MENULIS
SAMPAI KE LIANG LAHAT
Subagio S.Waluyo
/a/
Orang
menulis sama seperti orang menuntut ilmu/belajar, yaitu sama-sama sampai ke
liang lahat. Bedanya, menuntut ilmu/belajar dari buaian (lahir). Sedangkan
menulis dimulai dari orang bisa membaca yang diteruskan dengan bisa menulis. Jadi, kalau di usia kelas I SD anak sudah
bisa membaca dan menulis, nah di usia itulah harus ada keinginan untuk menulis
sampai ke liang lahat. Kenapa sampai liang lahat? Ya, sampai liang lahat karena
ada orang yang mati muda, ada yang mati setengah tua, dan ada juga yang mati
tua. Kalau dikatakan menulis sampai tua, tiba-tiba belum sampai tua sudah
wafat, gimana? Berarti benar `kan hanya sampai liang lahat?
/b/
Kalau
sudah punya niat mau jadi penulis, jangan sampai mundur dari niat tersebut.
Sekarang persiapkan diri untuk mulai menulis. Modal utamanya harus punya tekad
kuat.Penulis-penulis tua seperti Goenawan Mochamad masih aktif menulis walaupun
lebih banyak menulis di Majalah Tempo terutama di Catatan Pinggir. Di kolom itu
tidak boleh ada orang lain yang menulis karena akan terasa hambar jika bukan
Goenawan yang mengisi kolom itu. Mochtar Loebis sampai menjelang wafatnya masih
tetap menulis. Dari tangan beliau lahir puluhan karya-karya fiksi dan nonfiksi.
Ada penulis muda, ibu rumah tangga, yang menulis sejak awal tahun 2000-an
menulis karya-karya fiksi dan nonfiksi sampai lima puluh judul. Dalam rentang
waktu sepuluh tahun menghasilkan karya sebanyak itu. Setiap tahun paling tidak
ada lima buku yang ditulis. Sebuah prestasi luar biasa. Kalau mau didata bisa
puluhan bahkan ratusan penulis di Indonesia. Tidak semua penulis zaman kiwari
di Indonesia menulis dengan komputer atau laptop atau notebook. Sebagian
penulis masih bertahan menulis dengan bantuan mesin. Penulis seperti Remy
Silado, sampai sekarang masih menulis dengan mesin tik. Di samping memang
gaptek, Remy merasa lebih pas jika harus menggunakan mesin tik. Tidak perlu
dipermasalahkan dengan apa mereka menulis. Tetapi yang perlu kita jadikan
motivasi untuk tetap bertekad menulis adalah semangat mereka yang tidak pernah padam
menggeluti dunia penulisan.
Jika
ditilik dari latar belakangnya, Mochtar Loebis dan Goenawan Mochamad keduanya
selain sastrawan juga wartawan. Tidak aneh kalau dalam novel-novel Mochtar
Loebis lebih merupakan sebuah hasil reportase daripada sebuah karya fiksi yang
sarat dengan imajinasi. Sementara itu, Goenawan Mochamad walaupun seorang
wartawan lebih cenderung menulis puisi dan esei. Jauh sebelum mereka menulis
karya-karyanya ada seorang ulama besar yang juga sastrawan yang mulai menulis
di tahun-tahun `20-an. Orang mengenalnya sebagai Buya Hamka (Allah ya arham)
walaupun nama aslinya sebenarnya Abdul Malik Karim Amrullah Beliau sendiri yang
menulis namanya Hamka. Karena dikenal
sebagai ulama dari Sumatra Barat, akhirnya orang memberikan embel-embel di
depannya Buya, yaitu sebutan seorang ustadz atau ulama. Sejak itu beliau lebih
dikenal sebagai Buya Hamka. Ratusan karya
baik fiksi maupun nonfiksi lahir dari tangannya. Banyak juga tulisannya
yang tersebar di berbagai majalah Islam yang terbit sejak di masa-masa
penjajahan sampai menjelang beliau wafat, yaitu tahun 80-an. Novelnya yang
cukup terkenal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck baru-baru ini diangkat ke layar
perak (difilmkan). Karya beliau yang monumental adalah Tafsir Al-Azhar sebanyak
30 juz. Untuk ukuran Indonesia kemungkinan besar belum ada penulis seproduktif
beliau. Perlu juga diketahui, selain sebagai sastrawan dan ulama, beliau pernah
terjun di dunia politik di masa penjajahan, yaitu di Serikat Islam pada tahun
1925. Pada Pemilu pertama tahun 1955 beliau terpilih sebagai anggota dewan
konstituante dari Partai Masyumi. Dengan demikian, Buya Hamka bukan hanya penulis, tetapi juga sastrawan dan tokoh
politik di negara ini.
/c/
Di
luar sana, maksudnya di belahan dunia lain, begitu banyak penulis dunia yang
sampai saat ini masih aktif menulis. Di Inggris, Agatha Christie penulis
novel-novel detektif sampai dengan tahun 2003 buku-bukunya telah terjual
sebanyak 1 miliar eksemplar dalam bahasa Inggris dan 1 miliar eksemplar lagi
dalam 45 bahasa. Di Prancis saja buku-buku beliau terjual sampai 40 juta
eksemplar. Jumlah tersebut mengalahkan penulis sainganya Emile Zola (penulis
Prancis) yang karya-karyanya terjual 20 juta eksemplar. Agatha Christie menulis lebih dari 80 novel
dan sandiwara teater yang semuanya bercerita tentang dunia kriminal atau
detektif. Beberapa penulis dunia lain
yang sampai saat ini masih aktif sebut saja J.K. Rowling penulis
novel-novel Harry Potter yang sebagian besar karyanya telah difilmkan, pada
mulanya menulis karena desakan ekonomi. Saking miskinnya, penulis wanita ini
menulis di lembaran-lembaran tisu. Penerbit-penerbit banyak yang menolak hasil
tulisannya yang ditulis di lembaran-lembaran tisu. Tekad yang kuat untuk tetap
menulis disertai dorongan karena kemiskinan membawakan hasil. Belakangan
penerbit-penerbit tersebut mau menerima hasil karya-karyanya. Begitu
karya-karyanya melejit di pasaran berebutan penerbit ingin menerbitkan
buku-bukunya. Lagi-lagi prestasi ini diukir oleh seorang wanita generasi
penerus sepeninggal Agatha Christie. Bedanya, jika Agatha Christie lebih
konsens di dunia penulisan novel-novel detektif sedangkan J.K. Rowling di dunia
penulisan novel-novel sihir.
/d/
Penulis-penulis
besar baik penulis lokal (dalam negeri) maupun mancanegara tidak lahir tanpa
adanya tekad yang kuat untuk tetap menulis. Buat mereka tidak ada mantan
penulis. Seandainya, ada di antara mereka yang sempat berhenti menulis, pada
kesempatan berikutnya langsung `ngebut` mengejar target untuk mengisi
kekosongan selama berhenti menulis. Memang, tidak sedikit di antara mereka yang
menulis karena adanya kesibukan yang dinilai lebih menguntungkan. Tetapi,
penulis sejati tidak pernah berhenti untuk
memberikan yang terbaik pada pembacanya, yaitu tulisan yang berbobot.
Untuk itu, jadilah penulis sejati yang tidak akan berhenti menulis walaupun
sempat ditolak redaksi atau penerbit tulisan-tulisannya. Seandainya, media
cetak tidak berkenan memuat tulisan-tulisannya, masih ada ruang buat penulis
melalui media seperti blogspot atau website. Artinya, tulisan-tulisan yang
ditulis sendiri bisa diedit sendiri dan dimuat sendiri kapanpun dan di manapun
walaupun tidak ada honor untuk itu. Tapi, yakinlah bahwa suatu saat akan ada
penerbit yang melirik dan tertaribk untuk menerbitkannya. Bukankah di zaman
kiwari ini orang yang rajin ber-tweet-tweet di twitter saja ada penerbit yang
berminat menerbitkannya? Mau? Cobalah!
Mantab om Subagyo
BalasHapus