berbagai bidang, baik bidang idiologi, politik, eko-nomi, sosial, maupun budaya, namun timbul berbagai masalah baru yang memprihatinkan, seperti merajalelanya korupsi dan hasil pem-bangunan yang hanya bisa dinikmati oleh lapisan kecil masyarakat.  Untuk itu, muncullah kembali berbagai gerakan mahasiswa yang men-capai puncaknya ketika meletusnya Peristiwa Malari pada tahun 1974. 
·       
    Kurun waktu selama 1974--1978 kampus-kampus di Indonesia tidak sepi dari demontrasi mahasiswa.  Boleh dikatakan `tiada hari tanpa de-monstrasi` karena terlampau seringnya demonstrasi (meskipun disinyalir oleh salah seorang pejabat negara pada waktu itu bahwa kehidupan kampus menjadi apatis). Yang mengherankan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada waktu itu, dr. Syarief Thayeb, menerapkan SK 028 sebagai “tempurung” untuk mengurung gerakan mahasiswa agar ge-rakan mahasiswa berkisar di seputar kampus saja, tetapi SK 028 tersebut dijawab oleh mahasiswa dengan melakukan aksi turun ke jalan. Pada akhirnya, untuk menghentikan berbagai gerakan maha-siswa itu, pemerintah melalui ABRI terpaksa melakukan tindakan keke-rasan dengan menyerbu kampus-kampus yang diduga selama ini merupakan pusat-pusat gerakan kemahasiswaan.  Dengan cara yang tidak manusiawi mereka masuk kampus dan menangkapi pimpinan-pimpinan mahasiswa yang ditengarai sebagai pimpinan gerakan maha-siswa.  Menteri P dan K dalam salah satu pernyataannya mengatakan ada sekitar tujuh puluh pimpinan mahasiswa yang terpaksa dimeja-hijaukan.  Setelah penyerbuan dan penangkapan besar-besaran terse-but gerakan-gerakan mahasiswa mengalami kelesuan yang kemudian berakhir dengan pemberangusan DM/MPM di setiap perguruan dan sebagai gantinya pemerintah memberlakukan NKK/BKK.
·        
     Memasuki era `80-an bukan berarti kampus benar-benar mati dari aksi-aksi unjuk rasa meskipun pada waktu itu pemerintah demikian ketatnya mengontrol aktivitas mahasiswa di kampus-kampus.  Berbagai aksi atau unjuk rasa keprihatinan memang masih ada, tetapi tidak bersifat simultan.  Artinya, hanya beberapa kampus yang masih aktif melaku-kannya.  Seandainya ada unjuk rasa, bentuk kegiatannya tidak sebesar sebelum masa itu karena mahasiswa yang kritis dan masih memiliki idealis lebih memilih aktif di luar kampus, baik ke Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun ke Kelompok-kelompok Studi Mahasiswa (KSM).  LSM-LSM yang mereka masuki terbagi dalam dua golongan, yaitu LSM bermasalah dan LSM tidak bermasalah.  LSM yang bermasalah inilah yang di kemudian hari banyak membuat “PR” pemerintah karena terlampau seringnya mereka menjadi inspirator dan motivator beberapa aksi yang dilakukan, baik oleh mahasiswa maupun bukan mahasiswa (aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para buruh misalnya).  Puncaknya terjadi ketika pada tanggal 27 Juli 1996 di Jakarta, mereka (para mahasiswa aktifis LSM dan masyarakat umum simpatisan PDI Pro-Mega) melakukan unjuk rasa yang berakhir dengan keonaran.  Peristiwa tersebut dikenal kemudian dengan Peristiwa 27 Juli.
·        
       Memasuki tahun 1990 ada angin segar yang berhembus dari Kepmen 0457/1990, yaitu tidak diberlakukannya lagi konsep NKK/BKK sebagai gantinya dibentuklah Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) yang kedudukannya sama dengan DM (sebelum NKK/BKK).  Meskipun pemerintah sudah “berbaik hati” dengan memberlakukan kepmen ter-sebut, masih banyak juga perguruan tinggi yang masih mencurigainya karena keberadaan SMPT, menurut mereka, menjadi instrumen dari meanstream jargon massa mengambang Orde Baru.  Hal ini terbukti sampai saat ini masih ada perguruan tinggi yang tidak mau menerima kehadiran SMPT (ITB misalnya).  Memang keberadaan SMPT diakui atau tidak belum bisa menyamai DM, namun dengan adanya SMPT para aktivis kampus mulai berpikir untuk menghadirkan kembali ba-yang-bayang DM ketika masih jaya-jayanya dulu.  Salah satu aktivitas yang tampaknya mulai seragam dilakukan di setiap kampus adalah adanya berbagai aksi yang tidak lagi berwarna lokal, melainkan sudah menjurus universal yang saat ini mereka sama-sama menyuarakan reformasi di segala bidang.  Akankah gerakan mahasiswa dengan reformasinya akan membuahkan hasil sebagaimana dulu para pen-dahulu mereka (aktivis `66) telah berhasil menumbangkan rezim Orde Lama?  Bukankah mereka adalah korban pendidikan apolitis karena pemerintah yang telah mendepolitisasi para anak didiknya?  Tetapi, mengapa mereka (produk pendidikan yang apolitis) saat ini demikian bersemangatnya memperjuangkan reformasi di saat-saat negara dalam kondisi dilibat oleh berbagai krisis ini?  Mudah-mudahan sejarah akan berulang kembali seperti 32 tahun lalu atau sebelumnya ketika pemu-da-pemuda Indonesia mengukir sejarah di negara ini.                                     

Faktor-faktor pendukung gerakan mahasiswa Indonesia
·         Angkatan `66:
1.    kelompok militer yang berkuasa pada waktu itu menganggap mahasiswa sebagai partnership sehingga mereka memberikan kesempatan kepada kesatuan-kesatuan aksi yang pada waktu itu banyak bermunculan (KAMI, KAPPI, KASI, dan sebagainya);
2.    berbagai ormas besar, baik yang dari ormas-ormas Islam, se-perti NU, Muhammadiyah, HMI,dan PII,non-Islam,seperti PMKRI dan GMKI, maupun yang nasionalis seperti Imada dan SOMAL; 
3.    dukungan dari beberapa pengajar di perguruan tinggi yang dalam kuliah-kuliahnya mengecam pemerintahan Soekarno;
dan
4. situasi dan kondisinya pada waktu itu sangat mendukung, yaitu membumbungnya harga-harga sehingga banyak kebutuhan po-kok yang tidak terjangkau oleh rakyat banyak (inflansi sampai 600%), trauma Peristiwa Pemberontakan G30S/PKI yang mele-tus pada tanggal 30 September 1965 di Jakarta (Gestapu PKI) masih melekat di benak rakyat, dan ditambah lagi dengan sikap arogannya Presiden Soekarno yang mengangkat sampai 100 orang menteri sehingga kondisi demikian dimanfaatkan  oleh para mahasiswa dan elit militer saat itu dengan slogannya: “tiga tuntutan rakyat” atau  Tritura. 

·         Angkatan  `74:
1. gerakan mahasiswa tidak seperti Angkatan `66 yang memper-oleh dukungan dari elit militer, kali ini meskipun telah terjadi perang bintang (Soemitro versus Ali Moertopo) ternyata sebagi-an besar kalangan ABRI lebih memihak pada kepemimpinan Presiden Soeharto;
2.    kehadiran surat kabar yang dibidani oleh aktivis KAMI (Rahman Tolleng cs.) seperti Mahasiswa Indonesia banyak memberikan dukungan, baik dari segi moral maupun materi karena tidak sedikit dana untuk melakukan berbagai aksi dibiayai oleh surat kabar tersebut;
3. banyaknya surat kabar dan majalah yang dibredel oleh pemerin-tah merupakan pemihakan pihak pers terhadap gerakan maha-siswa waktu itu (termasuk surat kabar Mahasiswa Indonesia yang saat itu sedang jaya-jayanya); dan
4. maraknya demonstrasi yang dilakukan ummat Islam (terutama yang menyangkut masalah Undang-Undang Perkawinan)  mem-berikan daya dorong tersendiri bagi mahasiswa Muslim untuk melakukan unjuk rasa. 



·         Angkatan  `78:
1.    gerakan mahasiswa pada tahun 1978 merupakan kekuatan yang mandiri, yang tidak memberi kesempatan beraliansi dengan kekuatan masyarakat luar, khususnya elit militer;
2.    seandainya ada dukungan, dukungan tersebut lebih bersifat per-nyataan-pernyataan saja yang sifatnya tendensius yang pada akhirnya para jenderal, seperti AH Nasution, HR Dharsono, Ali Sadikin, dan Kemal Idris terkena dampaknya (dari kalangan elit militer).  Sedangkan dukungan yang datanganya dari kalangan cendikiawan dan budayawan hanya empat belas orang, seperti Mochtar Lubis, WS Rendra, Ismail Suny, dan Adnan Buyung Nasution;   
3.    meskipun tidak ada dukungan dari elit militer, beberapa ormas Islam yang ada pada waktu itu secara tidak langsung turut memberi dukungan terutama pada para mahasiswa Islam yang sama-sama tidak setuju dengan masuknya Aliran Kepercayaan ke dalam GBHN; dan
4.  NKK/BKK memang pada akhirnya dengan sangat terpaksa dite-rapkan juga, namun bukan berarti hal itu tidak mendapat perha-tian dari anggota-anggota fraksi yang ada di DPR sebagai con-toh di sini upaya anggota DPR dari Fraksi PDI yang meminta pencabutan SK Mendikbud  tentang pelaksanaan NKK/BKK.

·         Angkatan `80-an:
1. mahasiswa-mahasiswa yang banyak melakukan aktivitas di ber-bagai LSM/KSM banyak mendapat dukungan dari tempat mere-ka aktif selama ini, bahkan karena demikian rapinya jaringan kerja LSM/KSM tersebut  mereka juga mendapat dukungan dari LSM/KSM, baik yang ada di dalam maupun di luar negeri;    
2. beberapa aktivis `66 yang masih terpelihara idealisnya (seperti Arief Budiman) banyak mendukung gerakan mereka di kampus-kampus meskipun gerakan mereka lebih bersifat sektoral;
3.   selain aktivis `66 juga masih banyak juga pendukung dari luar kampus, terutama dari pimpinan ormas yang banyak memberi-kan inspirasi dan motivasi pada aktivis kampus (dari Muhamma-diyah: Amien Rais dan dari NU: Abdurrachman Wahid);
4.   sikap pemerintah yang terlampau curiga terhadap  ummat Islam dengan membatasi ruang gerak ormas-ormas Islam (salah satu di antaranya pemaksaan terhadap ormas-ormas Islam untuk menerima Azas Tunggal), bahkan yang lebih menyakitkan lagi meletusnya Peristiwa Tanjung Priok (1984) secara tidak lang-sung menumbuhkan kesadaran baru buat generasi muda Islam bahwa masih adanya ancaman dari pihak luar yang memang tidak suka dengan eksistensi umat Islam di negara ini; dan
5.    berbagai peristiwa  yang menimpa masyarakat kecil, seperti penggusuran rumah-rumah penduduk dan pem-PHK-an buruh-buruh pabrik merupakan dukungan tersendiri bagi gerakan mahasiswa pada waktu itu. 

Karakteristik gerakan mahasiswa Indonesia
·         Angkatan `66:
1.    memiliki konstelasi politik dan partnership yang kental dengan kalangan elit militer karena ABRI pada waktu itu bertentangan keras dengan PKI dalam merebut kekuasaan negeri ini; dan
2.  gerakan mahasiswa pada waktu itu lebih merupakan kepanjang-an dari suatu konflik yang sebelumnya telah terjadi, yaitu ber-sumber dari pertentangan ideologi di tubuh ABRI yang pada akhirnya menyeret mahasiswa ikut terlibat dalam gerakan. 


·         Angkatan `74:
1.    banyak aktivis `66 yang direkrut oleh Pemerintahan Orde Baru, baik yang direkrut ke lembaga eksekutif maupun legislatif (waktu itu DPRGR) yang justeru memperlemah kedudukan aktivis gerakan mahasiswa selanjutnya karena mereka yang direkrut seolah-olah telah tidak mau tahu dengan perkembangan terakhir yang ada di sekitarnya;
2.  adanya perasaan di kalangan aktivis atau pemimpin gerakan bahwa mereka sama dengan angkatan yang terdahulu, maksud-nya Angkatan `66, sehingga mereka yang terinspirasi  fenomena Angkatan `66 merasa sanggup untuk melakukan aksinya;
3.  selama melakukan aksinya  mereka tidak menyadari bahwa ak-sinya ditunggangi pihak lain (sebagai bukti ketika Hariman Siregar memerintahkan massanya untuk bergerak ke Halim ter-nyata massa GUPPI, tukang-tukang becak, dan preman-preman Kramat atas suruhan OPSUS justeru ke arah Senen); dan
4.  di dalam tubuh kepemimpinan mahasiswa sendiri ada friksi-friksi yang memang sengaja dibentuk oleh pihak penguasa yang tujuannya untuk menghancurkan lembaga kemahasiswaan dari dalam (kasus terbentuknya Kelompok 10 yang dimotori oleh sepuluh orang fungsionaris DMUI).    

·         Angkatan `78:
1.    sangat sarat dengan bobot politik karena memberikan koreksi menyeluruh terhadap jalannya Orde Baru;
2. Gerakan massa yang secara potensial “mengancam” keduduk-an kepemimpinan Orde Baru karena mempersoalkan pertang-gungjawaban kepemimpinan nasional; dan
3.    sikap pimpinan mahasiswa yang tidak mau beraliansi dengan ormas-ormas Islam dalam melakukan aksi-aksinya merupakan sikap yang keliru karena dalam waktu bersamaan ormas-ormas Islam juga memiliki kepentingan yang sama, di antaranya menolak masuknya Aliran Kepercayaan ke dalam GBHN (mereka lebih percaya pada para cendikiawan atau budayawan yang menyuarakan aspirasi mereka).

·         Angkatan `80-an:
1.   akibat dari depolitisasi pihak penguasa terhadap mahasiswa menjadikan mahasiswa apolitis sehingga mereka hanya berke-inginan menyelesaikan kuliah tepat waktu dan memperoleh hidup yang serba berkecukupan (kemapanan);
2.    langkanya mahasiswa yang idealis dan kritis sehingga kebebas-an mimbar tidak berfungsi lagi karena mereka yang idealis dan kritis lebih memilih aktif di luar (LSM/KSM) daripada di kampus;
3.  menggejalanya kehidupan kampus yang serba kebarat-baratan, seperti hedonisme, serba permisif, dan merajalelanya seks be-bas di kalangan sivitas akademika sehingga wajarlah kalau kehidupan mereka berkisar di antara buku, pesta, dan cinta; dan
4.  yang sangat menggembirakan, ini di luar kehendak manusia, dengan adanya NKK/BKK ternyata tumbuh dengan pesat aktivi-tas Lembaga Dakwah Kampus (LDK) sehingga dalam waktu yang relatif cepat banyaknya wanita berjilbab dan mahasiswa Muslim yang tidak sungkan-sungkan menunjukkan  ke-Islaman-nya (buat angkatan terdahulu sangatlah musykil kalau ada mahasiswa yang minta izin untuk sekedar sholat saja).    


5.0 DISKUSI

Peserta dibagi empat kelompok.  Setiap kelompok membahas satu masa-lah untuk didiskusikan selama lebih kurang 30 menit. Hasil diskusi tersebut dipresentasikan oleh setiap kelompok (setiap kelompok diberi waktu untuk mempresentasikan hasil diskusinya selama lebih kurang 10 menit).
Adapun masalah yang didiskusikan adalah:
·         faktor pendukung gerakan mahasiswa yang mendukung reformasi di negara ini;
·         karakteristik pendukung gerakan mahasiswa yang menuntut adanya reformasi;
·  memprediksikan yang akan terjadi seandainya gerakan mahasiswa saat ini mengalami kegagalan; dan
·      memprediksikan yang akan terjadi seandainya gerakan mahasiswa memperoleh keberhasilan.

