A R O G A N
Arogan dalam istilah populer di kalangan umat Islam dikenal dengan istilah takabur. Takabur sendiri semakna dengan ta'azhum, yaitu menampak-nampakkan keagungan dan kebesarannya, merasa agung dan besar atau menampakkan kekagumannya terhadap dirinya dalam bentuk merendahkan dan meremehkan pribadi orang lain serta tidak mau menerima kebenaran yang datang dari orang lain. Tentang ancaman bagi orang yang arogan Allah berfirman dalam Surat Al-A`raf:146:
"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar ...."
"Tidaklah masuk surga orang yang di dalam hatinya ada penyakit kibr (takabur)..." Hadits Riwayat Muslim.
Sebab-sebab Takabur
1. Sikap tawadhu orang lain yang berlebihan. Artinya, memandang orang lain demikian hina karena orang yang ia pandang menampakkan kesederhanaan dalam setiap hal (apakah ia sederhana dalam berpakaian, berpenampilan, dan menampakkan diri seolah-olah orang yang ia pandang tidak mau tampil untuk memikul amanah dan tanggung jawab). Untuk mengantisipasi penyakit ini bisa dilakukan dengan mensyukuri nikmat Allah sebagaimana Allah SWT firmankan dalam Surat Ad-Dhuha:11:
"Adapun nikmat Rabb-Mu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya dengan mensyukurinya."
2. Rusaknya penilaian dan tolak ukur kemuliaan manusia. Artinya, terjadi pergeseran nilai dan cara pandang manusia yang rusak. Cara pandang yang bertolak ukur serba materialistis ini disalahkan oleh Al-Qur`an dan Sunnah sebagaimana firman Allah:
"Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarati bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar" (Surat Al-Mukminun: 55-56).
3. Membandingkan nikmat yang diperolehnya dengan yang diperoleh orang lain dengan melupakan Pemberi Nikmat, artinya ada sebagian orang yang melupakan Yang Memberi Nikmat, lantas membandingkan nikmat-nikmat yang diperolehnya itu dengan yang diperoleh orang lain yang tingkatannya berada di bawahnya. Kemudiian ia merendahkan orang yang memperoleh nikmat yang lebih sedikit darinya sebagaimana Allah menggambarkan kisah dua orang pemilik kebun.
"Dan buatlah perumpamaan bagi mereka tentang dua orang laki-laki. Salah seorang darinya Kami buatkan dua kebun anggur. Sekitarnya kami tumbuhkan pohon kurma, dan antara keduanya Kami adakan ladang. Masing-masing kebun itu menghasilkan buahnya, dan tiada yang kurang sedikitpun darinya serta Kami alirkan sungai. Pemiliknya kaya, lalu ia berkata kepada sahabatnya ketika bercakap-cakap dengannya,"Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat...." (Surat Al-Kahfi: 32-34).
4. Mengira nikmat yang diperolehnya akan kekal dan tidak akan lenyap. Artinya, ada sebagian orang yang memperoleh kenikmatan dunia, lantas dengan keberadaan nikmat tersebut dia mengira bahwa nikmat itu akan kekal dan tidak akan hilang darinya.
"Aku kira kebun ini tiada akan punah selama-lamanya. Dan aku kira saat kiamat tiada akan pernah datang. Dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku. Akan kutemukan yang lebih baik dari-padanya sebagai gantinya." (Surat Al-Kahfi: 35-36).
5. Mengungguli yang lain dalam memperoleh keutamaan. Artinya, ada sementara orang yang memperoleh berbagai keutamaan melebihi orang lain, lantas ia memandang orang lain dengan pandangan merendah dan menghina.
6. Melupakan akibat buruk takabur.
Cara Mengobati Takabur
1. Mengingat akibat-akibat dan bahaya yang akan ditimbulkan oleh takabur.
2. Menengok orang yang sakit, menyaksikan orang yang akan meninggalkan dunia (sakratul maut), dan orang-orang yang mendapat bencana.
3. Tidak berteman dengan orang-orang yang takabur.
4. Suka berkumpul dengan orang-orang yang lemah, orang-orang fakir, dan orang-orang yang lebih rendah kedudukannya.
5. Suka memikirkan dirinya dan alam semesta, bahkan merenungkan nikmat yang diperolehnya sejak nikmat yang paling kecil hingga yang paling besar.
6. Memperhatikan riwayat hidup keadaan orang-orang yang takabur.
7. Menghadiri majelis-majelis taklim yang penuh dzikir pada Allah SWT.
8. Meminta maaf pada orang yang pernah dihinanya.
9. Menampakkan nikmat yang diberikan Allah kepada dirinya dan menceritakan nikmatnya kepada orang lain.
10. Melakukan instrospeksi diri (muhasabah) untuk mengetahui penyakit-penyakit yang masih melekat sehingga penyakit itu benar-benar hilang dalam dirinya.
Semoga dengan cara demikian hamba-hamba Allah terhindar dari penyakit takabur atau aroga yang jelas-jelas akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Wallahu a`lam bissawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar