Rabu, 16 Oktober 2013

All You Need Is Love (02)

DENGAN CINTA GURU ITU MENGAJAR


Ustadz M. Anis Mata dalam Delapan Air Mata Kecemerlangan , (2009:193) menulis "Tidak ada kebaikan yang dapat kita semaikan di tengah masyarakat, kecuali apabila kita memulai persentuhan kita dengan lingkungan sosial di mana kita berada dengan cinta. Cinta adalah energi jiwa yang dahsyat, yang bukan saja menjadi rahim yang melahirkan keharmonisan dalam rumah tangga, tempat kerja, dan organisasi, tetapi juga dalam masyarakat, bahkan bangsa dan kemanusiaan."
 Jadi, cinta harus dijadikan landasan seseorang untuk melakukan kebaikan. Coba perhatikan karikatur di atas seorang guru di tengah-tengah muridnya, kita yakin guru tersebut mengajar dengan cinta. Sebagai bukti bahwa guru tersebut mengajar dengan cinta,coba lihat raut wajahnya. Senyumnya kita yakin tidak pernah lepas dari wajahnya. Guru tersebut tampaknya sedang membacakan buku cerita. Murid-muridnya di sekitarnya tampaknya mendengarkannya dengan khusyu`. Kalau saja di negara kita gambaran Sang Guru di karikatur tersebut menjadi kenyataan dalam kehidupan kita sehari-hari di Indonesia, alangkah indahnya hidup ini. 

Di sebuah sekolah seorang guru mengajak murid-muridnya ke ruang belajar yang penuh dengan alat permainan. Hari itu Sang Guru (perempuan) mengajak murid-muridnya bermain-main dengan balok-balok kayu. Sebelumnya, Sang Guru menunjukkan sebuah gambar. Sang Guru meminta murid-muridnya untuk menyebutkan bagian-bagian dari gambar tersebut. Semua murid mengacungkan tangan dan secara tertib menjawabnya dengan setengah teriak ketika disebutkan namanya. Tidak semua jawaban murid-murid tersebut tepat tetapi Sang Guru tidak pernah mengatakan `Kamu salah`. Sebaliknya, `Kamu hebat atau Kamu Super ` (seperti jawaban yang disampaikan Mario Teguh). Murid-murid yang kurang tepat dalam menjawab pertanyaan Sang Guru tidak pernah terpukul sehingga dia menjadi murid yang inferior (rendah diri). Sang Guru selalu mengembangkan senyumnya. Murid-murid itu pun semua ceria karena mereka memang belajar dengan keceriaan.

Ketika tiba gilirannya mereka harus belajar dengan balok-balok kayu kecil, mereka diminta mengambil balok-balok kayu yang berada di rak-rak dengan tertib. Mereka duduk secara berkelompok.  Setiap kelompok diminta membuat bangunan sesuai dengan gambar yang ditunjukkan Sang Guru. Sambil melihat gambar yang ada di hadapannya mereka mulai mengerjakan perintah Sang Guru. Selama mereka mengerjakannya Sang Guru selalu memberikan motivasi dan bantuan. Akhirnya, bangunan yang mereka susun dari balok-balok kayu kecil itu pun selesai. Sang Guru mengecek hasil pekerjaan mereka satu persatu. Walaupun hasil pekerjaan murid-muridnya ada yang salah tidak ada ucapan yang tidak mengenakkan dari Sang Guru.  Justeru kata-kata pujian dan senyuman itu yang selalu menghias wajahnya. Hasil pekerjan murid-muridnya diabadikan dengan memotonya satu persatu. 

Setelah pekerjaan tersebut selesai, apakah pekerjaan tersebut ditinggal begitu saja oleh murid-muridnya sehingga Sang Guru yang harus memberesinya? Ternyata tidak demikian yang kita duga. Sang Guru bersama-sama dengan murid-muridnya mengajak untuk meletakkan kembali balok-balok kayu kecil itu ke tempat semula. Balok-balok kayu kecil itu ternyata memang sudah diberi nomor. Murid-murid itu meletakkan balok-balok kayu kecil itu sesuai dengan nomornya. Dengan penuh keriangan mereka melaksanakan perintah Sang Guru yang lagi-lagi tidak disertai wajah cemberut. Mereka pun ternyata bisa melaksanakannya sehingga balok-balok kayu kecil itu diletakkan rapi seperti semula. Dalam waktu yang singkat pembelajaran itu bisa terlaksana. Ternya dalam pembelajaran tersebut terbukti Sang Guru telah berhasil mempraktekkan pembelajaran secara holistik (integrasi). Di dalamnya bukan saja mencakup pembelajaran keterampilan motorik halus, tetapi juga mencakup matematika (ketika murid-murid diminta meletakkan balok-balok kayu kecil sesuai dengan nomornya). Selain itu, ada pembelajaran kebersamaan (learning to live together) karena untuk mewujudkan itu semua dibutuhkan kerja sama tim. Ada nilai-nilai agama karena Sang Guru mengajak murid-muridnya untuk memulai pekerjaan minimal dengan bismillah dan mengakhiri pekerjaan dengan alhamdulillah. Diajarkan juga pada mereka untuk bersikap jujur dan bertanggung jawab. Bahkan, ada pembelajaran bahasa Indonesia ketika murid-murid diminta menyampaikan jawaban atau pernyataan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Di luar itu semua, ada kesan yang tidak mungkin hilang dari ingatan anak, yaitu senyuman Sang Guru yang tulus ikhlas menjadikan anak memiliki rasa cinta pada gurunya begitupun sebaliknya.
****
Mengajar anak didik dengan cinta akan memberikan energi baru buat pendidik. Siapapun orangnya, entah dia guru, orang tua, tokoh masyarakat, tokoh politik, pemimpin di sebuah perusahaan, atau penegak hukum sekalipun kalau mereka melakukan sesuatu dengan cinta akan memberikan energi baru. Kita harus yakin dengan cinta menjadikan kita bisa bekerja lebih bersemangat. Dengan cinta kita akan bisa menciptakan harmonisasi kehidupan. Dengan cinta kita bisa mewujudkan generasi yang lebih baik daripada kita. Sebaliknya, tanpa cinta kita akan mengalami kelesuan bekerja. Kita akan mengalami rutinitas pekerjaan yang membosankan. Kita tidak akan bisa mewujudkan harmonisasi kehidupan. Kita juga tidak akan berhasil mewujudkan generasi yang lebih baik daripada kita. Karena itu melalui cintalah mata kita bisa terbuka lebar  sebagaimana  John Lennon menulis di salah satu bait lirik lagunya: 


I see the wind,
Oh I see the trees,
Everything is clear in my heart,
I see the clouds,
Oh I see the sky,

Everything is clear in our world,

terjemahannya:

Aku melihat angin,
Oh aku melihat pohon-pohon,
Semuanya jelas dalam hatiku,
Aku melihat awan,
Oh aku melihat langit,
Semuanya jelas di dunia kita,


("My Love"/John Lennon)

sehingga bisa melihat seluruh isi alam ini dengan jelas. Bahkan, karena cinta pikiran manusia bisa terbuka lebar dan bisa merasakannya: 


Oh my love for the first time in my life,
My mind is wide open,
oh my lover for the first time in my life,

My mind can feel,


Terjemahannya: 

Oh cinta untuk pertama kalinya dalam hidup saya saya,
Pikiranku terbuka lebar,
oh kekasihku untuk pertama kalinya dalam hidup saya,
Pikiranku bisa merasakan,

Karena cinta manusia bisa hatinya terbuka memandang dunia. Dengan perasaan cinta pula manusia merasa benar-benar hidup:

Everything is clear in my heart,
Everything is clear in our world,
I feel the life,

Terjemahannya:

Semuanya jelas dalam hatiku,
Semuanya jelas di dunia kita,

Saya merasa hidup,

Kondisi negara kita yang carut-marut seperti sekarang ini harus dimulai dengan pembenahan pendidikan. Pembenahan pendidikan harus dimulai sedini mungkin dari anak-anak kita dengan pembelajaran yang menyenangkan bukan menegangkan. Anak-anak harus ditumbuhkan motivasinya untuk beraktivitas dan berkreativitas. Menjadikan aktif dan kreatif bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah tetapi juga adanya kiikutsertaan orang tua murid. Agar mereka aktif dan kreatif harus dilandasi dengan rasa cinta karena sebagaimana kata M.Anis Mata ""Tidak ada kebaikan yang dapat kita semaikan di tengah masyarakat, kecuali apabila kita memulai persentuhan kita dengan lingkungan sosial di mana kita berada dengan cinta." Mudah-mudahan kita termasuk orang yang yakin melalui cinta kita bisa melakukan segala sesuatunya dengan baik. Insya Allah.    
    




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Sastra (259)

  `Wong Gemblung` dan `Psikopat` Subagio S. Waluyo            “Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan?” “Ya, kamu boleh tidak berpuasa. A...