6.0 BACAAN ANJURAN


Arbi Sanit.  Sistem Politik Indonesia Kestabilan Peta Kekuatan Politik dan  Pembangunan.  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1981.

Budi Santoso dan A. Made Tony Supriatma. ABRI Siasat Kebudayaan 1945-1995. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1995.

Denny J.A., Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an. Jakarta: Penerbit Miswar, 1990.

Denny J.A.(ed.). Kesaksian Kaum Muda. Jakarta: Yayasan Studi Indone-sia, 1988.

Denny J.A. (ed.).  Menegakkan Demokrasi.  Jakarta: Yayasan Studi Indonesia, 1989.

Easton, David.  Kerangka Kerja Analisa Sistem Politik.  Jakarta: Bina Aksara, 1984.

Farchan Bulkin (Pengantar).  Analisa Kekuatan Politik di Indonesia.  Jakarta: LP3ES, 1985.

Fauzie Ridjal dan M. Rusli Karim (ed.)  Dinamika Budaya dan Politik dalam Pembangunan.  Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1991. 

Freire, Paulo.  Pendidikan Kaum Tertindas.  Jakarta: LP3ES, 1985.

Hariyadhie.  Perspektif Gerakan Mahasiswa 1978.  Jakarta: PT Golden Terayon Press, 1997.

Heru Cahyono.  Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974.  Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998.

Ibnu Hammad (ed.)  Membangun Kemandirian Indonesia dari Peng-galian Nilai Menuju Penataan Kelembagaan.  Jakarta: Forum Dialog Indonesia, 1995. 

Icksan, M. Achmad.  Mahasiswa dan Kebebasan Akademik.  Malang: YP2LPM, 1985.

Imron Nasri.  Mahasiswa dan Masa Depan Politik Indonesia.  Yogya-karta: Pustaka Pelajar, 1993.  

Muhammad Amien Rais. Demokrasi dan Proses Politik. Jakarta: LP3ES, 1986.

Muhammad Rusli Karim.  Peranan ABRI dalam Politik. Jakarta: CV Mas-agung, 1989.

Raillon, Francois.  Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia.  Jakarta: LP3ES, 1985.

Ridwan Saidi.  Mahasiswa dan Lingkaran Politik.  Jakarta: LPMI, 1989.

Riza Noer Afni.  Demokrasi Indonesia Kontemporer.  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996.

Sarlito Wirawan Sarwono.  Perbedaan antara Pemimpin dan Aktivis dalam Gerakan Protes Mahasiswa.  Jakarta: Bulan Bintang, 1978.

Shils, Edward.  Etika Akademis.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1993.

Siregar, Amir Effendi.  Pers Mahasiswa Indonesia Patah Tumbuh Hilang Berganti.  Jakarta: PT Karya Unipress, 1983.

Sjahrir. Ekonomi Politik Kebutuhan Pokok Sebuah Tinjauan Pros-pektif.  Jakarta: LP3ES, 1986.

Soedjatmoko. Dimensi Manusia dalam Pembangunan.  Jakarta: LP3ES, 1983.

Soedjatmoko.  Etika Pembebasan.  Jakarta: LP3ES, 1984.

Soe Hok Gie.  Catatan Seorang Demonstran.  Jakarta: LP3ES, 1983.

Tanja, Victor.  Himpunan Mahasiswa Islam Sejarah dan Kedudukan-nya di Tengah Gerakan Muslim Pembaharu di Indonesia.  Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1982.

Tanter, Richard dan Kenneth Young.  Politik Kelas Menengah Indonesia  Jakarta: LP3ES, 1993.

Wiratmo Soekito (Pengantar).Cendekiawan dan Politik. Jakarta: LP3ES, 1983.

Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim (ed.).  Bahasa dan Kekuasaan Politik Wacana di  Panggung Orde Baru.  Bandung: Penerbit Mizan, 1996.



(Subagio S. Waluyo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...